Stay With Me

Stay With Me
Kedatangan Agrif


__ADS_3

Dyta berdengus kesal, Orang-orang satu persatu meninggalkan dirinya sendirian di ruangan ini, di tambah lagi ruangannya lumayan besar membuat nya kesepian di sini.


Farel juga pergi, Nathan yang minta izin langsung dengan nya, untuk membawa Farel sebentar, karna ada yang ingin dia bahas dengan Farel.


Huft...


Dyta menghembuskan nafas berat, sebenarnya dia ingin segera pergi dari rumh sakit. Lagian dia tidak sakit, hanya matanya saja yang perlu di kontrol, dan dokter memutuskan besok dia akan pulang, padahal Dyta sudah merengek pada Valen, agar segera dibawa pergi dari sini. Tapi kata Valen ini bukan wewenangnya, ini adalah wewenang milik dokter mata.


Gadis itu memutuskan turun dari bansal, rasanya tubuh nya sangat lengket karna tidak mandi. Dia memang jarang mandi, tapi jika sudah seperti ini dia akan gerah sendiri.


Dyta berjalan menuju sudut ruangannya, dimana kaca panjang terpasang. Jika dari luar, mereka tidak bisa melihat seseorang dari dalam ruangan itu, karna kacanya sudah di rakit sedemikian rupa, hanya mereka dari dalam saja yang melihat kearah luar. Dan dari sini Dyta melihat kendaraan berlalu lalang dan orang-orang yang memasuki area rumah sakit dengan perasaan terburu-buru.


Dyta masih ingat jelas, bagaimana khawatir nya Raka membawa nya kerumah sakit, membuat Dyta berterimakasih kepada cowok itu.


Ceklek...


Pintu ruangan Dyta di buka, sementara Dyta masih setia menatap kedepan, menatap kendaraan lalu lalang dari kaca lantai tiga.


Dyta mengabaikan seseorang yang membuka pintu ruangannya, dia pikir itu Farel, Dyta atau keluarga nya yang lain.


Dapat Dyta rasakan, langkah kaki itu mendekati dirinya di sini, membuat jantung Dyta berdetak tidak karuan. Dia merasakan sesuatu yang lain, entah apa tapi derap langkah kaki itu membuat jantung nya berdetak tidak karuan.


Dyta berpikir itu hanya Farel saja, namun dia menunggu cowok itu untuk angkat suara, namun Farel tidak mengucapkan sepatah katapun.


Sementara langkah kaki itu sudah tidak ada lagi, membuat Dyta yakin jika Farel sudah berada di tepat di belakangnya.


"Dari mana aja lo, Rel?" tanya Dyta belum membalikkan tubuh nya, dia masih fokus melihat kebawa sana.


Satu menit...


Dua menit...


Tiga menit...


Namun orang yang di sebut Farel belum menjawab pertanyaannya nya. Membuat Dyta penasaran untuk membalikkan tubuh nya.


Dyta membalikkan tubuh nya, karna cowok yang dia pikir Farel belum menjawab pertanyaan nya dan hanya diam saja sedari tadi.


Deg...


Jantung Dyta berdetak kencang saat membalikkan tubuh nya, dia melihat bukan Farel, akan tetapi sahabat yang sudah tidak menganggapnya seorang sahabat.


"Agrif?" gumam Dyta tidak percaya, jika di depan nya adalah Agrif bukan Farel.


Dia tidak mimpi 'kan? Jika yang di depan nya sekarang adalah Agrif. Cowok itu masih menatap nya dengan lekat.


Dyta tidak tahu harus berkata apa lagi , melihat pemandangan di depannya.

__ADS_1


"Agrif," panggil Dyta lagi dengan suara pelan. "Ini beneran lo 'kan?" tanya Dyta memastikan menatap cowok yang menjulang tinggi di depan nya ini.


"Kenapa?" tanya Agrif membuat Dyta tertegun mendengar suara Agrif yang berat. Suara itu nyata memasuki gendang telinga nya.


"Gue nggak nyangka lo ada di sini," kata Dyta dngan suara pelan nya.


"Gue tahu, kalau lo mikir gue Farel," balas Agrif membuat Dyta terdiam lalu gadis itu mengangguk.


