
Rara langsung menggandeng tangan Hasya, menuju kamar anak gadis nya itu. Meskipun kemungkinan kecil nya Hasya tidak tahu, apa maksud perkataan Frezan tadi, tetap saja Rara akan malu.
"Bunda," panggil Hasya sembari melepaskan jepitan rambut nya di depan meja rias.
"Iya sayang, kenapa?" tanya Rara dengan lembut, dia tengah duduk di kursi sofa, sembari menatap Hasya melepaskan jepitan nya.
"Bunda tahu, kenapa kak Tegar pulang?" tanya Hasya, "maksud Hasya, tumben banget kak Tegar balik nya cepat," lanjut Hasya sembari memutar kepala nya menatap Rara.
"Oiya, Sya. Bunda hampir lupa, besok ayah mau ngomong sama Hasya. Ngomong serius, bunda di larang sama ayah buat ngomong sekarang," ujar Rara dengan lembut di selingi dengan senyuman hangat untuk anak nya.
Hasya mengangguk kecil, lalu kemudian gadis itu kembali berkata, "jadi, ayah mau ngomong sama kak Tegar juga? Makanya kak Tegar balik kesini?" tanya gadis itu memastikan membuat Hasya terkekeh melihat anak nya itu.
"Tumben nyambung, Sya," celetuk Rara membuat gadis itu hanya cengengesan saja, "iya, ayah mau ngomong sama kak Tegar juga, makanya kak Tegar balik lagi," lanjut Rara dan dibalas anggukan paham oleh gadis itu.
Hasya mulai mengganti baju menggunakan piyama bergambar panda, membuat gadis itu sangat menggemaskan malam ini.
"Nggak tidur, Sya?" tanya Rara dan dibalas gelengan kepala oleh Hasya.
"Hasya mau ke kamar kak Tegar aja, Bun. Mau tidur bareng sama kak Tegar," jawab gadis itu.
"Emang kak Tegar udah ngizinin Hasya?" tanya Rara memastikan dan dibalas gelengan kepala oleh Hasya.
"Ini Hasya baru mau minta izin sama Kak Tegar."
Rara dan Hasya meninggalkan kamar, Rara berjalan menuju dapur, sementara Hasya berjalan menuju kamar Tegar.
Rara tahu, jika putra nya akan menolak jika Hasya meminta tidur di kamar putranya itu. Namun, Rara tidak menegurnya, karna Hasya akan mengatakan jika Tegar tidak akan tega menolak diri nya. Ya, Rara pikir seperti itu, di tambah lagi bukan hanya Tegar saja, ada Sahrul sahabat putra nya.
Tidak mungkin jika Tegar mengizinkan sang adik tidur dengan nya, sementara ada orang lain di antara mereka.
Ceklek.
Tegar melirik pintu kamar nya dibuka, oleh gadis yang mengenakan piyama bergambar panda.
"Baru bangun udah di suguhin sama yang bening-bening," ujar Sahrul dengan tawa kecilnya, melihat Hasya melangkah mendekati kearah mereka, lebih tepatnya lagi pada Tegar.
Cowok itu baru saja bangun dari tidurnya, saat membuka mata dia di suguhkan dengan wajah menggemaskan nan cantik milik Hasya, siapapun yang melihat gadis itu, akan berpikir sama dengan Sahrul, jika Hasya gadis yang sangat cantik yang pertama kali ia lihat, gadis itu seperti titisan bidadari yang terdampar di muka bumi ini.
Pantas sajalah jika Hasya cantik, Rara saja cantik, di tambah Frezan yang ganteng.
"Kenapa, Sya?" tanya Tegar sembari menyimpan ponsel nya diatas nakas, tidak lupa pula dia menatap Sahrul dengan tatapan tajam, agar cowok itu tidak menatap terus-menerus sang adik.
Sahrul hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, melihat tatapan dingin Tegar padannya. Untung saja Sahrul sudah biasa dengan tatapan itu.
"Maaf, Gar. Mata gue selalu berbinar-binar, kalau lihat cewek cantik. Apa lagi jika cewek itu adalah Hasya," jujur nya dengan tawa kecil.
