Stay With Me

Stay With Me
Menatap nya beda


__ADS_3

Sarapan pagi hari ini nampak hening, tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun di meja makan. Hasya sibuk dengan nasi goreng kesukaan nya, Tegar dan Sahrul juga fokus memakan sarapan mereka, Rara dan Frezan juga begitu.


Mereka semua selesai dengan sarapan mereka, Tegar berjalan menuju ruangan keluarga, sementara Sahrul berjalan menuju kamar Tegar, dia tahu batasan di sini, untuk tidak ikut dengan Tegar, karna ia tahu jika ada yang keluarga mereka bicarakan.


"Kenapa nggak gabung, Rul?" tanya Rara, saat berpapasan dengan Sahrul di anak tangga.


Cowok itu menghentikan langkah kaki nya, "Sahrul mau main game aja tan," jawab cowok itu.


"Oh yaudah, tante turun ya. Kalau kamu suntuk di kamar, gabung dibawa aja," kata Rara dengan lembut dan dibalas anggukan kepala oleh Sahrul.


Cowok itu kembali melanjutkan langkah kaki nya saat Rara sudah berlalu pergi.


Rara ikutan bergabung di ruangan keluarga, duduk tepat di samping sang suami, sementara di depan mereka ada Hasya dan Tegar.


"Hasya, kamu tahu, 'kan, kalau kamu sudah di jodohkan dengan Zhar." Frezan mengingatkan anak nya itu, siapa tahu aja Hasya lupa, karna ia tahu Rara fersi Hasya lebih parah lagi.


"Hasya tahu kok, Yah," jawab gadis itu dan dibalas anggukan kecil oleh Frezan.


"Ayah harap, kamu terima keputusan ayah. Tentang hidup kamu," kata Frezan lagi, membuat Hasya sedikit bingung, gadis itu melirik Tegar, kakak nya hanya diam saja, tanpa melirik kearahnya. Padahal Hasya ingin meminta sedikit penjelasan, biar tidak bodoh-bodoh amat. Namun nihil, Tegar tidak melirik nya.


"Hasya nggak paham, Yah," jujur nya.


Frezan tersenyum kearah anak nya, "kamu dan Zhar akan menikah, minggu ini."


Deg...


Meskipun Tegar sudah tahu, sejak dia ke rumah, tetap saja ucapan ini membuat jantung nya tidak baik-baik saja.


Hasya akan menikah, sementara Tegar belum sepenuhnya tahu watak cowok yang akan di nikahkan dengan Hasya.


Hasya melirik Tegar, kali ini Tegar membalas tatapannya, lalu Tegar kembali menatap kedepan.


"Ayah... Gimana dengan sekolah Hasya, kalau Hasya nikah?" tanyanya dengan suara pelan, tak lupa pula ia menunduk memainkan tangannya itu. "Hasya nggak mau sampai ber--"


"Kamu akan menikah. Dan kamu akan tetap sekolah. Hasya tidak perlu memikirkan itu," kata Frezan lagi, sementara Rara hanya menyimak saja, membiarkan sang suami angkat suara.


"Ayah... Ayah tahu, 'kan. Kalau Zhar aka segera lulus, sementara Hasya masih sekolah di sana kalau Zhar udah lulus. Siapa yang akan jagain Hasya, kalau Zhar lulus. Ayah juga nggak tahu, gimana plening Zhar ke depan. Siapa tahu aja, Zhar bakalan lanjut kuliah dan ninggalin Hasya." Tegar melayangkan protes, meskipun ia tahu protes nya hanya di dengar saja.


Frezan hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan anak sulung nya, membuat Tegar menghembuskan nafas berat.


"Kamu tidak percaya dengan ayah?"


"Bukan begitu Ayah," balas Tegar dengan cepat, "Tegar cuman mikirin, gimana Hasya ke depan kalau dia nikah. Sebagai seorang kakak, Tegar wajar khawatir. Iya, 'kan, Bun?" Tegar meminta pengakuan dari sang bunda, sembari melirik Rara.


