Stay With Me

Stay With Me
Agrif merasa bersalah


__ADS_3

Drt....


Pagi-pagi begini ponsel milik Agrif sudah berdering, nama yang tertera dilayar ponselnya adalah nama Lea. Cowok itu lebih dulu mengucek matanya sebelum mengangkat telfon dari Lea.


"Halo." Suara serak milik Agrif menyapa gendang telinga Lea.


"Agrif, kamu nggak ke sekolah? Ini kak Lea lagi di skolah kamu," ucap Lea di seberang telfon.


"Agrif nggak ke sekolah," jawab cowok itu di seberang telfon.


"Kak Lea tahu kamu mendapatkan panggilan orang tua. Makanya kak Lea ada di sini. Buat jadi wali kamu," jelas Lea di ujung telfon membuat Agrif terdiam.


Dari mana Lea tahu, jika dia mendapatkan surat panggilan orang tua?


"Kak Lea tahu dari mana?" tanya Agrif.


"Dari Farel, buruan kamu kesini ya. Kakak tunggu kamu di post satpam gerbang sekolah." Lepas itu Lea mematikan sambungan telfon nya secara sepihak.


Agrif melirik jam di dinding, lalu dengan gerakan cepat cowok itu berjalan masuk kedalam kamar mandi, untuk segera ke sekolah, dia tidak main membuat Lea menunggu lama.


Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 20 menit untuk bersiap, Agrif langsung meluncurkan diri menuju sekolah mengenakan motor karna dia tahu kota jakarta sangat macet di pagi hari.


"Agrif udah datang?" tanya Nathan sembari menghampiri istrinya yang menunggu di post satpam.


"Belum," jawab Lea singkat.


"Tunggu Agrif di kantor aja, jangan di situ. Kamu mau gantiin satpam jaga pos?" ejek Nathan membuat Lea tertawa.


"Kalau kamu setuju. Aku ok-ok aja. Biar nggak jadi asisten dokter kamu lagi," balas Lea membuat Nathan menggelengkan kepala nya pelan.


"Kalau kamu nggak jadi asisten dokter aku. Siapa yang mau lihatin aku deketin dokter Valen atau nggak," canda Nathan membuat raut wajah Lea langsung berubah.


"Kamu masih belum bisa lupain dokter Valen?" tanya Lea dengan raut sedih.


"Aku cuman bercanda. Jangan diambil serius." Nathan menarik tanga Lea meninggalkan post satpam membuat Lea harus mengikuti langkah kaki Nathan.


Mereka berdua sudah tiba di ruangan kepala sekolah, sementara Farel hari ini belum ke sekolah karna dia ingin menjaga Dyta.


"Orang tua Farel?" tanya kepala sekolah kepada Nathan.


"Saya kakaknya Farel. Saya yang mewakili orang tua kami yang sudah meninggal," kata Nathan membuat kepala sekolah langsung berbelasungkawa kepada Nathan dan Lea.


"Saya istrinya," ujar Lea dengan senyum tipis, "saya akan mewakili orang tua Agrif yang sudah tidak ada. Dari kecil, Agrif bersama saya," jelas nya membuat kepala sekolah itu mengangguk, lalu dia mulai menjelaskan apa yang Farel dan Agrif lakukan di lingkungan sekolah, di tambah lagi Farel datang tidak mengenakan seragam SMA Garuda hingga menganggu kelas lain yang tengah belajar.


"Jadi saya pihak kepala sekolah, memutuskan untuk skoring Agrif dan Farel selama 3 hari. Sebenarnya saya ingin mereka kena skorsing selama satu minggu, tapi saya mengurungkan niat saya. Karna tidak lama lagi mereka akan lulus," jelas kepala sekolah membuat Lea langsung mengubungi Agrif untuk menunggu nya di cafe saja, mereka akan bertemu di sana.


Karna percuma saja Agrif kesini, sementara mereka tengah di scoring. Setelah menghubungi Agrif. Lea dan Nathan pamit undur diri, kepada kepala sekolah. Setelah menghadiri surat panggilan dari Farel, Nathan langsung menuju rumah sakit, sementara Lea pamit ingin bertemu dengan Agrif.