"Kak Sahrul udah bangun, Hasya kesini tadi tapi kak Sahrul belum bangun," ujar Hasya, sembari duduk di tepi ranjang Tegar bersama sang kakak, sementara Sahrul masih berada di tengah-tengah mengumpulkan tenaganya habis bangun tidur.
"Eh... Kamu kesini pak gue tidur, Sya?" tanya Sahrul dan dibalas anggukan kepala oleh Hasya, "jadi lo lihat gue tidur dong!" pekik nya membuat Hasya tertawa.
"Emang kenapa?" tanya Hasya polos.
"Jadi lo lihat gue tidur, itu berarti lo lihat iler gue dong, Sya?" panik nya membuat Hasya suka dengan tingkah Sahrul, ini pertemuan kedua Sahrul dan Hasya, membuat Hasya suka dengan sikap sahabat kakak nya itu.
"Nggak kok," jawab Hasya jujur, karna dia memang tidak memperhatikan saat Sahrul tidur, karna Tegar yang menghalangi nya.
"Pasti bohong, 'kan?" Sahrul menyipitkan matanya kearah gadis itu, "pasti iler gue kelihatan?"
Plak...
Tegar langsung menggeplak kepala Sahrul membuat Hasya terkejut, bukan dia yang mendapatkan geplakan itu, namun dia yang nyeri sendiri.
"Kak Tegar kok gitu," kata Hasya dengan nada cemberut, dia tidak bisa membayangkan kesakitan yang Sahrul rasakan. Terdengar lebay, tapi Hasya mengkhawatirkan Sahrul.
"Lo kepedean kalau Hasya mau lihat lo tidur," kata Tegar dingin, masih menatap Sahrul tajam, sementara cowok itu mengusap kepala nya. Tegar benar-benar kurang ajar, yang harus Sahrul berikan pelajaran berupa membongkar rahasia besar Tegar, jika cowok itu menyukai seseorang. Memikirkan itu saja membuat Sahrul tertawa dalam hati.
__ADS_1
"Sini Hasya usap kak." Hasya mengusap kepala Sahrul yang di geplak Tegar, membuat Sahrul tersenyum kemenangan.
"Duh, kalau dedek gemes yang usapin, gue mau tiap hari di geplak kakak lo," kata Sahrul dengan kekehan kecil, dari jarak dekat dia bisa melihat dengan jelas wajah Hasya.
"Sayang banget, lo udah di jodohin, Sya. Jadi gue nggak punya peluang buat dapetin lo," dramatis Sahrul, dia tidak pernah memikirkan jika dia akan dekat dengan gadis cantik, yang sangat cantik.
"Modus!" Tegar mendorong tubuh Sahrul, untung saja cowok itu tidak jatuh, tapi ekpresi lucu dari Sahrul membuat Hasya tertawa keras.
"Lo sama kakak lo sama aja. Sama-sama suka lihat orang menderita," cemberut nya membuat Hasya merendakan tawa nya, karna merasa bersalah pada Sahrul.
"Yaudah, sini Hasya usap lagi." Hasya ingin membantu Sahrul untuk duduk namun tangannya langsung di tahan oleh Tegar.
"Nggak usah, cowok kayak gini yang suka modus," kata Tegar.
"Tap--"
"Lo mau, kalau Zhar tahu, lo usap cowok lain?" tanya Tegar dengan menaik turunkan alisnya membuat Hasya langsung menjaga jarak dengan Sahrul.
"Tiba-tiba Hasya lupa sama kak Zhar," gumam Hasya yang masih di dengar oleh Tegar dan Sahrul.
"Itu berarti, lo nggak cinta sama
dia," celetuk Sahrul, "mendingan Hasya sama gue aja."
"Mendingan lo cuci muka, iler lo di muka lo banyak," kata Tegar membuat Sahrul mendumel turun dari tempat tidur, lalu cowok itu berjalan menuju kamar mandi.
