
Dyta langsung menghempaskan tubuh nya diatas tempat tidur, setelah lebih satu jam keluarganya berkumpul, saling curhat satu sama lain, dan Elgara bercerita sembari menangis, mengapa saat itu dia nekad membunuh seorang Daniel karna rasa cemburu teramat dalam, hingga dia membabi buta memukul Daniel malam itu, dan akhirnya nyawa pria itu tidak bisa di tolong.
Gadis itu memejamkan matanya, menghembuskan nafas berat dengan memikirkan kelurga nya kedepan, dia yakin Agrif tidak akan tinggal diam. Bagaiamana caranya, agar dia bisa bicara dari hati ke hati kepada Agrif, mengenai hal ini.
"Agrif," gumam Dyta, menyebut nama sahabat nya dari relung hati nya yang paling dalam, dia ingin memeluk Agrif sembari berkata, lupakan masalah di masa lalu kedua orang tuanya.
Tok... Tok... Tok.
"Masuk!" Dyta langsung menyuruh seseorang yang mengetuk kamar nya untuk masuk, dia sudah tahu siapa yang mengetuk pintu kamar nya.
Dyra langsung masuk kedalam kamar Dyta, tidak lupa pula dia mengunci pintu Dyta, menghampiri saudara kembarnya tengah berbaring sembari memejamkan mata.
Dyra duduk di tepi ranjang milik Dyta, lalu gadis itu berkata, "entar malam kita kerumah sakit, Ta," kata Dyra membuat Dyta langsung membuka matanya. "Aldi udah sadar," lanjut nya membuat Dyta bangun dari tempat tidur nya, menyandarkan kepala nya di sandaran tempat tidur.
"Mau ngapain kerumah sakit, Ra?" tanya Dyta dengan suara pelan, "kita udah tahu jawaban nya, kita udah nggak butuh jawaban dari Aldi," jelas Dyta membuat Dyra langsung mencubit kaki kembaran nya dengan gemas.
"Gue mau jenguk Aldi, sekaligus gue mau putusin dia. Gue nggak mau punya pacar penjahat kayak dia." Dyra bergedik ngeri, jika mengingat pekerjaan Aldi sebagai lelaki bayaran orang kaya, untuk membunuh seseorang.
Dyta menatap malas kearah Dyra, "emang nya lo nggak takut deketan dengan Aldi? Masih berani?"
"Makanya gue ngajakin lo, Ta. Mana berani gue jenguk Aldi sendirian," gemas Dyra kepada kembarannya itu.
"Entar gue pikirin," kata Dyta.
"Harus jawab sekarang dong, Ta," tuntut Dyra dengan gemas lagi.
"Lo pikir dengan kejadian yang udah nimpah lo, mama sama papa kasi izin sesuka hati?" terang Dyta membuat Dyra nampak berpikir sejenak.
"Mendingan lo istirahat, badan lo udah nggak keurus kayak dulu. Gara-gara lo mikirin masalah ini. Dan sekarang kita udah tahu, jadi gue minta jadi Dyra yang kayak dulu." Dyta menatap adik nya dengan lekat, melihat badan adik nya yang sedikit kurus, membuat Dyta jadi ibah melihat adik nya, namun dia bersyukur mereka sudah tahu masalah di balik semua ini, dan Dyra tidak perlu takut lagi, karna mereka sudah tahu Agrif dalang dari semua ini, karna balas dendam di masa lalu.
"Gue mau kayak dulu, asal lo iyain permintaan gue, Ta. Gue mau ketemu Aldi. Gue mau lihat tuh cowok menderita, karna gue bakalan putusin dia. Karna gue tahu, dia bucin banget sama gue. Masalah ini, nggak akan gue maafin, meksipun dia di suruh sama Agrif." Mengingat nama Agrif, membuat Dyra mengepalkan tangannya, dia menyesal telah mengagumi cowok tampan berhati iblis itu.
Dyra masih tidak percaya, jika cowok yang ia kagumi adalah cowok yang ingin membunuh nya dengan saudara nya.
