Stay With Me

Stay With Me
Tidak gagal


__ADS_3

Zhar dan Hasya memutuskan untuk pulang, setelah melakukan fitting kebaya untuk pernikahan mereka.


Zhar melirik jam di pergelangan tangannya, baru menunjukkan pukul 2 sore, maka dia berinisiatif untuk membawa Hasya jalan-jalan lebih dulu.


"Semalam lo tidur sama siapa?" tanya Zhar tanpa melirik kearah Hasya yang menatap nya.


"Kamar nya kaka Tegar," jawab nya.


"Bertiga?" tanya Zhar lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Hasya.


"Apa lo tahu, yang lo lakuin itu salah," desis Zhar tertahan membuat Hasya menjadi bingung sendiri. Salah dari mana nya coba?


"Salah dari mana? Hasya sama kak Tegar sudara," jelas gadis itu.


"Tapi lo bareng Sahrul, emang Sahrul saudara lo?" tegas Zhar dan dibalas gelengan kepala oleh Hasya.


"Kita emang satu kamar, tapi kak Sahrul tidur nya di sofa, bukan diatas tempat tidur. Kalau tidur nya bertiga diatas tempat tidur, kak Tegar pasti bakalan marah, dan nggak rela juga," ucap nya dengan bangga, melarang keras semalam Sahrul yang ingin ikutan nimbrung dengan mereka diatas tempat tidur.


"Terus, Tegar meluk lo?" tanya Zhar sembari memicingkan mata nya, melirik Hasya dengan tatapan sengit yang ngeri untuk Hasya lihat.


"Iya.... 'Kan Hasya sama kak Tegar adik kakak. Semalam kak Tegar jadiin aku bantal guling. Jadi pas bangun, badan Hasya sakit-sakit karna kak Tegar berat banget," keluh nya sembari memanyunkan bibirnya lucu.


Zhar menghembuskan nafas berat, "lo harus ingat, kalau kita udah nikah. Nggak gue kasi lo izin buat tidur bareng lagi sama Tegar, Farel dan yang lain nya. Nggak gue kasi izin, yang berhak tidur sama lo nanti, cuman gue. Suami lo." Zhar menekan setiap perkataan nya dengan tegas, membuat Hasya melotot.


"Nggak boleh gitu, Hasya tetap mau tidur bareng sama kak Tegar sama Om Farel," tolak gadis itu dengan keras membuat Zhar berdesis kearah Hasya dengan halus.


"Gue suami lo nanti, jadi lo harus dengerin kata-kata gue. Ucapan dari gue buat lo adalah sebuah perintah, yang wajib lo patuhi," jelas Zhar lagi membuat Hasya ingin kembali membantah, namun langsung di potong oleh Zhar.


"Jangan ngebantah apa yang gue bilang, gue nggk suka." Zhar berkata dengan pelan, namun tidak mengurangi ketegasan nya dalam berbicara.


Akhirnya Hasya hanya bisa mengunci bibirnya, agar tidak kembali bersuara. Karna melihat Zhar yang dingin membuat nya jadi ciut, gadis itu hanya manyun saja, dia tidak menyangka cowok yang selama ini suka padanya, semenyebalkan ini.


Andai Hasya tahu, jika jodoh nya adalah Zhar. Mungkin jauh-jauh hari dia akan memberikan peringatan kepada Zhar, sebagai bentuk ancaman pada cowo itu, jika dia mencintai dirinya. Namun sekarang, Hasya tidak bisa melakukan hal itu.


"Kita langsung pulang?" tanya Hasya, setelah beberapa menit mereka hanya berdiam di dalam mobil.


"Nggak," jawab Zhar, dengan singkat, padat dan kurang jelas menurut Hasya.


"Terus kita mau kemana? Kita udah dari butik," jelas Hasya.


"Lo laper nggak?" Bukan nya menjawab pertanyaan Hasya, Zhar malah balik bertanya, apakah gadis itu lapar atau tidak.


Hasya memegang perut nya, lalu berkata, "dikit."


"Mau makan apa?" tanya Zhar lagi.