"Apa yang Tegar bilang emang benar . Tapi kamu percaya aja sama keputusan ayah, ya. Ayah kamu nggak akan ngambil keputusan tanpa memikirkan nya matang-matang," jelas Rara dengan lembut. Dia tahu apa yang anak sulung nya itu pikirkan, hal wajar jika Tegar mengkhawatirkan adik kesayangan nya.


Tegar hanya menghembuskan nafas berat, sementara Hasya hanya diam saja. Karna sejujurnya, Hasya belum tahu betul apa makna pernikahan.


"Hasya," panggil Frezan dengan lembut, lalu Hasya menatap sang ayah dengan wajah polos. "Hasya mau, 'kan?" tanya Frezan, detik itu juga Hasya mengangguk tanpa beban, membuat Tegar tersenyum kecut.


Adik nya mengangguk tanpa beban, seakan-akan ia tahu betul, makna arti pernikahan yang sesungguhnya.


Tegar belum bisa memberikan kesimpulan pasti, apakah ayah nya akan menyesal menikahkan sang anak dengan usia nya yang masih terbilang sangat muda.

__ADS_1


Frezan tersenyum mendengar jawaban yang di berikan sang anak. Di jodohkan tidak ada yang salah dari hal itu. Frezan yakin dengan keputusan nya sendiri.


"Hasya siap-siap ya. Bentar lagi Zhar datang," kata Rara, dia bisa melihat raut waja Hasya sedikit terkejut, saat tahu Zhar akan kesini. "Kalian akan ke butik, buat fighting kebaya," lanjut Rara, meskipun pernikahan Hasya dan Zhar hanya di saksikan oleh orang terdekat keluarga masing -masing, bukan berarti anak-anak mereka tidak fighting baju.


Hasya akhirnya pamit untuk mandi, setelah kedua orang tuanya mengizinkan nya untuk pergi, tunggal lah Frezan dan Rara juga Tegar, yang masih setia duduk.


"Percaya sama pilihan ayah," kata Frezan yang melihat jelas kekhawatiran terpancar dengan jelas di wajah milik Tegar putra nya.


Tegar hanya bisa mengangguk pasrah, dia berharap ucapan sang ayah benar-benar terjadi.


Frezan meninggalkan anak dan istrinya di ruang keluarga, saat pria itu mendapatkan telfon dari Nathan.


"Sini dekat Bunda." Rara menepuk sofa di samping nya, menyuruh Tegar duduk di dekat nya.


Tegar langsung pindah ke samping Rara, menyandarkan kepala nya di pundak milik Rara.


"Bunda paham. Apa yang Tegar khawatirkan," ujar Rara dengan lembut, sembari mengusap rambut hitam milik anak sulung nya. "Tapi Tegar harus yakin, kalau pilihan ayah nggak akan buruk untuk Hasya. Bunda udah kenal sifat ayah kalian seperti apa."


Tegar memejamkan matanya, lalu berkata, "kalau Ayah nikahin Hasya sama Zhar di usia muda, agar ada yang jagain Hasya, padahal ayah tahu, nggak lama lagi Zhar akan lulus dan meninggalkan Hasya. Gimana kalau saat lulus, Zhar lanjut kuliah di luar kota atau luar negeri, otomatis dia bakalan ninggalin Hasya, Bun." Ini yang Tegar khawatirkan.


Rara hanya diam, tersenyum tanpa membalas ucapan sang anak, karna ia hanya mengikuti suaminya. Rara percaya, apapun keputusan Frezan, pasti baik untuk mereka kedepan.


"Bun," panggil Tegar, sembari membuka mata nya.


"Kenapa?" tanya Rara dengan lembut.


"Tegar suka sama seseorang."


****


Tangan gadis itu memilih rok berwarna navi polos, dibawa lutut. Lalu tangannya mengambil sweater pink dengan motif polkadot, lalu memakai sandal ankle strap, yang berwarna pink dusti, yang senada dengan sweater polkadot yang ia kenakan.


Hasya mulai memakai pakaian nya, untuk segera keluar dari kamar. Lepas memakai perlengkapan di tubuh nya, gadis itu keluar dari walk in closet, berjalan menuju meja rias, menyisir rambut nya yang indah itu.


