
Hari ini Hana hanya tidur selama 3 jam setelah pulang dari kuil semalam, dia tidak terlihat kelelahan bahkan sangat berseri-seri pagi ini. tiga jam sebelum acara di mulai Hana sudah berada di salon untuk di dandani, Gaun pengantin pun sudah terpajang rapih untuk di kenakaan oleh nya hari ini. Di meja riasnya Hana terus memperhatikan gaun buatan ibunya itu dengan senyum yang tidak bisa luntur.
Ingin rasanya Hana cepat-cepat memakai gaun itu dan mengabadikan dirinya dalam sebuah foto, Sana yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu langsung menyerahkan sepotong roti untuk Hana sebagai pengganjal perut, Kemarin Hana harus diet karena ukuran gaun yang tiba-tiba tidak muat saat di cobanya.
" Ibu, aku ingin makan lebih banyak. " Keluh Hana bak anak kecil yang meminta sebuah mainan
" Kau tidak lihat kemarin gaun mu tidak pas dan sekarang kau meminta untuk makan banyak, Diet lah untuk hari ini dan makan saja roti yang ibu berikan." Balas Sana mencoba mengecek keadaan gaun pengantin putrinya.
" Pelit. " Gumamnya pelan
Setelah setengah jam berlalu kini Hana telah siap dengan riasan wajah yang flawless tidak begitu menor dan sangat cocok dengan gaun yang di kenakannya saat ini, Sana yang terpesona dengan kecantikan Hana segera meraih ponselnya dan meminta tukang rias tadi untuk memotret mereka berdua.
Dalam hitungan 3 2 1 potret diri mereka telah berhasil di ambil, Sana melirik hasilnya dengan senyuman haru kemudian melirik Hana sambil menyentuh wajahnya.
" Kamu sangat cantik sayang, " Puji Sana sukses membuat kedua pipi Hana merona
" Sebaiknya kita segera ke sana, Mimi baru saja menghubungi ku kalau Jun dan keluarga nya sudah tiba di sana. " Ajak Hana yang begitu antusiasnya
Ketika mereka meninggalkan salon, tepat di tempat parkir seorang wanita baru saja menghampiri Hana dan Sana yang di mana wanita itu tiba-tiba menarik lengan Hana dan meminta untuk bicara.
__ADS_1
" Lepaskan anakku. " Sana dengan cepat menangkis tangan wanita itu dan menyembunyikan Hana di belakangnya
" Siapa kamu? Jangan macam-macam atau aku akan menelpon polisi. " Ancam Sana pada wanita itu
" Biarkan aku menemui Hana ku mohon, Ini menyangkut soal suamiku yang saat ini sedang sakit. "
Hana dan Sana kompak menatap wanita asing yang tiba-tiba menghampiri mereka dan membawa nama suaminya dengan alasan yang terdengar ambigu, Melihat waktu yang sebentar lagi akan menunjukkan pukul 9:00 dan perjalanan dari tempat mereka ke venue memakan waktu yang cukup lama, Sana tetap menolak Hana bicara dengan wanita yang tak di kenal itu namun lagi-lagi wanita itu menyebut nama seseorang yang membuat Hana membeku mendengarnya.
" Kau bilang apa barusan? " Tanya Hana mencoba meyakinkan apa yang barusan di dengarnya.
" Ini menyangkut soal Kaji mantan tunanganmu yang dulu pernah di tangani oleh suamiku, Tolong temui dia untuk kali ini saja, Ada yang ingin di katakannya soal Kaji kepadamu, Dia sedang sekarat dan sangat ingin bertemu denganmu ku mohon. " Pinta wanita itu membuat Hana tak paham dengan omongannya
\*
Di aula acara Jun tampak mondar-mandir kebingungan rasa khawatir nya sudah tidak dapat terbendung lagi hingga saat dia memutuskan untuk pergi mencari Hana sosok yang di cari-cari telah tiba, namun ada hal aneh yang terlihat dari Hana, dia tidak mengenakan gaun atau riasan wajah seperti ingin menikah melainkan dandanan biasa dengan wajah sendu dan mata yang sembab.
" Apa yang terjadi, Kenapa kau berpenampilan seperti ini.? " Tanya Jun ketika Hana sudah berdiri di depannya
" Di mana Ayahmu, aku ingin bertemu dengannya. " Gumam Hana kemudian
" Dia ada di dalam " Tunjuk Jun pada salah satu ruangan yang terdapat di aula itu
Tanpa menunggu waktu lama Hana pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan yang barusan di tunjuk oleh Jun, Pria itu mencoba menahan Hana dan menanyakan apa yang telah terjadi, melihat tatapan Hana yang tajam tiba-tiba membuat Jun merasa terintimidasi sehingga melepas tangannya begitu saja.
