Status : Menikah

Status : Menikah
Memaksakan yang Salah


__ADS_3

Restoran yang Yudhis tuju masih berada di komplek apartemen yang mereka tinggali. Untuk menuju ke sana memerlukan waktu sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Karena tidak mau membuat orang lain menunggu, Yudhis memutuskan untuk menggunakan mobil ke sana.


Sebetulnya Nawang ingin ikut. Dia ingin mendengarkan pembicaraan Yudhis dan Robi dari meja lain, karena penasaran. Tetapi dia masih harus mengecek beberapa video yang sudah Tina edit. Jadwal update-nya memang tidak menentu, yang penting dalam satu minggu dia bisa upload minimal satu video. Namun menurutnya akan lebih baik kalau semakin cepat diurus. Karena, Nawang tidak ingin keteteran.


Jadilah Yudhis pergi sendirian. Dia masih mengenakan pakaian yang sama, kasual dengan kaos biru dan celana jeans. Sementara itu, lawan bicaranya nampak seperti baru pulang dari acara kantor yang bersifat resmi.


“Apakah saya mengganggu hari libur Anda?” tanya pria berkursi roda yang duduk di hadapan Yudhis.


“Tidak masalah. Kebetulan saya baru pulang dari rumah orang tua saya bersama istri.” Yudhis menjawab jujur.


Suasana restoran Perancis itu cukup sepi. Agak mengherankan bagi Yudhis, karena restoran ini seharusnya cukup terkenal di daerah ini.


“Masa mau ngobrol sama gue doank, harus nyewa satu resto gini?” bathinnya.


Terkadang, walau Yudhis juga tergolong kaya, dia tidak bisa memahami pikiran orang kaya lain. Misalnya, bagaimana dan mengapa mereka bisa menghambur-hamburkan uang dengan mudahnya? Atau untuk apa mereka meluangkan waktu untuk hal yang belum jelas?


“Saya yakin Pak Yudhis paham mengapa saya menemui Anda.”


Tidak perlu diberi kode pun, Yudhis bisa menebak kalau pembicaraan mereka akan mengarah pada Marcel. Hanya saja, dia belum terlalu yakin tindakan apa yang akan Robi lakukan. Satu hal yang bisa dipastikan, Robi pasti ingin agar nama keluarganya tidak tercoreng.


“Jika tentang skandal saya dan istri saya belakangan ini, saya hanya bisa mengatakan bahwa itu adalah hal yang sulit kami cegah. Saya sungguh menyesal telah membuat para investor resah. Lalu, tentang putera Anda…”


Robi menaruh kedua sikunya di atas meja. Matanya yang memicing seolah memberikan ancaman pada Yudhis.

__ADS_1


“Saya harap Anda dapat mengerti posisi saya. Anda adalah orang yang saya hormati, tetapi bukan berarti saya harus tunduk pada orang-orang yang ada hubungannya dengan Anda.” lanjut Yudhis.


Dari perkataannya, Yudhis ingin menekankan bahwa dia tidak ingin menyelamatkan apalagi berurusan dengan Marcel. Pria itu sudah terlalu rusak. Kalaupun bisa diperbaiki, itu bukanlah urusan Yudhis.


“Kalau begitu, bisakan Pak Yudhis menganggap bahwa saya yang meminta tolong?”


Di mata Yudhis, pria tua itu nampak begitu sedih. Kata-katanya terdengar tulus, namun bukan berarti Yudhis akan percaya begitu saja. Robi jelas lebih senior dan lebih berpengalaman darinya. Karena itu, dia tidak boleh lengah dan sembarangan mengambil langkah.


“Tergantung seperti apa permintaan Anda.” balas Yudhis.


Sepenuh hati Yudhis menyembunyikan kegugupannya di hadapan Robi sambil menunggu apa yang ingin pria tua itu katakan.


“Marcel… sebetulnya dia adalah anak yang baik. Dulu sayalah yang menyakitinya. Saya tidak mau menerima dia apa adanya. Karena itu…” Robi memotong pembicaraannya setelah melihat raut wajah Yudhis yang memucat.


“Tidak. Tidak. Saya tidak bermaksud memaksa Anda untuk menerima Marcel. Tenang saja, saya tahu Anda begitu mencintai istri Anda.” lanjut Robi.


“Permintaan saya hanya satu. Saya ingin agar Anda tidak lagi mengungkit masalah ini.”


