
Hasil pemeriksaan dokter Galih dan prediksi Nawang memiliki beberapa persamaan, yang intinya Yudhis terlalu keras berolahraga. Selain itu, Yudhis juga terkena dehidrasi yang untungnya tidak terlalu parah.Selain napas yang sesak dan tubuh yang mendadak lemas, salah satu akibat paling tidak menyenangkan dari terlalu intents berolahraga adalah diare. Seperti apa yang Yudhis rasakan saat ini. Semenjak napasnya mulai teratur, dia pikir bisa langsung tidur pulas. Tidak tahunya malah harus bolak-balik ke toilet.
“Untung udah dikasih resep obat diare juga. Jangan-jangan selain dokter, dia juga ahli ramal. Bisa pas banget lo kena diare juga. Ckckck.”
Ucapan Nawang sangat memojokkan Yudhis. Sadarlah sudah dia, bahwa apa yang dia lakukan sama sekali tidak ada untungnya. Yang ada malah merepotkan orang lain.
“Maaf…” ucap Yudhis sambil menggigit roti panggang dengan selai apelnya.
Nawang tidak tahu harus berkata apa lagi pada Yudhis, karena rasanya sejak kemarin dia sudah memarahi Yudhis habis-habisan. Rasanya kasihan juga kalau dia terus-terusan mengomel.
“Ya udah, lah. Yang penting lo cepet sembuh. Makan, terus diminum obatnya!” perintah Nawang.
“Iya…” jawab Yudhis lagi.
Selama terbaring, Nawang selalu berada di sisi Yudhis. Apapun yang Yudhis butuhkan, selalu disediakan. Bahkan semalam gadis itu tidur di kamar Yudhis, karena takut terjadi apa-apa pada pria itu di malam hari. Padahal dibiarkan tidur sendirian saja juga tidak masalah.
Ini adalah perhatian yang jarang Yudhis dapatkan dari Nawang. Sebagai orang yang mengaku mencintainya, tentu Yudhis senang mendapatkan perhatian seperti ini. Tetapi, bukankah akan lebih menyenangkan kalau perhatian ini terjadi saat dia sehat dan bisa segera membalasnya?
“Lo gak kerja?” tanya Yudhis.
“Ntar aja lah. Telat beberapa hari gak masalah, kok. Gue mah bebas. Anggep aja gue cuti.”
“Lo gak mau manfaatin momen gue sakit gitu?”
Pertanyaan kedua Yudhis cukup menyindir Nawang yang memang selalu tak mau kehilangan momentum apapun. Untuk membalas sindiran itu, Nawang mencubit pipi Yudhis yang masih menggembung, karena roti panggang di mulutnya.
“Umph!”
“Lo pikir gue bakal eksploitasi orang yang lagi sakit? Image gue seburuk itu kah?”
Yudhis genggam tangan Nawang yang ada di pipinya sambil dibelainya pelan.
__ADS_1
“Maksud gue, barang kali lo mau, gue juga gak masalah.”
Inilah yang paling membuat Nawang lemah terhadap Yudhis. Walaupun selalu marah-marah kalau dia sembrono, Yudhis selalu mau mengikuti keinginannya. Seandainya saja mereka tidak bersahabat, Nawang pasti sudah jatuh cinta pada Yudhis dari dulu. Tapi, Nawang terlalu takut mengubah hubungan mereka. Takut dia akan berpisah dari Yudhis, jika mereka bukan sahabat lagi. Status pernikahan ini pun mungkin bisa berjalan, karena tidak dilandasi cinta.
“Ck. Lo sembuh dulu aja sana!”
Nawang tarik tangannya kembali dari pipi Yudhis.
“Omong-omong gue udah dapet tempat baru buat rumah kita. Secepatnya kita bakal pindah dari sini.”
Bagaimanapun Yudhis masih cukup parno dengan kejadian belakangan ini. Dia ingin memastikan bahwa jejaknya tidak lagi terlacak oleh Marcel. Karena, bisa saja Marcel belum sepenuhnya ikhlas dengan semua ini dan akan membalas cepat atau lambat. Dan lagi, sekarang bukan hanya dirinya yang ada dalam bahaya, melainkan juga Nawang yang telah dia libatkan.
“Di mana? Gak segede ini kan tempatnya? Gue gak mau nyasar di rumah sendiri loh, ya.” keluh Nawang.
“Tenang aja. Tempatnya lebih kecil, kok. Kamarnya juga cuma satu.”
