
Mobil milik Zhar singgah depan gerbang rumah Frezan, dia sudah sampai di rumah gadis yang ia antar pulang malam ini.
"Kamu nggak mau masuk dulu?" tanya Hasya dan dibalas gelengan kepala oleh Zhar.
"Lain kali aja, Papa nyuruh gue pulang cepat," jelas nya membuat Hasya mengangguk pelan.
"Aku turun, nih?"
"Iya, lo turun. Atau mau gue bawa kerumah?" Zhar menaik turun, 'kan, alisnya membuat Hasya cengegesan.
"Tapi izin sama ayah dulu," balas Hasya membuat Zhar menggelengkan kepala nya. Padahal, dia hanya bercanda, tapi gadis di depannya menganggap serius ucapan nya barusan. "Gimana?" lanjut Hasya, karna Zhar hanya diam saja tidak menanggapi ucapan nya.
"Turun, Sya. Sebelum gue karungin lo," balas cowok itu membuat Hasya memanyunkan bibir nya lucu.
Zhar menjadi gemas melihat tingkah Hasya saat ini, "turun, Sya," kata Zhar lagi, karna Hasya belum juga turun, Zhar buru-buru jadi dia tidak bisa singgah ke rumah Hasya.
"Iya-iya, ini mau turun kok," balas Hasya tak ingin kalah.
"Nggak ada yang mau kamu omongin, sebelum aku turun?" tanya Hasya sekali lagi.
"Ada," kata Zhar.
"Apa?"
"Jangan lupa mimpiin gue, kalau lo tidur," ujar Zhar dengan suara pelan, sukses membuat Hasya menjadi blushing.
Tingkah Hasya membuat Zhar terkekeh, Hasya sangat menggemaskan jika gadis itu salting seperti saat ini.
"Turun, Sya. Entar ayah lo nyamperin kita di sini," kata Zhar lagi.
"Ngusir Aku ya?" Hasya menatap Zhar dengan tatapan tidak percaya, "dari tadi kamu nyuruh aku turun terus, kamu nggak betah ya, lihat aku di sini," lanjut Hasya dengan suara kecil sembari menundukkan kepala nya, tidak ingin menatap wajah milik Zhar saat ini.
Zhar mengacak rambut Hasya gemas, "bukan gitu, gue udah bilang tadi. Kalau gue buru-buru. Besok gue bakalan kesini," ucap Zhar dengan sungguh-sungguh membuat Hasya mengembangkan senyum manis nya menatap Zhar.
"Janji, ya?" Hasya memberikan jari kelingking nya pada Zhar, sementara cowok itu masih tidak bergeming, tidak tahu apa maksud Hasya. "Sini jari kelingkingnya." Kini giliran Hasya yang gemas dengan tingkah Zhar yang hanya diam saja. Jari kelingking Zhar dan Hasya tertaut, Zhar baru ngeh dengan tindakan Hasya saat ini, gadis itu menyuruh nya untuk berjanji, dengan menautkan kedua kelingking mereka.
"Iya, gue janji. Besok gue bakalan kesini."
"Janji ya, nggak boleh di ingkari." Hasya menyipitkan mata nya kearah Zhar, memberikan cowok itu peringatan agar tidak lupa dengan janji yang mereka buat.
"Iya-iya."
Hasya melepaskan tautan kelingking mereka, lalu kembali berkata, "besok aku tunggu kak Zhar, besok temenin aku main onet," jelas Hasya yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Zhar.
"Sebelum aku turun, aku mau kak Zhar tutup mata dulu." Itu adalah sebuah perintah dari Hasya yang tidak boleh di bantah.
Zhar menaikkan alis nya sebelah, mau turun dari mobil saja, harus memakan waktu selama ini, karna Hasya yang menciptakan drama yang membuat Zhar bingung.
__ADS_1
"Mau ngasih gue hadiah juga?" tebak Zhar.
Hasya nampak berpikir sejenak, lalu kemudian gadis itu mengangguk mengiyakan ucapan Zhar.
