Stay With Me

Stay With Me
Perpisahan tanpa pamit


__ADS_3

Wanita itu menatap rumah besar di hadapannya dengan wajah sendu dan mata yang berkaca-kaca, Ia mencengkram kuat tali tasnya sebelum meyakinkan diri untuk masuk ke dalam. Beberapa orang sudah duluan masuk dengan tujuan yang sama dengannya, Setelah mendengar kabar duka tentang kepergian Arata Misugi lantas membuat Hana merasa bersalah sebab kemarin mereka baru saja bicara dan tiba-tiba saja kabar duka ini beredar di seluruh penjuru Tokyo. Hana yang bergegas untuk melihat keadaan Jun pun kini sudah berada di rumah tersebut.


Begitu Hana memasuki rumah tersebut ia melihat foto Arata yang terpajang di sekitar bunga-bunga yang di hias seindah mungkin, Di depan foto nampak sosok Jun yang tertunduk sedih tak berdaya di sebelahnya ada Rey dan juga ibu tirinya yang berusaha mengajaknya untuk istirahat sebab sejak semalam Jun terus berada di depan foto itu tanpa makan dan minum sedikt pun.


Hana menghampirinya dengan penuh percaya diri kemudian ikut menjatuhkan dirinya di sebelah Jun, Hana meraih pundak Jun pelan sehingga membuat pria itu menoleh ke arahnya.


" Dasar wanita pembunuh untuk apa kau datang kemari setelah membunuh suamiku. " Serang moe yang langsung meraih kerah baju Hana dan memarahinya dengan kasar


" Ibu hentikan, Jangan membuat keributan di depan foto Ayah. " Sahut Rey berusaha menahan emosi sang Ibu


Hana tampak tertunduk menyesal dan mencoba menahan air matanya agar tak jatuh, Semua mata kini tertuju padanya.


" Untuk apa kau datang kemari. " Hana membelalak kaget saat Jun melontarkan pernyataan yang mengejutkan


" Aku turut berduka. " Ucap Hana lirih


" Cih.. Maafmu tidak akan mengembalikan nyawa suamiku. " Lontar Moe


" Kau senang sekarang ? Bukannya kita sudah impas? Tunanganmu dan Ayahku sudah pergi dengan cara yang sama, Ku rasa kau tidak perlu membencinya lagi.., biarkan dia tenang di alam sana. " Gumam Jun masih menunduk sedih


" Jun, aku sungguh minta maaf.. Kemarin saat aku.."


Jun bangkit dari hadapan Hana yang belum menyelesaikan kalimatnya, Jun kemudian menoleh ke bawah menatap Hana dengan tajam.


" Aku memaafkanmu, setidaknya aku tidak sepertimu.., Karena aku sudah memaafkan mu kau bisa pergi sekarang. Kau tidak ingin bertemu denganku kan. " Lanjutnya kemudian membalik badan meninggalkan tempat itu

__ADS_1


Hana menatap pundak Jun yang perlahan menghilang di balik tembok, Hana merunduk kacau kemudian mendengar suara Rey yang menyuruhnya untuk segera meninggalkan rumah mereka.


\*


Hana menatap gaun pengantinnya yang masih terpajang di galeri Sana dengan tatapan kosong, Kemarin saat dirinya mengusir Jun untuk tidak di sisinya lagi Hana merasa tidak sesedih ini, tapi kenapa saat Jun yang mulai menjauh rasanya seperti ada benda besar yang menghantam hatinya.


Gaun pengantin itu kembali menarik perhatian Hana, ia membayangkan bagaimana jadinya jika kemarin pernikahannya tidak batal mungkin saat ini dia dan Jun sudah menghabiskan waktu bulan madu bersama, Sayangnya semua itu hanya tinggal kenangan ada sedikit rasa penyesalan yang di tanggungnya saat ini.


" Kau masih di sini? " Sahut Sana tiba-tiba mengejutkan Hana.


" Ibu.., Apa kita akan meninggalkan galeri ini begitu saja? " Sahut Hana tanpa berbalik melihat ibunya.


" Apa kau ingin membawa semua pakaian ini? Kita tidak akan tinggal selamanya di Perancis, galeri ini akan di jaga oleh suruhan ibu jadi kau tidak perlu khawatir. " Balasnya kembali membuat Hana merasa legah


Setelah semua beres, Keduanya di antar oleh Urahara dan Mimi ke bandara, Mimi yang merasa sedih karena di tinggal jauh oleh Hana hanya dapat menangis sepanjang jalan. Hana menyuruhnya untuk diam dan berjanji akan datang tepat di hari pernikahannya dan Urahara nanti.


" Apa kau yakin akan pergi tanpa memberitahunya ?" Tanya Urahara tiba-tiba.


" Aku yakin, lagi pula dia tidak akan datang jika aku memberitahunya. " Ucap Hana tersenyum kecil


Setibanya di bandara, Hana melepas kerinduannya dengan Mimi sampai mereka bertemu lagi, Setelah itu keduanya segera memasuki area yang tidak bisa di masuki oleh pengantar, Sesekali Hana menoleh berharap sosok yang di inginkannya datang, Namun setelah beberapa kali menoleh tampaknya dia tidak akan datang.


