
Lea dan Agrif belum meninggalkan rumah sakit, mereka saat ini berada di kantin rumah sakit, menikmati makanan yang ttersaji.
"Udah ngomong sama Dyta?" tanya Lea di tengah-tengah mereka menikmati makanannya.
Agrif mengangguk sebagai jawaban. "Besok Dyta udah boleh pulang, kalau kamu butuh bantuan untuk ketemu Dyta, tinggal telfon kakak aja. Nanti kak Lea yang usahain sama kak Nathan," jelas Lea.
"Nggak usah kak Lea. Agrif bisa ketemu Dyta di sekolah," kata Agrif membuat Lea tersenyum tipis.
"Setelah kejadian ini, kemungkinan besar Dyta libur sekolah, sekitar satu mingguan. Itu yang kak Lea dengar dari orang tua Dyta," ucap Lea membuat Agrif terdiam.
"Jadi gimana?" tanya Lea lagi sembari menyesap es teh milik nya.
"Agrif bakal hubungi kak Lea, kalau butuh sesuatu," kata Agrif dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.
Mereka kembali menikmati makanannya.
"Agrif tinggal bareng sama siapa?" tanya Lea setelah makan siang mereka selesai.
"Sama Jo," jawab Agrif.
"Rumah kak Lea terbuka lebar untuk kamu. Kalau kamu mau tinggal di rumah kak Lea, hubungi kak Lea ya," kata wanita itu lagi, "dengan senang hati kalau kamu mau tinggal bareng sama kakak."
"Makasih, udah bantuin Agrif dari dulu sampe sekarang," kata anak itu lagi.
"Sama-sama." Perlahan-lahan Lea akan merubah Agrif agar melupakan dendam masa lalu itu.
Dia tidak mau jika anak itu terjerat dendam masa lalu. Dan pada akhrinya anak itu akan menyesali perbuatan tersebut.
Setelah makan bersama, Agrif pamit pulang lebih dulu. Ada yang akan ia urus bersama Aldi.
Kebetulan cowok itu masih di rawat di sini, membuat Agrif melangkahkan kaki nya menuju ruangan milik Aldi.
Ceklek.
Aldi melirik kaku kearah pintu, dia pikir yang datang adalah teman-temanya , ternyata dugaannya salah. Karna yang datang adalah sosok cowok yang pernah membayar nya mahal, dia datang lagi menjenguknya. Ahk, lebih tepat nya lagi memberikan peringatan kepada diri nya ini.
"Ngapain lo kesini lagi," kata aldi pada Agrif yang sudah duduk angkuh di kursi sofa sana. "Semuanya kemarin sudah kita bicarakan, ngapain lo balik kesini lagi," jelas Aldi lagi. Dia belum biasa bersuara keras, karna dirinya masih sakit, belum bisa bergerak dan mengeluarkan suara dengan bebas, jika tidak mau tubuh nya akan sakit.
"Gue kesini mau kasi lo ini." Agrif mengeluarkan cek untuk Aldi, lalu dia berjalan di dekat Aldi, meletakkan cek itu diatas nakas. "Lupain yang kemarin yang gue omongin," lanjut nya dengan tegas sembari menatap tajam kearah cowok yang masih berbaring lemah diatas brankar tersebut. "Jangan lakuin. Yang kemarin gue perintah 'kan."
Lepas itu, Agrif pergi meninggalkan Aldi. Keluarnya cowok itu dari ruangan Aldi dapat dilihat oleh Raka dan juga Dyra.
Ini yang kedua kalinya Dyra melihat Agrif berkunjung keruangan Aldi. Dyra sampai bertanya-tanya, hal apa yang sedang Agrif rencanakan dengan Aldi.
Dyra sampai takut, jika Agrif merencanakan hal buruk lagi. Bahkan rencana yang jauh lebih buruk lagi. Bisa saja cowok itu menyuruh Aldi untuk mencelakai mereka lagi, jika cowok itu sudah sepenuhnya pulih.