"Hati-hati dan selamat membujuk Agrif." Nathan mengusap rambut milik Lea sebelum istrinya menaiki taxi. "Jangan lupa, lepas ketemu Agrif langsung kerumah sakit. Kalau nggak.... Aku akan pecat kamu jadi asisten dokter," jelas Nathan membuat Lea memberenggut kesal.


"Iya." Hanya kata itu saja yang Lea ucapkan, lepas itu mereka berpisah menuju tempat yang mereka ingin pergi.


Lea menuju cafe bintang, karna di sana Agrif tengah menunggu diri nya. Padahal Agrif baru saja ingin sampai di sekolah tadi, namun Lea langsung menyuruh nya untuk putar balik, karna ada yang ingin Lea bicarakan, dan kebetulan juga Agrif ingin mengatakan sesuatu pada Lea.


Taxi yang membawa Lea sudah sampai di cafe bintang, Lea turun lalu membayar ongkos taxi nya, lepas itu dia melenggang masuk.

__ADS_1


Lea masuk kedalam cafe bintang, matanya fokus mencari seseorang, hingga dia melihat Agrif yang masih mengenakan seragam SMA.


Lea menepuk jidatnya sendiri, ini masih pagi. Dan dia mengajak Agrif bertemu di cafe bintang, pantas saja suasana cafe ini sunyi karna pengunjung belum datang karna masih pagi.


Lea tersenyum kikuk, dia nampak terlihat bodoh jika buru-buru begini. Tapi kebetulan juga cafe nya buka pagi begini, biasanya cafe yang berada di kota jakarta ini bukan jam 10 an pagi.


"Agrif," sapa Lea lalu duduk di depan anak yang masih mengenakan seragam sekolah.


"Maafin kak Lea ya. Kak Lea nyuruh kamu ke sekolah, karna kam Lea pikir kamu cuman di berikan peringatan. Ternyata kamu di skoring sama Farel," jelas Lea sembari meminta maaf.


"Tidak apa-apa. Agrif senang ada yang mau wakilin surat panggilan Agrif," balas cowok itu dengan senyum kecil.


"Kak Lea 'kan udah bilang, mulai sekarang kak Lea akan aktif ngurusin kamu juga. Kalau ada apa-apa langsung hubungi kakak," tutur Lea lagi dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Agrif.


"Kak Lea mau cake?" tawar Agrif kepada wanita itu.


"Memang nya sudah tersedia? Ini kepagian, kak Lea kalau buru-buru nggak tahu tempat," kata Lea dengan tawa pelan, karna merasakan sedikit malu pada Agrif.


"Agrif yang suruh, ini adalah cafe milik Agrif kak. Warisan dari papa Daniel."


Jleb...


Ucapan Agrif sukses membuat Lea terdiam, pantas saja cafe ini buka lebih awal. Ternyata bos nya adalah Agrif karna dia membuka nya pagi-pagi begini karna Lea mengajaknya bertemu di sini.


"Hebat," ucap Lea dengan senyuman bangga pada Agrif.


"Papa yang hebat, kak. Kalau bukan usaha papa, nggak akan ada cafe bintang. Agrif cuman tinggal menjalani nya setelah papa berhasil membangun cafe bintang ini," kata Agrif, terselip rasa bangga pada dirinya saat mengatakan hal tersebut.


Papa Daniel adalah sosok papa yang mewariskan banyak harta padanya. Bahkan jauh sebelum papa nya meninggal, seluruh harta benda Daniel sudah tertulis nama Agrif, nama semata wayangnya.


"Papa dan mama kamu diatas sana bangga punya anak hebat dan kuat seperti kamu," puji Lea membuat Agrif tertawa pelan.


"Tapi semua harta yang di berikan pada Agrif, semuanya cuman percuma. Kalau Agrif nggak punya orang tua," kata anak itu.


