
Farel mendekati Agrif, namun Agrif masih setia mempertahankan posisinya itu.
"Lo udah lukain Dyta, jangan salahin gue. Kalau sahabat masa kecil lo, bakalan berada di dalam genggaman tangan gue." Farel bukan sekedar mengancam cowok di depannya, "gue nggak akan segan-segan permainkan sahabat kesayangan lo itu," lanjut Farel sembari tersenyum miring, "lo tahu sendiri 'kan, kalau sahabat lo itu suka sama gue."
Agrif mengepalkan tangannya, dia yakin ancaman Farel bukan hanya sekedar ancaman belaka untuk dirinya.
"Bukan gue yang buat sahabat lo masuk rumah sakit," desis Agrif membuat Farel tertawa sinis.
Cowok itu meredakan tawa sinis nya, "penyebab nya karna lo," cemoh Farel.
"Jangan pernah ngancam gue melalui Ziya." Agrif menekan setiap perkataan nya.
"Gue bakalan buat Ziya bertekuk lutut di gue. Itu sebagai bentuk balas dendam gue ke lo!" kata Farel, "jangan salahin gue, kalau wajah mulus Ziya bakalan tergores."
BUGH....
Agrif langsung membogem wajah Farel, membuat cowok itu kembali membalas bogeman dari Agrif.
Dan terjadilah adu jotos antara Farel dan Agrif. Suara gaduh dari luar terdengar jelas dari dalam kelas.
Guru yang mengajar jadi panik, sedari tadi dia menungu kedatangan satpam, namun satpam belum juga datang.
Guru tersebut melangkah menuju pintu, berencana membuka pintu untuk memisahkan kedua cowok tampan di sekolah ini.
"Ya ampun!" Pekik guru tersebut, karna pintu kelas terkunci dari luar.
"Kenapa bu?" tanya salah satu penghuni kelas.
"Udah tau terkunci, malah nanya!" balas guru itu, sembari mengusap keringat di dahinya, satpam yang ia telfon belum juga datang.
"Bu, mereka diluar berantem hebat!" sahut salah satu murid yang menyaksikannya dari luar.
"Tanpa kamu kasi tahu, ibun sudah tahu!" marah nya, "sekarang kamu turun dari meja itu, jangan menginjakkan kaki diatas meja. Mau ibu hukum?" Gertak guru tersebut, karna salah satu murid di dalam kelas ini, menonton melalui jendela kelas.
Dengan terpaksa murid itu turun, padahal lagi seru-serunya menonton. Dia bisa melihat jelas Farel dan Agrif saling menjatuhkan dan saling menindih satu sama lain dibawa lantai.
Dapat murid itu lihat, kekuatan antara Agrif dan Farel seri, mereka berdua bisa sama-sama menyeimbangin kekuatan satu sama lain.
"FAREL! AGRIF BERHENTI!!!" Itu adalah teriakan milik satpam yang datang bersama guru lainnya.
Teriakan itu tidak membuat Agrif dan Farel berhenti, hingga pak satpam dan guru itu saling menatap, lalu melangkah memisahkan keduanya.
"Apa-apaan kalian hah!" Satpam memegang tangan Agrif sementara guru yang satu nya memegang tangan Farel.
"Mau jadi jagoan kalian?" gertak pak Milyas, "kalian berdua sudah membuat kesalahan tidak ikut Olimpiade, dan sekarang kalian malah berantem. Dan kamu Farel, kamu masuk di area sekolah tanpa menggunakan seragam, di saat jam pelajaran. Dan menganggu murid yang lain sedang belajar!"
"Dan untuk kamu Agrif, kamu murid pindahan di sini. Dan kamu sudah membuat masalah dua kali, dengan berantem dengan Farel!" kata Pak Milyas lagi. "Bawa mereka keruangan kepala sekolah." Perintah pak Milyas kepada satpam, akhirnya satpam menggiring Agrif menuju ruang kepala sekolah.
"Pak Milyas, tolong buka pintunya dulu!" teriak ibu guru dari dalam, membuat pak Milyas langsung melirik pintu kelas yang di kunci dari luar.
"Kamu sudah melakukan tindakan yang tidak sopan Farel," kata Pak Milyas lalu membuka pintu tersebut tanpa melepaskan Farel.