"Ok." Akhrinya Dyta hanya mengiyakan ucapan Dyra, karna jika dia menolak, maka dengan keras pula Dyra membujuk dirinya.
Dyra naik keatas tempat tidur Dyta, memeluk kembarannya dengan erat, "makasih, Ta. Gue sayang sama lo. Gue bersyukur punya kembaran kayak lo, Ta. I love you my twin."
Dyta membalas pelukan dari Dyra tak kalah eratnya, air mata nya menetes mendengar kata-kata manis kembarannya. Dia merasakan pelukan Dyra kali ini tak ingin dia lepaskan, dia ingin kembarannya itu tidak melepaskan pelukan nya.
"Cengeng banget sih," ejek Dyra masih setia berpelukan dengan Dyta, padahal air matanya juga menetes.
"Karna ucapan lo tadi, buat gue cengeng," balas Dyta membuat Dyra terkekeh sembari mencubit pipi Dyta dengan gemas.
"Lo cantik banget, Ta. Dan lo makin cantik, kalau rambut mie lo ini, lurus kayak rambut gue. Padahal, gue pengen banget rambut kita samaan juga, bukan cuman muka kita yang sama." Dyra melepaskan pelukan nya, sembari memainkan rambut milik Dyta.
"Kalau mau samaan, mendingan lo yang keritingin rambut lo," balas Dyta membuat Dyra tertawa.
"Nggak akan. Mau nya lo yang lurusin rambut. Mata Farel pasti sakit lihatin rambut mie lo ini," ejek Dyra, "gue aja sakit mata, apa lagi Farel," lanjut Dyra dengan tawa keras membuat Dyta melotot tidak terima, dengan gerakan cepat dia langsung menggelitik perut Dyra, membuat tawa gadis itu pecah.
"GELI!" teriak Dyra dengan tawa keras, bahkan tawa gadis itu menggelegar hingga keluar kamar.
__ADS_1
"DYTA, UDAH! PERUT GUE SAKIT!" teriak Dyra dengan tawa keras nya.
"Nggak akan, siapa suruh ejek gue!" balas Dyta tak ingin menghentikan aksi nya itu, Dyra makin tertawa keras.
"GUE NGOMONG FAKTA, HAHAHA.... DYTA UDAH!" Dyra berusaha menghindar, bahkan sprei kamar gadis itu sudah berantakan.
Sekuat apapun Dyra menghindar, dia tidak bisa lari dari tangan milik Dyta.
"MAMA, HAHAHA.... DYTA GELITIKIN DYRA SAMPAI PERUT DYRA KERAM, Ma!" lapor gadis itu dengan tawa. "PAPA TOLONGIN DYRA!"
Kayla yang mendengar teriakan Dyra hanya tersenyum, sembari menggelengkan kepalanya, biarkan saja gadis itu bermain berdua.
Kayla bernafas legah, karna dia kembali mendengar tawa milik Dyra, setelah beberapa hari ini murung. Ternyata hal ini membuat anaknya murung, namun Dyra sudah kembali ceria, bersama Dyta.
Ada kelegaan dalam hati Kayla, saat anak-anaknya sudah tahu rahasia besar yang mereka sembunyikan selama ini.
Kayla berlalu pergi dari depan pintu kamar Dyta, dia hanya ingin mengajak anaknya untuk makan siang, namun niatnya ia urungkan, karna dia mendengar kedua anaknya tampak sibuk dengan tawa lepas itu.
"CEMEN!" Dyta tertawa, melihat Dyra memegang perut nya dengan kuat, dengan sisa-sisa tawa nya itu, dia sudah menghentikan aksi nya itu.
Mereka berdua baring, dengan posisi kepala mereka berdua saling bersentuhan.
"Ta," panggil Dyra.
"Apa? Mau ngejek gue lagi?" terang Dyta membuat Dyra malah tertawa mendengar ucapan kembaran nya itu.
