Stay With Me

Stay With Me
Bully-an


__ADS_3

"Ya ampun Farel." Lea melihat Farel tengah tertidur di meja makan. Kepala nya ia letakkan di atas meja, bisa Lea pastikan jika cowok itu ketiduran di sini.


Diatas meja Lea lihat ada bekas mangkuk mie.


"Farel," panggil Lea, sembari mengguncang tubuh cowok itu dengan pelan. "Bangun, kamu ketiduran di meja makan," lanjut Lea lagi, sementara Farel masih tidak bergeming.


"Farel," panggil Lea lagi, namun anak itu tidak bergeming, membuat Lea menyerah membangunkan anak itu.


Farel akan bangun sendiri, lebih baik Lea memasak di dapur, tidak lama lagi suami dan anak nya akan bangun dan sarapan.


"Ma, om Farel kenapa tidur di sini?" tanya Steven, duduk di samping Farel yang tertidur lelap. "Om Farel ganteng banget, saudara papa semua ganteng," gumam Steven melihat wajah tampan itu tertidur.


"Ketiduran, Ven. Om Farel tengah malam bangun makan mie, kamu nggak lihat mangkuk mie milik Farel. Mungkin habis makan mie, dia nggak bisa lagi ke kamar. Jadinya dia tidur di situ," sahut Lea dari dapur sembari membuat sarapan pagi untuk orang di rumah.


Steven membangunkan Farel, "om bangun, nggak ke sekolah?" tanya Steven sembari mengguncang tubuh milik Farel dengan keras.


"Jangan ganggu gue, Ven. Gue ngantuk nih," racau Farel dengan suara serak, dia masih memejamkan matanya, mata indah itu sulit terbuka karna berat.


"Om Farel nggak ke sekolah?" tanya Steven.


"Nggak," jawab Farel singkat dengan suara kecil nya itu.


"Kenapa?" tanya Steven lagi.


"Gue ngantuk. Udah, Ven. Mendingan lo mandi terus ke sekolah. Keluar dari kamar om. Om Farel masih ngantuk," racau Farel lagi membuat Steven tertawa.


Farel sungguh tidak sadar, jika dirinya bukan berada di kamar, tapi berada di meja makan. "Om Farel nggak tidur di kamar, tapi om Farel tidur nya di dapur."


Ucapan Steven sukses membuat Farel membuka matanya perlahan-lahan.


"Gue sampai lupa," gumam Farel dengan mata sayu, dia mengucek kedua matanya. "Jangan ganggu om, om Farel mau lanjut tidur di kamar," lanjut Farel meninggalkan dapur.


"Om Farel nggak mau ngangkat telfon dari Citing?" tanya Steven, membuat langkah kaki Farel terhenti, "tuh handphone om Farel bunyi terus," lanjut Steven melirik ponsel Farel yang berada di atas meja makan.


Ponsel itu hanya bergetar, sehingga Farel tidak mendengar nya, dengan gerakan cepat Farel menyambar ponsel nya.


"Steven harus ingat, jangan panggil Citing. Cuman om Farel yang bisa manggil dia Citing. Ok?" Lepas itu, Farel pergi meninggalkan Steven, mata yang tadinya ingin tertutup kembali karna kantuk, kini sudah segar bugar, saat mendapatkan panggilan dari gadis yang membuat nya begadang.


"Steven! Buruan mandi!" teriak Lea dari dapur, membuat Steven langsung beranjak dari dapur.


"Steven request nasi goreng ya ma!" teriak Steven.


"Ok!"


Steven meninggalkan dapur naik ke atas lantai dua, dimna kamarnya berada, dia hanya ke dapur untuk request sarapan pagi. Takut-takut jika Lea tidak membuatkan dirinya nasi goreng favoritnya.


Saat Steven ingin membuka pintu kamar, dia melihat Layla keluar dari kamar nya.


"Lo pernah kabur dari rumah. Jangan harap om kembar sama Om Farel kasi lo kepercayaan lagi," ucap Steven pada adiknya lalu masuk kedalam kamar nya untuk segera mandi.


Ucapan Steven membuat Layla hanya diam saja.