"Gue yakin, Agrif nggak akan lakuin itu lagi," kata Raka sembari melirik Dyra yang masih menatap punggung Agrif yang semakin menjauh.
"Gue nggak yakin sama Agrif, Ka. Gue nggak yakin, gue masih kekeh sama pendirian gue. Kalau Agrif rencanain hal besar ke gue sama Dyta," jelas Dyra tanpa ingin di bantah.
"Kita jadi jenguk cowok lo itu atau nggsak?" tanya Raka mengalihkan pembicaraan dengan Dyra.
"Bukan pacar, tapi mantan." Dyra menekan setiap perkataan nya.
"Jadi tinggal gue nih pacar lo?" tanya Raka lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Dyra, jika apa yang dia katakan barusan adalah sebuah fakta.
Dyra sudah berjanji pada dirinya sendiri, jika dia sudah tidak mau mengkoleksi banyak pacar lagi, dia hanya ingin fokus sama satu cowok. Siapa lagi kalau bukan Raka.
Raka mengacak-acak rambut Dyra dengan gemas. "Kalau memang gue pacar lo Satu-satunya, kenapa lo mau jenguk Aldi?" Raka memutar bola matanya malas, "mana ajak gue lagi."
"Ihk, kak Raka. Dyra sengaja ngajakin kak Raka. Biar gue kenalin sama sih Aldi bajingan. Supaya dia percaya, kalau gue udah punya cowok. Biar dia nggak berharap sama gue lagu." Dyra berkata dengan menggebu-gebu membuat Raka tertawa pelan.
"Iya-iya... Gue percaya," kata cowok itu tersenyum manis kearah Dyra.
Dyra menarik tangan Raka untuk segera masuk kedalam ruangan Aldi. Dia juga penasaran apa yang Aldi dan Agrif bicarakan. Ya, Dyra akan memaksa Aldi untuk bicara, biar Dyra tahu rencana Agrif sekarang.
Ceklek...
__ADS_1
Pintu ruangan Aldi di buka, cowok itu berpikir jika yang datang adalah Agrif lagi. Ternyata dugaannya salah, karna yang datang adalah Sosok gadis yang mampu membuat sudut bibir nya terangkat berbentuk senyum, setelah kesal dengan kedatangan Agrif tadi.
Senyuman di wajah Aldi luntur, saat melihat jika Dyra tidak datang sendirian, dia datang bersama cowok yang pernah Aldi lihat saat mereka nongki di cafe milik Agrif.
"Ra... Dia siapa?" tanya Aldi tanpa mengalihkan pandangannya dari Raka.
"Kemarin 'kan gue udah bilang. Kalau gue udah punya pacar," sombongnya, "gue kesini bukan buat jenguk lo. Gue kesini buat kenalin sama lo, pacar gue. Kak Raka." Dyra menekan setiap perkataan nya membuat Aldi mengepalkan tangannya dibawah sana. Raka bisa merasakan itu, jika saat ini Aldi tengah menahan emosi yang siap memuncak.
"Gue nggak nyangka. Gue pikir lo kesini buat jengukin gue. Dan ngomong kalau semua yang lo bilang kemarin itu bohong," suara Aldi menahan amarah, membuat Raka langsung menggengam tangan Dyra.
Sebagai cowok yang punya julukan sebagai pembunuh bayaran, membuat Raka takut jika Dyra berdekatan dengan Aldi.
"Ngapain lo tatap cewek gue kayak gitu," sinis Raka kepada Aldi yang menatap Dyra seperti ingin mencabik gadis itu.
Aldi menatap Raka tajam, "lo cowok yang bodoh, mau aja sama cewek murahan kayak dia. Nggak cukup sama satu cowok," sengit Aldi.
Raka ingin mencomot bibir cowok itu, namun tangannya langsung di cekal oleh Dyra.
"Nggak usah dengerin omongan cowok yang lagi sakit hati," kata Dyra pada Raka dengan senyuman manis, yang suskes membuat darah Aldi mendidih, "karna mulut cowok itu bakalan lemes, kalau lagi sakit hati. Contohnya kayak dia," ejek Dyra, sebenarnya dia sedikit kasihan dengan Aldi, namun dia terlanjur sakit hati karna Aldi mengatai nya cewek murahan.
