Stay With Me

Stay With Me
Satu Sama


__ADS_3

Hari ini Jun kembali berniat menemui Hana di rumah sakit, ia sampai membatalkan semua rapat hanya untuk menemui wanita itu. Namun ketika tiba di sana Jun di halang oleh Mimi dan Urahara walaupun pria itu adalah sahabatnya sendiri.


" Izinkan aku bertemu dengannya, " Pinta Jun dengan sangat


" Tidak bisa, Setelah apa yang ku dengar dari Hana aku juga mulai membencimu. " Balas Mimi dingin


" Tolong beri aku kesempatan, Aku juga tidak menginginkan hal seperti ini terjadi semua bukan kehendakku. "


" Aku tahu, tapi kau juga harus berpikir bagaimana sakitnya Hana ketika berada di sebelahmu ketika dia mengetahui bahwa jantung Kaji ada padamu, tentu dia akan sangat sedih bahkan tambah sedih kalau kau terus menerus menemuinya seperti ini. "



" Nao benar Jun, biarkan Hana untuk tidak menemui mu saat ini, Kau harus bersabar sampai waktu itu tiba. "


Merasa begitu lelah hari ini, Jun pun segera meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumah, sudah beberapa hari ini dia tidak bisa tidur dan alkohol di rumahnya pun telah di sita oleh Katakura sehingga dirinya tidak bisa mabuk-mabukan.


\*


Sudah tiga hari Hana di rawat dan hari ini dia di perbolehkan pulang oleh dokter, saat itu dua orang pria datang ke kamar Hana dengan tujuan yang sama yaitu mengantarnya pulang, Sana yang sedang sibuk dengan pekerjaanya terpaksa menghubungi Jun untuk menjemput Hana sementara itu Ryota yang juga mengetahui Hana akan pulang datang untuk menjemputnya.


" Apa yang kalian berdua lakukan di sini? " Tanya Hana sambil melirik mereka yang sudah berdiri di hadapan Hana


" Tentu saja menjemputmu. " Balas mereka kompak


" Aku bisa naik taxi, dan untuk Ryota terima kasih karena sudah repot-repot datang untuk menjemputku. "


" Kau harus pulang denganku ini perintah ibumu. " Lontat Jun ketus


" Tapi aku tidak mau pulang denganmu. " Balasnya dingin


" Kalau begitu denganku saja, Kau baru saja sembuh tidak mungkin naik taxi kan.? " Sahut Ryota seakan tak mau kalah

__ADS_1


Hana terdiam sejenak memikirkan sesuatu, Sementara itu Jun dan Ryota tampak saling melirik satu sama lain dengan tatapan mata yang tajam. Selang beberapa menit pintu ruangan terbuka dan memunculkan sosok Mimi dan Urahara, Hana sontak menyambut mereka dan menjelaskan akan pulang bersama dua orang itu.



Jun dan Ryota melirik langkah Hana dan dua orang yang baru saja datang dengan wajah tercekat, keduanya tidak menyangka kalau akhirnya Hana pergi bersama dua orang itu. Baru saja Ryota hendak berjalan pergi, Jun tiba-tiba menahannya dan meminta untuk tidak mendekati Hana lagi.


" Kau bahkan bukan pacarnya lagi, kau tidak punya hak untuk mengatur ku. " Balas Ryota


" Sejak kapan kau bersikap seperti ini, bahkan selama ini kau bahkan tidak peduli dengan Hana. " Lanjut Jun


" Kau tidak tahu apa-apa soal kami, Percuma saja bicara denganmu, aku pergi. " Kata Ryota kembali melanjutkan langkahnya sambil melambaikan tangan pada Jun


" Sial, dia ingin bermain-main denganku. " Batin Jun sambil mengepal kedua tangannya kuat-kuat.


\*


Ketika Hana sudah merasa lebih baik ia memutuskan untuk keluar rumah menikmati waktu sendirinya sebelum akhirnya kembali sibuk dengan jadwal artisnya, Siang ini Hana mengunjungi salah satu cafe baru yang terletak tak jauh dari rumahnya, Ia memesan satu parfait matcha dan juga cemilan berupa cheese cake kesukaanya, Tanpa di temani siapapun wanita itu tetap asik dengan dunianya yang akhir-akhir ini di rasa sangat sesak.


Logika dan perasaannya yang selalu berbenturan membuat Hana merasa lelah, Ia pikir dengan melarikan diri seperti ini dapat menyelesaikan segalanya nyatanya tidak, Jun masih selalu menjadi nomor satu di ingatannya bahkan ketika dirinya bangun, Tapi sulit untuk berada di dekatnya mengingat jantung Kaji yang berada di tubuh Jun membuat Hana merasa bersalah, Menjauh mungkin yang terbaik untuk saat ini, tapi sampai kapan? Hana pun masih belum memikirkan waktu yang tepat itu.


" Bisa kita bicara sebentar. " Ucapnya lirih


Hana ingat saat terakhir kali meminta penjelasan tentang Kaji saat itu Arata mendadak sakit dan Hana yang tidak mau hal itu terjadi lagi terpaksa mengiyakan ajakannya, Keduanya kembali memasuki cafe itu dan mengambil tempat yang sedikit sepi akan pengunjung.