"Kenapa belum tidur?" tanya Tegar sembari merapikan rambut adik nya, "ini udah tengah malam, Hasya bobo ya?" Sikap Tegar sangat manis jika sudah berdua dengan Hasya begini. Rasanya, Tegar yang ingin bermanja-manja dengan adiknya itu.
"Hasya belum ngantuk, Hasya mau tidur di sini, boleh nggak?" tanya Hasya.
"Nggak boleh." Ini adalah penolakan dari Tegar.
"BOLEH BANGET!" Dan ini adalah teriakan Sahrul dari kamar mandi, mengiyakan ucapan Hasya, jika dia boleh tidur di sini.
"Nggak boleh," kata Tegar lagi menatap adik nya dengan tatapan menolak jika Hasya ingin tidur di sini.
"Lain lagi ceritanya, di sini ada Sahrul," jelas Tegar.
"Aelah, Gar. Kamar lo luas, gue tidur di sofa juga nggak apa-apa kali," timpal Sahrul dengan malas, lalu iru tersenyum kearah Hasya.
"Kak Sahrul nggak usah tidur di sofa. Biar Hasya tidur di tengah," ucap nya dengan polos sukses membuat bola mata Sahrul nyaris keluar, pantas saja Tegar sangat posesif dengan adiknya, jika ada cowok yang mendekati. Sahrul jadi takut, kalau dia akan khilaf merebut Hasya dari Zhar. Jangan serius, itu hanya candaan Sahrul saja.
***
Rumah Valen nampak sepi, memang begitulah suasana rumah Valen setiap hari. Karna dia hanya mempunyai satu anak, tidak seperti kedua sahabat nya.
"Kamu yakin, Fal. Mau ambil libur satu minggu?" tanya Valen di tengah-tengah serapan pagi mereka.
Mereka hanya berdua sarapan, sementara Anna masih tidur, gadis itu sangat sulit untuk di bangunkan jika hari minggu begini.
Rifal menatap Valen, yang berada tepat di depan nya, "gue libur selama nya nggak apa-apa juga, Len. Kamu 'kan tahu, kalau aku bos," jelas Rifal membuat Valen memutar bola matanya malas.
Sifat sombong Rifal sudah mendarah daging, "kalau sifat pemimpinnya yang malas, pasti bawahannya bakalan malas juga."
"Nggak akan malas, selama di handel sama Fernando," jelas Rifal dengan senyuman bangga.
"Jangan kasi Nando pekerjaan mulu. Sekali-kali kamu ganti asisten. Kasihan tahu, Nando sampe sekarang belum nikah, gara-gara fokus kerja bareng kamu. Makanya dia nggak ada waktu untuk cari pendamping hidup," sosor Valen panjang kali lebar, "kamu pikir tua sendiri itu enak. Nando juga butuh pendamping hidup, buat nemenin masa tua nya nanti."
"Udah ngoceh nya?" tanya Rifal, sembari mengambil tisu untuk menghapus sisa-sisa makanan di bibir nya, meskipun itu tidak ada.
"Udah."
"Nando nggak perlu cari pendamping, nggak perlu susah-susah cari perempuan," kata Rifal santai, "karna Anna akan selalu ada untuk Nando."
Detik itu juga, garpu melayang kearah Rifal, untung saja pria itu bisa menghindar tepat waktu dengan tawa keras nya. Dia sangat suka menggoda dan membuat Valen marah, jika sudah menyangkut Nando dan anak mereka.
__ADS_1
"Entar kamu baru tahu rasa, kalau omongan kamu bakalan kenyataan!" marah Valen dengan kekesalan mengguncang relung hati nya.
Dia langsung pergi meninggalkan meja makan dengan kekesalan, sementara Rifal masih setia dengan tawa nya.
Jika ingin membuat Valen marah, maka Rifal hanya perlu mengatakan Nando untuk Anna, anak mereka. Itu hanya sebuah lelucon bagi Rifal, namun tidak bagi Valen, yang sangat kesal jika Rifal mengatakan hal itu.
Drt. ...
Ponsel milik Rifal bergetar, dia melihat nama yang tertera di layar ponsel nya.
"Panjang umur," gumam Rifal, melihat nama Nando di layar ponsel nya.
