
Melihat Hana Yang sedang sakit seperti itu rasanya membuat hati Dean ikut sakit, Setelah di larikan ke rumah sakit Dan mendapatkan perawatan Yang intensive kini Hana telah dapat di pindahkan ke ruang inap. Yamato Dan Maito pun sudah berada di sana, mereka memberitahu kalau pihak polisi sedang mencari pelaku Yang telah melukai Hana. Selain itu pihak pemotretan di tunda sejenak akibat kesehatan Hana Yang tidak stabil.
" Malam ini kita pulang ke Tokyo sebaiknya perawatanmu di lanjutkan di sana, Presdir Agensi ingin melihat kondisimu juga. " Jelas Yamato Dan langsung di balas anggukan pelan oleh Hana
" Aku akan membereskan keperluanmu dan juga Dean, Pukul 7 nanti kita akan berangkat, Ayo Maito. " Ajak Yamato segera meninggalkan kamar Hana
Dean melirik Hana Yang terlihat lesuh kemudian menawarkan buah kepadanya untuk di maakan namun sayang Hana menggeleng menolak untuk makan, Setelah itu Dean kembali menjatuhkan tubuhnya di kursi sebelah tempat tidur Hana.
" Dean terima kasih karena telah menolongku, Aku tidak menyangka apa jadinya kalau kau tidak datang , Selama ini kau sudah sangat baik padaku sekali lagi ku ucapakan banyak terima kasih. " Ungkap Hana menatap Dean sendu
" Kau juga pernah memaafkanku waktu itu walaupun aku sudah sangat mengecewakanmu dan saat aku mendapat skandal pelecehan kau orang pertama yang membantuku mengatasi semuanya, Ku rasa kita impas. "
" Pasti wanita yang akan bersamamu nanti adalah wanita yang paling bahagia bisa mendapat seorang pria yang baik dan pengertian sepertimu. "
" Kau Terlalu berlebihan Hana, " Lontar Dean malu-malu.
" Aku serius, Seandainya Jun memiliki sifat sepertimu mungkin hubunganku dan dia tidak akan berakhir secepat ini. "
Dean hanya dapat terdiam tanpa berkomentar lebih, Dalam benaknya ia begitu ingin secepatnya menggantikan posisi Jun di sisi Hana namun melihat gadis itu yang masih dalam masa move on mengharuskan Dean untuk sedikit lebih bersabar.
\*
__ADS_1
Pria itu terlihat begitu serius menatap keluar jendela dengan pikiran yang menumpuk beberapa hari terakhir ini, Beberapa kali terdengar desahan panjang yang menandakan dirinya benar-benar tertekan saat ini. Suara knop pintu terbuka baru saja membuatnya menoleh dan mendapati seorang wanita cantik dengan wajah cemasnya.
" Rin? Ada apa kenapa tiba-tiba datang dengan wajah cemas seperti itu? " Jun mulai beranjak dan menghampiri Rin.
" Kita harus ke rumah sakit, Dean baru saja memberitahuku kalau Hana masuk rumah sakit. "
Kedua mata Jun langsung terbelalak kaget mendengarnya, Tanpa basa-basi lagi pria itu segera menuju rumah sakit bersama Rin, Di lobby dirinya sempat bertemu dengan Katakura dan Jun pun berpesan untuk mengurus pekerjaan yang di tinggalnya selama ia pergi, Katakura yang tidak mengerti kenapa Jun berlari seperti itu hanya dapat pasrah dan segera menuju ruangan Jun.
Jun yang telah berada di dalam mobil bersama Rin langsung menancap gas secepat yang ia bisa, Mendengar kabar Hana sedang sakit tampaknya membuat Jun lupa apa yang telah terjadi kemarin. Rin sendiri hanya dapat mencengkram erat sabuk pengaman dengan perasaan was-was.
