
Kecanggungan antara Yudhis dan Nawang tak kunjung menghilang walaupun hari telah berganti. Tidak ada yang mau mengalah untuk berbicara lebih dulu dari semalam. Tanpa berdebat, Yudhis bahkan langsung memutuskan akan tidur di sofa. Alhasil, pagi ini pun mereka masih diam.
Dalam kepala, mereka yang sebenarnya tidak tahan dengan kondisi ini terus memikirkan bagaimana cara membuka pembicaraan. Namun, tidak satupun topik yang muncul.
‘Ting!’
Bel terdengar di kamar itu. Dengan sigap Yudhis membuka pintu dan muncullah karyawan hotel yang membawa troli berisi makanan.
“Selamat pagi. Saya dari room service, membawakan makanan yang Bapak dan Ibu pesan.” ujar pria berompi batik itu.
“Terima kasih, Pak. Silakan taruh saja di meja langsung.” sahut Yudhis.
Ditatalah makanan itu di atas meja makan yang Yudhis maksud. Setelah itu, pegawai room service itu memberi salam kembali dan keluar dari kamar.
“Selamat menikmati. Silakan panggil kami kembali jika membutuhkan sesuatu. Mari.” ucap pegawai itu sebelum pergi.
“Baik. Terima kasih, Pak.”
Begitu pegawai room service itu pergi, Nawang dan Yudhis kembali hanya berdua saja. Namun berbeda dengan tadi, sekarang Nawang sudah memiliki topik yang bisa dia ujarkan. Gadis itupun membuka pembicaraan.
“Lo kapan pesan room service-nya?”
Akhirnya Yudhis bisa mendengar kembali suara istri barunya. Diam-diam dia merasa lega.
“Tadi pakai aplikasi. Gue gak tau lo mau pesen apaan, jadi sorry kalau lo kurang sreg sama yang dibawain.”
Dari aroma yang tercium di hidungnya, Nawang menduga menu yang Yudhis pesan adalah sarapan ala Indonesia yang berbumbu kuat. Untuk memastikannya, Nawang membuka salah satu tudung saji di atas meja itu.
“Bubur Ayam. Kayaknya enak.”
Rasa lega di hati Yudhis pun bertambah. Walaupun dia tahu kalau Nawang bukan orang yang suka pilih-pilih makanan, Yudhis tetap was-was barang kali Nawang malah semakin marah padanya.
“Syukur kalau gitu. Gue juga pesen lengkap sama gorengan.”
Tidak mau melewatkan kesempatan, Yudhis langsung duduk di tempat makannya yang berseberangan dengan Nawang. Mereka hanya dibatasi oleh meja sebesar 2 x 1 meter persegi. Tidak terlalu besar, dan ini lebih baik dari pada mereka harus berjauhan lagi.
__ADS_1
Namun, ternyata keheningan lagi-lagi hadir di tengah mereka. Hanya suara dentingan alat makan yang sesekali terdengar dan menggema di ruangan berkelas president suit itu.
Semua itu berlangsung kurang lebih setengah jam.
Kemudian, saat keduanya telah selesai menyantap sarapan mereka, secara inisiatif Nawang membereskan piring agar terlihat agak rapi. Untuk memudahkan Nawang, Yudhis juga ikut membantu.
‘Triiiing!’
Tanpa sengaja, tangan mereka bertemu dan saking kagetnya Yudhis sampai menjatuhkan garpu yang sedang dia bawa.
“Sorry.” ujarnya lirih sambil menunduk untuk mengambil garpu itu.
Bahkan sekedar kata maaf pun tidak bisa dengan lantang dia ucapkan. Begitu pula Nawang yang tidak tahu mau menyahut apa. Kecanggungan itu membuat mereka berharap ada alien yang tiba-tiba datang menyerang, jadi mereka bisa sekalian lari dari situasi ini.
Untungnya, ada situasi selain serangan alien yang akhirnya menyelamatkan mereka dari keheningan. Karena, tiba-tiba suara dering ponsel Yudhis terdengar.
Pemilik ponsel itu pun segera menilik siapa yang pagi-pagi sudah menelfonnya.
“Gimana, Kris?”tanya Yudhis setelah mengangkat telfon dari bawahannya di kantor, Kristanto.
Yudhis menghembuskan napasnya lega, lalu berkata, “Bagus. Saya paham, akan sulit menghalau niat orang lain. Yang penting, tujuan lainnya sudah tercapai.”
“Kalau begitu, saya kembali ke pekerjaan dulu, Pak. Semoga perjalanan Anda dan istri tetap lancar.” kata Kris.
“Terima kasih. Jangan lupa juga kamu track siapa yang menyebarkan surat perjanjian palsu itu!” perintah Yudhis.