Setelah membuka pintu, guru di dalam kelas yang tadi terkunci, langsung keluar menatap Farel dengan garang.
"Murid kurang ajar!" marah guru itu kepada Farel, "mana Agrif?" tanya nya lagi, karna dia tidak melihat Agrif di sini.
"Ibu tanya sama saya?" tanya Farel polos membuat guru itu makin geram.
"Langsung bawa keruangan kepala sekolah pak," ucap guru itu tegas pada pak Milyas.
"Tanpa ibu minta, pak Milyas bakal bawa Farel keruangan kepala sekolah," celetuk Farel.
Pak Milyas langsung membawa Farel pergi dari sini, guru itu kembali lanjut mengajar didalam kelas, setelah kepergian pak Milyas dan Farel.
***
Hasya tengah bertopang dagu didalam kelas, hari ini Dyra tidak ke sekolah, sementara Dyta tengah berada di rumah sakit. Mendengar kabar Dyta di bully, membuat Hasya penasaran masalah apa yang tengah di hadapi sepupunya.
__ADS_1
Sedari tadi Hasya memikirkan kondisi Dyta, apa lagi dia tahu sepupunya masuk rumah sakit karna di bully menyebabkan telur busuk memasuki mata nya.
Saat mendengar kabar Dyta masuk rumah sakit, Hasya ingin putar balik ingin kerumah sakit. Namun Frezan tidak mengizinkan Hasya untuk tidak ke sekolah hari ini. Kata Frezan, dirinya bisa menjenguk Dyta setelah pulang sekolah.
Dan Frezan tadi mengantar Hasya sampai di dalam kelas. Memastikan jika anaknya baik-baik saja. Dia tidak ingin yang membully Dyta menyangkut pautkan dengan anaknya, karna mereka tahu jika Hasya dan Dyta sepupu.
Tadi, setelah Frezan mengantar Hasya kedalam kelas. Pria itu menelfon Zhar untuk menjaga Hasya, dia tidak perlu menjelaskan alasannya apa, karna Zhar pastinya sudah tahu berita ini.
Dengan senang hati, Zhar menemani Hasya didalam kelas, hingga cowok itu tidak mengikuti pelajaran di kelas karna menjaga Hasya di kelas.
Dan sampai sekarang ini, Zhar masih setia menemani Hasya di dalam kelas. Untung saja dirinya ada di sekitar Hasya, jika tidak sudah Zhar pastikan teman kelas Hasya akan melabrak gadis itu. Karna Zhar bisa melihat tatapan sinis dan tidak suka di tujukan kepada Hasya dari teman kelasnya. Dan mereka langsung memalingkan wajah nya saat Zhar menatap mereka tajam. Zhar tahu, mreka tengah menahan diri.
"Kak Zhar boleh ke kelas, Hasya nggak apa-apa di sini. Buktinya Hasya baik-baik aja," kata Hasya melirik Zhar yang duduk di samping nya, gadis itu masih setia bertopang dagu.
"Kalau gue nggak ada di sini, mereka bakalan bully lo juga," balas Zhar membalas tatapan gadis yang duduk di ssmping nya ini.
"Kak Zhar taunya dari mana?" tanya balik gadis itu.
"Lo nggak lihat tatapan teman kelas lo, hampir semuanya natap lo seperti mangsa," jawab Zhar membuat Hasya langsung melihat teman kelas nya satu persatu. Benar saja, teman kelas nya menatap nya seperti ingin menerkam dirinya.
Hasya langsung meneguk salivanya susah payah. Di bully? Sungguh Hasya akan trauma jika hal besar itu terjadi pada gadis yang di ratukan oleh orang-orang di sekitarnya.
Hasya melirik Zhar.
"Gimana, mau sendiri dan gue tinggalin?" tanya Zhar santai, dengan cepat Hasya menggelengkan kepalanya, membuat Zhar jadi gemas sndiri dengan Hasya.
"Mau makan?" tawar Zhar.
"Yang beli makanannya di kantin siapa?" tanya Hasya, "aku nggak mau, kalau kak Zhar ninggalin Hasya di sini. Hasya takut." Hasya langsung memegang lengan Zhar.
