
Hana menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah dirinya baru saja mandi, Masih dengan handuk yang melilit di kepalanya Hana meraih ponselnya yang terletak di atas nakas kemudian melirik bar notifikasi, Matanya mencari nama Jun di sana tak ada sehingga membuat Hana langsung menelponnya.
Suara wanita yang mengatakan bahwa nomor yang di tuju sedang tidak aktif seketika membuat Hana mengangkat alis sebelah, Tidak biasanya Jun menonaktifkan ponselnya di pagi hari dan pesan Hana semalam pun belum di balas bahkan di baca pun tidak.
Secepatnya Hana mengeringkan rambutnya dan bergegas menemui Jun, entah kenapa perasaanya sejak semalam tidak enak memikirkan Jun yang tiba-tiba bersikap aneh seperti ini.
Setibanya di rumah Jun, Hana tidak melihat adanya mobil Jun yang terparkir di halaman tak menunggu waktu lama Hana pun langsung masuk ke rumah Jun, Hana mencium aroma wine di ruang santai dan mendapat pecahan botol wine yang masih berserakan di meja makan, dan yang lebih membuat Hana terkejut adalah bercak darah yang berceceran di mana-mana. Hana yang mulai panik langsung memanggil-manggil nama Jun namun sayang pria itu tak ada di rumahnya.
Lantas Hana segera menghubungi Katakura untuk menanyakan keberadaan pria itu. " Halo katakura San, ini aku Hana.., Apa Jun sedang bersama mu? " Tanya Hana dengan nada cemas.
" Jun belum tiba di kantor. " Balas Katakura di seberang sana
Belum selesai Katakura bicara Hana sudah mengakhiri panggilannya dan membuat pria itu tampak kebingungan menatap layar ponselnya.
" Dia mencari Jun.? " Sahut Rey yang baru saja tiba di kantor
" Mm.., dia sepertinya sangat khawatir, memangnya apa yang sudah di lakukannya sampai membuat Hana seperti itu. " Gumam Katakura kembali menegejarkan tugas kantornya
Rey tampak menghela nafas pelan dan ikut menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, Satu hal yang Rey tahu saat ini Jun pasti sedang pergi untuk menenangkan diri sehingga ia tak terlalu terkejut dengan hal itu.
\*
Pria itu menatap batu nisan di hadapannya dengan wajah sendu, di tangannya yang terbungkus perban terdapat sebuket bunga Mawar kesukaan Hana yang kemudian di letakkannya di atas nisan tersebut. Jun kemudian menjatuhkan tubuhnya di hadapan nisan itu dan bersujud penuh penyesalan.
__ADS_1
" Aku minta maaf atas dosa Ayahku padamu, Jika saja jantung ini tidak di berikan padaku mungkin kau masih hidup dan sudah berbahagia dengan Hana. Hana pun tidak akan pernah merasakan penderitaan yang di alaminya saat bersamaku. " Ucap Jun yang tak bisa membendung tangisnya lagi
Pagi-pagi sekali Jun sengaja terbang ke Hokkaido untuk menemui Kaji dan meminta maaf atas kesalahan Ayahnya, Kata maaf saja memang tidak akan cukup membalas semua pengorbanan Kaji untuk Jun agar tetap hidup.
Jun masih berada di posisinya, menangis sejadi-jadinya tanpa merasa lelah. Berulang kali kata maaf di lontarkannya di hadapan nisan itu hingga seseorang yang datang untuk mengunjungi makam keluarnya tak sengaja menegur Jun dan mengajaknya untuk bicara.
" Jangan menangis seperti itu di depan makam orang yang sudah meninggal, itu akan membuatnya semakin bersedih di alam sana. " Ucap nenek yang baru saja datang mengur Jun
" Aku merasa bersalah padanya, Karena aku dia sampai meninggalkan orang yang dia cintai. " Isak Jun parau
" Sesuatu terjadi pasti ada alasan di baliknya, Jika dia tidak bisa menjaga seseorang yang di cintai nya kenapa kau tidak melanjutkan kasih sayang pria itu untuk seseorang yang di cintai nya. ?"
