
“Waktu itu kamu yang bayar, jadi kali ini aku aja yang bayar.” Nawang menawarkan saat Aaron akan membayarkan belanjaannya di kasir.
“No, no, no. I’ll pay. Belanjaan saya banyak banget.” tolak Aaron.
Dia merasa tidak enak. Karena, dia yakin total harga belanjaannya lebih banyak daripada yang dia berikan pada Nawang waktu itu.
“It’s fine really. Prinsip saya, I’ll pay three times what I owed. This is nothing.” Nawang memaksa.
“No! You can pay me later. See how much items in my cart. I can’t let you pay all of them. It must be more than 1 million. You only owed me 100k.” Aaron juga tetap kukuh.
Mana mungkin dia membiarkan Nawang membayar belanjaannya yang segunung. Sudah pasti biaya yang dikeluarkan akan lebih dari satu juta. Padahal Nawang hanya berhutang kurang lebih seratus ribu Rupiah.
“Kalau begitu, saya saja yang membayar.” suara pria yang bukan anggota rombongan Nawang tiba-tiba terdengar.
Secara bersamaan, mereka menengok ke arah sumber suara. Di sana rupanya telah berdiri seorang pria yang nampaknya Nawang kenal, tapi lupa siapa namanya.
Pria bertubuh besar itu lalu berkata, “Saya Kris. Pak Yudhis meminta saya untuk menjemput Ibu Nawang supaya segera pulang ke rumah.”
Akhirnya, Nawang ingat juga. Dia adalah Kristanto, orang yang belakangan dipercaya Yudhis untuk mengurus berbagai keperluannya. Dengan kata lain, dia adalah asisten Yudhis.
Dan Nawang juga akhirnya teringat bahwa dia sudah terlalu lama di super market. Sudah saatnya dia pulang ke rumah dan memasak. Tentu dia tidak bisa bilang kalau dia akan skip hari pertama, karena sebelumnya dia telah berjanji akan memasak bekal makan siang untuk Yudhis.
“Duh. Iya, deh.” ucap Nawang.
Aaron yang tadinya merasa tidak enak, akhirnya bisa lega. Dia tidak perlu berdebat lagi dengan Nawang soal siapa yang harus membayar. Pria berambut pirang itu pun mempersilakan Nawang untuk maju terlebih dahulu.
“Kamu sepertinya buru-buru, you may go first.”
Tidak mau membuat Kris menunggu, Nawang tidak menolaknya dan maju melewati Aaron yang antri terlebih dahulu.
“Thankyou. Sorry for today. I’ll definitely pay you later.”
Aaron hanya tersenyum sambil menaikkan alisnya untuk menanggapi Nawang.
__ADS_1
…
Nawang dan Tina sudah berada di perjalanan bersama Kris. Kamera yang Tina bawa masih merekam barang kali ada kejadian menarik selama di perjalanan.
“Kok bisa Mas Kris tahu kalau saya di super market?” tanya Nawang pada pria besar yang sedang menyetir di depannya.
“Kebetulan super market tadi adalah milik rekan bisnis Pak Yudhis dan beliau memberi tahu kalau njenengan ada di sana.” jawab Kris.
Penjelasan Kris malah membuat Nawang curiga. Memangnya untuk apa rekan bisnis Yudhis repot-repot melaporkan kehadirannya. Lalu, kalau rekan bisnis Yudhis, bukannya berarti levelnya atasan? Kenapa juga harus repot-repot?
Nawang menduga kalau tadi hanya karangan Kris saja. Paling ada orang yang mengawasinya. Tetapi, daripada menghardik Kris atas kelancangannya, menurut Nawang lebih baik kalau dia langsung bicara pada orang yang menyuruh Kris sendiri, Yudhis.
…
“Hai, istriku.”
Yudhis menyambut kedatangan Nawang di kantornya dengan pelukan. Karena sedang berada di luar ruang kerjanya, dengan terpaksa Nawang pun membalas pelukan itu. Dan saat itu pula dia berbisik, “Pelukannya gak usah lama-lama.”
Karena ini kesempatan langka, Yudhis tidak lantas menuruti permintaan Nawang. Justru Yudhis semakin mempererat pelukan mereka dan dengan sangat berhati-hati dia mencium kepala Nawang agar gadis itu tidak menyadari kelakukannya.