Zhar langsung menutup mata nya, agar tidak membuang-buang waktu lagi.
"Mata nya jangan di buka ya, awas aja kalau Kka Zhar buka mata. Kalau buka mata, tanpa aku suruh buka, Hasya bakalan ngambek sama kak Zhar," ancam Hasya membuat Zhar tersenyum tipis.
"Ngancem gue lo?"
Hasya tertawa kecil, "iya," ucap nya polos.
Hasya melambaikan tangannya di depan wajah Zhar, dia memastikan cowok itu benar-benar menutup mata atau tidak. Yakin jika Zhar menutup mata dengan sungguh-sungguh, membuat Hasya mengumpulkan keberanian nya lebih dulu.
Hal ini adalah hal yang pertama akan dia lakukan, atas inisiatif dari sang bunda yang ia dengarkan, sebelum ia pergi bersama dengan Zhar.
Cup...
Deg...
"Matanya boleh dibuka" Hasya dengan cepat turun dari mobil Zhar, saat ia berhasil mencium pipi cowok itu.
Zhar mendengar jelas suara pintu mobil di tutup keras oleh Hasya. Zhar mulai membuka matanya, jantung nya masih tidak aman, saat Hasya mencium pipi nya sekilas, lalu gadis itu pergi begitu saja, meninggalkan dirinya dan jantung nya yang menggila karna ciuman singkat gadis itu.
Zhar memegang pipi nya, sembari tersenyum, dia yakin pipi nya saat ini sudah memerah, "jadi ini hadiah nya? Hadiah yang nggak buruk sama sekali," gumam Zhar dengan senyuman yang masih merekah di wajah nya.
Zhar mulai menyalakan kembali mesin mobil nya untuk segera pulang, efek ciuman yang diberikan Hasya tadi, berdampak buruk untuk Zhar, karna sepanjang jalan cowok itu senyum-senyum tidak jelas, sekarang dia sudah tidak sabar menantikan pernikahan itu tiba.
Hasya menundukkan kepala nya masuk kedalam rumah, tas kecil yang ia pakai sedari tadi dia pegang hingga awut-awutan, saking gugupnya. Dia telah memberanikan diri mencium Zhar di dalam mobil. Bahkan, jantung nya juga tak kalah heboh nya dengan jantung milik Zhar.
Pertama kali nya Hasya merasakan hal ini, dia merasakan ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut nya.
"Kalau lagi jalan jangan nunduk."
Deg...
Suara itu adalah suara milik seseorang yang sangat Hasya kenali, siapa lagi kalau bukan suara milik kakak nya Tegar.
Hasya mendongak, menegakkan tubuh nya, kepala nya yang tadi menunduk, kini sudah tegak kembali, hampir saja dia menubruk tiang rumah nya. Untung saja tangan kekar Tegar menghalangi nya.
"Kak Tegar," panggil Hasya, dia tidak tahu jika Tegar akan pulang ke rumah dalam waktu dekat ini. Biasanya tidak seperti ini. "Kak Tegar kapan sampai nya?" tanya Hasya lagi, perasaan saat dia pergi Tegar belum ada di sini.
"Baru aja," jawab Zhar.
"Kak Sahrul ikut sama kak Tegar?" tanya Hasya dan dibalas anggukan kepala oleh Tegar.
Senyuman di wajah Hasya mengambang, itu berarti dia akan punya teman mabar, karna waktu Sahrul ke sini, mereka belum sempat mabar bareng, karna mereka buru-buru pulang.
__ADS_1
Tegar memperhatikan penampilan Hasya, dari ujung kaki sampai ujung rambut, mengenakan dres cantik membuat Tegar menebak jika Hasya baru saja keluar bersama dengan Zhar.
"Zhar mana?" tanya Tegar, melihat kearah belakang, dia tidak menemukan Zhar.
"Kak Zhar udah pulang, dia buru-buru," jawab Hasya dan dibalas anggukan saja oleh Tegar. "Oiya, kak. Kak Sahrul lagi dimna?" tanya Hasya antusias.
"Dia tidur, capek," jawab nya singkat.
