
Dokter mata yang menangani Dyta sudah keluar dari ruangan UGD, membuat mereka langsung berdiri dan bertanya pada dokter itu.
"Gimana keadaan anak saya dok?" tanya Kayla dengan suara serak.
"Untung saja anak ibu di bawa kerumah sakit tepat waktu, sehingga kami tim medis langsung menanganinya. Jika tidak, bakteri pada telur busuk akan infeksi di mata anak ibu. Dan hal ini akan menyebabkan kebutaan. Dari infeksi menuju kebutaan. Mata kita adalah bagian yang tidak boleh sedikitpun mengalami trauma atau terkena luka, " jelas dokter itu panjang kali lebar membuat mereka semua terkejut.
Separah itu mereka membully Dyta? Sampai telur busuk mengenai matanya.
Dokter yang menangani Dyta, menyarankan pada keluarga Dyta untuk rawat inap. Agar mereka bisa memantau kondisi mata Dyta. Dan mereka mengangguk mengiyakan ucapan sang dokter.
Mereka bisa bernafas legah, karna mata Dyta tidak menyebabkan gadis itu buta, akibat bakteri yang masuk kedalam matanya. Sebagai seorang dokter, tentu saja Valen tahu bahaya telur busuk jika mengenai mata.
Kayla langsung memeluk Elgara, ini yang kedua kalinya Dyta celaka, "El," tangis Dyta dalam pelukan Elgara.
"Anak kita baik-baik aja, Kay. Kamu denger sendiri 'kan, apa kata dokter," ujar Elgara, sembari mengusap punggung istrinya.
Dapat Rara lihat, jika Elgara menahan tangis. Karna dia tahu, kecelakaan ini semua karna dirinya. Andai saja waktu itu dia bisa mengontrol emosi, mungkin Agrif tidak akan balas dendam padanya melalui anak-anak nya. Dan mungkin Dyta tidak akan mendapatkan bully an dari sekolah nya. Karna dosa masa lalu nya.
Semuanya hanya andaikan.
Rara datang memeluk Elgara, sebagai kembaran Elgara dia tahu apa yang di rasakan oleh Elgara.
"Abang El yang sabar ya," kata Rara membuat Elgara mengangguk, lalu Elgara mencium puncak kepala milik adiknya.
Dyta sudah dibawa di ruangan rawat inap.
Sementara Nathan dan Lea sudah pamit pergi. Valen masih setia di sini bersama kedua sahabat nya itu.
Mereka sudah berada di ruangan Dyta, melihat Dyta yang masih memejamkan matanya diatas brankar.
Rara, Valen dan Kayla duduk di kursi sofa, sembari menunggu Dyta bangun. Posisi Kayla berada di tengah, di apit oleh kedua sahabat nya.
"Gue nggak apa-apa di sini," ucap Kayla kepada Valen, karna sahabat nya masih berada di sini menemani nya. Sementara dia tahu jika Valen adalah dokter di rumah sakit ini, yang mempunyai banyak pasien.
"Nathan bakalan telfon gue, kalau ada pasien baru yang harus gue tangani," ucap Valen, "jadi gue di sini nemenin sahabat gue dulu," lanjut nya dengan senyuman membuat Kayla ikutan tersenyum.
"Aku juga nggak akan ninggalin kamu, Kay," kata Rara membuat Valen dan Kayla langsung menatap Rara, "karna aku nggak punya kerjaan," lanjut Rara dengan tawa kecil nya membuat Valen tertawa sembari menggelengkan kepala, sementara Kayla hanya tertawa kecil.
"Tanpa kerja duit lo udah banyak, Ra," celetuk Valen dan dibalas anggukan setuju oleh Kayla. "Ngabisin duit kak Eza itu udah jadi kerjaan lo," lanjut Valen dengan tawa, membuat Rara ikutan tertawa.
"Kamu juga, Va. Udah dapat suami kaya seperti kak Rifal. Masih aja kerja," ucap Rara, "aku kasihan tau, lihat kamu sibuk terus-terusan di rumah sakit."