"Kakak ada akan ada selalu buat Agrif. Kak Lea udah nganggap Agrif seperti adik kakak Lea sendiri. Seperti kak Lea punya dua adik kembar, seperti itu Agrif di hati kak Lea. Jangan pernah merasa sendiri. Ada kakak di sini," kata Lea dengan suara lirih, melihat mata Agrif memerah menahan tangis, tapi dia masih berusaha untuk tertawa pelan, padahal Lea tahu apa yang Agrif rasakan sekarang.


"Agrif jangan merasa sendiri ya?" kata Lea dan dibalas anggukan kepala oleh Agrif.


"Anak yang pintar." Lea mengacak rambut Agrif dengan gemes.


Lalu pelayan datang membawa cake yang Agrif suruh kan pada mereka semua nya.


"Selamat menikmati." Pelayan itu tertunduk hormat lalu melenggang pergi meninggalkan Lea dan Nathan.


"Ini adalah cake yang belum di Sajikan sama pelanggan lain. Agrif mau kak Lea yang mencobanya lebih dulu," kata Agrif dengan senyuman bangga.


"Bisa aja kamu," tawa Lea lalu wanita itu mulia mencicip cake yang belum pernah di sajikan kepads para pelanggan cafe ini, karna Agrif mau jika Lea yang lebih dulu mencobanya.


Lea mulai memakan cake itu, rasanya sangat enak saat Lea makan. "Enak, Rif. Udah bisa kamu jual ini, pasti laku keras," puji Lea tanpa menambah-nambahnya karna dia merasakan cake itu memang enak dan akan laku keras jika Agrif mulai menjual nya.


Mereka berdua menikmati cake tersebut, sekali-kali Lea tersenyum hangat pada Agrif yang tengah fokus makan.


"Lepas ini kak Lea mau kemana?" tanya Agrif setelah usai memakan cake milik nya.


"Kerumah sakit," jawab Lea. "Kamu di skorsing selama tiga hari. Jadi kamu ke sekolah nya senin," kata Lea mengingatkan dan dibalas anggukan kepala oleh Agrif.

__ADS_1


"Dyta masih di rawat di rumah sakit?" tanya Agrif pelan, membuat sudut bibir Lea terangkat berbentuk senyum.


"Mau jengukin Dyta?" tanya Lea membuat Agrif diam sejenak, dia ingin melihat kondisi gadis itu, namun Agrif mau jika Dyta tidak melihat dirinya. "Kalau Agrif mau, nanti kakak temenin," lanjut Lea dengn yakin, "semua aman kalau Agrif mau."


"Ada Farel," kata Agrif sembari menghembuskan nafas pelan, "Agrif nggak mau sampai berantem di rumah sakit. Nanti kak Lea yang di salahkan," jelas Agrif yang ingin menghindari perkelahian dengan Farel, jika Lea membawa nya kesana. Jika itu sampai terjadi maka Lea pula yang akan di salah'kan karna dia yang membawa dirinya.


"Agrif nggak usah mikirin itu. Soal Farel biar kak Lea sama suami kakak yang atur," ucap nya dengan bijak. Sudah Lea katakan bukan, jika dia bersama Agrif entah mengapa dia menjadi dewasa dalam berbicara, mungkin karna Agrif membutuhkan wanita yang cerdas yang berperan mengganti orang tua nya.


Lea bersyukur, kebodohannya tidak nampak pada Agrif. Sehingga dia bisa berperan sebagai kakak yang baik untuk Agrif kembali.


"Bagaimana kelurga Dyta yang lain?" tanya Agrif lagi, "mereka udah tahu pastinya, kenapa Dyta sampai masuk rumah sakit. Karna Dyta di bully." Agrif berusaha menyembunyikan nada khawatir dari bibir nya membuat Lea malah tertawa pelan.


"Udah kak Lea bilang. Semuanya kakak yang atur. Agrif tinggal ketemu sama Dyta. Bicarakan apa yang ingin Agrif katakan pada Dyta. Karna Agrif tahu sendiri 'kan, Dyta menyayangi kamu sebagai seorang sahabat. Dia pasti senang, kalau lihat sahabat masa kecilnya."