***


"Lo pikir gue nggak khawatir sama lo semalam!?"


Suara milik Farel menyapa gendang telinga milik Dyta yang tengah memakai sepatu untuk ke sekolah.


"Lebay banget sih, Rel. Semalam gue tidur nya cepat. Gue ngantuk!" balas Dyta tak kalah nyolot nya dengan cowok itu.


"Tapi kata Dyra, lo jalan sama cowok lain. Gue tebak, lo jalan 'kan, sama cowok yang udah nolongin lo waktu itu!" Nada cemburu dari Farel dapat ia rasakan.


"Gue nggak jalan berdua, tapi jalan bertiga sama Dyra."


Balasan dari Dyta sukses membuat Farel berdecih.


"Gue cuman nemenin Dyra buat---"

__ADS_1


Tut...


Farel langsung mematikan sambungan telfon nya secara sepihak, membuat Dyta memanggil nama Farel.


"Dasar ngambekan," ujar Dyta lalu dia memasukkan ponsel nya kedalam saku seragam milik nya.


Dyta berjalan menuju meja makan, dimana kedua orang tuanya dan adik nya tengah menunggu diri nya sarapan pagi.


"Loh, Dyra lo nggak ke sekolah?" tanya Dyta melihat Dyra tidak mengenakan seragam sekolah, lalu Dyta menarik kursi di samping Dyra.


"Nggak dulu, Ta. Gue mager," jawabnya sembari cengengesan.


"Ini yang terakhir ya, Ra," tegur Kayla dan dibalas anggukan kepala oleh Dyra.


Mereka mulai sarapan pagi, tidak ada yang mengeluarkan suara saat di meja makan, hal itu sangat tidak di sukai oleh Elgara.


"Papa anter kalian ke sekolah, mau?" tanya Elgara dan dibalas anggukan kepala oleh Dyta dan Revan.


"Mau, Pa," kata Revan dan Dyta.


"Ya... Andai Dyra tahu, kalau papa mau nganterin kesekolah. Dyra pasti bakalan ke sekolah," ucap Dyra lesuh.


Mereka hanya menggelengkan kepala, melihat dramatis nya sih Dyra di meja makan.


Mereka langsung menciun punggung tangan Kayla, lalu berangkat ke sekolah.


Mobil Elgara sudah melaju meninggalkan rumah, untung saja arah sekolah Revan dan Dyta sama, sehingga Elgara tidak perlu repot-repot untuk putar kemudi mobil.


Dyta duduk di depan bersama sang papa, sementara Revan duduk di belakang sembari bermain game.


"Pa," panggil Dyta, tanpa mengalihkan pandangannya dari depan, melihat banyaknya kendaraan berlalu lalang di kota jakarta.


"Iya?" Elgara melirik sang anak sebentar, lalu kemudian fokus kedepan.


"Papa sama mama, dulu nya sahabatan?" tanya Dyta dan dibalas anggukan kepala oleh Elgara. Dia tidak mau bertanya mengapa anak nya bertanya perihal ini, biarkan saja Dyta yang akan bercerita dan dengan senang hati Elgara akan mendengarkan nya.


"Papa dan mama kamu itu sahabat, tapi selalu berantem. Dari kami kecil hingga menginjakkan kaki di bangku SMA. Bahkan di bangku kuliah juga begitu. Tapi seiring berjalan nya waktu, papa dan mama baru sadar, kalau kami berdua sudah terbiasa dengan kebiasaan itu. Kami berdua selalu dekat dan jika salah satu dari kami tidak ada yang buat naik darah, seperti ada yang kurang," jelas Elgara dengan senyuman, dia tidak bisa menjelaskan keseluruhan mengenai dirinya dan Kayla. Karna dia tahu, ceritanya sangat panjang.


Elgara jadi berpikir, jika cerita mereka di tulis lalu di bukukan, pasti sangat rumit dan menghabiskan beberapa lembar kertas untuk menulis cerita tentang nya dan Kayla.


Setelah mengantar kedua anaknya ke sekolah, Elgara langsung kembali melajukan melajukan mobil nya untuk segera ke kantor.


