Stay With Me

Stay With Me
Olahraga


__ADS_3

Hasya sedari tadi berada di dalam kamar Tegar, melihat kakak nya bermain game begitu lihai, membuat nya menjadi penasaran game yang di mainkan oleh kakak nya itu.


Hasya belum tahu jelas, mengapa Tegar bisa pulang ke rumah dalam waktu dekat ini, biasanya Tegar tidak seperti itu, membuang-buang waktu dengan urusan tidak jelas. 


Hasya duduk diatas tempat tidur Tegar, di samping Tegar ada Sahrul yang masih tidur dengan pulas.


"Kenapa?" tanya Tegar, tanpa melihat kearah Hasya, karna dari ekor mata Tegar, dia bisa melihat adik nya memperhatikan diri nya.


"Nggak apa-apa. Cuman bingung doang," jawab Hasya seraya tersenyum kearah Tegar.


Tegar menaikkan alisnnya sebelah, menatap adiknya sekilas dengan tatapan bingung, "Bingung karna gue ada di sini?" tanya Tegar dan dibalas anggukan kepala oleh Hasya. "Mau tau alasannya?" lanjut cowok itu memastikan membuat Hasya mengangguk semangat.


"Iya apa?" tanya Hasya dengan gemas, karna Tegar hanya kembali fokus dengan game di ponsel nya.

__ADS_1


"Kalau penasaran ganti baju dulu," kata Tegar tanpa melirik kearah Hasya, karna ia fokus dengan game nya saat ini.


Hasya memang belum mengganti dres yang ia kenakan saya diner bersama Zhar. Dia langsung masuk kedalam kamar Tegar mengikuti sang kakak.


Hasya memanyunkan bibirnya, "yaudah, Hasya ke kamar ganti baju dulu." Hasya beranjak dari tempat tidur Tegar dan hanya dibalas anggukan kecil oleh Tegar tanpa melirik Hasya sama sekali.


Hasya meninggalkan kamar Tegar, berjalan menuju kamar nya. Namun bersamaan itu, pintu kamar orang tua nya terbuka.


"Loh, udah balik sayang?" tanya Rara sembari menghampiri anak nya. Rambut wanita itu sedikit berantakan, seperti bukan Rara biasanya yang selalu rapi dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Frezan ikutan keluar dari kamar, dengan keadaan bertelanjang dada, rambut ayah nya juga berantakan, membuat Hasya menatap Rara dan Frezan secara bergantian.


"Ayah," panggil Hasya membuat Frezan tersenyum kearah anak nya.

__ADS_1


Frezan ikut menghampiri Hasya, lalu dia berbisik di telinga istrinya, "lain kali, kalau mau keluar kamar, rapihin rambut nya dulu. Kamu nggak mau, 'kan, kalau Hasya tahu kalau kita habis olahraga malam," goda Frezan membuat Rara melotot kan mata nya.


Frezan terkekeh melihat tingkah Rara saat ini. Bagi Frezan, tingkah Rara tetap menggemaskan meksipun mereka tidak muda lagi.


Rara adalah segalanya untuk Frezan. Rara istrinya adalah dunia nya, tanpa Rara pria itu tidak ingin hidup di bumi.


"Bunda sama Ayah berantem?" tanya Hasya polos membuat Rara menatap Frezan yang menatap nya dengan tatapan jahil.


Rara dengan segera merapikan rambut nya. Lalu tersenyum kikuk kearah Hasya. "Bunda sama ayah nggak berantem. Hasya 'kan tahu, selama ini ayah sama bunda selalu baik-baik," jelas Rara tanpa bohong sama sekali, karna yang ia katakan adalah sebuah fakta mengenai dirinya dan Frezan.


"Rambut bunda sama Ayah berantakan, kayak rambut singa, heheh," kata Hasya dengan tawa kecil nya membuat Frezan dan Rara ikutan tertawa.


Frezan mengacak rambut putri nya dengan gemas, "sampai kapanpun, ayah sama bunda nggak akan berantem. Itu janji ayah untuk bunda kamu, sebelum ayah menikah," ucap Frezan bijak. "Ayah sama bunda habis olahraga, makanya rambut berantakan."

__ADS_1


Detik itu juga, Rara langsung mencubit perut Frezan tanpa mengenakan pakaian.


__ADS_2