Stay With Me

Stay With Me
Putus


__ADS_3

Mereka bertiga berjalan di koridor rumah sakit, sekali-kali Zayn menggeleng membandingkan antara Dyta dan Dyra. Bisa Zayn lihat, jika Dyra merupakan gadis glamor yang suka berhias dan berpakaian perfect, sementara Dyta  selalu tampil sederhana, menggunakan hodie dan celana jeans yang simpel, namun begitu aura Dyta tetap mahal di pandang.


"Gue colok mata lo," ketus Dytsa, dia bisa melihat dari ekor matanya, jika Zayn menatap diri nya dan juga Dyra secara bergantian, tentu saja Dyta tahu apa yang Zayn nilai.


Zayn tertawa renyah, "mata lo tajam juga ya," celetuk Zayn. Dyra berjalan lebih depan, tidak ingin mendengar obrolan antara Zayn dan Dyta.


"Gue punya mata kali, Zy. Jadi gue tahu," jelas Dyta dan hanya dibalas anggukan kecil saja oleh Zayn.


Mereka bertiga sudah sampai di depan ruangan Aldi, saat mereka ingin masuk, seseorang langsung keluar dari ruangan Aldi, mata Dyta dan cowok itu saling beradu.


"Ngapain lo di sini!" Dyra langsung berdiri di depan Dyta, agar kaka nya dan Agrif tidak saling menatap.


Biasanya Dyra selalu menatap Agrif dengan tatapan memuja, anak baru yang mampu menyaingi ketampanan milik Zhar dan juga Farel tentunya.


Saat Dyra tahu siapa Agrif sebenarnya, membuat rasa kagum itu berubah menjadi rasa takut dan penuh kewaspadaan pada cowok di depannya, karna Agrif tidak segan-segan melayangkan nyawa mereka dengan menyuruh seseorang, contohnya cowok itu menyuruh Aldi.


Agrif sama sekali tidak melirik Dyra, dia hanya menatap kebelakang Dyra, dimana ada Dyta dibelakang gadis itu, dan masih terlihat oleh Agrif.


"Lo orang jahat tau nggak, Rif. Seharusnya lo bersyukur, orang tua gue nggak laporin lo kepolisi," tegas Dyra menatap Agrif dengan menggebu-gebu.


Agrif melirik Dyra tajam, membuat gadis itu langsung kikuk, namun dia berusaha tidak takut di depan Agrif.


"Papa lo yang penjahat!" desis Agrif dengan suara rendah, namun tidak mengurangi kadar ketegasan cowok itu. Dia menatap Dyra seperti ingin menguliti gadis itu, "apa lo tahu, kejahatan apa yang papa lo perbuat," lanjut Agrif dengan tatapan bengis, membuat siapapun yang melihat tatapan itu akan bergedik ngeri.


"Gue udah tahu. Itu cuman masa lalu, nggak bakalan bisa di ubah," balas Dyra berusaha tidak mengeluarkan suara gemetar, karna sejujurnya dia sangat takut dengan Agrif.


Agrif tersenyum sinis, membuat cowok itu semakin menyeramkan untuk dilihat, namun begitu dia tetap tampan.


"Lo bilang cuman?" Agrif tertawa sinis, "jadi nyawa yang bokap lo hilangin itu, nggak ada apa-apa nya, ya?" Agrif manggut-manggut dramatis. "Bagaimana kalau nyawa dibalas dengan nyawa?" Agrif tersenyum smirk sembari memegang dagu Dyra kasar, sehinnga tatapan mereka beradu.


"Lepasin!" Dyta langsung menghempaskan tangan Agrif di dagu Dyra, karna dia bisa melihat adiknya tengah kesakitan karna cengkraman dari cowok itu.


"Bagaiamana?" tanya Agrif kepada Dyta, sudut bibirnya berbentuk senyum sinis menatap Dyta.


"Lo udah di butain sama dendam, Rif," kata Dyta, gadis itu berusaha tidak menitihkan air mata, sekarang sahabat nya berada di depannya.


