
"Bantu gue balikan sama Dyra," pintah Aldi kepada Zayn, saat cowok itu duduk di samping bansal nya, tempat yang di tempati oleh Dyra tadinya.
Sementara Dyta sudah berlalu pergi, dia menyusul Dyra di cafe depan rumah sakit.
"Dyra benar-benar udah nggak mau sama lo, Al," kata Zayn sembari menghembuskan nafas.
"Gue benaran bakalan tingalin pekerjaan gue, Zy. Kalau gue sama Dyra balikan," pintah Aldi dengan kekeh, ingin balikan dengan Dyra.
Dia hanya menganggap jika ucapan Dyra yang sudah punya pacar baru, tidaklah benar sama sekali. Yah, Aldi yakin akan hal itu, jika Dyra hanya membohongi dirinya saja, jika dia sudah punya pacar baru.
"Nanti gue usahain," kata Zayn, "lo harus fokus buat kesembuhan lo, biar ngomong nya sama Dyra enak," kata Zayn lagi dan dibalas anggukan kecil Oleh Aldi.
"Makasih," kata Aldi tulus dan dibalas anggukan paham oleh Zayn.
"Sama-sama, kita adalah teman, udah sepantasnya saling bantu," jelas Zayn lagi.
"Untuk biaya rumah sakit, entar gue ganti kalau gue udah punya uang," ucap Aldi membuat Zayn malah tertwa.
"Nggak usah di pikirin, Al. Gue ikhlas bantuin lo. Mendingan lo istirahat, Anak-anak yang lain bentar lagi bakalan kesini, gue harus pulang cepat, soalnya bokap nyuruh pulang cepat," kata Zayn lagi.
"Ok."
Zayn lebih dulu menunggu temanya yang lain, yang akan menjaga Aldi di sini, jika teman-temannya sudah ada, maka dia akan menyusul Dyta dan Dyra, yang tengah menunggu nya di depan cafe rumah sakit.
Aldi sudah tidur, karna cowok itu memang letih, sebenernya Zayn ingin brtanya pada Aldi, untuk apa Agrif menemui dirinya, namun cowok itu mengurungkan niatnya,takut jika Aldi kurang nyaman dengan pertanyaannya.
Teman-teman Zayn sudah pada datang, sehingga Zayn lagsung prgi, tidak lupa pula cowok itu menberikan beberapa lembaran uang merah untuk teman-teman nya berjaga di rumah sakit, untuk pembeli cofee dan cemilan mereka.
"Makasih, Zayn," ucap teman-teman Zayn serentak saat Zayn menyodorkan uang merah.
"Sama-sama. Gue balik dulu, jangan lupa jagain Aldi," pesan Zayn dan dibalas acungan jempol oleh teman-teman nya.
Zayn lalu berlalu pergi, berjalan di Koridor rumah sakit. Jam di tangannya baru menunjukkan pukul 9 malam, sementara Dyta dan Dyra akan pulang kerumah pukul 10 malam, masih ada waktu untuk Zayn ngobrol dengan Dyta. Kesempatan yang tidak akan Zayn sia-siakan.
Dyra masih setia mengaduk minuman nya, sudah sepuluh menit gadis itu setia mengaduk minuman nya. Sementara minuman milik Dyta suda habis, bahkan dia menambah.
"Minuman lo nggak dingin lagi, kalau lo cuman aduk, nggak di minum," tegur Dyta membari memasukkan kentang goreng kedalam mulutnya.
"Gue kasihan sama Aldi, tapi lebih kasihan diri gue, kalau harus bertahan bareng Aldi," kata Dyra dengan suara lesuh.
"Udah tahu kasian, malah di putusin di hari pertama sadar," ketus Dyta membuat Dyra hanya terkekeh pelan.
"Gue nyesel sih, harusnya gue putusin dia setelah kondisi nya jauh lebih baik," kata Dyra lagi. "Tapi yaudah lah, nasi udah jadi bubur. Lebih cepat lebih baik lagi," lanjut Dyra lalu mulai menyesap minuman nya itu.
Dyta hanya memutar bola matanya malas.