Jun menoleh ke nisan Kaji sambil mengusap air matanya, Ucapan nenek itu memang benar, saat ini Hana sudah mencintainya dan jika melarikan diri seperti ini tentu akan membuat Hana kembali sedih. " Terima kasih nek...???? " Jun melongo saat berbalik dan tidak melihat nenek yang di ajaknya bicara barusan.
Sejenak Jun terdiam, ia tersadar dengan ucapan nenek itu ada sesuatu hal yang aneh bagaimana dia bisa tahu kalau dirinya dan Kaji saling terhubung dengan Hana, dan soal ayahnya juga padahal Jun belum menceritakan apapun pada nenek itu. Jun mulai merasa bahwa kedatangan nenek itu sebagai pengantar pesan dari Kaji bahwa dirinya tidak boleh meninggalkan Hana hanya karena masalah ini.
\*
Entah sudah berapa tempat yang di datangi Hana untuk mencari keberadaan Jun, Tak ada satu pun yang tahu kemana pria itu pergi bahkan di kantor hingga taman makam pun tak memberikan tanda bahwa Jun ada di sana. Hana yang berdiri di bawah pohon sakura yang hanya menyisakan ranting terlihat menatap jalanan yang kosong di depannya. Pandangannya kosong dan saat ini sudah lembab hingga meneteskan air mata kesedihan.
Hana takut, dia takut waktu itu terjadi lagi saat di mana dirinya akan melangsungkan pernikahan cobaan berat datang silih berganti, Hana tidak mau kalau di pernikahan nya kali ini dia harus kehilangan Jun. Tangis Hana pecah bagaimana pun ia mencoba untuk tidak menangis, ketakutan itu semakin menjadi-jadi terlebih lagi nomor Jun sampai saat ini belum bisa di hubungi.
__ADS_1
Pada siapa lagi Hana akan bertanya, Satu tempat yang belum di datangi nya hanyalah Dreamland, Entah mengapa langkah Hana segera membawanya ke taman hiburan itu. Dengan menaiki kereta api menuju Asakusa Hana yang seorang diri dengan mata sembab tak peduli walau orang-orang melihat bahkan mengambil gambarnya. Hana tidak peduli dan yang terpenting saat ini adalah menemukan Jun.
Setibanya di sana langkah Hana terhenti tepat di pintu masuk, Ia memandang taman hiburan itu dengan tatapan sendu. Hana berharap dirinya dapat menemukan Jun di sana, begitu Hana kembali melanjutkan langkahnya seorang anak kecil tiba-tiba menarik lengan Hana.
" Kakak, Kau jangan bersedih...Ini balon untuk mu ." Anak perempuan itu memberikan Hana balon berwarna merah agar Hana berhenti bersedih, Rupanya anak kecil juga tahu kalau saat ini Hana sedang bersedih
" Arigatou " Ucap Hana setelah menerima balon tersebut.
Begitu anak kecil itu pergi, Hana kembali melangkah kan kakinya memasuki taman hiburan tersebut, Setiap orang-orang yang di lihatnya mirip Jun di tegurnya dengan wajah penuh harap bahwa itu adalah Jun, namun sayangnya setelah mengitari bagian luar dan dalam Dreamland dirinya masih belum menemukan Jun.
" Kamu di mana. " Ucap Hana yang tidak berdaya lagi untuk mencari sosok Jun.
Saat Hana hendak meninggalkan Dreamland, di pintu keluar dirinya berhadapan dengan seorang pria tinggi yang tampan yang membuat Hana seketika itu kembali menitihkan air matanya.
" Kau dari mana saja, Kau membuatku takut seharian ini... " Tangis Hana kembali pecah dan membuat pria di hadapannya itu langsung meraihnya ke dalam pelukannya.
" Maafkan aku.. " Ucapnya sambil mempererat pelukannya
" Tanganmu, Tanganmu kenapa? " Hana melepas pelukannya dan meraih tangan Jun yang semalam terluka akibat botol anggur yang di pecahkannya.
" Hanya luka kecil, kau tidak perlu khawatir. " Balasnya dengan senyum merekah
" Apanya yang luka kecil, Saat ke rumah mu aku menemukan serpihan kaca di lantai dan ada bercak darah di mana-mana, Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu dan dari mana saja kamu? " Hana menatap bola manik mata Jun dengan tajam meminta penjelasan yang sesungguh nya.
__ADS_1