Jawaban Yudhis seketikan membuat mata Nawang melotot kaget. Kalau kamarnya cuma satu, apa mereka berdua akan satu kamar lagi?
Nawang menghela napas lega. Lanjut Yudhis, “Gue inget perjanjian kita, kok. Lo santai aja.”
Yudhis berkata lagi dengan suara berbisik, “Se-nggak mau itu lo sama gue, Wang? Padahal tiap hari lo bisa liat bicep gue tiap sebelum dan bangun tidur.”
Nawang memejamkan matanya sambil melemaskan tangannya. Dan dalam sekejab tangan Nawang yang mengepal telah melaju ke perut rata Yudhis.
“Awww! Gue lagi mriyang gini, malah dipukul! Ini tuh KDRT tahu!?” seru Yudhis sambil memegangi perutnya.
“Diem sebelum bogeman gue ke bagian badan lo yang lain!” ancam Nawang yang kemudian membuat Yudhis terdiam menuruti.
…
Dua minggu lamanya Marcel mengurus kepindahannya, karena harus diisolasi terlebih dahulu. Bagaimanapun status penyebaran virus masih cukup berbahaya, jadi isolasi wajib dilakukan. Setelah selesai, akhirnya tiba juga hari pertama Marcel untuk bekerja di kantor NTMall cabang Kota M yang berada di luar pulau. Semua berkat campur tangan Robi, ayahnya yang tidak ingin puteranya semakin terjerumus jika terus berada di sisi Yudhis.
__ADS_1
Robi adalah orangtua yang konservatif. Baginya, image keluarganya adalah segalanya. Jika ada satu hal yang membuat namanya dan nama keluarganya tercoreng, atau sekedar kemungkinan menuju ke sana, dia tidak segan-segan menghalanginya sekuat tenaga.
“Di sini tempat duduk Pak Marcel. Maaf kalau agak berbeda dengan yang di kantor pusat. Soalnya, cabang ini kan baru satu tahun ini berdiri. Jadi, mohon dimaklumi.” ucap seorang perempuan bertubuh pendek dengan kuncir kudanya.
“Gapapa, Mbak. Toh saya juga lebih suka yang simple begini.” sahut Marcel.
“Paggil Ollie aja, Pak. Saya lebih sreg dipanggil begitu. Soalnya saya yang paling muda di sini. Gak enak, kalau dipanggil Mbak, Kak, apalagi Bu sama yang lebih senior.”
“Hahaha… oke. Ollie.”
Didudukinya kursi kerja barunya di kantor itu. Dalam-dalam Marcel menghirup udara di sekitarnya untuk membiasakan diri dengan aroma yang belum dikenalnya.
Berbicara tentang biasa, hanya satu hal yang tidak mungkin akan membuatnya terbiasa. Itu tidak lain adalah kehadiran Yudhis yang tak lagi bisa dia temui dengan bebas. Padahal dia tahu di mana Yudhis berada. Tetapi, Marcel tidak memiliki kemampuan untuk melawan sang ayah saat ini.
‘Ting!’
Sebuah notifikasi muncul di layar ponsel pintar Marcel. Dia buka segera dan dibacanya dalam hati, lalu ditutup kembali.
“Hmm… Ollie. Saya mau ke toilet. Kira-kira ada di sebelah mana, ya?” tanya Marcel pada perempuan yang ternyata duduk bersebelahan dengannya.
“Tinggal keluar dari ruangan, terus ke kiri aja, Pak.” jawabnya.
“Baik. Makasih.”
Sesuai petunjuk Ollie, Marcel menuju tempat yang baru saja dia tanyakan. Dibawanya juga ponsel pintarnya di saku baju.
Sebelum masuk ke dalam bilik toilet pria, Marcel melirik ke sekelilingnya untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya. Kemudian, saat sudah berada di dalam bilik, Marcel keluarkan kembali ponselnya dan mengetik beberapa angka di sana.
“Segera ke rencana selanjutnya. Jangan buang waktu! Aku ingin secepatnya wanita tidak tahu diri itu lenyap dari sisi Yudhis.” perintahnya pada orang yang dia hubungi melalui ponsel itu.
“Baik, Pak.” sahut pria di seberang.
__ADS_1
Agaknya Marcel masih belum ingin melepaskan Yudhis, walaupun dia tahu bahwa Ayahnya sangat menentang perasaannya itu.