"Sorry, buat kalian nunggu lama." Zayn ikutan bergabung bersama kedua gadis cantik itu, dia memilih kursi yang berada di depan Dyta.
"Nggak apa-apa." Ini Dyra yang menjawab, sementara Dyta fokus pada kentang goreng di depan nya.
"Minuman lo udah di habisin sama Dyta," kata Dyra sembari menunjuk gelas di depan Dyta, yang mungkin hanya tinggal sekali teguk saja.
"Gue udah pesenin yang baru, tinggl tunggu," kata Dyta santai.
"Minum yang ini juga nggak apa-apa, gue uda haus." Zayn langsung meminum minuman sisa Dyta membuat Dyta memutar bola matanya malas.
"Lo pikir gue baper, kalau lo minum sisa gue?" cibir Dyta dengan senyuman mengejek membuat Zayn malah tertawa.
Cowok itu bertopang dagu, menatap Dyta dengan tatapan memuja, "manis banget," kata Zayn membuat Dyra tertawa, sementara Dyta hanya acuh.
"Lo nggak boleh rebut Dyta dari kak Farel," celetuk Dyra kepada Zayn, membuat cowok itu langsung melirik Dyta.
"Lo nggak mau punya ipar kayak gue?" Zayn menaik nurunkan alis nya.
"Mendingan lo sama gue aja. Soalnya kalau sama Dyta, nggak bakal bisa lo gapai. Lo harus berhadapan sama kak Farel dulu," jelas Dyra kepada Zayn, "kalau mau denger lebih jelas tentang kak Farel, mendingan lo tanya sama kak Zhar, dia bakalan kasi lo jawaban dan nyuruh lo buat mundur deketin Dyta," lanjut Dyra.
__ADS_1
"Sebelum mereka nikah, jadi ok-ok aja, kalau gue nunggu Dyta," jelas Zayn membuat Dyra malah menggeleng.
"Kalau patah hati, baru tahu rasa," balas Dyra lagi yang hanya di tanggapi senyuman kecil oleh Zayn.
"Gimana, Ta?" tanya Zayn, sehingga Dyta langsung melirik cowok itu.
"Apanya?" tanya balik Dyta.
"Nggak apa-apa, 'kan, kalau gue deketin lo? Bersaing sama sahabat lo Fatel," ucap Zayn membuat Dyta nampak berpikir sejenak.
"Terserah lo aja, karna nggak ada yang gue pilih."
Ucapan Dyta membuat Dyra tertawa, "andai gue sebagai Dyta, gue nggak akan sia-siain, cowok seganteng lo," kata Dyra yang di tujukan kepada Zayn.
"Untungnya juga gue suka sama Dyta. Kalau suka sama lo nggak ada tantangannya," balas Zayn membuat Dyra mengerucutkan bibirnya lucu.
"Kalian cuman minum? Nggak mau makan yang berat-berat gitu?" tanya Zayn menatap Dyta dan Dyra secara bergantian, "kalau mau, kita makan di restoran langganan keluarga gue. Dijamin makanannya enak-enan dan kalian bakalan suka."
"Jelaslah enak-enak, namanya restoran sultan," sahut Dyta.
Zayn menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, "jadi gimana?" tanya Zayn.
"Lain kali aja, Zy. Gue sama Dyta mau cepat pulang, entar bokap nyariin gue sama Dyta. Bentar lagi ponsel gue bakalan bunyi, di telfon sama teman tongkrongan lo," jelas Dyra. Zayn tahu, siapa yang di maksud oleh Dyra adalah Revan.
"Yaudah, lain kali gue ajak kalian makan bertiga," kata Zayn, "berempat sama Revan," lanjut nya dan dibalas acungan jempol oleh Dyra.
Mereka akhirnya meninggalkan cafe, berjalan meninggalkan parkiran rumah sakit untuk segera pulang. Zayn melambaikan tangannya saat Dyra dan Dyta sudah berlalu pergi.