"Gue bakal telfon Yoga, buat bawa makanan kesini," jelas Zhar dan dibalas anggukan paham oleh Hasya.
Zhar mengeluarkan ponsel nya dari saku bajunya. "Mau makan apa?" tanya Zhar sembari menelfon Yoga.
"Mau makan mie ayam sama jus alvokad," jawab Hasya dan dibalas anggukan paham oleh Zhar.
Setelah menyebutkan pesanannya, Zhar mematikan telfon nya.
"Hasya boleh pinjam HP nya kak Zhar?" tanya Hasya dengan senyum tipis, "Hasya nggak tau mau ngapain di dalam kelas. Dyra lagi nggak ke sekolah," lanjut nya.
"HP lo mana?" tanya Zhar.
"Diambil sama kak Tegar," jawab Hasya, "pulang sekolah baru aku bisa ambil HP nya dari kak Tegar."
"Pesan WA gue sama lo udah lo hapus 'kan?" tanya Zhar memastikan membuat Hasya nampak berpikir sejenak.
"Nggak," jawab nya singkat.
"Kenapa nggak di hapus dulu sebelum lo kasi sama Tegar. HP itu barang pribadi, gimana kalau ada rahasia di dalam nya dan yang ngambil HP lo tahu."
"Aplikasi WA aku kunci."
Zhar tersenyum kecil, tumben sekali.
Zhar langsung menyerahkan ponsel nya pada Hasya dan dengan senang hati Hasya mengambil nya. HP Zhar jauh lebih mewah dari ponsel milik nya.
"Pasword nya apa?" tanya Hasya saat ingin membuka ponsel Zhar, namun ada kata sandi yang harus dia masukkan.
"Tanggal lahir lo."
"Hah?" Hasya mengerjapkan mata kearah Zhar, saat cowok itu menjawab pertanyaan nya. Hasya tidak salah dengar 'kan. Wajah Hasya terkejut nampak menggemaskan di mata Zhar.
Hasya mulai menekan angka lahir nya. Dan berhasil, Hasya langsung di sambut dengan wallpaper ponsel Zhar. Wallpaper Zhar adalah foto dirinya mengenakan baju tidur yang pernah dia unggah di akun instagram milik nya.
"Sejak kapan?" tanya Hasya, meski ini hal sederhana namun mampu membuat Hasya berpikir jika dirinya adalah gadis yang paling Zhar sayangi dimuka bumi ini.
"Udah lama. Sejak gue suka lo, dan maksa lo buat jadi pacar gue. Nggak pernah gue ganti, sampai kita di jodohin," kata Zhar santai membuat pipi Hasya memerah, dia jadi salting karna ucapan Zhar barusan, dan melupakan sejenak masalah yang tadi.
__ADS_1
Zhar menggelengkan kepala nya, melihat wajah Hasya memerah karna salting.
Zhar tidak tahu, apa yang akan Hasya lakukan dengan ponselnya. Namun dia melihat gadis itu tengah menginstall aplikasi, Zhar penasaran aplikasi yang gadis itu install, lalu dia melihat dengan jelas Hasya tengah menginstall game onet.
"Damn." Melihat ponsel nya yang keren itu di huni game onet, membuat Zhar menggeleng sembari mengumpat pelan, untung saja Hasya tidak mendengar nya.
"Tanpa minta izin," celetuk Zhar, saat Hasya mulai membuka game onet tersebut.
"Kan udah," balas Hasya, tanpa melirik kearah Zhar.
Dari arah pintu, Yoga datang membawa snack. Sementara anggota osis nya yang dua orang membawa minuman dan satu nya membawa nampan berisi makanan.
"Thanks." Zhar memberikan satu lembar uang merah pada dua cowok yang Yoga bawa. Sementara
Zhar tidak membrikan nya pada Yoga, karna cowok itu orang berada.
"Gue mana, Zhar?" canda Yoga setelah kedua teman OSIS nya sudah pergi.
"Lo nggak butuh duit, lo butuh nya balikan sama Dyra," balas Zhar membuat Yoga tertawa.
"Lo bisa aja, Zhar." Yoga menepuk pundak Zhar sembari tertawa kecil, "yaudah gue pergi dulu, mau lanjut makan," pamit cowok itu dan dibalas anggukan kepala oleh Zhar.