Dari kejauhan seorang pria dengan mengenakan sebuah topi menatap kepergian wanita yang di cintainya dari jarak yang tidak dapat di lihat oleh Hana, Hatinya berat melihat Hana yang akhirnya benar-benar pergi jauh dari pandangannya, Dan saat ini yang dapat di lakukannya hanya mengucapkan selamat tinggal.


__ADS_1


*


Selama berada di Perancis, Hana di sambut hangat oleh keluarga barunya itu bahkan kakeknya yang merupakan Ayah Sana sangat menyayangi Hana terbukti ketika Hana tiba pertama kalinya dia merupakan satu-satunya orang yang paling excited menyambut kedatangannya. Walaupun Ayah Sana berkebangsaan Perancis ia masih bisa berbahasa Jepang sehingga memudahkan Hana untuk berkomunikasi dengannya.


Rumah keluarga Sana di Perancis terbilang cukup besar dengan lima kamar yang masing-masing di huni oleh Hana, Sana, Kakek dan Nenek serta dua saudara Sana yang merupakan adik perempuan dan laki-laki. Saudara Sana memiliki perbedaan umur 15 tahun dengan Sana sehingga membuat mereka terlihat seperti adik kakak bukannya tante dan keponakan.


Berada di sekitar mereka cukup membuat Hana sedikit lupa dengan kesedihannya saat ini, Mereka menghabiskan waktu dengan berbelanja pakaian hingga berwista kuliner karena ini pertama kalinya untuk Hana ke luar negeri ia sangat menikmati setiap momen yang ada bahkan sedikit demi sedikit Hana mencoba untuk mempelajari bahasa Perancis agar memudahkannya dalam berinteraksi dengan warga sekitar.


Hari ini tampaknya rumah sedang sepi, Sana keluar menemani orang tuanya untuk check up mengingat usia keduanya yang tidak muda lagi tentu hal yang wajar jika tiap sebulan sekali mereka melakukan kontrol kesehatan. Sementara dua saudara Sana yang lain merupakan dosen di salah satu universitas mode di kota itu dan satunya lagi adalah seorang model seperti Hana.


Karena bosan berada di rumah Hana pun memutuskan untuk keluar berjalan-jalan, Setidaknya dia sudah hafal jalan pulang sekalipun nyasar Hana tak akan khawatir dengan adanya ponsel di zaman modern ini tentu akan sangat membantunya.


Karena proses pergantian musim di Perancis tidak menentu seperti di Jepang oleh karena itu jika di Jepang sudah merasakan musim dingin lebih awal beda halnya di Perancis yang baru memasuki musim dingin, Untungnya suhu udara di luar saat ini tidak begitu dingin sehingga berjalan-jalan menikmati udara segar masih menjadi pilihan terbaik untuk masyarakat.


Museum Louvre yang menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan saat berlibur di Paris pun nampak lengang dan hanya ada beberapa wisatawan saja yang sedang berjalan kaki di sekitarnya. Meskipun tertutup salju, Museum Louvre nampak indah ketika Hana baru saja tiba di sana.


Cantik, itulah kata yang terbayang di kepala Hana ketika melihat bangunan segitiga yang di tutupi oleh salju, Hana tidak berniat untuk masuk ke dalam museum ia hanya sekedar lewat dan berswafoto saja untuk menghilang kejenuhannya, Setelah dari sana Hana kembali mengunjungi sebuah kafe yang menarik perhatiannya.


Kafe yang tidak memiliki nama ini berada di pusat kota Paris, di distrik Opera yang sangat dekat dengan Palais Royal. Ada cukup banyak kedai kopi khusus di Paris, faktanya ini adalah sebuah kafe yang sudah lama berdiri. Karena mereka tidak memiliki papan nama di depan kafe, banyak orang hanya lewat tanpa menyadari keberadaannya, itulah sebabnya meskipun lokasinya yang baik tidak begitu mudah untuk menemukannya namun masih dapat Hana temukan dengan mata elangnya itu. Kafenya kecil dalam ukuran tetapi juga terkenal di kalangan orang Paris, dan bahkan selama hari kerja cukup ramai oleh para pengunjung.


Ketika Hana masuk ke dalam ia di sambut ramah oleh pemilik kafe langsung, Setelah itu Hana pun mencoba untuk mengambil kursi paling pojok sebagai tempat untuk bersantai selama beberapa menit, Selain kafe yang unik menu yang di sediakan pun cukup unik, Hana memilih Milkshake stroberi dengan rasa yang pernah ada, entahlah namanya aneh tapi Hana tetap memilihnya untuk menamani hari nya.


Tak lama setelah itu pesanan Hana tiba, Pramusaji meminta Hana untuk menulis harapannya pada secarik kertas setelah meminum minumannya setelah itu menempelkan kertas tersebut pada papan buletin yang di letakkan di sebelah kasir, Konon katanya jika menulis sebuah harapan dan di tempel di papan kayu yang di yakini sebagai pohon keajaiban itu akan mengabulkan permohonan kita.


" Siapa yang percaya pada hal seperti itu. Aku sudah dua kali meminta sesuatu di kuil yang sama seperti papan itu tapi buktinya harapanku tidak terkabul. " Hana meremuk kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah yang berada tak jauh darinya.

__ADS_1


__ADS_2