Setelah kepergian kedua gadis itu, barulah Zayn pergi juga, sudah beberapa panggilan tak terjawab dari kedua orang tua nya. Dia hanya pamit sebentar, nyatanya dia hampir tiga jam meninggalkan rumah, padahal dia belum di izinkan untuk bepergian karna belum terlalu sehat.
***
Agrif langsung memasuki club milik nya, dan langsung di sambut oleh Jonatan sang asisten.
Jonatan menyuruh mereka untuk mencari tempat yang lain, agar meninggalkan dirinya di sini dengan Agrif, untung saja mereka mau di bujuk untuk pergi dari sini.
"Ada masalah apa lagi? Lo udah ketemu 'kan, sama Aldi?" tanya Jonatan yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Agrif.
"Terus Aldi iyain permintaan lo?" tanya Jonathan lagi.
"Iya," jawab Agrif dengan singkat, membuat Jonatan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tunggu gue di sini, gue buatin lo jus dulu." Jonathan lagsung pergi meninggalkan Agrif tanpa menunggu persetujuan cowok itu lebih dulu.
Agrif menyandarkan tubuh nya di sandaran sofa, lampu kerlap-kerlip di club milik nya membuat matanya jadi sakit.
"Sial!" umpat Agrif dengan tangan terkepal hebat, ucapan Dyta di rumah sakit tadi, seperti rollercoaster yang berputar-putar dalam otak nya.
Kata rindu, penantian dan pelukan menjadi satu di benak Agrif. Sejujurnya, dia juga merindukan gadis itu, namun dia gengsi untuk mengatakannya, karna ada dendam dalam hati nya.
Huft...
Agrif menghembuskan nafas berat, dia tidak tahu keputusan nya kali ini sudah benar atau tidak. Agrif sudah mewanti-wanti dirinya agar tidak menyesal dengan keputusan yang ia buat.
Tidak butuh waktu lama, Jonatan datang membawa jus untuk Agrif, karna dia tahu cowok itu tidak minum alkohol seperti dirinya.
Agrif langsung meminum jus tersebut hingga tandas, lalu kemudian Jonatan kembali menuangkan minuman itu kedalam gelas Agrif yang sudah kosong.
"Mau cerita atau giman?" tanya Jonatan.
"Gue gengsi ngomong sama Dyta, kalau gue juga rindu sama dia. Bukan cuman dia yang rinduin gue. Gue juga rindu sama dia," kata Agrif dengan suara pelan membuat Jonatan menyungkirkan senyuman tipis nya.
"Itu tanda nya lo cinta sama sahabat lo," kata Jonatan.
"Nggak semuah itu gue suka sama Dyta," kata Agrif, "dia cuman sahabat gue, pemegang tahta tertinggi di hidup gue, setelah Ziya," jelas nya membuat Jonatan memutar bola mata.
__ADS_1
"Mendingan Ziya sama gue aja, Rif. Ikhlasin demi gue," canda pria itu dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Agrif.
"Sama gue aja dia nggak suka, apa lagi sama lo." Agrif menatap Jonatan dengan tatapan remeh membuat cowok itu memberenggut kesal.
"Ziya sukanya sama Farel," kata Agrif lagi.
"Lah... Bukannya lo sendiri yang bilang, kalau mereka berdua saudara beda ayah?" Jonatan masih ingat jelas, apa yang dikatakan Agrif tempo hari.
"Gue masih belum percaya, kalau mereka berdua saudara," kata Agrif, "gue harus mastiin dulu," jelas nya.
"Kalau mereka beneran saudara, itu bagus Rif. Biar mereka nggak jadian kalau mereka sama-sama suka."
Agrif tidak membalas ucapan Jonatan, pria itu saja tidak tahu, bagaiamana sosok Ziya yang masih menginginkan Farel sebagai laki-laki lain, bukan sebagai saudara.
Tapi, Agrif tidak muda percaya hal ini, meskipun dia mendengar nya secara langsung, karna Agrif ingin mencari seluk beluk apa yang ia dapat kan.
Agrif kembali meminum jus milik nya, lalu melirik jam di pergelangan tangannya sudah pukul 11 malam, dia harus pulang kerumah dengan cepat, karna ada berkas yang belum dia periksa.