Dia pikir, pertemuan nya dengan Agrif kelak, akan menciptakan momen bahagia. Namun ternyata dugaannya salah. Dia pikir, setelah lama berpisah, mereka akan bertemu melepaskan kerinduan masing-masing di dalam hati, namun nyatanya Agrif datang membawa dendam di masa lalu.


Agrif di depan nya, bukan Agrif yang Dyta kenal, Agrif di depan nya adalah sosok cowok yang di penuhi dengan dendam, yang harus segera ia tuntaskan.


"Karna ini semua ulah bokap lo," suara milik Agrif pelan, tidak seperti saat dia membalas ucapan Dyra.


"Gue tahu, dan semuanya adalah salah bokap gue. Tapi dengan lo kayak gini, nggak akan bisa buat bokap lo kembali hidup," jelas Dyta, "semua hanya masa lalu, Rif. Nggak seharusnya lo terjun di masa lalu itu. Lo pikir, dengan balas dendam, bokap lo diatas sana bakalan suka? Jawabannya nggak, Rif. Dia bakalan sedih, karna lihat lo di jalan yang nggak bener," lanjut Dyta masih setia menatap Agrif yang juga balas menatap nya.


"Gue nggak akan berhenti, sampai dendam gue terbalaskan sama bokap lo, kalau perlu lo atau kembaran lo, nyerahin hidup lo sama gue."

__ADS_1


"Buat apa?" tanya balik Dyta, dia tidak tahu arah pikiran Agrif saat ini.


Agrif mendekati Dyta, membuat jantung gadis itu berdetak tidak karuan. Dyta memejamkan matanya, saat Agrif berbisik di telinganya, membuat bulu kuduknya meremang. Dan bisikan Agrif sukses membuat jantung Dyta makin berdetak tidak karuan, apa Agrif tidak bercanda dengan apa yang barusan ia katakan.


Dyta langsung mendorong tubuh Agrif, membuat cowok itu mundur kebelakang, Dyra ingin menarik tangan Dyta untuk pergi, namun tangannya langsung di cekal oleh Zayn.


"Biarin Dyta nyelesain sedikit demi sedikit," kata Zayn membuat Dyra mengurungkan niatnya, dia takut jika tiba-tiba Agrif berbuat kasar pada kembaran nya.


Tangan Dyta terkepal, dia menatap wajah Agrif dengan lekat, membuat cowok itu sedikit salting, di tatap oleh Dyta dengan jarak yang sangat dekat, membuat nya bisa melihat dengan jelas wajah manis milik Dyta.


Satu kata untuk Dyta dari Agrif, gadis itu sangat manis, cantik dan tidak ngebosanin jika dilihat terus menerus.


Ziya memang sangat cantik, tapi wajah Dyta damai untuk di pandang.


"Lo ngancem gue, Rif?" tanya Dyta masih tidak percaya dengan apa yang Agrif bisikkan pada nya itu. "Lo bener-benar buta, buta karna dendam. Semuanya udah selesai, Rif. Lo mau kalau ada nyawa yang hilang, terus itu buat dendam lo padam dan berakhir? Lo pikir bakal berhenti sampai situ?" terang Dyta lagi.


Agrif ingin membalas ucapan Dyta, namun Dyta kembali angkat bicara, tidak membiarkan Agrif untuk bicara.


"Beberapa tahun ini, gue nunggu lo, Rif. Gue tunggu lo datang bagi cerita sama gue, main basket bareng gue, dan lepas rindu dengan gue. Tapi nyatanya lo datang bukan sebagai Agrif sahabat gue, tapi lo datang sebagai penjahat!" Suara Dyta bergetar mengatakan hal tersebut, "lo sama sekali nggak kangen sama gue?" tanya Dyta sembari tersenyum getir, "mungkin jawabnya tidak, karna lo udah buta karna dendam."


"Gue bukan bah--"


"Gue bahas persahabatan kita!" potong Dyta, "gue sama lo itu sahabat, tapi kenapa lo malah kayak gini. Lo nggak mandang gue, Rif. Belasan tahun gue nungguin lo dari banjarmasin buat ke Jakarta, tapi lo datang dengan nama lain, apa segitu bencinya lo sama persahabatan kita?" Air mata Dyta jatuh, dia mengusap air matanya kasar, "gue rindu sama Agrif, sahabat masa kecil gue."