Sementara Dyta masih berada di depan gerbang sekolah, yang menjulang tinggi di depan nya. Dia belum masuk ke dalam, dia tengah menunggu Raka, karna cowok itu memaksa nya untuk menunggu di gerbang sekolah.


"Lama banget sih Raka," dumel Dyta, karna Raka belum juga menampakkan batang hidungnya, membuat Dyta kesal jika harus menunggu.


Ting...


Ponsel Dyta bunyi, menandakan adanya pesan masuk, dia baru saja mendapatkan pesan dari Farel, jika pagi ini dia tidak ke sekolah, Dyta hanya membalasnya dengan sticker lucu, lalu kembali memasukkan ponsel nya kedalam tas.


"Dyta masuk, nggak lama lagi bell masuk bunyi!" teriak kakak kelas Dyta dari dalam, membuat Dyta menaikkan alisnya sebelah. Tidak biasanya ada kakak kelas mau memperingatkan dirinya soal ini.


"Buruan masuk!" kata kakak kelas nya lagi membuat Dyta heran. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres, apa lagi saat Dyta menatap kedepan, berbagai macam tatapan tidak suka di tujukan pada dirinya.


Dyta melangkah untuk masuk, dia tidak menunnggu Raka lagi, karna cowok itu lama sekali. Saat Dyta melangkah masuk, seluruh tatapan yang tadinya menatap nya dengan tidak suka langsung meneriaki dirinya, bukan hanya itu saja, mereka melemparkan telur busuk, kertas, air di botol yang merupakan air comberan, semunya di lemparkan pada Dyta, membuat gadis itu mematung dan tentunya dia dalam kondisi syok.


Rambut yang tadinya wangi, kini di penuhi oleh tepung, telur dan air busuk. Dyta memejamkan matanya, dia tidak bisa bergerak karna matanya memerah karna lemparan dari mereka semua.


Seragam sekolah gadis itu sudah jauh dari kata baik-baik saja.


"ANAK NARAPIDANA NGGAK PANTAS SEKOLAH DI SINI!"


"DASAR ANAK PEMBUNUH!"


Itu adalah teriakan dari teman sekolah Dyta, yang berteriak sembari melancarkan aksinya melempar Dyta dengan brutal.


"BOKAPNYA AJA PSIKOPAT! APA LAGI ANAKNYA!" teriak mereka lagi.

__ADS_1


Ada berbagai macam hinaan dan makian yang Dyta dengar, dirinya tidak bisa bergerak, bahkan matanya sudah perih terkena air comberan dan telur busuk.


Agrif turun dari mobil nya, dia tidak bisa memausuki gerbang karna terhalang oleh kerumunan murid-murid yang menghalangi jalan.


Agrif bisa dengar dengan jelas, berbagai umpatan yang mereka keluarkan untuk gadis yang berada di tengah-tengah mereka.


Agrif menyerobot Kerumunan, untuk melihat apa yang sedang terjadi dan siapa yang mereka bully sekarang ini.


Agrif merasa tidak asing dengan gestur tubuh gadis yang di bully dan di lempar berbagai macam bahan yang busuk. Bahkan Agrif menutup hidungnya dan hampir muntah, karna bau tersebut.


Deg...


Jantung Agrif berpacu cepat, saat mendengar teriakan dari mereka semua, sekarang Agrif tahu. Siapa gadis yang di bully di depan sana. Dia adalah Dyta, sahabat masa kecilnya. Dia tahu, mengapa Dyta di bully, karna semua nya kejadian waktu di lapangan basket.


"BUBAR ANJNG!!! SIALAN LO PADA!!!" Raka berteriak murkah pada mereka semua yang membully Dyta dengan keterlaluan seperti ini.


Raka datang melindungi tubuh Dyta


dari lemparan yang masih terjadi. Dengan gerakan cepat, Raka langsung membawa Dyta pergi dari sana.


Mata Raka dan Agrif sempat bertemu, Raka membrikan tatapan dingin pada Agrif lalu berlalu pergi membawa Dyta.