***
"Ini serius, kita nunggu Agrif sampai tengah malam begini?" tanya Lea sembari melirik Nathan yang tengah memeriksa email yang masuk dari dokter tempat nya bekerja.
Nathan melirik Lea, yang menatap nya dengan wajah lesuh, "iya sayang, bentar lagi Agrif bakalan pulang, emangnya kamu nggak kangen sama dia?"
"Kangen," jawab nya lalu kembali menatap rumah besar yang menjulang tinggi keatas itu. Rumah itu adalah rumah tempat Lea tinggal, tempat dia menemani Agrif kecil tidur, sudah puluhan tahun dia tidak menginjakkan kaki nya di depan rumah megah ini.
Lea mengusap air matanya yang jatuh, entah karna dia mengantuk atau sudah tidak sabar melihat Agrif, sehingga air mata nya jatuh di pipi nya. Dia merindukan anak kecil yang pernah meminta nya untuk menjadi ibu nya. Dan terutama, Lea kangen di panggil kakak cantik oleh Agrif.
Sekarang anak itu sudah tumbuh dewasa, membuat Lea penasaran melihat Agrif secara langsung.
Mereka tidak bisa masuk kedalam, karna satpam yang menjaga tidak mengizinkan mereka untuk masuk, alhasil Nathan dan Lea menunggu di dalam mobil.
"Ngantuk?" tanya Nathan kepada istrinya itu.
Lea mengangguk mengiyakan ucapan Nathan, jika dia memang mengantuk. Sudah dua jam lebih mereka ada di sini, menunggu Agrif pulan, namun belum ada tanda-tanda jika Agrif akan pulang.
Nathan mengusap rambut Lea dengan lembut, "kita tunggu 20 menit lagi, kalau Agrif belum ada. Kita baru pulang kerumah," kata Nathan dengan nada suara yang lembut.
"Tap--"
"Besok kita akan kesini lagi," potong Nathan dan dibalas anggukan setuju oleh Lea.
Akhrinya mereka memutuskan menunggu Agrif kurang lebih 20 menitan lagi, jika Agrif belum muncul maka Nathan akan pulang bersama Lea.
Lea tidak bisa menahan kantuknya, akhirnya gadis itu tertidur dengan sendirinya membuat Nathan tertawa geli melihat Lea seperti anak kecil saja.
Nathan mencium seluruh wajah istrinya itu dengan gemas, entah mengapa jika Lea tidur, kepolosan gadis itu mengingatkan Nathan kepada seseorang di masa SMA mereka, mengingat orang itu bukan berarti Nathan gagal move on, karna bagaiamana pun itu hanya cinta monyet saja.
Sudah menunggu 20 menit lamanya, belum ada tanda-tanda Agrif pulang, membuat Nathan langsung menyalakan mesin mobilnya, kasihan Lea jika tidur tidak nyaman seperti ini.
Nathan mulai meninggalkan depan rumah Agrif, besok pagi dia akan kembali di sini bersama Lea.
Nathan sudah sampai di rumah, dia menggendong tubuh kecil milik Lea masuk kedalam rumah.
"Kamu kenapa, Rel?" tanya Nathan dengan Lea masih berada dalam gendongan nya. Dia melihat adiknya mondar-mandir di depan pintu utama, dengan wajah cemas menatap ponsel nya dengan terus menerus.
"Gue telfon Dyta nggak di angkat-angakat," kata Farel dengan nada khwatir, lalu dia melirik Lea dalam gendongan Nathan, "Mbak Lea kenapa? Ketiduran?" tanyanya dan dibalas anggukan kepala oleh Nathan.
"Gue keatas dulu," ucap nya lalu melenggang pergi.
Farel kembali menghubungi nomor Dyta, namun gadis itu tidak mengangkat telfon nya, membuat Farel berdecak.
Dia ingin menghampiri Dyta kerumah nya, namun dia sadar ini sudah larut malam, jika dia ingin berkunjung.
Farel menarik nafas nya dalam-dalam, Dyta suskes membuat nya khawatir malam ini.
__ADS_1