Netra mata Dyra menatap sesuatu diatas nakas, dia tidak asing dengan kertas itu, tangannya bergerak mengambil kertas tersebut, lalu dia bergumam, "cek?" gumamnya sembari membaca nominal yang berada di cek tersebut.
Bola mata Dyra membulat, saat membaca nominal tersebut, "1 milyar!"
Dyra menyimpan cek itu kembali, lalu menatap Aldi tajam, wajah nya sudah merah padam, siap untuk meledak.
"Bilang sama gue! Agrif nyuruh lo apa lagi hah!" murkah Dyra membuat Raka langsung menenangkan gadis itu, jangan sampai dia menjambak Aldi yang masih skit karna emosi.
Dyra semakin geram saat melihat Aldi tersenyum menyeringai kearah nya, senyumam menyeramkan yang membuat siapapun akan takut, dan Dyra melihat itu dari Aldi. Saat dia berteriak menanyakan apa yang Agrif suruhkan padanya lagi.
"Apa Al!" teriak Dyra lagi membuat perawat yang berada di luar langsung masuk kedalam ruangan Aldi.
"Ada apa ini? Mas nya bawa pacar nya keluar. Kasihan istirahat pasien terganggu," kata perawat itu menyuruh Raka membawa Dyra keluar dari sini.
"Ayok, Ra." Raka memaksa Dyra untuk keluar, namun gadis itu kekeh ingin berada di sini, dengan terpaksa Raka harus menarik Dyra keluar, lalu perawat pintu ruangan Aldi.
"Ra, sadar. Aldi nggak akan lakuin apapun sama lo. Dia lagi sakit, buat bergerak aja dia susah payah. Gimana bisa dia mau nyelakain lo sama Dyta," kata Raka memegangi pundak milik Dyra yang masih berteriak keras.
"Apa yang lo tahu tentang Aldi, kak. Apa? Kita nggak akan tahu, dia bakalan sembuh dan bakalan ngincar gue sama Dyta lagi!" Dengan penuh amarah dan keyakinan membuat Dyrs begitu yakin dengan ucapannya.
"Apa bukti nya, Ra? Lo tenang, Aldi nggak akan lakuin hal itu sama lo," ucap Raka lagi sembari menenangkan Dyra.
"Kita lihat Agrif keluar dari ruangan Aldi, Kak! Dan gue lihat cek diatas nakas, nominal nya itu nggak kecil. Ada uang 1 milyar di cek itu buat Aldi. Buat apa Agrif kasi cek sebesar itu, kalau bukan buat Aldi ngejalanin tugas nya buat ngincer gue sama Dyta!" Dyra menangis, dia masih ingat jelas nominal uang sebanyak itu untuk Aldi.
Raka terdiam, uang sebanyak itu tidak akan mungkin di berikan Agrif secara cuma-cuma, kalau dia tidak punya perintah untuk di jalankan oleh Aldi. Tapi Raka berusaha berpikir positif, karna dia tahu kakak nya tengah membujuk Agrif dan Raka bisa melihat keakraban yang terjalin antara Lea dan Agrif.
Raka sangat yakin, jika Agrif tidak akan melakukan hal seperti ini. Dia yakin dengan pendiriannya sendiri. Yang membuat Raka bingung, untuk apa Agrif membrikan cek yang nominalnya sangat besar itu. 1 Milyar loh, itu bukan uang yang sedikit, itu uang yang sangat banyak. Jika Raka menjumlahkan nya, dia bisa mendapatkan uang 1 Milyar dalam waktu satu tahun, itupun uang jajan dari Lea, dan Aldi mendapatkan uang 1 Milyar dari sosok pengusaha muda seperti Agrif.
Mungkin nominal itu tidak seberapa bagi Agrif untuk seseorang yang harus mengikuti perintah nya dan menjalankan perintah nya.
Dyra menangis dan Raka harus menenangkan gadis itu, jika tidak Dyra akan terus meraung.