Lepas menyisir rambut nya yang indah, Hasya memakai bando berwarna hitam, membuat nya semakin cantik. Dia juga memoles liptin di bibir nya, agar bibir mungil nya itu tidak pucat.


Tok... Tok... Tok


Bersaaman itu, pintu kamar Hasya di ketuk.


"Hasya!" panggil Rara dari luar, "Zhar udah ada di bawah."


"Iya, Bun!" jawab Hasya dari dalam, lalu gadis itu mengambil tas kecil nya, menyimpan ponsel nya didalam tas.


"Bunda tunggu dibawa." Lepas itu Rara pergi dari depan pintu kamar sang anak.


Hasya kembali menatap penampilannya di pantulan cermin, membuat nya memuji diri nya sendiri cantik.


Hasya tertawa pelan, mengapa dia baru sadar, jika selama ini dia itu cantik?


Hasya membuka pintu kamar, dan berpasangan dengan Sahrul yang keluar kamar.


"Dedek gemes rapih amat, mau kemana?" tanya Sahrul dengan tatapan takjub kearah Hasya, memperhatikan penampilan gadis itu yang sangat memukau. Satu kata dalam benak Sahrul, tentang adik sahabat nya. Hasya sangat cantik.

__ADS_1


Hasya tersenyum kearah Sahrul, lalu berkata, "Hasya mau ke butik bareng kak Zhar," jawab gadis itu dan dibalas anggukan paham oleh Sahrul. "Hasya duluan ya, kak. Kak Zhar udah nunggu Hasya dibawa." Pamit nya sembari melambaikan tangannya pada Sahrul, sementara cowok itu hanya tertawa pelan saja melihat tingkah Hasya yang ajaib.


Hasya menuruni anak tangga, dia sudah melihat Zhar tengah menunggu nya di ruangan tamu, di temani oleh sang kakak. Sementara kedua orang tua nya, Hasya tidak tahu mereka lagi di mana. Mungkin lagi membuat minuman untuk Zhar.


Melihat kedatangan Hasya, membuat Tegar dan Zhar langsung menatap gadis itu tanpa berkedip, Hasya selalu tampil cantik di manapun dan kapan pun itu.


"Ayah sama bunda mana?" tanya Hasya kepada Tegar, lalu gadis itu duduk di samping Tegar. "Kak Tegar," panggil Hasya, karna Tegar hanya diam saja.


Tegar kembali sadar, menggelengkan kepala nya pelan, melihat adik nya yang polos, tidak tahu apa-apa, membuat Tegar ingin menculik Hasya saja, biar adiknya tidak menikah muda, namun pikiran itu harus ia buang jauh-jauh, kalau tidak mau mendapat masalah dengan kedua orang tua nya.


"Bunda lagi nemenin ayah di taman, gue di suruh nemenin dia," ujar nya sembari menunjuk Zhar menggunkan dagu nya.


"Jadi Hasya langsung pergi?" tanya nya kepada Tegar.


"Iya," jawab Tegar singkat, membuat Hasya memanyunkan bibir nya.


"Kak Tegar marah sama Hasya? Gara-gara Hasya maksa tidur bertiga?" tanya nya dengan polos membuat Zhar yang tadi nya fokus dengan ponsel nya menatap Hasya dengan tatapan tanda tanya. Tak lupa pula, cowok itu menatap Tegar dan Hasya bergantian.


Apa dia tidak salah dengar, Hasya tidur bertiga dengan Tegar. Terus siapa yang satu nya? Tidak mungkin Farel, karna Zhar tahu jika jadwal Farel tidur di rumah Nathan.


Meskipun Tegar dan Hasya saudara kandung, tetap saja tidur bersama itu membuat Zhar tidak suka. Lihat saja, Jika dia sudah resmi menjadi suami Hasya, dia tidak akan mengizinkan siapapun itu tidur bersama istrinya kelak, bahkan bersama Tegar dan Farel pun, tidak akan Zhar izinkan, hanya dia yang boleh tidur bersama Hasya nanti nya.