Selama beberapa menit, Yudhis masih diam dan berpikir. Kalau bisa, diapun ingin segera mengakhiri skandal yang lama-lama semakin panas ini. Dia juga ingin segera hidup tenang dan mulai fokus pada kehidupan pribadinya. Yang menjadi kendala, masih ada orang yang ingin melanjutkan permasalahan ini.


“Bukankah seharusnya Anda meminta hal ini pada putera Anda?” ujar Yudhis kemudian.


Robi bukannya tidak tahu bahwa puteranya lah yang menjadi sumber masalah. Tetapi, sebagai ayah dia juga tidak bisa menghentikan puteranya. Jalan satu-satunya mungkin dengan memaksakan kehendaknya agar Yudhis bersedia melakukan hal terlarang dengan Marcel. Namun, Robi merasa terlalu beradab untuk mewujudkan keinginan puteranya yang salah itu.

__ADS_1


“Atau… Anda harus menjual saham Anda yang ada di perusahaan saya, sehingga Anda bisa memberi alasan untuk lebih mendisiplinkan putera Anda. Tapi, itu agak berat bagi saya saat ini. Nantinya juga akan ada isu yang tidak lebih tidak kita inginkan.”


Sebagai sesama pengusaha, Robi paham betul kegundahan Yudhis saat ini. Yudhis mengingatkannya pada masa mudanya dulu. Dia juga sama seperti Yudhis. Robi berasal dari keluarga kaya, namun tidak mau bergantung pada orang tuanya.


“Seandainya saya tidak memasukkan putera saya untuk belajar di NTMall…”


Sebagai orang tua, Robi begitu menyesali perbuatannya dulu. Tujuannya menitipkan Marcel di bawah kepemimpinan Yudhis pun tidak lain adalah untuk menebus kesalahannya yang terdahulu.


Sebelum bertemu dengan Yudhis, Marcel mengalami gangguan mental karena traumanya terdahulu. Tidak mengherankan. Siapa pula yang tidak akan trauma jika mendapati kekasihnya meninggal di atas ranjang yang mereka berdua pakai. Karena itu, meskipun tidak tinggal satu rumah, Robi terus mengawasi puteranya itu.


Beberapa kali Marcel mengamuk dan hampir saja dia masuk ke rumah sakit jiwa setelah mengusik ketenangan di sekitar tempat tinggalnya. Namun, akhirnya Robi urungkan setelah tanpa sengaja mempertemukan Marcel dengan Yudhis. Keadaan puteranya itu semakin hari semakin membaik.


Perlakuan Marcel padanya sedari awal memang acuh, tetapi tidak pada orang lain. Saat emosinya membaik, Marcel mau berkomunikasi dengan orang lain. Dan itulah yang membuat Robi yakin bahwa Yudhis bisa membantunya. Sayangnya, tidak dia sangka setelah ketenangan yang berlangsung 5 tahun lamanya, akan terjadi petaka seperti ini.


“Ini adalah kesalahan saya yang tidak bisa menjaga keluarga saya dengan baik.”


Tersirat penyesalan yang begitu mendalam dari perkataan Robi. Mendengarnya, Yudhis pun cukup terenyuh. Entah apa jadinya kalau dirinya yang ada di posisi Robi. Namun, perasaan itu seketika menghilang saat mengingat bagaimana Robi memaksanya untuk menerima Marcel bekerja sebagai sekretaris di perusahaannya.


Yudhis ingat betul, saat itu NTMall masih belum sepopuler sekarang. Tidak banyak yang tertarik untuk belanja online saat NTMall baru berdiri. Toko di dalamnya juga belum banyak.


Tetapi, setelah dua tahun berjuang, tiba-tiba Robi, salah satu konglomerat terkaya di Indonesia yang sepadan dengan Ayahnya menawarkan diri untuk berinvestasi di perusahaannya. Penawaran itu diajukan dengan syarat, yaitu mempekerjakan Marcel setidaknya 5 sampai 10 tahun.


Yudhis yang saat itu sangat membutuhkan uang untuk kemajuan NTMall pun akhirnya setuju. Tidak tahunya, itu adalah jebakan batman.

__ADS_1


Agak menyesal kalau dipikir sekarang. Namun, dengan sikap yang Robi tunjukkan sekarang, Yudhis seolah mendapatkan celah untuk melawan.


“Kalau begitu…”


__ADS_2