
hari Jun terbangun dalam keadaan yang tidak baik, aroma alkohol yang masih menyengat membuat wajah Jun berkerut sambil memijit pelipis yang terasa penat. Suara alarm ponsel pertanda bahwa hari ini ada jadwal meeting hanya di lirik Jun sekilas kemudian kembali merebahkan tubuhnya.
Pria itu menatap langit kamarnya dengan tatapan kosong, entah apa yang akan di lakukannya hari ini menemui Hana pun percuma sebab berapa kali pun Jun mencoba sangat sulit untuk meruntuhkan egonya, saat itu jantung Jun berdegup cukup kencang padahal tidak ada yang memicunya, Jun bangkit kemudian meraih gelas yang tertera di meja samping tempat tidur, di lihatnya tidak ada air Jun pun segera menuju dapur, Entah kenapa dadanya terasa nyeri sehingga membuatnya membutuhkan air segera.
Saat berada di dapur Jun mendapat semangkuk sup pereda mabuk dan beberapa menu sarapan lainnya, Setelah meneguk air Jun kembali ke meja makan dan mulai menjatuhkan tubuhnya di hadapan makanan itu. Ada secarik kertas yang di tinggalkan Katakura setelah menyediakan sarapan untuk Jun.
" Jangan macam-macam lagi, kalau kau sampai terluka aku akan menambah lukanya.!!! " Tulis Katakura pada secarik kertas itu
Jun terdiam sejenak dan memori ingatannya semalam kembali terbayang, Jun sadar telah melakukan hal bodoh semalam dia benar-benar menyesal hampir melakukannya. Menatap sarapan yang di buat Katakura membuat Jun merasa senang kemudian mulai menyantapnya sampai habis.
\*
Sana membuka pintu kamar Hana ketika dirinya sudah menunggu wanita itu untuk turun sarapan, Melihat Hana yang masih berada di dalam selimut lantas membuat Sana menghampirinya sembari mengguncang tubuh Hana pelan, Hana tak merespon sehingga membuat Sana panik dan langsung mengecek suhu tubuhnya.
Setelah merasakan panas yang luar biasa pada keningnya, Sana segera beranjak keluar kamar untuk mengambil alat kompres, tak lama kemudian Sana kembali dan langsung mengompres kening Hana dengan selembar kain.
" Kenapa tiba-tiba seperti ini? Kamu panas sekali. " Gerutu Sana sambil menempelkan alat termometer kedalam telinga Hana
Selang beberapa saat Sana melihat hasil termometer dan kedua matanya membelalak dengan sempurna, Hal yang di lakukan Sana berikut nya adalah menelpon dokter. Hana yang tidak melontarkan apa-apa dengan tubuh meriang serta panas yang tidak biasa benar-benar membuat Sana panik.
Sambil menunggu dokter datang, Sana senantiasa berada di sebelah Hana yang semakin menunjukkan gejala yang tidak biasa, Sesekali Hana membuka matanya namun di rasa berat sehingga membuatnya harus menutupnya kembali, Untuk bicara pun rasanya sangat sulit dan saat ini Hana ingin mengatakan bahwa Sana tidak perlu cemas karena hal itu semakin membuatnya merasa sakit.
Ketika dokter sudah datang Sana menyingkir sejenak membiarkan dokter wanita itu memeriksa keadaan Hana, Dokter yang datang kebetulan adalah Hina yang merupakan dokter pribadi Jun sehingga ia mengenal Hana ketika baru saja tiba.
" Dia harus di bawa ke rumah sakit, Ini bukan gejala demam biasa. " lontar Hina segera membuat Sana bersiap-siap untuk membawa Hana ke rumah sakit.
\*
" Dimana aku? " Gumam Hana yang terlihat bingung ketika dirinya terbangun di suatu tempat yang asing.
Hana melirik sekeliling tempat yang di pijakinya, sejauh mata memandang hanya ada bunga lavender yang beraroma harum dan di tengah-tengah ladang lavender itu terdapat satu kursi panjang berwarna putih yang menarik perhatian Hana.
" Hana.. " Sahut seseorang yang membuat Hana menoleh
__ADS_1
Kedua manik mata Hana melebar sempurna seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini, semenit kemudian tangis Hana pecah, ia tak bisa berkata apa-apa ketika pria itu bertanya soal keadaanya.
" Lama tidak berjumpa. " Ucapnya semakin membuat Hana terisak, Hana mulai berlari kearah nya dan menghambur ke pelukan pria itu
" Aku merindukan mu. " Gumam Hana ketika berada di pelukan Kaji
Kaji mulai membelai kepalanya lembut dan memuji Hana kalau dirinya saat ini terlihat sangat cantik, setiap ucapan yang di dengar Hana dari mulut Kaji entah mengapa sangat menyesakkan. Hana teringat suatu hal yang membuatnya melirik pria itu dengan serius.
" Maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu saat orang jahat itu merebut kehidupanmu. " Kata Hana yang merujuk kepada Arata
Kaji menggeleng pelan dengan senyum yang membuat Hana kebingungan, " Kenapa kau tersenyum seperti itu? " Tanya Hana lirih.