Dyta tidak tahu, mengapa bisa Agrif terdampar di sini?


"Gimana mata lo?" tanya Agrif membuat Dyta lagi-lagi terdiam dengan pertanyaan cowok tampan di depan nya. Padahal Dyta tahu, bagaimana bencinya Agrif kepada nya, karna kesalahan yang dibuat oleh papa nya.


"Seperti yang lo lihat, semuanya baik," balas Dyta setelah sekian menit terdiam.


"Lo nggak sakit 'kan, jenguk gue di sini?" tanya Dyta dengan tawa kecil nya membuat Agrif tidak bisa menahan sudut bibir nya untuk tidak tersenyum.


Sudut mata Dyta berair, entah mengapa secengeng ini melihat Agrif tersenyum sangat tipis padanya.


Agrif dengan gerakan cepat membawa Dyta dalam pelukan nya, membuat Dyta tertegun lalu kemudian gadis itu menangis dalam pelukan Agrif.


Ini seperti mimpi, dirinya berada di dalam pelukan Agrif, sahabat yang selalu dia rindukan. Saat dia berpisah dengan Agrif kecil dia selalu punya keinginan ke banjarmasin hanya untuk menemui Agrif saja.


"Gue tahu, bokap gue salah, Rif. Tapi gue sedih, lo masukin semuanya dengan persahabatan kita dengan masa lalu bokap gue ke bokap lo," tangis Dyta dalam pelukan Agrif, jika dia merasa ini hanya mimpi dia tidak mau bangun, dia ingin curhat di dalam pelukan Agrif, agar cowok itu mengerti dengan apa yang ia rasakan.


Agrif hanya diam saja, membiarkan Dyta memeluk tubuh nya erat, sembari menangis tersedu-sedu. Agrif ingin melepaskan pelukan nya kembali, namun dia urungkan karna hatinya tidak rela melepaskan nya. Padahal dia duluan yang memeluk Dyta.


"Gue mau kita sahabatan kayak waktu kita kecil, Rif," kata Dyta lagi dalam pelukan Agrif.


"Agrif," panggil Dyta dengan pelan.


"Gue pulang." Lepas itu Agrif meninggalkan Dyta yang masih mengumumkan nama nya.


Agrif langsung keluar dari ruangan Dyta, dia terkejut saat melihat Farel bersedekap dada di depannya, dengan menatap nya dengan tatapan intens.


Farel menatap Agrif tajam, kemarin mereka baru saja berantem, dan kembali bertemu di ruangan Dyta.


Agrif ingin langsung pergi, namun pergelangan tangannya langsung di cekal oleh Farel. "Ngapain Dyta lo?" tanya Farel penuh selidik, meksipun Nathan sudah menjelaskan nya secara detail, bukan berarti Farel mau percaya begitu saja. Dia ingin mendengar secara langsung dari mulut Agrif.


"Gue nggak ngapa-ngapain dia," jawab Agrif dengan tegas.


"Hmm.. " Lea datang berdehem membuat Farel langsung melepaskan cekalan tangannya.


Ekspresi wajahn Farel langsung berubah saat Lea datang, dan itu bisa di lihat jelas oleh Agrif.


"Mbak Lea, ngapain di sini? Kak Nathan mana?" tanya Agrif membuat Lea menggelengkan kepala nya.


"Farel, ini Agrif," kata Lea memperkenalkan ke-dua nya, meski mereka sudah kenal, tetap Lea ingin memperkenalkan mereka. "Dan Agrif, ini Farel. Adiknya kak Nathan," jelas Lea. "Farel, kamu masih ingat 'kan sama Agrif?" tanya Lea dan dibalas anggukan kepala oleh Farel.

__ADS_1


"Kenal banget, mba. Dia satu sekolah sama Farel. Dia juga yang berantem sama Farel kemarin," celetuk Farel santai membuat Lea tertawa pelan.


"Agrif kesini nggak punya niatan buruk untuk Dyta, percaya sama kak Lea," kata Lea lagi, jika Lea yang berkata maka Farel akan mempercayai nya. Karna dia tahu, Agrif tunduk pada Lea.


Lea mengajak Agrif untuk pergi, sementara Farel masuk ke dalam ruangan Dyta.