"Udah, Ta. Kita langsung masuk." Dyra gregetan, dia menarik tangan Dyta meninggalkan Agrif, lebih dulu Dyra menabrak punggung Agrif lalu berlalu masuk kedalam ruangan Aldi, menggandeng tangan Dyta.


Jika Zayn di sandingkan dengan dua cowok itu, maka Zayn akan merasa tertantang, karna orang yang dekat dengan Dyta, bukan cowok biasa.


Zayn langsung mengikuti Dyta dan Dyra masuk kedalam ruangan Aldi, sementara Agrif tidak menggubris apa yang ia katakan barusan.


Aldi mengambangkan senyum, dia pikir yang kembali adalah Agrif, ternyata dugaannya salah, karna yang muncul di depannya adalah sosok gadis yang ia rindukan.


Aldi bisa melihat, raut wajah milik Dyra sangat tidak bersahabat dengan nya, tidak ada senyum menghiasi wajah cantik gadis itu, Aldi tersenyum melihat Dyra, rasa sakit yang ia rasakan hilang begitu saja, melihat Dyra ada di sini.


"Kamu cantik, Ra," puji Aldi dengan suara pelan, karna kondisinya yang masih lemah membuat nya tidak bisa bergerak leluasa.


"Makasih pujiannya, tapi gue nggak butuh pujian dari lo lagi," kata Dyra duduk di dekat Aldi, sementara Zayn dan Dyta duduk di sofa yang sedikit jauh dari posisi Dyra.


Aldi melirik kaku kearah gadis yang duduk di samping nya, "maksud kamu apa, Ra?" tanya Aldi masih dengan suara lemah nya.


Dyra menghembuskan nafas lebih dulu, sebelum mengatakan apa yang ingin dia utarakan pada Aldi, ini adalah tujuannya memutuskan Aldi secara langsung, setelah cowok itu sadar.


Mereka sudah tahu, jika Aldi hanya di suruh oleh seseorang, mereka juga sudah tahu jika Aldi tidak mengetahui siapa yang akan dia bunuh, Raka dan Farel sudah mencari akan hal ini. Namun tetap saja, Dyra tidak ingin menjalin hubungan dengan orang yang mengerikan, seperti sosok Aldi, apa lagi dia sudah tahun jika Aldi merupakan pembunuh yang dibayar tinggi oleh orang-orang. Memikirkan itu saja membuat Dyra bergedik ngeri.


Sudah berapa banyak nyawa yang dihilangkan Aldi? Hanya karna sebuah uang? Papa nya saja menghilangkan nyawa membuat Dyra tidak bisa membayangkannya. Apa lagi Aldi yang sudah terhitung tangan.

__ADS_1


"Gue kesini bu--"


"Aku senang, kamu datang jenguk aku, Ra." Aldi menyentuh tangan Dyra, membuat gadis itu tersentak, dengan cepat dia melepaskan tangan Aldi yang menyentuh tangannya, dia masih trauma bersentuhan dengan Aldi, bertemu cowok itu saja harus di temani oleh Dyta.


"Sorry, Al. Gue kesini bukan mau jenguk lo," terang Dyra membuat hati Aldi nyeri, padahal saat dia membuka mata, dia berharap orang pertama yang ia lihat adalah sang pacar, namun nyatanya hanya ada teman-teman nya, sehingga dia minta tolong pada Zayn, untuk menelfon Dyra jika dia sudah sadar.


"Maksudnya?" tanya Aldi.


"Gue mau kita putus," ucap Dyra final, membuat Aldi langsung tertohok dengan pernyataan yang diberikan oleh Dyra.


"Aku nggak mau, Ra." Aldi menggeleng lemah, rasa sakit di tubuh nya belum sembuh, ditambah lagi luka di hati nya, yang di ciptakan oleh Dyra. "Aku udah serius dan sayang banget sama kamu, Ra. Aku nggak mau kita putus begitu aja."