" Pria itu, yang sempat membuatmu kesal dan kau selalu mengutuknya dengan umpatan yang terdengar kasar tapi ujungnya kau bisa mencintainya bahkan posisi ku bisa di ganti oleh pria menyebalkan itu. Kau bahagia bersamanya.? "
" Kenapa kau membahas hal lain, bukannya di saat ini kau protes padaku karena kejahatan mereka??? "
Lagi-lagi Kaji menggeleng, jawaban yang aneh dan tak masuk akal lagi-lagi di lontarkannya sehingga membuat Hana semakin kebingungan rasanya percakapan mereka semakin tidak nyambung Kaji seperti tidak mendengar apa yang Hana jelaskan padanya dan sebaliknya Kaji terus meminta Hana untuk menerima keadaan.
" Kau tidak menyesal meninggal seperti ini.??? " Tanya Hana yang kemudian pasrah
Perlahan tapi pasti Hana melihat Kaji seperti sebuah bayangan yang ada di air, Hana mencoba menggapai tubuh nya namun tak berhasil, Semenit kemudian Kaji tersenyum ke arahnya " Aku tidak menyesal, Karena dia lah orang yang tepat untuk menemanimu. "
Hana membuka matanya dan di lihatnya sekeliling ruangan yang nampak asing di penglihatannya, Di sebuah kursi yang terletak tepat di sisinya terlihat sosok Sana yang tengah tertidur pulas sambil menyandar dengan tangan terlipat dua. Hana kemudian mengerjap mengingat kejadian yang di alaminya barusan dan tersadar bahwa itu hanyalah sebuah mimpi.
" Kenapa baru sekarang kau menemuiku di saat semuanya sudah tidak bisa kembali seperti dulu lagi. " batin Hana yang hanya dapat memandang langit-langit kamar
" Kau sudah bangun.??? " Sahut Sana sontak membuat Hana meliriknya sekilas
" Apa yang terjadi padaku bu.? " Tanyanya parau
" Dokter bilang kau mengalami cedera lambung walaupun tidak begitu parah tapi dia bilang untuk membawa ke rumah sakit agar dapat di sembuhkan lebih cepat. " Jawabnya kemudian
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu ruangan terbuka, Hana yang sedang mengobrol dengan sang ibu tiba-tiba di kagetkan dengan kedatangan Jun yang membawa buket bunga Mawar seperti biasa. Jun yang masih lengkap dengan pakaian kantornya itu masuk dengan hati-hati dan berjalan ke arah Hana dan Sana dengan senyum yang merekah di bibirnya.
__ADS_1
" Ibu memberitahu padanya kalau aku sakit.? " Tanya Hana kemudian di balas anggukan pelan dari Sana
" Bagaimana keadaan.. "
" Keluar!! Aku tidak ingin bertemu denganmu. " Potong Hana ketus
" Ehmm.. Aku ingin.. " gumam Jun kemudian mendekati.
" Aku bilang keluar !!! Kau tidak tuli kan.??? " Sentak Hana, Jun langsung berhenti dan setelah itu Sana segera beranjak dan menarik Jun keluar
Setelah berhasil membawa Jun keluar, Sana mengajaknya untuk bicara berdua sebelum dirinya kembali masuk ke dalam. Keduanya duduk di sebuah kursi yang berada di depan kamar Hana.
" Tidak mudah bagi Hana untuk memaafkan mu secepat ini, Kau harus bersabar, Dia butuh waktu untuk dapat menerima semuanya. " Terang Sana hanya dapat membuat Jun tertunduk lemas
\*
Jun hanya bisa menunggu Hana di luar, memperhatikan kondisinya di balik jendela pintu kamar, hari ini Jun belum pulang karena masih merasa khawatir akan kondisi Hana yang tiba-tiba makin parah setelah bertemu dengannya. Tiap kali Jun ingin masuk, Hana selalu mengusirnya dan untuk ketiga kalinya Jun masuk ketika mendengar suara Hana yang pelan saat mengusirnya entah mengapa membuat Jun sakit dan segera keluar kembali.
Karena kelelahan menunggu Hana di luar, Jun sampai tidur di kursi depan ruangan dengan posisi yanrh sangat tidak nyaman. Tanpa sadar Jun sudah tertidur selama dua jam di sana dan langsung terbangun ketika mendengar suara Sana yang membangunkannya.
" Aku harus menemui klien ku, Tolong jaga Hana selama aku pergi. " Ucapnya dan langsung membuat Jun kembali segar
Setelah Sana pergi, Jun segera memasuki ruangan Hana dan melihat wanita cantik itu yang sedang tertidur, Wajahnya pucat dan matanya bengkak seperti habis menangis namun masih terlihat sangat cantik di mata Jun.
" Harus dengan cara apa aku meminta maaf padamu.??? " Ucapnya sambil meraih tangan mungil Hana
" Tidak ada. " Suara dingin Hana tiba-tiba membuat Jun terbelalak tampaknya wanita itu belum tidur.
" Maafkan aku. "
" Pergi dari sini !!!"
" Aku tidak akan pergi sebelum kau mau memaafkan aku. "
Hana tertawa sinis " aku tidak bisa memaafkanmu dan juga ayahmu, kalian adalah keluarga yang jahat yang pernah ada. Sekarang pergi!!! " Hana membalik tubuhnya membelakangi Jun yang masih berdiri dengan wajah penuh harap.
__ADS_1
" Kau harus tahu kalau aku tidak akan menyerah sampai di sini. Aku akan terus menemui mu dan meminta maaf sampai kau mau memaafkanku. " Sahut Jun sebelum meninggalkan ruangan Hana
Hana kembali meneteskan air mata ketika Jun pergi, Entah apa yang ada di benaknya saat ini sehingga dirinya merasa sangat kesal sekaligus sedih dengan keputusan yang ia buat.