
Hancur sudah image Yudhis di mata semua orang. Padahal sebelum menikah dia selalu dikenal sebagai bos yang penuh wibawa. Banyak yang takut saat diminta menghadap padanya, karena sikap cool-nya yang sedingin Uranus. Teman-temannya sejak kecil pun bisa dihitung dengan jari.
Lalu, semenjak masuk ke channel Nawang, kehidupannya berubah hampir 180 derajat. Dibilang hampir, karena tidak semua karyawannya update dengan media sosial dan content creator. Tapi, karena banyak yang membicarakannya, mungkin sebentar lagi Yudhis akan dikenal sebagai pribadi yang lain.
“Udah liat video barunya Bu Nawang?”
“Ih! Lucu banget sumpah! Gue gak nyangka boss kita seimut itu!”
“Ssst! Ada orangnya. Kalau kedengaran gimana?”
“Yaaa paling ditegur. Toh aslinya Pak Yudhis gak seseram yang kita kira.”
“Pede banget! Bisa aja kan itu cuma di depan Bu Nawang aja?”
“Iya, sih. Lagian kalau di kantor, beliau gak sesupel di rumah juga.”
“Ini tuh yang namanya kekuatan cinta.”
“Ah… seandainya ada cowok yang bisa kayak gitu ke gue…”
Bahkan saat orang yang dibicarakan ada di sekitar mereka, tetap saja mereka tidak berhenti. Agaknya syaraf takut di tubuh mereka sudah mulai error. Atau mungkin sudah dilepas.
Sebisa mungkin Yudhis tidak menghiraukan pembicaraan tentangnya tersebut. Namun, secepatnya dia harus bertindak agar Nawang berhenti membuat konten seperti itu. Dia tidak ingin image-nya lebih rusak dari ini. Dan salah satu jalan yang akan dia tempuh adalah dengan memindahkan seluruh console game-nya dari apartemen mereka ke tempat lain. Dengan begitu, Nawang akan sadar bahwa Yudhis benar-benar serius dengan ancamannya.
“Pak, kami sudah selesai memindahkan barang yang Anda minta.” lapor salah seorang anak buah Yudhis melalui telfon.
Yudhis bertanya, “Lalu, bagaimana respon istri saya?”
“Ng…” pria di seberang telfon itu agak ragu menjawabnya. Namun, karena tidak ingin membuat boss-nya menunggu, dia pun menjawab.
“Bu Nawang kayak mau nangis, Pak. Malah kayak udah sesenggukan gitu.”
Mendengar itu, Yudhis pun merasa bersalah. Game adalah salah satu pelipur lara paling ampuh bagi Nawang dan sekarang Yudhis telah memisahkan Nawang dari sumber pelipur lara itu. Meski begitu, sekarang adalah saatnya Yudhis untuk mengeraskan hati. Tidak akan dia biarkan lagi Nawang bertindak seenaknya padanya.
“Aaa… ya, sudah. Yang penting tugas kamu sudah selesai.” ujar Yudhis kemudian.
“Baik, Pak. Saya akan segera kembali ke pos saya.” sahut pria itu.
Setelah ini, Yudhis tinggal memikirkan bagaimana menghadapi Nawang nantinya. Tidak banyak yang perlu Yudhis lakukan untuk itu. Dia hanya perlu memantapkan hatinya untuk tega.
…
__ADS_1
Reaksi Nawang saat Yudhis pulang kurang lebih sama dengan bayangan Yudhis. Perempuan itu dengan sekuat tenaganya meyakinkan Yudhis agar bersedia membawa kembali semua game console yang siang tadi disita.
“Aku gak tahu kamu sepengin itu sama ‘nafkah batin’ dari suami kamu, Sayang.” ujar Yudhis.
Kedua tangannya sudah berada di pundak Nawang sambil memijat-mijatnya lembut. Matanya menatap menggoda dengan tajam, menandakan dia menginginkan sesuatu.
Seketika Nawang bergidig dibuatnya. Dia cuma meminta agar game console pinjamannya kembali. Tapi, malah membuat Yudhis bertingkah aneh begini. Mana Yudhis mengubah cara memanggilnya menjad aku-kamu. Padahal saat ini mereka berdua tidak sedang berada di depan kamera.
“Lo bercandanya gak lucu banget sumpah.” ujar Nawang sambil berusaha menyingkirkan tangan Yudhis dari pundaknya.
“Hm? Aku serius, kok. Perjanjian kita kan asalkan mau sama mau, kita bisa ngelakuin yang lebih dari pelukan. Dan aku mau sekarang.”
Salah satu tangan Yudhis berhasil lepas, tapi kemudian berpindah ke pipi Nawang. Seketika Nawang lupa caranya bernapas. Dia begitu grogi saat wajah Yudhis semakin mendekat padanya.