Lea dan Agrif berbincang-bincang, hingga mereka berdua memutuskan untuk kerumah sakit.


Lea menelfon Nathan untuk membawa Farel pergi dari ruangan Dyta. Lalu Lea menelfon Raka juga, untuk membawa Dyra dari ruangan Dyta, karna mereka tahu jika Dyra sudah tidak menyukai Agrif lagi. Padahal gadis itu sangat mengagumi Agrif saat belum tahu semunya.


Kini giliran Nathan yang menemui dokter Valen, agar wanita itu membawa Kayla dari ruangan Dyta, dengan alasan yang harus Valen buat sendiri.


Setelah semuanya beres, Nathan menelfon istrinya untuk segera kesini sebelum semuanya kembali ke ruangan Dyta.


Lebih dulu Agrif menuju ruangannya di lantai tiga, di sana dia akan mengganti pakaiannya. Tidak mungkin juga dia kerumah sakit menggunakan seragam SMA.


Agrif dan Lea langsung meninggalkan cafe. Agrif meminjam mobil karyawannya karna dirinya datang menggunakan motor, tidak mungkin dia membonceng Lea mnggunakan motor.


Setelah meminjam mobil karyawannya, Lea dan Agrif langsung meninggalkan cafe bintang.


Agrif mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Agrif tidak tahu, mengapa jantung nya tak berhenti berdetak ingin menemui Dyta. Jika bukan karna Lea, dia tidak mungkin menjenguk Dyta sampai rumah sakit. Namun dia juga penasaran dan Lea berusaha untuk nya.


Setelah berkendara 30 menit lamanya, akhirnya mobil yang Agrif bawa sudah terparkir di parkiran rumah sakit.


Cowok itu belum juga bergeming, karna dia tengah mengatur sesuatu dari dalam diri nya.


"Ayok," ajak Lea pada Agrif yang masih diam. "Semuanya aman kok. Kak Lea udah mastiin," lanjut Lea dengan senyuman meyakinkan kepada Agrif, akhrinya cowok itu keluar.


Rumah sakit ini mengingatkan Agrif pada papa nya. Agrif masih ingat jelas, jika papa nya pernah di rawat di rumah sakit besar ini.


"Masih ingat?" tanya Lea sembari berjalan di ikuti oleh Agrif yang sudah berjalan di samping nya.


Lea dan Agrif sudah masuk rumah sakit, hal pertama yang mereka lihat adalah lobby rumah sakit dan beberapa orang tengah menunggu dan berlalu lalang.


Agrif mengangguk mengiyakan ucapan Lea, "rumah sakit tempat papa di rawat," kata Agrif membuat Lea tersenyum kecil, "tempat dimana papa menghabiskan waktunya."


Lea menggengam tangan Agrif, dia sudah mengangap Agrif seperti adik nya sendiri. Menganggap Agrif seperti adik kembar nya Raka dan juga Riki.


Lea dan Agrif masuk kedalam lift, menekan angka 3, karna Dyta di rawat di lantai tiga.


Ting...


Mereka sudah sampai di lantai tiga, Agrif dan Lea langsung keluar dari lift lalu berjalan menuju ruangan Dyta, sembari menelusuri koridor rumah sakit.


Sekian lama nya, Agrif baru lgi menginjakkan kaki nya di rumah sakit. Menurutnya, rumah sakit adalah tempat yang ingin sekali Agrif hindari, bayangan masa lalu langsung terputar dalam benak nya, jika dia menginjakkan kaki ke rumah sakit.


Lea menghentikan langkah kaki nya di depan pintu ruangan seseorang, dan Agrif bisa menebak jika ruangan itu adalah ruangan milik Dyta.

__ADS_1


Jantung Agrif kembali berdetak kencang, selama ini jika dia bertemu Dyta jantung nya tidak berdetak sekencang ini. Apa karna dia merasa bersalah jadinya seperti ini? Apa karna dia mengakui pada diri nya, jika masalah yang menimpa Dyta karna dirinya? Apa dirinya mengakui jika dirinya yang salah?


__ADS_2