Valen pernah berjanji pada Rifal, jika anaknya sudah lahir, maka dirinya akan fokus mengurus rumah tangga. Namun itu tidak bisa, karna Valen merasakan panggilan jiwa.
Maka dengan berat hati, Rifal memberikan Valen izin untuk bekerja, karna dia juga kasihan melihat Valen hanya uring-uringan di rumah, tidak melakukan pekerjaan. Apa lagi pekerjaan Valen adalah pekerjaan mulia di mata manusia dan sang Pencipta.
"Nggak bisa, Ra. Lo 'kan tahu, kalau gue ini seorang dokter. Banyak orang diluar sana yang harus gue bantu, dengan ilmu yang gue punya. Percuma juga 'kan, kalau gue punya ilmu nggak gue manfaatin," jelas Valen membuat Kayla mengangguk setuju dengan ucapan Valen.
Mereka berdua ngobrol panjang kali lebar, entah apa saja yang mereka bahas, sembari menunggu Dyta bangun.
__ADS_1
***
Dyra dan Farel baru saja ingin jalan, namun telfon dari Raka membuat mereka berdua terkejut, hingga membatalkan untuk jalan-jalan pagi ini.
Mobil Farel langsung melaju ke rumah sakit, saat mendapatkan telfon dari Raka, jika Dyta tengah di rawat di rumah sakit.
Sementara Dyra duduk di samping Farel, sedari tadi gadis itu mengigit bibir nya cemas.
"Buruan, kak," pintah Dyra dengan nada khawatir.
"Ok." Farel menambah laju mobilnya, cowok itu tentunya syok saat mendapatkan kabar jika Dyta berada di rumah sakit.
Raka tidak punya waktu untuk menjelaskan detail kejadiannya pada Farel, sehingga dia akan menceritakan nya saat Farel sudah tiba di rumah sakit.
Raka tengah menunggu kedatangan Farel dan Dyra di lobby rumah sakit, sembari duduk di kursi yang nyaman, yang di sediakan oleh rumah sakit megah ini.
"Raka bilang Dyta sakit apa?" tanya Dyra pada Farel yang tengah fokus menyetir mobil.
"Dia nggak bilang, dia langsung nyuruh gue kerumah sakit," jelas Farel.
Raut khawatir terpancar dari wajah mereka.
"Padahal saat Dyta ke sekolah, dia baik-baik aja. Nggak ada tanda-tanda kalau dia sakit," ucap Dyra, mendapatkan kabar Dyta masuk rumah sakit membuat Dyra bertanya-tanya, sakit apa kembaran nya itu.
Tidak butuh waktu lama, mobil milik Farel sudah tiba di rumah sakit. Keduanya langsung turun dari mobil, mereka berjalan masuk kedalam rumah sakit dan melihat Raka yang tengah menunggu mereka.
"Kak Raka!" panggil Dyra sembari menghampiri sang pacar.
"Dyta sakit apa kak?" tanya Dyra dengan nada khawatir.
Raka menarik nafasnya lebih dulu, sebelum menceritakan kejadian ini.
"Dyta kena bully di sekolah," jelas Raka membuat Dyra dan Farel menahan nafas, saat Raka memberikan pernyataan. "Mereka di sekolah udah tahu, masalah orang tua kalian," lanjut Raka membuat Dyra tidak bisa berkutip, "mereka ngelempar telur busuk ke Dyta, sampai telur busuk itu masuk kedalam mata Dyta. Untung gue datang tepat waktu buat bawa Dyta kerumah sakit. Kata dokter, kalau Dyta lambat dibawa maka bakteri pada telur busuk itu akan infeksi di mata Dyta dan akan mengakibatkan kebutaan."
Jantung Dyra berdetak tidak karuan. "Dyta di bully?" gumam Dyra dengan suara gemetar menahan tangis.
Mendengar jawaban dari Raka membuat Farel langsung mengepalkan tangan nya. Sahabat nya berada dalam masalah, dan dirinya tidak ada di sana.
Lagi dan lagi, orang lain yang harus menyelamatkan Dyta.
"Kok mereka jahat sih, kalau kembaran gue sampai buta, apa mereka mau tanggung jawab!?" Air mata yang sedari tadi Dyra tahan, akhirnya mendobrak untuk segera di keluarkan. "Benci banget gue sama mereka yang langsung menghakimi."
