Stay With Me

Stay With Me
Pria Di Masa Lalu


__ADS_3

2 jam sebelum kejadian penembakan terjadi...


Suara bel berbunyi cukup nyaring di luar sana, Hana melirik Mimi yang sedang tertidur pulas terpaksa ia pun bergegas untuk melihat siapa yang datang, Hana menyalahkan layar intercom dan mendapati seorang wanita cantik di luar sana, Awalnya Hana hendak mematikan layar tersebut dan meninggalkannya begitu saja namun tiba-tiba Rin menyahut.


" Hana, maaf baru menemuimu sekarang, Kita perlu bicara. " Ucapnya di luar sana


Hening, Hana hanya dapat menahan kesedihannya saat itu.


" Baiklah kalau begitu biarkan aku bicara di sini, tolong dengarkan. " Lanjut Rin masih membuat Hana berdiri terpatung


" Maafkan aku karena pertunangan ini pasti membuatmu sakit hati, tapi sejujurnya aku tidak benar-benar menginginkan pertunangan ini, Orang tua kami melakukannya sebagai pemersatu bisnis karena Dream Corp mengalami kemerosotan saham, Aku sungguh minta maaf dari lubuk hatiku yang paling dalam. "


Air mata Hana kembali menetes di saat Rin mengatakan demikian, Ia hanya dapat melihat wajah Rin yang merasa sangat bersalah pada Hana, Sampai saat Rin selesai mengatakannya pun Hana masih enggan untuk membalas ucapannya.


" Kalau kau bersedia datang nanti malam aku akan senang dan merasa kalau kau menyetujui pertunangan ini, tapi kalau kau tidak datang maka aku akan merasa bersalah selamanya. "


Rin segera pergi dan meninggalkan Hana yang terisak dalam kesedihan yang sulit untuk di deskripsikan, Hatinya benar-benar sakit bahkan lebih sakit dari waktu Jun memutuskan hubungannya.


Setelah memikirkannya matang-matang Hana pun sudah membulatkan tekadnya untuk tidak menghadiri acara tersebut, tapi sebuah pesan baru saja masuk dan membuat Hana terbelalak kaget membacanya.


Hana baru saja mendapat pesan teror dari seseorang yang mengatakan bahwa Jun dalam bahaya jika dirinya tidak pergi ke pesta tersebut, Pesan yang entah siapa yang mengirimnya itu membuat Hana bergegas pergi tanpa memberitahu Mimi sebelumnya. Memakai gips pada saat seperti ini tentu sangat merepotkan sehingga ia membuka gips tersebut dengan paksa tak peduli walau kakinya masih merasakan nyeri.


Setibanya di gedung tempat pertunangan Jun di langsung kan, Hana di jegat oleh penjaga gerbang dan tidak memperbolehkan Hana masuk jika tidak memiiki undangan, Untungnya saat itu Katakura baru saja tiba bersama keluarganya sehingga mengajak Hana sekalian ikut dalam daftar undangannya.


" Aku terkejut kau datang ke acara ini, Apa kau baik-baik saja? " Tanya Katakura.

__ADS_1


" Jun dalam bahaya, Ada seseorang yang mengirimkan pesan ini padaku. " Hana melihatkan pesan yang di dapatnya beberapa menit yang lalu dan langsung membuat Katakura tercekat kaget


Kini Hana sudah berada di dalam dan menyaksikan langsung acara pertunangan antara Jun dan Rin, Hatinya sakit namun tetap membuat Hana kuat lantaran keinginannya untuk melindungi Jun dari teror barusan, Tak peduli apakah itu palsu atau tidak yang pasti Hana akan tetap berada di sana dan memastikan Jun dalam keadaan baik-baik saja.


Kedua matanya kini melihat ke sekitar tempat dan menatap satu persatu orang-orang yang di anggapnya mencurigakan hingga seorang pria yang terlihat memakai mantel besar membuat Hana curiga terlebih lagi ketika pria itu hendak mengeluarkan sesuatu dari dalam saku mantelnya, Hana melirik Jun dan pria mencurigakan itu secara bergantian dan langkahnya pun dengan sendirinya menuju tempat Jun begitu pria itu mengeluarkan sebuah senjata api.


Dalam hitungan menit saja peluru pistol itu menusuk dada Hana tepat di hadapan Jun dan yang lain, Semua orang berhamburan kecuali Jun dan Rin yang masih mematung melihat Hana yang jatuh dengan wajah yang masih di sempatkan untuk tersenyum.


\*


Hana di larikan ke rumah sakit secepat mungkin begitu pelaku di tangkap, Jun yang terus berada di sisi Hana tampak menangis histeris sembari menguatkan Hana walaupun gadis itu sudah tak sadarkan diri lagi. Dan setibanya di rumah sakit Hana langsung di tangani oleh dokter pribadi keluarga Misugi atas permintaan langsung dari Jun, namun ketika proses pemeriksaan di lakukan dokter tiba-tiba keluar dan menanyakan apakah ada darah yang cocok untuk Hana, akibat tembakan itu Hana kehabisan darah sehingga harus di operasi secepat mungkin.