"Tidur bertiga, yang satu nya siapa?" tanya Zhar datar, membuat Hasya langsung menatap Zhar.


"Kak Sahrul," jawab Hasya polos, dan nama itu sukses membuat rahang Zhar mengeras, dia tahun siapa cowok itu. Dia adalah sahabat Tegar. Bisa-bisa nya Tegar membiarkan Hasya tidur dengan nya, sementara ada orang lain diantara mereka.


***


Dyta membuka matanya dengan sempurna, saat melihat sinar matahari menerobos gorden kamar apartemen milik Farel, gadis itu melihat jam diatas nakas, melihat jam menunjukkan pukul 11 siang, membuat Dyta meneguk salivanya susah payah. Semalam dia tidak pulang kerumah, dan tidak mengabari orang-orang di rumah nya, Dyta yakin kedua orang tua nya panik mencari diri nya yang pergi tanpa mengatakan dia ingin pergi kemana.


Dyta melirik ke samping, sudah tidak ada Farel. Lalu dia mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi, dia yakin jika Farel tengah berada di dalam kamar mandi.


"FAREL! PONSEL GUE MANA!" teriak Dyta membuat Farel yang berada di dalam kamar mandi, mematikan keran air nya. Suara milik Dyta mampu membuat Farel mendengar jelas ucapan gadis itu, meksipun dia berada di dalam kamar mandi.


"Gue simpan diatas meja belajar!" balas Farel dari dalam kamar mandi.


Dyta dengan cepat turun dari tempat tidur Farel, berjalan menuju meja belajar cowok itu, mengambil ponsel nya dengan cepat. Dia yakin, ada banyak panggilan dari orang yang mencari nya di rumah.


Semalam, Dyta ketiduran sehingga dia tidak sempat pulang dan mengabari orang-orang di rumah.


Dyta menyeritkan alisnya bingung, saat membuka ponsel nya, tidak ada panggilan dari siapapun. Padahal, Dyta berpikir sudah ada puluhan panggilan tak terjawab dari sang papa, mama Dyra dan juga Revan.


Karna penasaran, Dyta mengecek WA nya. Mata Dyta membulat, saat membaca pesan di group keluarga nya, yang hanya berisi mereka berlima saja. Dyta tidak pernah mengirim pesan seperti ini semalam di group, pantas saja orang-orang di rumah tidak ada yang menghubungi nya, karna semalam Farel membajak ponsel nya.


Lain kali, Dyta akan menggantikamengganti pasword ponsel nya. Dyta sedikit bernafas legah, namun sangat kesal dengan Farel.


Bagaimana tidak, jika cowok itu mengirim pesan di group, jika dirinya ingin menenangkan diri di dekat Farel, tinggal di apartemen dan akan baik-baik saja, selama Farel di samping nya. Padahal, yang mengirim pesan itu adalah Farel sendiri yang menyamar sebagai diri nya.


Dan yang paling nyolot di group itu adalah Revan.


Baiklah, Dyta menunggu Farel keluar dari dalam kamar mandi, lalu menghajar cowok itu hingga mampus.


Pintu kamar mandi terbuka, membuat Dyta ingin melangkah mendekati Farel, namun langkah nya terhenti, saat dia melihat tubuh atletis Farel keluar dari dalam kamar mandi, membuat Dyta terpaku, handuk putih yang ia lilit di pinggangnya, rambut nya yang basah hingga sisa air menetes di tubuh nya yang berotot itu.

__ADS_1


Dyta tidak bergeming, ini bukan pertama kali nya dia melihat Farel seperti ini, dia sudah sering melihat Farel seperti ini. Namun mengapa, hari ini Dyta menatap Farel berbeda, biasanya Dyta akan biasa-biasa saja, jika Farel keluar dari dalam kamar mandi, dalam keadaan seperti ini, mungkin karena ucapan Farel semalam membuat Dyta memandang berbeda Farel pagi ini, dia seperti bukan Dyta yang memandang Farel sahabatnya, tapi dia seperti memandang Farel adalah cowok lain.


__ADS_2