Hasya hanya ber 'oh' riah saja. "Nggak mau peluk gue, Sya? Dari tadi gue berdiri di sini," ujar Tegar membuat Hasya cengengesan lebih dulu, lalu kemudian dia memeluk kakak nya itu.
"Kangen tau," kata Hasya masih setia memeluk Tegar.
"Gue juga."
Mereka berdua melepaskan pelukan, "bunda sama ayah udah tahu, kalau kak Tegar ada di sini?" tanya Hasya dan dibalas anggukan oleh Tegar.
"Ayah sama bunda udah tahu, mereka lagi bucin di kamar, makanya gue nungguin Hasya di sini." Apa yang di katakan Tegar memang benar, dan itu sukses membuat Hasya terkekeh.
Hasya menggandeng tangan Tegar menaiki anak tangga.
"Farel lagi dimana, Sya? Gue cari di kamar nya nggak ada," ucap Tegar sembari menaiki anak tangga, tangan nya masih setia di gandeng sang adik.
"Minggu ini, 'kan, Om Farel tinggal di rumah om Nathan," jawab Hasya, selama Farel belum di izinkan tinggal di apartemen, maka dia akan tinggal di rumah Nathan dan Frezan bergantian, kini giliran Farel yang tinggal di rumah Nathan.
Farel hanya membalasnya dengan anggukan paham, dia tidak tahu mengenai jadwal Farel. Ok, nanti Tegar akan menghubungi Farel, jika dia berada di sini, mumpung besok hari minggu. Jadi mereka akan bermain basket tentu nya.
Mobil milik Zhar terparkir di garasi, cowok itu langsung turun dari mobil, dengan senyuman yang masih melekat, belum luntur sama sekali. Efek kecupan Hasya memang mujarab sekali, seperti permanen saja.
Saat melangkah masuk, Zhar langsung di suguhkan wajah kedua orang tua nya, yang menunggu nya di ruangan keluarga.
Reni menyambut kepulangan anak nya dengan senyuman mereka, "gimana acara diner kamu, Zhar? Apa Hasya suka?" tanya Reni dengan antusias, dia menuntun Zhar untuk duduk di samping nya, sementara Gilang menggelengkan kepala nya melihat tingkah sang istri, yang sangat bersemangat.
"Iya, Ma. Hasya suka," jawab Zhar tanpa bohongaa sama sekali, karna ia tahu dari raut wajah Hasya yang berbinar-binar.
"Gimana sama kalung nya? Apa Hasya suka juga?" tanya Reni lagi dengan antusias.
"Iya, Ma." Hanya kata itu saja yang Zhar katakan, karna Hasya memang suka kalung tadi, meskipun Zhar menipu gadis itu, jika kalung itu bukan berlian, padahal kenyataannya itu adalah berlian yang di rangkai khusus untuk Hasya, itu semua usalan dari Reni.
Reni tidak bisa menyembunyikan senyum nya. "Mama senang, kalau Hasya suka semuanya," jelas Reni.
"Maksih, Ma. Ini semua berkat mama," kata Zhar dengan tawa kecilnya, bahkan Hasya memberikannya hadiah ciuman yang mahal untuk nya.
"Sama-sama sayang, itu semua demi calon menantu mama," balas Zhar.
"Mama sama papa nungguin kamu, karna ingin membicarakan soal hubungan kamu sama Hasya kedepan. Mama sama Papa sudah bertemu dengan kedua orang tua Hasya kemarin. Kami sepakat, akan menikahkan kalian, minggu ini." Gilang mulai menyampaikan apa yang ingin ia beri tahukan pada anak nya.
"Hasya udha yani?" tanya Zhar.
__ADS_1
"Orang tua Hasya akan memberitahukan secepatnya pada Hasya," Jelas Gilang dan dibalas anggukan paham oleh cowok itu.
Mereka bertiga mengobrol, membahas mengenai pernikahan Zhar yang hanya di hadiri oleh inti keluarga mereka saja, tanpa melibatkan orang lain, karna pernikahan ini terjalin rahasia.