"Terserah lo kalau nggak terima, yang jelas kita udah putus. Gue kesini cuman mau ngomong putus sama lo," jelas Dyra yang tidak ingin di bantah oleh Aldi lagi, mengenai keputusannya ini.


"Nggak bisa, Ra. Aku udah sayang sama kamu," tolak Aldi yang tidak terima, jika Dyra memutuskan diri nya, dia baru sadar setelah seminggu koma dan Dyra malah berkata seperti ini, bukan ini yang Aldi harapkan dari gadis cantik itu.


"Keputusan gue udah bulat." Dyra berdiri dari kursi yang ia duduki.


"Aku baru sadar dari koma aku, Ra. Dan kamu malah main putusin aku. Apa kamu nggak tahu, kalau aku butuh kamu buat ada di samping aku. Biar aku cepat sembuh," kata Aldi, kali ini suaranya tidak selemah tadi.


Dia berusaha keras melawan rasa nyeri, karna Dyra.


"Beberapa lagi lo bakalan sembuh, gue nggak mau jalin hubungan sama cowok jahat kayak lo, Al. Udah banyak orang yang lo bunuh, demi uang," sinis Dyra.


"Aku bisa berubah, Ra." Aldi menangis, dia tidak mau jika Dyra meninggalkan dirinya, karna dia sudah terlanjur mencintai gadis itu.


"Ya baguslah kalau lo bakal berubah, bukan berarti kita harus pacaran," balas Dyra tersenyum tipis, "karna saat ini, gue udah punya pacar," lanjut Dyra membuat tangan Aldi terkepal hebat, saat Dyra mengatakan jika dia sudah mempunyai pacar baru.


Sangat sakit, rasanya Aldi ingin teriak detik-detik ini, saat pernyataan yang diberikan Dyra sangat menyakitkan.


"Jadi alasan lo mutusin gue, karna pekerjaan gue, itu cuman bohongan lo semata. Supaya lo punya alasan buat mutusin gue," kata Aldi dengan suara pelan, berusaha mengontrol emosinya yang sudah berada di puncak. Bahkan, cowok itu sudah mengubah cara bicara nya pada Dyra, saking emosinya cowok itu.


Dyra tersenyum kearah Aldi, "lupain gue, karna gue udah bahagia sama pacar gue." Dyra langsung ingin pergi, namun tanganya langsung di cekal oleh Aldi.


"Lepasin," perintah Dyra.


"Secepat itu lo ninggalin gue, Ra?" tanya Aldi dengan suara parau.


Zayn dan Dyta hanya menjadi penonton, dia membiarkan Aldi dan Dyra menyelesaikan masalah mereka berdua.


"Iya, Al. Gue sama lo itu nggak pantas. Lo yang nggak pantas buat gue. Lo itu pembunuh, penjahat." Dyra melepaskan tangannya kasar dari Aldi, saat melihat mata cowok semakin deras mengeluarkan air mata. "Gue nggak suka, Al. Papa gue aja yang bunuh satu orang, buat gue takut, apa lagi lo." Dyra langsung pergi meninggalkan Aldi, jangan sampai air matanya ikutan jatuh karna kasihan melhat Aldi.


Dia mengabaikan panggilan lemah keluar dari mulut Aldi, cowok itu memohon agar dirinya kembali.


Jujur saja, Dyra langsung legah memutuskan Aldi. Dia tidak akan mungkin berpacaran dengan orang seprti Aldi, dia sudah tahu apa pekerjaan cowok itu sebenarnya.

__ADS_1


Dyra mengirimkan pesan kepada Dyta, jika dia menunggu di depan cafe rumah sakit, dia akan menenangkan sedikit isi kepala nya yang ribut, dia masih melihat jelas Aldi menangis tersedu-sedu memanggilnya saat dia pergi dari ruangan cowok itu.


Lagian, Dyra juga tidak serius berpacaran dengan orang-orang. Sudah tahu, 'kan, jika Dyra ini tidak cukup hanya dengan satu cowok.


__ADS_2