
Hana menatap bayangan dirinya di depan cermin sambil tersenyum manis. Hari yang tunggu selama sebulan terakhir ini telah tiba setelah sebelumnya ia harus menghadapai masalah yang datang secara bertubi-tubi, tapi akhirnya takdir telah membuat mereka kembali bersama untuk saling mengikat janji suci satu sama lain.
Gaun putih yang sangat cantik buatan ibunya kini sudah di kenakan oleh Hana, Sekali lagi ia menatap dirinya di depan cermin srmbari tersenyum senang, Perasaannya mulai tidak karuan berbeda dari waktu itu di mana Hana tidak merasa se nervous sekarang.
" Kawaiiiiiiii.. " Sorak seorang wanita sontak membuat Hana terperonjak kaget hingga memutar tubuhnya melihat siapa yang baru saja menegurnya.
" Kau sangat cantik.., " Decak Sana sekali lagi.
" Ibu.. " Ucapnya dengan suara yang manja.
Sana menatap Hana dengan mata yang berkaca-kaca kemudian membelai lembut kepala Hana, Semenit kemudian ia memeluk Sana " Jadilah istri yang baik, lupakan masa lalu dan tatap masa depan mu bersama Jun.., Ibu sangat bahagia putriku mendapat pria baik seperti Jun. " Ucapnya terdengar menahan tangis.
" Terima kasih bu, Aku akan menjadi seorang istri yang baik. " Ucap Hana
Sana mengusap pundak Hana pelan setelah itu melepaskannya, " Karena Ayahmu sudah tidak ada, maka Paman Ryujin yang akan menemanimu berjalan di altar. "
" Aku akan lebih senang jika kakek yang menemaniku, Dia sudah seperti seorang ayah bagiku, boleh kan. ? "
" Tentu saja, Ibu akan keluar dan memberitahunya. " Lanjut Sana dan di balas anggukan mantap dari Hana.
\*
Proses pemberkatan dan pesta di adakan di gedung yang sama seperti sebelumnya, aula ballroom yang dapat menampung 2000 tamu itu sudah di desain sedemikian rupa sesuai permintaan Hana sebelumnya. Pernikahan ini hanya di hadiri oleh keluarga, sahabat hingga kerabat kedua belah pihak keluarga saja. Dean dan Rin pun ikut turut hadir mengucapkan selamat kepada kedua pasangan itu.
Pintu terbuka dan semua mata mulai tertuju pada pintu itu, Ketika mc mempersilakan Hana untuk masuk ia pun melangkah kan kakinya di dampingi sang kakek memasuki gedung dan mulai berjalan di altar sambil tersenyum bahagia.
Semua orang yang tampak berdiri langsung berdecak kagum dengan kecantikan Hana yang tiada tara, Lagu penggiring yang berjudul A Thousand Years menambah kesakralan acara pada saat itu.
🎶 *I have died everyday, waiting for you
Darling, don't be afraid, I have loved you for a thousand years
__ADS_1
I'll love you for a thousand more
And all along I believed, I would find you
Time has brought your heart to me, I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more* 🎶
Di ujung panggung tampak Jun yang menunggu kedatangan Hana dengan senyum yang tak bisa luntur sejak dirinya berdiri di atas sana, Saat Hana tiba di depan Jun, Kakeknya langsung menyerahkan tangan Hana kepada Jun dan berpesan agar menjaga cucu tercintanya sampai maut memisahkan, Jun membalasnya dengan anggukan tegas.
Hana dan Jun saling menatap penuh Cinta dan mulai mengucapkan janji pernikahan mereka, janji yang akan mereka pegang seumur hidup baik dalam keadaan suka maupun duka mereka harus tetap saling menyayangi. Jun meraih tengkuk leher Hama kemudian menciumnya dengan lembut, riuh penonton membuat acara pada hari itu sangat berkesan.
Sejenak waktu seakan berhenti dan dunia serasa menjadi milik mereka, Jun tidak menyangka dirinya telah menikah dengan wanita yang sangat di cintainya begitu pun dengan Hana yang hampir terbawa suasana jika saja Jun tidak memintanya untuk tidak menangis.
Kedua mata mereka kembali saling menatap hingga Jun mengecup kening Hana, " Terima kasih sudah menerimaku menjadi suamimu, Aku mencintaimu. " Gumam Jun tersenyum bahagia.
" Aku juga mencintaimu. " Jawab Hana ikut tersenyum.
\*
Jarak rumahnya dari pusat kota memakan waktu sekitar 2 jam, namun rumah mereka di tempat baru itu tidak kalah mewah dari rumah Jun yang sebelumnya. Warga yang tinggal di sekitar rumah mereka rata-rata orang tua yang memiliki anak-anak kecil sehingga mereka tidak terlalu terkenal di sana, tak apa-apa karena itulah yang Hana inginkan.
Hari ini kebetulan hari libur, Jun tidak ke kantor begitu pun dengan Hana yang saat ini tidak memiliki job penting. Pagi itu Hana bangun lebih awal dari Jun ia sudah mandi dan Wangi parfum yang di sukai oleh Jun, Ia tersenyum ketika melihat suaminya yang tampan masih tidur karena semalam sudah lembur agar dapat menghabiskan waktu liburnya hari ini dengan bermalas-malasan di rumah.
Hana melirik jam yang ada di dinding, sudah menunjukkan pukul 7 dan sudah saatnya untuk membuat sarapan namun sebelum itu Hana membuka tirai kamar agar sinar matahari dapat masuk ke dalam, Walaupun saat itu Jun tidak bergeming karena sinar matahari yang mengenai wajahnya Hana pun langsung kembali menutupi sedikit tirai agar wajah suaminya dapat kembali tidur dengan nyenyak.