__ADS_1


"Makan bakso enak kali ya, Hasya pengen makan bakso," jawab gadis itu.


Zhar langsung mengangguk kecil, mencari warung bersih yang menjual bakso. Setelah beberapa menit mencari, akhrinya mobil Zhar singgah di depan warung yang tidak terlalu besar, namun dari luar nampak bersih, dari dalam juga lumayan bersih.


Mereka berdua turun, lalu masuk kedalam warung, untung saja pembeli di warung itu hanya ada dua orang, yang menatap Hasya dan Zhar penuh kagum, mereka menggunakan mobil mewah dan singgah di warung sekecil ini untuk makan.


"Bakso nya satu," kata Zhar kepada penjual tersebut, tanpa berdiri dari kursi yang ia duduki.


"Kak Zhar nggak makan?" tanya Hasya bingung, dan dibalas gelengan kepala oleh Zhar.


"Gue nggak lapar, lo aja yang makan. Gue bakalan tungguin," jelas Zhar.


"Kalau Hasya tahu, mendingan nggak usah singgah makan. Lagian, Hasya juga nggak laper-laper banget." Hasya pikir, Zhar lapar jadi menanyakan diri nya lapar atau tidak.


Zhar tidak menggubris ucapan Hasya, dia hanya fokus pada ponsel nya, membuat Hasya jadi kesal. Entah mengapa dia selalu cemberut jika Zhar tidak membalas ucapan nya, dan obrolan mereka berakhir.


Makanan pesanan Hasya datang, gadis itu langsung menuangkan saus, kecap, lalu tanganya bergerak mengambil cabe, namun langsung di tahan oleh Zhar.


"Jangan kebanyakan, biar gue yang ambilin," tutur cowok itu, lalu mengambil cabe untuk Hasya.


Hasya hanya membiarkan Zhar melakukan apa yang ingin dia lakukan.


Hasya mulai menyuapi bakso kedalam mulutnya, meski bakso ini tidak terlalu enak, tidak seperti bakso di sekolah nya, namun Hasya tidak enak hati jika menyisakan bakso itu.


Sementara Zhar hanya berusaha menahan tawanya, fokus pada ponsel nya, sementara Hasya menunduk menatap bakso di depan nya.


"Mau gue bantu habisin?"


Hasya mendongak menatap Zhar, lalu senyum terbit di wajah gadis itu, "mau," ucap nya antusias, lalu menyerahkan mangkuk berisi bakso di depan Zhar.


Zhar menggeleng, lalu mulai menghabiskan bakso gadis itu. Sejujurnya dia tidak terlalu menyukai makanan seperti ini, karna dia lebih suka makanan yang tersaji di restoran mewah, karna lidah nya sudah terbiasa akan hal itu.


Hasya memperhatikan Zhar memakan makanan nya, sembari bertopang dagu. Hasya akui, Zhar memang tampan dan berkharisma, namun mengapa waktu itu, dia selalu menolak Zhar. Mungkin karna dia tidak ingin berpacaran, di tambah lagi Zhar sangat memaksa diri nya untuk menjadi pacar, membuat Hasya takut sama Zhar, namun sekarang lain lagi cerita nya.


"Nggak minum?" tanya Hasya.


"Ada air minum di mobil," kata Zhar, lalu dia berdiri membayar bakso dan di ikuti oleh Hasya dari belakang.


Padahal Hasya ingin melihat Zhar lebih lama makan, namun cowok itu langsung mengakhiri makan nya secepat kilat.


Zhar dan Hasya kembali masuk kedalam mobil.


Zhar mulai meminum air mineral yang selalu dia sediakan di dalam mobil, lepas itu dia menyalakan mobil nya lalu berlalu pergi.


"Kita kemana lagi?" tanya Hasya sembari memainkan game onet kesayangan nya di HP.

__ADS_1


"Ke rumah mama, mama nungguin kita di sana," jawab Zhar dan dibalas anggukan kecil oleh Hasya, tanpa mengalihkan pandangannya dari game yang ia mainkan saat ini.


Zhar hanya tersenyum tipis, melihat Hasya dari ekor mata nya, nampak serius memainkan game onet.


