Stay With Me

Stay With Me
Gue sahabat lo


__ADS_3

Farel melangkah mendekati Dyta, membuat gadis itu memalingkan wajah nya. Dan ya, tindakan Dyta membuat Farel tersenyum tipis, "Citing," panggil Farel, "lo mandang gue bukan sebagai sahabat, 'kan?"


Ucapan Farel sukses membuat Dyta kembali meneguk salivanya susah payah, "Sok tahu lo!" balas Dyta menatap Farel dengan tatapan mengejek. Tapi Dyta tidak bisa bohong pada dirinya sendiri, jika dia memandang Farel bukan pandangan seperti biasanya.


Mungkin pandangan itu berubah, saat semalam Farel mengutarakan perasaannya. Jujur saja, itu ungkapan yang membuat Dyta tertegun dan jatuh pada pesona sahabatnya sendiri.


"Gue baru tahu, kalau lo bisa malu sama gue juga," kata Farel lagi membuat Dyta menaikkan alis nya sebelah.


"Maksud lo?" tanya Dyta penasaran. Sembari menaikkan alisnya sebelah, malu apa yang di maksud Farel.


Farel mendekat, lalu berbisik di telinga gadis itu, membuat bulu kuduk Dyta meremang, dia ingin mengindar tapi dia tidak mau jika Farel berpikir macam-macam tentang nya. "Pipi lo merah, kayak kepiting rebus," bisik nya sukses membuat Dyta melototkan mata nya.


"Kmprt!" Dyta langsung mendorong tubuh Farel, membuat cowok itu mundur beberapa langkah, lalu kemudian Farel tertawa renyah.

__ADS_1


"Muka lo nggak cocok merah kayak gitu. Kalau muka Dyra kembaran lo yang memerah, mungkin menggemaskan di mata orang. Tapi lo?" Farel tertawa tidak melanjutkan ucapannya.


"Kalau gue kenapa?" tanya gadis itu garang, tidak lupa pula dia menatap Farel dengan sengit.


"Kalau lo nggak cocok buat salting, karna kebiasaan lo itu marah. Lihat lo salting kayak gini, buat gue makin lihat sisi lain sahabat gue." Farel menyugar rambutnya yang basah ke belakang.


Dyta menghentakkan kaki nya kesal, ucapan Farel membuat nya ingin mencakar cowok itu.


"Gue emang nggak secantik Dyra, tapi gue manis yah, Rel!" kata nya dengan kesal membuat Farel malah tertawa keras.


"Rel," panggil Dyta dengan suara pelan, mereka berdua saling berpandangan membuat Farel menunggu kelanjutan ucapan gadis itu, "gue mau lo jawab serius, lo beneran suka sama gue, atau cuman buat gue terhibur doang?"


Farel tersenyum kearah gadis itu, dia tidak menjawab pertanyaan Dyta, dia malah berjalan menuju lemari baju nya lalu memakai nya. Mengabaikan tatapan penasaran dari Dyta.

__ADS_1


"Rel," panggil Dyta lagi, karna dia merasa di kacangin oleh Farel saat ini.


"Ucapan gue semalam nggak usah di ambil hati, anggap aja semalam gue mabuk," kata Farel asal membuat Dyta memutar bola matanya malas, dia berjalan menghampiri Farel.


"Mau mainin gue ya?" Dyta mendelik kearah Farel, membuat Farel hanya mengedikkan kedua bahu nya acuh.


"Gue nggak ngomong kayak gitu. Tapi yang semalam, lupain aja," balas Farel lagi, seraya menyemprotkan tubuh nya dengan parfum mahal.


"Rel," panggil Dyta, membuat Farel menatap sahabat nya sepenuhnya. "Gue mau peluk lo, tapi gue takut lo geer," ejek Dyta, kini giliran Farel memutar bola matanya malas.


Dia langsung membawa Dyta kedalam pelukan nya, "ingat kata-kata gue, Citing. Kalaupun nanti, lo udah punya pacar, gue bakalan tetap meluk lo, temenin gue juga tidur," kata Farel di selah-selah pelukan mereka, ucapan Farel membuat Dyta terkekeh.


"Kalau gue punya suami, emangnya lo berani meluk sama ajakin gue tidur bareng?" ejek Dyta sembari membalas pelukan Farel.

__ADS_1


"Berani," jawab Farel tegas, "karna yang akan jadi suami lo nanti, adalah gue, Farel sahabat lo."


__ADS_2