"Tapi jujur, Ta. Gue penasaran banget lihat rambut lo lurus kayak rambut gue," kata gadis itu dengan penasaran yang mendalam, "kalau rambut lo lurus, gue yakin orang-orang nggak akan bisa bedain kita. Pasti Kak Farel jadi bingung, Dyta mana dan Dyra mana," jelas gadis itu, karna sesungguhnya dia sangat penasaran dengan rambut Dyta jika lurus, namun gadis itu tidak ingin meluruskan rambutnya, membuat Dyta cemberut dengan keputusan Dyta.
"Gue nggak mau, jangan sampai kalau gue lurusin rambut, Farel malah nggak bisa bedain gue sama lo. Bisa-bisa Farel bakalan mikirin kalau lo itu gue. Dan gue nggak mau kalau Farel salah pilih," ejek balik Dyta membuat Dyra tertawa.
"Padahal gue udah punya rencana loh, kalau rambut lo lurus, gue bakalan nyamar jadi lo. Biar selalu di dekat kak Farel," jelas Dyra dengan tawa cekikikan membuat Dyta tersenyum tipis.
"Kalau lo mau, kenapa bukan lo aja yang samaan dengan rambut mie gue?" tanya Dyta membuat Dyra memanyunkan bibir nya lucu.
"Mendingan nggak usah, kalau gue mau ubah rambut gue kayak rambut mie milik lo," ucap Dyra membuat Dyta menggelengkan kepalanya.
Mereka berdua sama-sama diam, sembari menatap langit-langit kamar nya.
"Ta," panggil Dyra lagi, setelah beberapa menit mereka diam-diam, asik dengan pikiran mereka masing-masing.
"Kenapa?" tanya Dyta.
"Menurut lo, kak Raka tulus nggak sih cinta sama gue?" tanya Dyra tanpa mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamar Dyta yang polos, tidak seperti langit-langit kamar nya yang sangat ramai.
"Tumben lo tanyain soal Raka?" Kini Dyta melirik adik nya, Dyta bisa melihat Dyra tersenyum sembari menatap keatas.
Gadis itu tersenyum sembari mengingat momen semalam bersama Raka. Dimana cowok itu menyisir rambut nya, memakaikan dirinya liptint berwarna merah cheri yang sangat pas untuk dirinya.
Perlakuan Raka semalam, sukses membuat Dyra merasakan arti cinta yang selama ini dia anggap hanya candaan saja. Seperti dia ingin mempunyai satu cowok saja dan hanya fokus pada satu cowok, yaitu Raka.
Maka dari itu juga, Dyra sangat semangat untuk menemui Aldi, memutuskan cowok itu secara langsung, lalu dia mengatakan pada Raka, dia yakin jika cowok itu tahu, dia akan memutuskan Aldi, dia akan bahagia. Yah, Dyra yakin akan hal itu.
__ADS_1
"Ditanya malah senyum-senyum nggak jelas," ketus Dyta.
Dyra melirik kembarannya, dengan senyuman yang masih merekah di wajah cantik nya, "kalau gue lihat lo, gue serasa bercermin, Ta. Kita mirip banget ya, cuman beda rambut doang," kata Dyra membuat Dyta memutar bola matanya malas.
"Gue tahu, bedanya gue nggak tau make up, nggak rajin mandi, dan nggak ngerti fashion kayak lo," balas Dyta.
Dyra mengangguk membenarkan ucapan kembaran nya. "Kalau lo mau belajar make up sama yang lain, yang berbaur soal perempuan, lo tinggal ngomong sama gue. Entar gue temenin lo sama tante Valen. Dia udah pro soal ginian," kata Dyra dengan senyuman bangga, karna dia pandai make up karna belajar dari Valen, sahabat mama nya itu.
"Kita nggak bahas itu, tadi kita bahas soal Raka. Kenapa lo nanyain dia? Malah bilang, kalau Raka tulus cinta sama lo atau nggak," ucap Dyta.
Dyra kembali menatap langit-langit kamar. "Karna kayaknya, gue udah jatuh cinta sama kak Raka," jelas Dyra dengan senyuman kecil, "saat ini, gue jatuh cinta sama kak Raka sama kak Farel juga," canda Dyra membuat Dyta langsung mendelik kearah kembaran nya, sementara Dyra langsung tertawa.