***


Kayla dan Elgara berjalan cepat di Koridor rumah sakit, wajah kedua pasangan itu nampak begitu khawatir. Wajah Dyta yang masih baik-baik saja di sekolah masih Kayla ingat, dan tiba-tiba berita anaknya masuk rumah sakit membuat Kayla tidak percaya, saat Raka menelfon dirinya jika Dyta sekarang berada di rumah sakit.


Raka memang tidak menceritakan kronologi nya kepada Kayla, mengapa Dyta sampai masuk rumah sakit.


"Dyta akan baik-baik, Kay," ucap Elgara sembari menenangkan sang istri, mereka masih berjalan di Koridor, "percaya sama aku, Kay," lanjut Elgara.


"El, kamu 'kan tahu. Dyta tadi baik-baik aja pas berangkat ke sekolah. Tapi tiba-tiba Raka telfon aku, kalau sekarang Dyta lagi di rumah sakit. Siapa coba yang nggak khawatir kalau anak yang tadinya sehat walafiat tiba-tiba masuk rumah skait," balas Kayla.


"Aku tahu, Kay. Kita nggak tahu, kapan sakit itu datang."


Kayla tidak menggubris ucapan Elgara lagi, sampai mereka tiba di depan UGD.


"Kayla," panggil Rara, wanita itu berdiri dari kursi yang ia duduki, lalu menghampiri sahabat dan kembaran nya itu.


"Ra, Dyta kenapa sampai masuk rumah sakit. Pas sarapan tadi, dia baik-baik aja. Tap--"


"Dyta di bully sama teman sekolah nya."


Deg...


Pernyataan dari Rara membuat Kayla terdiam, wanita itu sampai lunglai, untung saja dengan cepat Rara membawa Kayla untuk duduk, sembari menenangkan sahabatnya itu.


Elgara menyandarkan tubuh nya, dengan hembusan nafas berat, membuat nya tahu mengapa anaknya sampai di bully hingga di larikan kerumah sakit.


"Apa yang mereka lakuin sama Dyta, Ra. Sampai Dyta masuk rumah sakit," tangis Kayla dalam pelukan Rara.


"Mereka lemparin Dyta telur busuk sama tepung, sama air got. Sampai masuk kedalam mata Dyta. Makanya Raka langsung bawa Dyta kesini, karna Dyta butuh pertolongan pertama. Kalau nggak, matanya bisa kenapa-napa," jelas Rara membuat Kayla makin menangis.


Raka juga masih berada di sini, menunggu sampai dokter yang menangani Dyta keluar.


"Gimana bisa Dyta sampai masuk rumah sakit." Valen datang lengkap dengan jas kebanggaan nya, dia datang tergesa-gesa menghampiri kedua sahabat nya, dia melihat Kayla menangis dalam pelukan Rara.


"Dyta di bully di sekolah. Sampai bahan yang mereka lemparin masuk di mata Dyta," jawab Rara saat Valen duduk di sampingnya, ikut menenangkan Kayla.


Valen terkejut dengan pernyataan yang diberikan oleh Rara, dia sampai berpikir jika masa lalu Elgara sudah sampai di telinga teman-teman sekolah nya, sehingga mereka melakukan pembullyan kepada Dyta.


Nathan dan Lea ikutan datang, Nathan mendapatkan kabar jika Dyta berada di rumah sakit, sehingga keduanya datang di sini. Nathan datang sama seperti Valen, mengenakan jas kedokteran dan di samping nya ada Lea yang menggunakan baju perawat.


Nathan menghampiri Elgara untuk menenangkan pria itu, untung saja Valen dan Nathan tidak mempunyai pasien baru untuk dia tangani, sehingga mereka langsung kesini. Sementara tugas Lea di rumah sakit adalah mengikuti Nathan kemanapun dia pergi.


Jika di rumah Lea adalah seorang istri, jika di tempat kerja maka Lea adalah asisten dokter Nathan.


Lea ikutan nimbrung dengan ketiga wanita cantik itu. Dia ikutan menenangkan Kayla.

__ADS_1


"Dokter Valen, Lea kangen," cicit Lea di telinga Valen membuat wanita itu melotot, dalam kondisi seperti ini Lea mengucapkan kata tersebut.


__ADS_2