***


Farel langsung mengantar Dyta pulang ke rumah gadis itu, setelah semalam dia menghabiskan waktu untuk menangis, termenung dan lain-lain.


Dyta turun dari motor milik Farel, menatap rumah besar di depan nya, dia yakin jika papa nya tidak bekerja hari ini.


"Mau masuk, atau gue ajak jalan dulu?" tanya Farel sehingga Dyta melirik cowok itu.


"Gue malas keluar jalan sama lo," balas Dyta tanpa minat, membuat Farel hanya tertawa kecil menanggapi gadis itu.


"Yaudah buruan masuk, gue mau pulang," celetuk Farel, "kalau butuh gue, tinggal ke rumah kak Nathan. Gue ada di sana," lanjut Farel.


Dyta tidak menggubris ucapan Farel, dia mulai melangkah masuk melewati gerbang rumah, namun pergelangan tangannya langsung di  cekal oleh Farel.


"Apa?" tanya Dyta malas, dia tidak suka adegan seperti ini jika dalam keadaan yang nggak baik, yang di ciptakan oleh Farel sendiri.


Farel tersenyum, lalu tangannya bergerak mengusap rambut keriting gadis itu dengan gemas.


"Jangan lupa, ucapan gue semalam. Gue masih nunggu jawaban dari lo," kata Farel santai membuat Dyta kembali mengingat momen semalam, dimna Farel mengutarakan isi hati nya dengan serius.


Farel kembali memakai helm fullfecnya, "nggak usah di pikirin, mau lo terima atau nolak gue. Tetap aja gue sama lo itu sahabat. Gue pulang dulu," pamit nya dengan senyuman mempesona, lalu pergi meninggalkan Dyta yang masih setia mematung.


Dyta memandang kepergian Farel semakin jauh, setelah cowok itu menghilang barulah Dyta melangkah masuk.


Gadis itu membuka gerbang, saat membuka gerbang dia langsung di suguhkan wajah milik sang papa, kantung mata nya menghitam seperti seseorang yang tidak tidur dari semalam. Dan Dyta tebak, jika papa nya semalam memang tidak tidur.


"Papa khawatir sama kamu," kata Elgara dengan suara rendah, melihat Dyta hanya tertunduk tidak ingin menatap wajah nya. "Papa akan pergi, papa nggak bisa di sini, jika melihat Dyta benci papa."


Deg...


Dyta langsung menatap Elgara, yang mengusap air mata nya dengan kasar, "maafin, papa."


Mata gadis itu berkaca-kaca, lalu dia memeluk tubuh Elgara dengan kuat, di ikuti dengan isakan tangis yang pedih.


"Dyta cuman benci dengan apa yang papa lakuin. Tapi Dyta nggak benci papa," isak nya dalam pelukan Elgara, karna apa yang ia katakan memang benar.


Elgara mengusap punggung anak nya, mencium rambut anak nya dengan isakan tangis tertahan. Dan kedua adiknya ikutan memeluk mereka, yang entah sejak kapan mereka ada di sini, dan ikutan nimbrung.


"Bagaimanapun, papa tetap papa yang baik, buat Aku, kak Dyta sama Revan," kata Dyra di selah pelukan nya, Dyta dan Revan mengangguk setuju dengan ucapan Dyra.


Yah, mereka berdua sudah tahu, masa lalu Elgara 13 tahun yang lalu, mereka juga sudah tahu, jika selama ini Elgara tidak keluar negeri, melainkan berasa di penjara selama itu.

__ADS_1


Mereka sudah tahu semuanya, semalam Elgara yang menceritakan semuanya, dengan Kayla yang berada di samping nya.


Kayla yang sedari tadi bersembunyi memperhatikan mereka, menjadi terharu, lalu dia mendekat dan ikutan memeluk suami dan anak-anak nya. Wanita itu bersyukur, setidaknya anak-anak nya masih bisa berpikir mengenai masalah ini, sehingga mereka tidak membenci papa mereka sendiri. Hal yang membuat Kayla harus bersyukur.


__ADS_2