__ADS_1
" Apa Hana sudah mengetahuinya? " Batin Jun menatap punggung Hana yang berjalan dengan cepat.
Hana membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuk nya terlebih dulu sehingga membuat Arata yang berada di dalam langsung terkejut, Jun kini sudah berada di belakang Hana lagi dan saat ini situasinya sangat mencekam.
" Aku minta kejujuran anda soal ini. " Hana mengeluarkan selembar kertas catatan medis di hadapan Arata dengan air mata yang sudah jatuh di pelupuk matanya
Jun meraih kertas itu kemudian membacanya dengan teliti, Wajah Jun tidak terkejut saat itu sebba ia sudah tahu kebenaran soal Kaji, Hana yang melihat ekspresi Jun merasa ada yang aneh.
" Apa kau sudah mengetahui hal ini.? " Ucap Hana menatap Jun dengan tajam
Hening seketika dan hanya ada suara isak tangis Hana saat ini, Arata yang membenarkan catatan medis itu hanya dapat menundukkan kepala seraya minta maaf atas kesalahannya.
Hana seakan tak dapat menahan berat tubuhnya sehingga membiarkan dirinya jatuh, Jun yang berusaha membantunya untuk bangkit di tangkis dengan cepat. " Jangan sentuh aku, Aku tidak mau di sentuh oleh penjahat seperi kalian. " Lontar Hana sukses membuat Jun sakit mendengarnya
Sebelum Hana datang menemui Arata dia bertemu dengan dokter yang dulu pernah di suap Arata untuk tutup mulut soal kondisi Kaji, Ia bahkan di minta untuk memalsukan catatan medis Kaji dengan menaikkan jabatannya di rumah sakit itu, Tapi kadir berkata lain dokter itu mengalami sakit parah yang membuatnya merasa terus bersalah hingga akhir hayatnya, istirnya terus mencari Hana agar dapat mempertemukan mereka dan menjelaskan soal ini, sayangnya karena Hana sulit di temui dirinya baru bisa bertemu Hana hari ini dan setelah bertemu dengan Hana, dokter itu meninggal dalam keadaan tenang karena apa yang ingin di sampaikannya sudah terlaksana.
Setelah mendengar pengakuan dokter tersebut Hana menangis selama setengah jam di rumah sakit, Sana sudah berusaha untuk menenangkan nya namun tak berhasil, Mengetahui bahwa jantung Kaji berada di Jun membuat Hana seakan di tembak oleh ribuan pistol tepat di jantungnya, dan saat itu semua kejadian selama ini yang di alaminya tiba-tiba membuat Hana paham, Bagaimana Ayah Jun selalu menjauhkan mereka dan sikap nya yang baik namun memiliki arti tersendiri. Hana mulai menyalahkan semuanya pada Arata dan saat ini dia sudah berada di depan pria setengah baya itu, meminta penjelasan atas apa yang telah di perbuatnya.
Arata mulai menjelaskannya dan semakin dia bercerita semakin sakit hati Hana menerima kenyataan yang amat sangat berat ini, Jun yang tidak berkutik di sebelahnya kini ikut meneteskan air mata. Hari yang di takuti oleh Jun ternyata datang telat di hari dirinya meminta agar hubungannya dan Hana tetap bertahan. Hana mulai berdiri dari tempatnya setelah sepuluh menit lima detik duduk di hadapan kedua pria itu.
" Awalnya aku tidak akan membencimu jika kamu tidak tahu soal ini, Tapi melihat respon mu yang seperti ini kau berhasil membuatku benar-benar membencimu, Pernikahan ini... Kita batal kan saja. " Ucap Hana seketika membuat Jun lemas tak berdaya
Arata tiba-tiba terjatuh sambil memegang dadanya yang terasa sakit, Jun bergerak cepat dengan menyuruhnya untuk bertahan, Hana tidak menampakkan sikap pedulinya dan hanya melihat mereka tanpa berbuat apa-apa, Tak lama kemudian Sekretaris Arata berserta Katakura masuk dan langsung membopong Arata menuju mobil, Jun yang saat itu panik bercampur sedih sempat menatap Hana dan kembali melanjutkan langkahnya mengikuti dua sekretaris itu.
__ADS_1
Hana mendesah pelan kemudian menjatuhkan tubuhnya yang terasa berat di atas sofa, Ia memegang kepalanya yang sakit dan tangisnya pun kembali jatuh hingga membuat emosinya meluap dengan melempar segala sesuatu yang ada di depannya. Pernikahan yang seharusnya berakhir Indah kini batal untuk kedua kalinya, Para tamu undangan yang sempat hadir pun harus kembali pulang setelah di beritahu oleh panitia penyelenggara, Di luar Sana dan Naori ikut berduka atas apa yang di dapat Hana baru-baru ini, Mimi pun tidak percaya kalau ternyata jantung Kaji selama ini ada di tubuh Jun.