"Udah, Ra. Gue yakin Aldi nggak akan lakuin itu," kata Raka lagi sembari menenangkan Dyra yang masih menangis.
"Aldi bakalan lakuin kalau perintah Agrif, kak. Lo nggak lihat, Agrif berani membayar Aldi mahal. Sangat mahal," kata Dyra lagi masih setia menangis.
Raka langsung membawa Dyra dalam pelukan nya, dia yakin gadis itu masih punya trauma yang dalam atas apa yang menimpa nya malam itu.
"Pokoknya, gue nggak percaya sama mereka, gue takut hiks... " Dyra terus menangis dalam pelukan Raka, saat cowok itu membawanya kedalam pelukan nya.
Raka mengusap punggung Dyra, dia tahu gadis itu sedang takut jika apa yang dia pikirkan akan terjadi.
"Udah, ya. Ada gue di sini," ucap Raka sembari mencubit pipi Dyra dengan gemas.
Akhirnya Dyra diam, namun bayangan kematian itu terus terlintas dalam benak nya. Dia takut jika Aldi benar-benar membunuh nya. Itu adalah kenyataan yang harus Dyra Terima, suatu hari nanti ucapan nua akan terbukti yang tidak dapat di percayai oleh Raka.
Raka membawa Dyra keruangan Dyta, membuat Dyta yang melihat adik nya langsung menatap Raka.
__ADS_1
"Lo ngapain adik gue, Ka?" tanya Dyta menatap tajam Raka yang membawa Dyra dalam keadaan setengah menangis.
"Nggak gue apa-apain," ucap Raka.
"Gue keluar dulu ya, Ra," pamit cowok itu dan dibalas anggukan kepala oleh Dyra, setelah kepergian Raka, Dyta menarik adiknya untuk duduk di sofa, dia tahu ada sesuatu yang Dyra takuti saat ini.
"Lo kenapa?" tanya Dyta, "cerita sama gue," lanjut nya membuat Dyra semakin menangis membuat Dyta membawa adiknya dalam pelukan nya.
"Kenapa, Ra? Cerita sama gue," pintah Dyta lagi, dapat dia rasakan tubuh adiknya bergetar hebat membuat Dyta semakin yakin ada sesuatu pada Dyra.
"Cerita sama gue, atau gue seret Raka kesini buat ngomong," ancam Dyta membuat Dyra menggeleng dalam pelukan Dyta.
"Gue takut.... " Dyra berkata dengan suara bergetar hebat, "gue takut Agrif bakalan bunuh kita, Ta."
Deg...
Ucapan Dyra barusan membuat jantung Dyta berdetak tidak karuan. Bagaiamana bisa adiknya berpikir sampai kesana.
"Ra... "
"Gue lihat Agrif keluar dari ruangan, Aldi. Pas gue masuk, gue lihat cek dengan nominal satu milyar diatas nakas milik Aldi. Itu adalah pemberian dari Agrif," tangis Dyra saat menceritakan hal ini pada Dyta.
"Gue yakin, kalau Agrif nyuruh Aldi lagi, buat ngincar nama kita," lanjut Dyra dengan sangat yakin, membuat siapapun yang mendengar nya akan yakin dengan kesungguhan gadis itu dalam menyampaikan hal yang barusan dia katakan.
Dyta tidak tahu apa yang harus dia katakan, karna dia tidak tahu apa yang akan Agrif lakukan, untuk menuntaskan balas dendam nya itu. Apa lagi uang sejumlah 1 Milyar yang di berikan Agrif jumlahnya tidak kecil sama sekali.
1 Milyar, sungguh Agrif tidak akan memberikan uang itu cuma-cuma pada Aldi jika Aldi tidak menjalankan tugas dari Agrif.
Dyta kembali membawa Dyra dalam pelukan nya. Dia tahu firasat adiknya tidak akan pernah salah.
Dyta memejamkan matanya, dia harap ini hanya kecemasan Dyra saja. jika apa yang Dyra katakan terbukti, maka Agrif haru siap mendapatkan kebencian dari Dyta.