"Udah, Ra. Sekarang Dyta baik-baik aja," ucap Raka sembari menenangkan gadis itu.
"Dyta di ruangan mana?" tanya Dyra sembari mengusap air matanya.
Raka langsung menjelaskan di ruangan mana Dyta sekarang.
"Lo mau kemana, Rel?" tanya Raka, dia berhasil mencegah tangan cowok itu saat ingin pergi. Dia belum melihat kondisi Dyta dan dia langsung ingin main pergi aja.
__ADS_1
"Gue mau pergi," jawab Farel dengan menahan emosi yang siap membeludak saat ini juga.
Dapat Dyra dan Raka rasakan, perubahan Farel saat ini. Aura cowok itu sangat mencekam, dan mereka tahu alasan perubahan cowok itu.
"Lebih baik lihat Dyta dulu, Rel. Lo nggak mau lihat Dyta dulu," kata Raka lagi.
"Ayok kak Farel, kita lihat Dyta sama-sama," ajak Dyra.
"Gue gagal jadi sahabat yang baik buat Dyta. Padahal gue udah pernah janji sama diri gue sendiri, kalau gue akan lindungi Dyta." Suara milik Farel mengecil dan mereka rasakan penyesalan meraut cowok itu.
"Kak Farel nggak gagal kok. Kak Farel selalu lindungi Dyta," bantah Dyra.
"Lepasin tangan lo, Ka," perintah Farel pada Raka, karna cowok itu masih mencekal tangannya.
"Tap--"
"Gue butuh waktu sendiri dulu," potong Farel membuat Raka dengan terpaksa melepaskan tanga Farel.
"Kalau ada apa-apa hubungi gue," kata Raka dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Farel.
"Jagain Dyta, sampai gue kembali." Lepas mengatakan itu, Farel langsung pergi meninggalkan Dyra dan Raka.
Mereka berdua menatap punggung Farel yang semakin menjauh. Setelah Farel menghilang, Dyra lansung menggandeng tangan Raka untuk segera keruangan Dyta.
"Makasih," kata Dyra, masih setia menggandeng tangan Raka. Dyra sadar jika dia masih menggandeng tangan Raka. "Kalau kak Raka nggak ada. Gue nggak tahu, gimana kondisi Dyta sekarang," lanjut Dyra dengan tulus, membuat Raka mengukir senyum.
Ini pertama kalinya Raka melihat senyum Dyra yang sangat cantik untuk nya.
"Sama-sama, Ra," balas Raka, cowok itu menggengam erat tangan Dyra.
Mereka sudah sampai di depan ruangan Dyta. Mereka berdua langsung melepaskan tautan tangannya.
Dyra membuka pintu ruangan Dyta, dan langsung di sambut oleh tiga wanita cantik.
"Ma!" panggil Dyra, di langsung memeluk Kayla. "Dyta sedih, Ma. Pas tau Dyta masuk rumah sakit karna di bully di sekolah," ucap Dyra dalam pelukan Kayla.
"Mama sama yang lain juga sedih, sayang. Saat tahu ini," balas Kayla sembari mengusap air matanya.
"Jangan nangis, entar make up nya luntur loh," goda Valen membuat Kayla hanya tertawa, sementara Dyra masih melanjutkan tangis nya.
Rara melangkah mengambil buah-buahan diatas nakas, dia mengupas buah mangga.
"Makan buah, biar nggak sedih," celetuk Rara pada ponakannya itu.
"Iya, tan."
Raka ikutan nimbrung, untung saja mereka sudah sangat dekat. Sehingga Raka tidak sungkan-sungkan lagi.
Ponsel milik Valen berdering, telfon dari Lea, menginfokan padanya jika ada pasien yang akan mereka operasi sekarang juga.
__ADS_1
Valen lagsung pamit, dan berjanji akan kesini kembali jika pekerjaannya sudah selesai.
Valen langsung meninggalkan ruangan Dyta, menuju ruang operasi, karna di sana sudah ada Natnan dan Lea yang menunggu nya.