Saat Farel masuk, dia menatap Dyta tengah menangis, dengan cepat Farel menghampiri Dyta.


"Lo kenapa, Ta?" tanya Farel dengan khawatir, cowok itu mengepalkan tangannya, dia berpikir jika Agrif yang membuat Dyta menangis. "Agrif ngacengan lo?" tanya Farel lagi, Dyta hanya menangis membuat Farel ingin pergi menyusul Agrif, namun tangannya langsung di cekal oleh Dyta.


Mereka berdua saling bertatapan. "Agrif nggak nyakitin gue, Rel. Dia juga nggak ngancem gue. Gue cuman terharu dan nggak nyangka kalau Agrif bakalan kesini dan nanyain kondisi gue," jelas Dyta membuat Farel terdiam, dia sudah berburuk sangka dengan Agrif, namun dia bernafas legah.


"Jangan terlalu percaya sama Agrif," kata Farel, agar Dyta tidak jatuh pada perkataan Agrif. "Bisa jadi, dia lagi ngerencanain sesuatu," lanjut nya dan dibalas gelengan kepala oleh Dyta, jika dia melihat dari mata Agrif yang tulus, menanyai kondisinya saat ini. Dan Dyta tahu, semuanya itu tulus dari Agrif. Dyta bisa merasakan hal itu pada dirinya.


"Ok terserah, gue cuman ngingetin. Karna kita nggak tahu, apa yang sedang Agrif rencanain," kata Farel lagi membawa Dyta duduk di atas sofa.


"Rel," panggil Dyta, karna dia melihat raut wajah berubah dari Farel.


"Apa?" balas Farel, lalu kemudian cowok itu menghembuskan nafas berat, "gue cuman takut, Agrif punya rencana lain," lanjut Farel yang mengucapkan apa yang ia pikirkan saat ini mengenai Agrif yang tiba-tiba datang menjenguk Dyta.


Meski ada Lea dibelakang Agrif, tapi tidak ada yang tahu sepenuh nya mengenai Agrif dan apa yang ada dalam isi kepala cowok itu.


"Percaya sama gue, kalau Agrif lagi berpikir keras tentang ini. Gue yakin, Agrif bakalan lupain semua nya dan memulai nya dengan lembaran baru," ucap Dyta dengan sangat yakin.


Farel akhrinya mengangguk kepala saja. Meski sebenarnya dia masih tidak percaya dengan Agrif.


"Maksih, Rel," kata Dyta dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Farel saja.


Raka dan Dyra juga datang, dia langsung datang menghampiri Farel dan juga Dyta.


"Kak Farel kenapa buat Dyta nangis?" Dyra melotot tajam kearah Farel membuat Farel memutar bola matanya malas.


"Dyta nangis kar--"


Dyta dengan cepat membekap mulut Farel, jangan sampai cowok itu keceplosan kepada Dyra jika tadi ada Agrif yang datang kesini dan mereka sempat berpelukan dan berbincang-bincang kecil.


Dyta juga tidak akan mengatakan pada Farel, jika dia dan Agrif berpelukan. Dia tidak mau jika cowok itu sampai cemburu. Tunggu... Sejak kapan Dyta memikirkan mengenai kecemburuan Farel, padahal dia sangat suka membuat Farel kesal hingga cemburu.


Untuk yang satu ini, Dyta tidak bisa berterus terang kepada Farel.


"Apa sih?" tanya Dyra heran, karna melihat Dyta membekap mulut Farel menggunakan tangannya, sehingga cowok itu tidak meneruskan perkataan nya.


Farel menatap tajam Dyta, gadis itu kekuatannya sangat kuat, sehingga Farel tidak bisa melepaskan tangan Dyta dengan santai.


"Apa?" nyolot Dyta memberikan tatapan tajam pada Farel, agar cowok itu tidak mengatakan jika tadi ada Agrif di sini.


"Lanjutin omongannya kak Farel," perintah Dyra lagi dengan penasaran.

__ADS_1


"Dyra terharu sampai nangis, karna.... Gue nembak dia," kata Farel santai membuat Raka dan Dyra saling menatap satu sama lain.


"Dyta lo terima?" tanya Dyra penasaran membuat Dyta melotot.


__ADS_2