"Gue harap ini cuman kecemasan lo aja," gumam Dyta penuh harap.
***
Hell pulang sekolah berbunyi, sehingga murid-murid SMA segera pulang...
"Kita kerumah sakit, ya," kata Hasya kepada Zhar, dari kemarin dia ingin menjenguk Dyta namun tidak mendapatkan izin dari Tegar, dan hari ini dia akan ke rumah sakit bersama Zhar tentu nya.
"Iya." Zhar langsung menggandeng tangan Hasya keluar kelas, lalu mereka berdua berjalan menuju parkiran.
"Bawa mobil atau motor?" tanya Hasya sembari berjalan di samping Zhar. Tautan tangan mereka sudah terlepas, Zhar yang melepas nya sendiri karna dia tahu jika Hasya risih di perlakuan seperti ini.
"Mobil," jawab Zhar.
"Tunggu gue di depan gerbang, gue ambil mobil dulu," ucao Zhar lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Hasya.
Melihat Zhar dan Hasya berpisah membuat Riki dengan cepat menarik tangan Hasya, membuat gadis itu terlonjak kaget dengan tindakan Riki, cowok itu sampai menyandarkan tubuh mungil nya di tembok, dengan jarak mereka yang sangat dekat.
"Lepasin!" pintah Hasya brusaha memberontak namun tenaganya tidak sekuat tenaga milik Riki.
"Gue mau ngomong sama lo, Sya. Kasi gue waktu buat berduaan sama lo. Ada yang mau gue omongin," jelas Riki membuat Hasya menggeleng.
"Lepasin Hasya. Hasya nggak mau denger apapun dari kak Riki. Lepas! Kalau Kak Riki nggak lepas, Hasya bakalan laporin sama kak Tegar, kalau kak Riki kasar sama aku!" ancam Hasya dengan wajah memerah menahan tangis, jaraknya yang sangat dekat dengan Riki membuat nya takut, jika cowok itu kembali melakukan hal yang membuat Hasya jadi takut lagi.
"Gue nggak ngapa-ngapain lo, Sya. Gue cuman mau ngomong sama lo. Kasi gue waktu," kata Riki lagi masih setia menatap manik mata Hasya yang cantik itu. "Ada yang mau gue omongin, Sya. Tapi lo selalu ngehindarin gue dan asik sama Zhar." Menyebut nama Zhar membuat Riki makin emosi saja. Padahal dia tahu betul, tatapan takut gadis di depan nya ini selalu dia berikan kepada Zhar, bukan pada dirinya. Kenapa sekarang malah terbalik. Dia yang mendapatkan tatapan takut dari Hasya.
"Hasya nggak mau. Hasya nggak mau deket-deket sama kak Riki. Hasya udah maafin kak Riki. Bukan berarti Hasya harus dekat sama Riki lagi." Hasya berusaha lepas dari Riki namun cowok itu tidak memberikannya celah sedikit pun membuat Hasya makin tidak suka pada Riki.
Padahal cowok itu pernah meminta maaf atas kesalahan yang ia buat. Dan kini dia kembali membuat kesalahan dengan menahan dirinya di sini.
Hasya menatap sekeliling, takut-takut jika ada yang melihat posisinya seprti ini dengan Riki membuat nya akan menjadi sebuah salah paham, lalu tersebar luas di sekolah.
Sementara mereka di sekolah sudah tahu, jika dirinya dan Zhar pacaran. Tapi mereka belum tahu jika dia dan Zhar akan segera menikah.
Mereka semua tau betapa tidak mau nya Hasya pada Zhar. Dan tiba-tiba saja mereka di kabarkan pacaran membuat ada yang mendukung hubungan Hasya dan Zhar, dan juga mencibir Hasya karna pernah membuat Zhar mengemis dan ujung-ujung nya mereka pacaran.
__ADS_1
Untung saja Hasya tidak terlalu ambil pusing, karna menurut nya rasa itu timbul saat di jodoh kan, bukan waktu Zhar menembak nya.