Setibanya di rumah sakit, Jun segera menuju kamar Hana yang telah di beri tahu oleh Rin sebelumnya, Kamar 201 menjadi kamar Hana di rawat setelah sebelumnya di pindahkan dari rumah sakit di Osaka, Jun yang telah berdiri di depan pintu kamar Hana segera membuka knop pintu, langkahnya tiba-tiba terhenti saat pintu sudah terbuka sedikit.
Dari jendela pintu yang berukuran kecil Jun dapat melihat Hana dan Dean sedang tertawa bahagia entah apa yang mereka perbuat sampai Hana tertawa terbahak-bahak seperti itu, Dengan desahan berat Jun kembali menutup pintu dan berbalik meninggalkan ruangan tersebut.
" Ku rasa dia tidak membutuhkanku, Di dalam dia tampak bahagia bersama Dean. " Lanjutnya kembali melangkah pergi
Rin mengintip sebentar sebelum ia mengejar Jun, Dari apa yang di lihat Rin barusan membuatnya paham kenapa Jun mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Hana.
Di dalam sana Hana yang telah melihat video anak-anak panti merasa cukup legah sebab dari video tersebut mereka membuat ucapan selamat kepada Hana atas kesuksesannya saat itu, Dean yang berhasil membuat video itu merasa lelah akhirnya Hana kembali tersenyum kembali.
" Aku legah karena melihat video mereka, Terima kasih Dean. " Ucap Hana merasa sangat puas
__ADS_1
" Sama-sama Hana. " Jawabnya ikut puas
\*
Jun menjatuhkan seluruh barang-barang yang ada di lemari bukunya dengan geram, Kemudian ia membanting apapun yang ada di hadapannya, emosi Jun saat ini benar-benar tidak stabil sehingga membuat tangannya terluka setelah melayangkan tinjuan pada sebuah cermin.
" Akhhhhhhh.... " Teriak Jun yang dapat di dengar oleh Rin dan Miyu yang berada di ruang tamu.
Miyu dan Rin hanya dapat melirik pintu kamar Jun dengan perasaan yang cemas, untuk pertama kalinya Rin mendengar Jun marah sampai menghancurkan barang-barang, sementara itu Miyu meminta Rin untuk pulang dan berjanji akan menangani masalah Jun setelah pria itu merasa cukup legah.
" Aku permisi dulu Miyu san. " Ujar Rin segera pergi meninggalkan kediaman pria itu
Miyu mencoba untuk menuju kamar Jun, Setibanya di depan pintu ia pun mencoba untuk mendengar apakah Jun masih melempar barang atau tidak setelah di dengarnya tak ada suara akhirnya wanita itu langsung membuka pintu tanpa permisi.
" Juuun.…" Panggil Miyu hati-hati
Jun tak merespon saat Miyu memasuki kamarnya sehingga membuat wanita itu memberanikan diri mendekati Jun yang tengah duduk di bibir tempat tidur, Seisi kamar menjadi berantakan dengan beberapa pecahan yang berserakan dimana-mana, Tangan Jun yang terluka tampak mengeluarkan darah segar dan di biarkan bercucuran begitu saja.
" Dasar anak bodoh, kau bisa kena infeksi jika di biarkan seperti ini. " Miyu dengan gesit meraih kotak obat yang berada di nakas dan dengan cepat mengobati luka Jun.
" Miyu, Apa sebaiknya aku menerima pertunangan itu. ?" Ucap Jun dengan tatapan sayu
__ADS_1
" Aku tidak bisa berkomentar soal itu, Ikuti saja kata hatimu, Jangan hanya karena berita yang simpang siur tentang Hana membuatmu sampai mengambil tindakan yang salah. Aku percaya Hana adalah anak yang baik dan jujur, Kau seharusnya memberikan dia kesempatan bukan melarikan diri seperti ini. " Balas Miyu tampak membuat Jun semakin merunduk sedih.
Air mata mulai keluar dari pelipisnya membuat bulir bening mendarat di pipinya suara sesegukan akibat beban yang selama ini di pendam keluar, Setelah Miyu berhasil mengobati luka di tangannya, ia pun mencoba untuk mengusap pundak sepupunya itu agar merasa lebih tenang.