Rifal mengangkat telfon dari Nando, lalu kedua pria itu mulai mengobrol di ujung telfon.
Valen tiba di depan pintu kamar anak nya, dia mengetuk pintu kamar Anna, berharap anak nya sudah bangun.
Ceklek.
Pintu kamar di buka oleh gadis cantik, Anna mengusap mata nya menatap wanita cantik di depan nya.
"Mom," panggil Anna dengan suara khas bangun tidur.
"Akhirnya anak Mom udah bangun. Anna nggak ingin pergi? Katanya mau kerja tugas di rumah Layla." Valen kembali mengingatkan anak gadis nya itu.
"Ya ampun, Anna sampai lupa." Anna menepuk jidat nya.
"Om Nando udah datang?" tanya Anna.
"Belum, mungkin bentar lagi datang. Buruan gih mandi. Sebelum om Nando sampai. Anna nggak mau, 'kan, buat om Nando Anna nunggu?" ujar Valen dan dibalas anggukan oleh Anna.
"Ok, Om. Anna mandi dulu. Supaya om Nando nggak lama nunggu nya." Lepas itu, Anna masuk kedalam kamar mandi.
Sementara Valen hanya menggeleng melihat tingkah anak nya, wanita itu berjalan menuju lemari Anna. Menyiapkan baju untuk anak nya, karna baju pilihan Valen selalu cocok untuk sang anak. Dan Anna suka akan hal itu.
Sekitar 15 menit didalam kamar mandi, akhrinya Anna keluar dengan rambut basah, dengan handuk melekat di tubuh mungil nya.
"Mom keringin rambut kamu dulu." Valen menyuruh anak nya mendekat, lalu dia mulai mengeringkan rambut Anna dengan Hairdyer.
Valen di kkenal di sekolah sebagai gadis yang kemana-mana bawa alat make up, terutama cermin, gadis itu juga di kenal centil waktu itu.
Mengingat hal itu membuat Valen tertawa, setidaknya sifat centil nya tidak menurun pada sang anak.
Tapi, soal make up Valen, kini turun kepada Anna. Karna gadis itu kemanapun akan membawa alat make dengan cermin.
Setelah rambut gadis itu kering, Anna mulai mengenakan baju yang akan ia pakai kerumah Layla untuk kerja tugas.
Anna mulai memoles wajah nya dengan make up, di bimbing oleh Valen, karna anak nya belum terlalu lihai mengenai make up.
Mungkin wajah Anna kelihatan dewasa, tidak menampakkan jika gadis itu masih gadis SMP, karna di tutup oleh make up yang membuat nya kelihatan dewasa.
"Anak Mom cantik." Valen menoel hidung Anna dengan gemas.
"Mom, Anna mau nanya," ucap gadis itu, setelah dia sudah memoles wajahnya dengan make up.
"Tanya apa?" tanya Valen, posisi gadis itu masih duduk di meja rias, sementara Valen merapikan sprei kamar milik Anna.
"Soal om Nando," kata Anna lagi.
"Om Nando kenapa?" tanya Valen, tanpa melirik kearah anak nya itu.
"Kenpa om Nando belum nikah Mom? Usia om Nando sama Daddy kan hampir sama," kata Anna, "Om Nando nggak mau nikah, karna harus jagain Anna ya, Mom?" tanya Anna lagi. "Karna Anna ya?" Ingin sekali Anna mendengar dari mulut Valen, jika Nando belum ingin menikah sampai saat ini karna diri nya.
"Bukan kok, om Nando nggak nikah karna lagi fokus kerja, sambil jagain kamu," jelas Valen membuat Anna Manggut-mamggut. "Jodoh Om Nando bakalan datang, tapi bukan sekarang."
"Kalau suatu saat Om Nando nikah, apa om Nando berhenti kerja sama Daddy? Terus dia juga berhenti jagain Anna?" tanya Anna memastikan.
__ADS_1
Valen nampak berpikir, "kalau om Nando nikah, dia tetap kerja sama Daddy. Tapi kemungkinan besar, dia berhenti jagain Anna setiap hari."