“Baik, Pak!”
Setelahnya, sambungan telfon mereka pun terputus. Lalu, Yudhis tidak langsung menaruh ponselnya kembali. Dia melanjutkan untuk membuka aplikasi browser di ponsel pintarnya untuk memastikan bahwa Kris tidak berbohong padanya.
Nawang yang penasaran kenapa Yudhis tidak kembali ke mej makan pun menyusul ke tempat pria itu berada. Dilihatnya Yudhis yang saat ini sedang tersenyum-senyum sendiri sambil memandang ponselnya.
Meskipun tidak bersuara, Yudhis menyadar kedatangan Nawang. Dia pun menengok ke arah Nawang dan menyodorkan ponselnya.
“Ini kan yang sebenernya pengin lo lakukan?”
__ADS_1
Nawang ambil ponsel itu dan dilihatnya lah apa yang Yudhis maksud.
“Ini… foto kita di bandara kemarin.”
Di layar ponsel sebesar 6,9 inch itu nampaklah sebuah artikel yang mencantumkan foto mereka berdua yang sedang bersenda gurau begitu turun dari pesawat. Siapapun yang melihat foto itu sudah pasti akan menganggap bahwa mereka pasangan yang sangat akrab dan mesra. Terlebih tangan mereka terus bergandengan selayaknya pasangan yang tidak ingin lepas dari satu sama lain.
Melihat foto-foto itu, pipi Nawang pun seketika merona. Bukan karena dia malu-malu dengan kemesraannya dengan Yudhis yang tersebar ke mana-mana. Lebih dari itu, dia lebih malu karena tidak berpikir kalau foto semacam ini sudah cukup efektif dibandingkan dengan foto mesra sampai berciuman dengan Yudhis.
Nawang tidak perlu sampai mengorbankan harga dirinya dengan mencium sahabatnya sendiri, lalu mengunggah foto ciuman mereka ke sosial media. Cukup dengan genggaman tangan pun sudah bisa membuktikan bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih.
Nawang juga tidak perlu berlebihan mengkhawatirkan Yudhis. Karena, pada dasarnya pria itu memiliki banyak kelebihan di berbagai bidang. Dan Yudhis hanya membutuhkan Nawang sebagai kekasih palsunya.
“Oh… ya bagus. Kayaknya semua bisa beres lebih cepat.” Nawang pikir dengan mengatakan sesuatu bisa menyembunyikan rasa malunya.
Yudhis mengangguk.
“Jadi… mm… karena kita gak perlu upload lagi…”
Yudhis belum menyelesaikan perkataannya saat Nawang menyela, “Oh, hapus aja. Udah gak butuh kan? Hahahaaha! Hahaha!”
Gelak tawa yang dipaksakan terus meluncur dari mulut Nawang tiada henti. Siapapun yang mendengarnya pasti mengira kalau Nawang sedang kesurupan, termasuk Yudhis. Bulu kuduknya seketika berdiri karenanya.
“Wang? Lo kok serem banget? Anjay…” tanya Yudhis yang memberanikan diri mencolek pundak Nawang.
Tiba-tiba Nawang berhenti tertawa, kemudian menengok ke arah Yudhis. Bibirnya yang melengkung ke atas kini melengkung ke bawah. Rona di pipi Nawang pun menyebar hingga ke telinga. Setitik air mata juga menggenang di kedua ujung matanya.
Perubahan ekspresi Nawang begitu mengejutkan bagi Yudhis. Tetapi, dia yang sudah mengenal Nawang cukup lama paham apa yang sedang dan akan terjadi.
“Oke… gue paham. Gue gak akan ngomongin ini lagi. Rahasia lo aman sama gue. Hahhah…” Yudhis mencoba menenangkan Nawang.
Ekspresi yang Nawang perlihatkan saat ini tidak lain adalah yang Yudhis sebut sebagai ‘malu level maksimal’. Sangat jarang Nawang memperlihatkan ekspresi itu dan untuk mengatasinya, hanya satu hal yang bisa dilakukan.
“Kebetulan gue udah beli, terus instal game baru di Switch. Dijamin lo bakal suka deh sama game-nya. Yuk, ikut sini!” rayu Yudhis sembari menarik Nawang ke sofa.
Hanya game lah yang bisa menjinakkan Nawang. Karena itu, setiap kali pergi dengan Nawang, Yudhis akan selalu membawa game console-nya. Semua ini demi keselamatan dirinya juga yang tidak ingin dimangsa hidup-hidup oleh Nawang.
__ADS_1
Sekarang, karena urusan ini sudah selesai, Yudhis harus memikirkan mau ditaruh di mana foto ciuman mereka. Baginya foto itu terlalu sayang kalau dibuang begitu saja.