Untungnya saat itu Rin memiliki darah yang sama dengan Hana yaitu AB sehingga ia dengan berani menawarkan untuk mendonorkan darahnya, Jun merasa sangat bersyukur atas bantuan yang di dapatnya dari orang yang terduga, Selanjutnya Rin segera menuju ruang pengambilan darah selagi yang lain menunggu di luar.


Lampu tanda operasi sedang berlangsung membuat semua orang merasa takut dan khawatir sesuatu terjadi pada Hana, Jun yang tak henti-hentinya menangis terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi kepada Hana, pelaku penembakan berhasil di amankan oleh kepolisian dan sedang menjalan pemeriksaan terkait alasan dirinya bisa masuk ke dalam gedung dan melakukan aksi kejahatannya tersebut.


" Aku merasa orang itu memiliki mata yang sama dengan pria yang menusukku dulu. " Jawabnya pelan


" Kalau benar dialah orangnya maka tak heran kenapa dia menyerangmu hari ini, Bisa saja dia kembali setelah mengetahui kalau selama ini kau baik-baik saja. " Sahut Urahara


" Sebaiknya kita segera menindak lanjuti masalah ini, Kalau terus di biarkan seperti waktu itu bisa saja dia akan berulah lagi. " Lontar Katakura


Setelah dua jam lamanya kini lampu berwarna merah itu mati dan memunculkan seroang wanita berseragam biru keluar sambil melepas masker wajahnya, Ia menatap semua orang dengan wajah penuh serius.


" Operasi nya berjalan dengan lancar untungnya peluru tidak menembus bagian vitalnya jika itu sampai terjadi nyawanya pasti dalam bahaya. " Jelas sang dokter

__ADS_1


" Apa kami boleh melihatnya sekarang? " Tanya Mimi tidak sabar


" Untuk saat ini hanya satu orang yang boleh melihatnya, Pasien di pindahkan ke ruang ICU agar dapat memantau kondisinya. "


Walaupun Mimi adalah sahabat dekat Hana tetapi orang yang paling berhak bertemu dengan Hana saat ini adalah Jun, Pria itu segera menuju ruang ICU untuk melihat keadaan Hana. Begitu tiba di sana rasanya kaki Jun sangat lemas hingga tak bisa berjalan lebih dekat, melihat Hana yang di pasangkan berbagai alat rumah sakit membuat perasaan Jun sangat hancur, air matanya kembali berlinang dan ia pun jatuh sambil menangis sejadi-jadinya.


" Maafkan aku.., Rasanya aku tidak pantas untuk bertemu denganmu sekarang. " Ucap Jun yang mulai tak berdaya


\*


Hari ini Jun dan Katakura segera ke kantor polisi begitu mendapat kabar bahwa pelaku meminta untuk bertemu dengan Jun, Setibanya di sana Jun dipersilahkan untuk menghadiri ruang introgasi dengan syarat pelaku harus di jaga ketat agar tidak melukai Jun ketika mereka berbicara.


Pria yang bernama Sato itu menatap Jun dan langsung tertawa seperti orang gila yang hilang akal, kemudian menunjuk Jun sebagai pecundang yang hanya mementingkan harta kekayaan, Jun hanya dapat bersabar selagi Sato melontarkan perkataan yang aneh.


" Apa alasanmu melakukan hal ini? Dan siapa kau sebenarnya? " Jun mulai melemparkan pertanyaan namun di balas tawa besar oleh Sato.


" Apa kau lupa dengan apa yang kau lakukan padaku dulu??? " Jun mengernyit bingung mendengarnya


" 19 tahun yang lalu tepatnya hari di mana Kau dan ayahmu memecat Ayahku sehingga kami sekeluarga harus meratapi kemiskinan yang terus berlanjut sampai saat ini, 8 tahun yang saat Ayahku menyerangmu dan berusaha membunuhmu dia meninggal karena ulah keluargamu juga !!"


" Apa maksudmu? 8 tahun yang lalu bukannya itu saat aku mendapat luka tusukan? "


" Benar, Ayahku memang berniat membunuhmu tapi sayangnya kau selamat, dan setelah kejadian itu seseorang membunuhnya dan dia adalah ibu tirimu sendiri. "


Jun terkejut sekaligus bingung untuk mencerna pengakuan yang di katakan Sato, terlebih lagi ketika Sato menjelaskan bahwa alasan dirinya kembali saat ini adalah untuk membalaskan dendam sang Ayah yang mati secara tidak adil, Sebelumnya Ayah Sato dan Moe ibu tiri Jun memang bersekongkol untuk melenyapkan Jun entah apa motif pasti di baliknya yang penting saat ini Sato benar-benar telah kehilangan akal dan ingin melenyapkan seluruh keluarga Misugi.

__ADS_1


Merasa sudah cukup bertemu dengan Sato, Jun pun keluar dengan perasaan yang berkecamuk selanjutnya kasus ini akan di lanjutkan ke meja hijau dengan tersangka baru yaitu ibu tiri Jun, Kenyataan ini benar-benar sulit untuk di terima Jun mengingat saat ini ia sudah lebih dekat dengan ibu tirinya dan juga Rey, masalah baru hadir seiring berjalannya waktu dan siapa tahu apa yang akan terjadi kedepannya.


__ADS_2