Pikir Nawang, dia tidak boleh membiarkan keinginan Yudhis terjadi.
“Kapan gue bilang mau gitu? Ngaco banget! Lo mau ngelanggar perjanjian kita?” kilahnya.
Yudhis terdiam sejenak tanpa merenggangkan jarak di antara mereka.
“Lo bakal tahu sendiri akibatnya, kalau ngelanjutin kelakuan lo ini!” ancam Nawang.
Dengan langkah lunglai, Yudhis kembali ke posisi duduknya semula. Tidak ada penyesalan darinya, namun kekecewaan begitu nampak di wajahnya.
“Gak gue sangka, lo cuma nganggep gue sebagai tempat rental PS.” gumam Yudhis lirih.
Merasa tersentil, Nawang mendekat pada pria itu.
“Hah? Nggak lah! Lo lebih dari itu.”
Yudhis hanya melirih sebentar, lalu berkata, “Bahkan tempat rental PS dibayar. Sedangkan gue… malah dimintai bayaran. Dipermaluin di depan ribuan orang, atau malah jutaan orang yang udah nonton channel lo.”
Kalau dipikir-pikir, belakangan memang sedikit timbal balik yang Nawang berikan untuk Yudhis. Setelah kejadian Yudhis ambruk beberapa saat lalu, rasanya tidak ada lagi yang Nawang lakukan untuk Yudhis. Malah sepertinya hanya Nawang yang mendapatkan sesuatu dari Yudhis. Dimulai dari memanfaatkan Yudhis habis-habisan untuk konten channelnya, sampai pegang-pegang bicep segala.
Sebelum rasa bersalahnya semakin besar, Nawang membalas, “Maaf. Gue gak maksud gitu, kok.”
“Hah? Tapi, kenyataannya dari dulu lo dateng ke tempat gue cuma buat nge-game kan seringnya? Memangnya ada maksud apa lagi?”
Yudhis mencoba membuat Nawang semakin bersalah dan lumayan berhasil. Dalam hati dia merasa bangga, karena rupanya dia lumayan jago dalam melakukan itu.
Nawang semakin mendekat padanya, lalu akhirnya menyerah, “Terus lo maunya gimana? Asal bukan nganu-nganu, gue lakuin, deh.”
__ADS_1
Alis Yudhis bertaut. Samar-samar ia tersenyum, karena kesempatan untuknya telah datang.
“Di sini.” ujar Yudhis sambil menunjuk pipinya.
“Hah?”
Melihat Nawang yang belum paham dengan sinyalnya, Yudhis lanjut memberi kode dengan memonyongkan bibirnya.
“Gue bilang kan asalkan gak nganu!” tolak Nawang.
Yudhis memutar bola matanya dan berkata, “Elaaah… cuma di pipi. Apanya yang nganu? Jangan-jangan lo yang pengin beneran.”
“Dih! Nggak!” Nawang meninggikan suaranya.
“Ya udah, lakuin!” Yudhis memaksa.
Nawang mendengus kesal. Bukan karena dia tidak bisa, tapi dia merasa malu.
“Beneran harus cium pipi?”
Yudhis mengangguk.
“Kalau gitu, merem! Jangan liat ke sini!”
“Padahal merem gak merem juga sama aja. Yang penting kan kerasa.” batin Yudhis.
Pria itu menuruti keinginan Nawang untuk memejamkan matanya. Dia tunggu beberapa saat, tapi hingga sekitar tiga menit kemudian pun kecupan itu tak kunjung dia dapatkan. Pikirnya, jangan-jangan selama dia memejamkan mata, Nawang kabur lagi.
Yudhis pun kembali membuka matanya, kemudian menengok ke arah Nawang. Napas lega dia hembusan saat melihat gadis itu masih ada di sana dengan wajah yang berjarak kurang dari satu jengkal dari wajahnya dan mata yang tertutup.
Saking senangnya, Yudhis sampai lupa harus kembali menghadap ke depan agar Nawang bisa mengecup pipinya. Akibatnya, bibir Nawang tidak jadi mendarat di pipi Yudhis dan…
Cup.
Kecupan itu tidak lama, tapi Nawang yakin telah mengecup benda selain pipi.
Dia buka matanya dan didapatinya Yudhis yang tak berkutik dengan pipi yang merona.
“Hhh… gue… anggap lo… yang mulai.” ucap pria itu terbata.
Dia raih kembali wajah Nawang untuk kembali didekatkan padanya. Tanpa menunggu kesempatan lain, Yudhis lakukan apa yang sebenarnya ingin dia lakukan selama ini.
__ADS_1