“Aww!” pekik Yudhis lirih.
Saking lamanya mereka berpelukan, Nawang yang tidak sabaran pun mencubit perut Yudhis. Karenanya, terpaksa Yudhis melepas pelukan mereka.
“Aku bawa makan siang. Nih.” ujar Nawang sambil mengamit rantam dua tingkat dari tangan Tina, lalu dia berikan pada Yudhis.
“Makasih ya, Sayang. Kamu udah makan siang belum? Mau makan bareng di ruanganku?” tawar Yudhis.
Perlu Nawang akui bahwa Yudhis cukup cepat membiasakan diri dalam berakting. Bahkan sepertinya Yudhis bisa mendapatkan oscar atau minimal piala citra tahun depan kalau terus berakting semeyakinkan ini. Nawang juga tidak mau kalah.
“Boleh. Aku juga pengin dis-ku-si sama kamu sa-yang.”
Sengaja Nawang memberi kode khusus di penekanan kalimatnya agar Yudhis sadar bahwa Nawang ingin bicara serius.
__ADS_1
Dengan santai, Yudhis menyahut, “Oke. Yuk!”
Pria itu menggenggam tangan Nawang dengan menyelipkan jari-jarinya di sela jari-jari Nawang. Dibanding genggaman tangan yang biasanya mereka lakukan, genggaman mereka kali ini terasa agak berbeda.
Sejujurnya, Nawang cukup kaget dengan hal itu. Tetapi, dia tidak boleh memperlihatkannya. Karena, itu bisa menyebabkan orang lain curiga dan ragu akan hubungan mereka. Kalau pasangan suami-istri, bukankah bergandengan seperti itu sangat wajar?
Dengan wajah penuh senyum, Yudhis terus menggandeng Nawang hingga sampai di ruangannya. Baru setelahnya, mereka melepas genggaman itu.
“Lo mau minum apa? Di kulkas ada soda sama teh aja, sih.” kata Yudhis sambil membuka pintu kulkas di ruangannya.
Tidak menerima jawaban apapun, Yudhis pun menengok ke arah Nawang dan mendapati wajah marah istrinya yang terus melotot.
“Haa…” Yudhis mendengus, lalu lanjut berkata, “Maaf. Gue gak bermaksud ikut-ikutan buntutin lo.”
“Lo tuh kayak stalker njir.” omel Nawang.
“Dengerin gue dulu. Gue punya alesan.” pinta Yudhis.
Namun, Nawang yang masih tidak terima dikutit seperti tadi belum bisa menahan amarahnya.
“Alesan? Semua kriminal juga punya alesan. Makanya mereka bisa ngajuin banding di pengadilan.”
Yudhis memutar bola matanya. Dikatai kriminal oleh perempuan yang dicintainya sendiri, dia masih mencoba sabar. Toh memang dia memiliki alasan yang kuat.
Diambilnya ponsel yang sedari tadi disimpannya di dalam saku celana. Kemudian, Yudhis buka galerinya dan diberikan pada Nawang.
“Orangnya mama kemarin nemu ini di Jogja. Geser aja lagi. Masih banyak bukti fotonya.”
Gambar yang Nawang lihat saat ini adalah gambar kerumunan orang di tempat yang mereka kunjungi saat berbulan madu. Sekilas tidak ada yang mencurigakan di sana. Hingga kemudian, dia menurut untuk menggeser ke foto yang lain.
“Ini orang bukan suruhan mama?” tanya Nawang.
Di kerumunan itu, Nawang menyadari ada beberapa wajah yang sama tertangkap di berbagai foto. Padahal tujuan liburan Nawang dan Yudhis tidak hanya di satu tempat. Selain ke Bringharjo, mereka juga sempat pergi ke Parangtritis, Kaliurang, dan sekitarnya. Jadi, cukup aneh jika ada orang-orang yang sama di setiap tempat yang mereka kunjungi.
__ADS_1
“Orang suruhan mama yang gak sengaja fotoin. Mereka sadar ada yang aneh, makanya kasih tahu gue.” jelas Yudhis.
“Jadi…, ada yang buntutin kita selama di Jogja?”