" Sekali lagi aku meminta maaf atas apa yang ku lakukan pada tunanganmu waktu itu, Setelah melalui waktu yang panjang kau dan Jun bertemu entah karena takdir atau kebetulan, Sejauh itu kau berusaha memisahkan kalian untuk menutupi kebenaran ini, tapi nyatanya kalian berdua sudah tahu semuanya.., Jun merasakan hal yang sama ketika mengetahui nya, dia sedih dan tidak bisa melakukan apapun saat mengetahuinya, dia takut kau akan membencinya kalau dia memberitahumu. Untuk itu tolong maafkan Jun, kau boleh membenciku tapi tidak dengan Jun, dia hanyalah korban atas kejahatanku. Kumohon padamu untuk tidak meninggalkannya seperti ini. " Arata membungkuk menyesal di hadapan Hana, namun semenit kemudian Hana hanya meliriknya dingin.


" Sudah bicaranya.? " Lontar Hana sinis


" Apa kau akan memaafkan Jun? "


" Kau tidak mengerti bagaimana perasaanku sekarang, Tolong jangan menemuiku lagi dan meminta maaf seperti ini, peruma, Karena aku tidak akan memaafkan kejahatanmu. " Hana beranjak dari tempatnya dan bergegas pergi.

__ADS_1


" Bukannya kau sudah berjanji padaku waktu itu untuk tidak meninggalkan Jun apapun yang terjadi? Kau sudah berjanji dan janji adalah hutang yang harus di bayar. " Suara Arata kembali menahan langkah Hana.


" Aku tidak peduli dengan perjanjian itu. " Ucapnya lirih dan kembali meninggalkan cafe tersebut.


Arata kembali merasa sesak dan membuatnya memegang dada sambil berjalan mengejar Hana, Ketika Arata berhasil mengejar langkah Hana di luar cafe tubuhnya tiba-tiba merasa kaku dan sulit untuk berjalan, Arata terhuyung jatuh ke tanah ketika Hana menghilang di balik bagunan sontak sekretaris Arata keluar dari mobil dan menghampiri bosnya itu.


" Bertahanlah tuan, saya akan membawa anda ke rumah sakit. " Gumam sang sekretaris berusaha membopong Arata masuk ke dalam mobil.


\*


Pria itu menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya sembari memutar kursi itu menghadap jendela yang langsung memperlihatkan keindahan kota Tokyo, Jun hanya dapat mendesah pelan sesekali kepalanya pusing dan hanya dipijit nya pelan untuk mengurangi nyeri nya.


Tiba-tiba saja Katakura masuk dengan wajah cemas kemudian menghampiri kursi Jun sambil memperlihatkan ponselnya, dalam sebuah pesan tertulis bahwa Jun harus segera ke rumah sakit melihat Ayahnya yang lagi-lagi di rawat. Jun meraih mantelnya dan berlari menuju parkiran di ikuti langkah kaki Katakura yang tak kalah paniknya.


Setibanya di rumah sakit Jun mendapati Rey yang sudah tiba duluan di depan pintu ruang ICU, Jun tidak tahu kenapa Ayahnya masuk ke ruangan itu lagi ,tak lama kemudian sekretaris ayah nya muncul dan memberitahu bahwa sebelum Arata masuk rumah sakit ia sempat menemui Hana. Jun hanya dapat terdiam, ia tak bisa menyimpulkan apa yang sudah terjadi sebelumnya yang pasti saat ini Jun berdoa agar Ayahnya tidak kenapa-napa.


Pintu ruangan itu terbuka dan memunculkan dokter yang menangani Arata selama ini, Dia menatap ke arah Jun dan Rey secara bergantian dengan wajah sendu namun setelah itu dia meminta kedua putra Arata untuk masuk ke dalam melihat kondisinya yang benar-benar kritis.


Jun dan Rey mulai memasuki ruangan itu dengan wajah sedih yang ditahannya ketika melihat Arata yang tersambung dengan berbagai alat rumah sakit, Manik matanya menangkap sosok Jun dan Arata kemudian menyuruh mereka untuk mendekat, suaranya yang pelan akibat selang yang di pasang di mulutnya membuat pria itu kesulitan untuk mengeluarkan suaranya.


" Untuk Rey, Ayah minta maaf kalau selama ini tidak memberikan kasih sayang yang sebenarnya, Jadilah pria yang baik dan Ayah yang bertanggung jawab untuk anakmu nanti, lindungi adikmu yang satu ini jangan biarkan dia sedih.., buat dia bahagia selalu.., sampaikan salam Ayah untuk ibumu juga..., Ayah belum sempat bertemu dengannya, ayah menyesal sepertinya banyak penyesalan yang Ayah alami saat-saat ini.. "


" Tolong berhenti bicara yang tidak masuk akal, Ayah adalah orang yang kuat, jangan membicarakan sesuatu seakan-akan kau akan meninggalkan kami. "


Sahut Rey yang sudah tidak dapat membendung tangisnya lagi


" Dan untuk Jun.. "


" Jangan bicara lagi.., " Potong Jun yang sudah menangis sendu sejak tadi


" Ayah minta maaf, "

__ADS_1


Suara detak jantung yang berbunyi panjang terdengar nyaring di ruangan itu, Jun histeris berteriak meminta Ayahnya untuk bangun, Rey berusaha menahan Jun dengan menarik tubuh adiknya menjauh dari ayah mereka. Semenit kemudian dokter dan beberapa perawat memasuki ruangan itu dan memeriksa keadaan Arata. Jun yang telah berhasil di bawa keluar oleh Rey langsung jatuh tak berdaya di depan ruang ICU.


Arata di nyatakan meninggal setelah dokter itu keluar lagi, Semua orang terkejut mendengarnya, Jun dan Rey menangis sejadi-jadinya di sana dan hanya suara tangis mereka saja yang terdengar saat ini.


__ADS_2