"Makan dulu." Zhar menyita ponsel nya di tangan Hasya, padahal gadis itu tengah asik bermain game.
"Kok diambil sih, Hasya udah mau menang itu," cemberut Hasya sembari memanyunkan bibir nya.
"Makan baru lanjut." Zhar menyodorkan mangkuk berisi mie ayam di depan Hasya, di susul dengan jus alvokad.
Hasya mulai memakan mie ayam milik nya, sementara Zhar memilih makan salak buah.
"Kak Zhar lagi diet?" tanya Hasya dan dibalas gelengan kepala oleh Zhar.
"Gue malas makan-makanan berat di kantin," jawab Zhar dan dibalas anggukan paham oleh Hasya.
Pantas saja dulu Hasya sangat jarang melihat Zhar di kantin sekolah.
***
Kepala sekolah tengah menatap Farel dan Agrif secara bergantian. Mereka berdua sama-sama babak belur, sudut bibir mereka sama-sama mempunyai bekas darah, dan wajah yang sedikit babak belur.
"Kalian berdua sudah tidak lama lagi akan lulus. Tapi kalian malah buat masalah," kata kepala sekolah, setelah puas meneliti wajah babak belur kedua murid itu, "ini yang keduanya kalian berantem."
"Iya bu. Karna yang ketiga kalinya nanti diluar sekolah," celetuk Farel santai.
"Farel," tegur kepala sekolah, "ibu tidak menyuruh kamu untuk bicara."
"Iya bu, iya."
"Seharusnya kalian menyiapkan diri untuk menyambut UN nasional untuk kelas 12, beberapa bulan lagi UN akan di laksanakan. Dan kalian akan lulus dari sini."
"Kayak yakin aja, kalau Farel bakalan lulus," celetuk Farel lagi, membuat kepala sekolah membrikan tatapan tajam pada Farel, agar cowok itu tidak bersuara lagi.
Sementara Agrif hanya diam saja, semenjak dia masuk di ruangan kepala sekolah. Karna pikirannya saat ini fokus pada Dyta yang berada di tengah rumah sakit.
"Kamu sudah membuat banyak kesalahan Farel. Pertama-tama, kamu datang ke sekolah tanpa menggunakan seragam sekolah. Sementara di sekolah masih berlangsung jam pelajaran. Dan yang kedua, kamu menganggu kelas lain belajar dan membawa Agrif keluar dari kelas. Dan yang ketiga, kamu mengunci guru yang mengajar dari luar. Dan yang terakhir, kamu terus bicara tanpa ibu suruh," jelas kepala sekolah dengan tegas, sementara Farel hanya menanggapinya dengan santai.
"Gunanya mulut emang untuk bicara bu, masa iya saya harus diam," balas Farel.
"Tapi kamu tidak sopan Farel. Sama saja kamu tidak sopan dengan orang tua kamu. Kalau kamu tidak sopan dengan guru," greget kepala sekolah.
Agrif melirik Farel, wajah cowok itu sudah santai, tidak seperti tadi, saat cowok itu menyeretnya keluar kelas.
"Ada lagi yang ingin ibu sampaikan?" tanya Farel sembari mengecek ponsel nya, rupanya yang mengirimkan nya pesan adalah Dyra, mengabarkan padanya jika Dyta sudah bangun, jadi Farel harus segera pergi dari sini, karna dia belum melihat kondisi Dyta sebelum dia ke sekolah menghajar cowok yang berada di samping nya. "Soalnya Farel buru-buru," lanjut nya lalu kembali memasukkan ponsel nya kedalam kantong celananya.
Kepala sekolah mengambil amplop berwarna putih dari laci, Farel dan Agrif sudah tahu, kemana arah pembicaraan kepala sekolah. Sudah pasti, mereka mendapatkan panggilan orang tua.
Kepala sekolah menyodorkan surat di depan Agrif dan Farel. "Ini surat panggilan untuk kalian berdua. Besok saya tunggu kedatangan kedua orang tua kalian. Jika tidak datang, ibu tidak akan mengizinkan kalian ikut belajar di sekolah ini."
__ADS_1
"Saya yatim piatu." Agrif mengambil surat itu lalu pergi.