"Kalau soal suka, gue tetap suka kak Farel sebagai cowok yang gue sukai sejak kita kecil," kata Dyra santai, "tapi versi dewasa ini, gue jatuh cinta sepenuhnya sama kak Raka. Meksipun dia belum bisa Singkirin kak Farel dalam hati gue sepenuhnya. Karna kak Farel begitu berharga buat gue, gue suka kak Farel karna kembaran gue suka sama dia," kata Dyra dengan tawa, "karna dia udah buat kembaran gue bahagaia, jadi gue harus suka sama kak Farel juga."
"Terserah lo aja, Ra." Dyta menggelengkan kepala nya.
"Tapi lo setuju, 'kan, kalau gue sama Raka?"
"Gue setuju-setuju aja. Karna Raka tulus cinta sama lo." Apa yang dikatakan Dyta memang benar, jika Raka tulus cinta pada kembaran nya, "gue lebih dukung lo sama Raka, ketimbang sama Aldi," lanjut Dyta membuat Dyra langsung memeluk kembaran nya dengan erat.
Dyra sangat suka, jika apa yang ia sukai di sukai oleh kembarannya juga.
"Gue nggak bisa nafas, Ra!" tegur Dyta, karna Dyta memeluk nya dengan sangat erat, membuat nya kesulitan untuk bernafas.
Dyra malah tertawa, entah mengapa mood nya menyuruhnya untuk selalu tertawa, mungkin karna pikirannya sudah sedikit legah membuat nya tertawa lepas dengan Dyta.
"Ini balasan dari lo. Siapa suruh gelitikin gue sampai mau nangis," balas Dyta semakin mengeratkan pelukan nya.
"Lepasin.... Ra... Lo... Mau... Buat gue... Nggak bernafas." Dyta berkata dengan tersenggal-senggal, karna pelukan dari kembaran nya.
Dyta langsung melepaskan nya, setelah merasa sudah cukup.
"I Love You My Twin." Dyra sengaja menekan kata-katanya, karna saat dia mengatakan hal ini, Dyta belum membalas ucapannya itu.
"Iya-iya, gue tahu," balas Dyta.
"Balasan nya mana?" Dyra memberenggut kesal, memanyunkan bibir nya karna Dyta tidak ada manis-manis nya sebagai kembaran.
"Love you to twin," balas Dyta dengan senyuman. Dia memeluk kembarannya dengan penuh kasih sayang. Lalu gadis itu melepaskan pelukanya, lalu berkata."Gue sayang banget sama lo, Ra. Lo adalah kembaran gue, yang harus bahagia. Nggak boleh mogok makan dan mogok segalanya kalau ada masalah," kata Dyta bijak, mengingat tingkah Dyta beberapa minggu ini.
"Gue mau minta maaf, Ta." Dyra berkata dengan pelan. Ada rasa penyesalan di nada suara gadis itu, "karna waktu itu, gue bentak lo, dan marah-marah sama lo." Mata Dyra memerah, mengingat hal itu membuat nya menjadi bersalah, karna sudah membentak Dyta, padahal dia juga tahu, saat itu Dyta tengah berusaha.
Dyta tersenyum hangat kearah adik nya, "nggak apa-apa. Lo berhak marah."
Dyra menggeleng, "seharusnya gue harus sabar kayak lo, tapi gue malah kebawa emosi. Tapi asal lo tahu, saat kejadian gue bentak lo di dalam kelas, gue nggak bisa tenang, gue selalu mikirin lo dan menyesal dengan apa yang gue lakuin. Dan saat itu juga, gue takut kalau lo nggak akan ngomong gue," jelas nya membuat Dyta malah tertawa.
Bisa-bisanya Dyta berpikir sampai kesana, padahal mereka adalah saudara kembar. Dyta sama sekali tidak memasukkan ke dalam hati.
"Kita sama-sama salah," kata Dyta, lalu kemudian kedua gadis itu tertawa tidak jelas, hanya saling bertatapan mereka kembali tertawa.
"Kita mirip banget."
__ADS_1