Hana segera turun ke dapur dan membuat sarapan untuk mereka berdua, Hana kembali teringat saat dirinya tinggal bersama Jun dan setiap pagi membuatkan sarapan untuknya, rasanya hal ini sudah bukan sesuatu yang baru lagi tapi entah kenapa Hana merasa jauh lebih bahagia sekarang, apa karena Jun yang telah resmi menjadi suaminya atau karena hal lain, entahlah Hana sendiri bingung memikirkannya.
Tiba-tiba saja sebuah back hug membuat Hana terperonjak kaget, Jun datang secara tiba-tiba dengan tampang bare face nya sambil bermanja ria di pelukannya itu, Hana menyuruhnya untuk mandi sebelum sarapan di mulai dan Jun hanya menggeleng pelan dan bertingkah layaknya anak kecil yang tidak mau mandi.
__ADS_1
Hana melepas pelukan Jun dan melayangkan sendok sayur ke arah pria itu, " Pergi mandi atau kau tidak dapat jatah sarapan !!! " Jun mencoba melindungi diri dengan tutup panci sambil mundur beberapa langkah karena takut dengan ancaman Hana.
Setelah Hana berhasil menyuruh Jun untuk mandi, pria itu pun kembali ke kamar dan bergegas mandi sehingga Hana kembali melanjutkan sesi masaknya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Hana membuat sarapan pagi, Kini di atas meja telah tersedia menu makanan yang lezat seperti Sup miso, sushi, onigiri hingga menu pencuci mulut lainnya. Hana mengusap kedua tangannya dengan senyum bangga melihat hasil masakannya pagi ini.
Jun yang telah kembali dari kamarnya kini sudah Wangi hingga memamerkan aroma tubuhnya pada Hana, Sayangnya ketika Jun melakukan hal itu Hana tiba-tiba mual dan segera berlari ke wastafel yang ada di dapur. Jun dengan wajah cemasnya mendekati Hana sambil membantu memegangi rambut Hana.
" Kau baik-baik saja??? " Tanya Jun terdengar sangat khawatir.
" Menjauh dariku, aku tidak suka bau parfum yang kau pakai. " Balas Hana mendorong Jun agar menjauh darinya.
" Tapi kenapa? Bukannya ini parfum pemberianmu? " Balas Jun heran.
Baru saja Hana ingin menjawab tiba-tiba saja rasa mualnya kambuh dan lagi-lagi Hana muntah akibatnya, Jun yang tidak dapat mendekat pun segera menghubungi Sana untuk menanyakan obat apa yang cocok untuk orang yang sedang muntah-muntah.
Panggilan terhubung dan Jun langsung menceritakan detail keluhan Hana pagi ini, bukannya mendapat balasan atas pertanyaannya Sana justru mengakhiri panggilannya sehingga membuat Jun kebingungan sambil menatap layar ponselnya.
" Tidak perlu khawatir, mungkin aku masuk angin tiba-tiba, tapi untuk saat ini jangan mendekatiku dulu.. Aroma parfumnya semakin membuatku mual. " Sahut Hana yang sudah terlihat lebih baik.
" Kenapa tiba-tiba seperti ini. " Batin Jun memelas.
\*
Suara pintu yang terbuka dengan terpaksa membuat Jun dan Hana yang sedang duduk berjauhan kompak melirik ke arah seseorang yang baru saja masuk itu. Sana datang dengan wajah yang tak kalah terkejut dan langsung menghampiri Hana memeriksa suhu tubuhnya terlebih dulu kemudian menyuruhnya untuk mencium aroma yang tidak sedap seperti ikan dan makanan laut lainnya, sayangnya Hana tidak memberikan respon apapun dan saat yang bersamaan Jun mendekat sehingga membuat Hana mual dan berlari ke arah wastafel lagi.
Sana menatap Jun bengong kemudian menyunggingkan senyum yang membuat Jun kebingungan melihatnya, Sana mengeluarkan benda kecil berbentuk termometer kepada Hana dan menariknya memasuki kamar mandi. Jun yang tidak tahu apa-apa hanya dapat kembali duduk dengan kebingungan yang sudah mencapai 100 %.
Lima menit kemudian Sana keluar tanpa Hana dan ikut menjatuhkan tubuhnya di sebelah Jun, Tak ada yang di katakan oleh Sana dia hanya meminta Jun untuk bersabar selama Hana melakukan sesuatu yang telah di arahkan oleh Sana sebelumnya.
Ketika pintu kamar mandi terbuka, Sana dan Jun kompak melirik Hana yang terlihat tidak menunjukkan ekspresi apapun.
" Bagaimana hasilnya? " tanya Sana yang ikut memasang wajah penasaran.
" Hasilnya positif. " Jawab Hana seketika membuat Sana bersorak kegirangan, anehnya Jun dan Hana tidak memberikan respon apapun sehingga membuat Sana melongo heran.
__ADS_1
" Kenapa kalian tidak bahagia? Kalian akan menjadi orang tua sebentar lagi. " Ucap Sana melirik keduanya secara bergantian.
Jun meraih tespek yang di pegang Hana dengan wajah tak percaya, Bukannya Jun tidak senang mendengar Hana sedang mengandung akan tetapi dia sangat senang sampai bingung harus mengekspresikan rasa bahagianya seperi apa begitu pun dengan Hana yang saat ini terlihat sedang menangis tangisnya.