
Masih di belakang Gala, gadis itu semakin mengeratkan pegangan tangannya. Gala sampai melirik ke arah Yara karena cengkeraman tangannya begitu erat. "Sudah ku bilang jangan takut."
"Tapi Om ... "
"Shhtt!"
Yara hanya bisa pasrah akan keadaan. Ia terus berjalan mengikuti Gala dari belakang. Jantung Yara semakin berdetak dengan kencang. Apalagi gambar wajah Ibu Gala semakin terngiang di benaknya dan itu semakin membuat dirinya gentar.
"Apa Oma Kinan di rumah?" tanya Yara lirih.
"Jangan memanggilnya Oma. Kau harus membiasakan diri memanggilnya dengan sebutan Mama."
Mama? Aku harus memanggil nenek lampir itu dengan sebutan Mama? Yang benar saja! Ini lebih mengerikan dari pada bertemu kuyang!
"Sudah pulang?" tutur seseorang.
Yara menatap sumber suara itu. Siapa perempuan cantik ini?
"Di mana yang lain?" tanya Gala.
"Mama lagi berbelanja bersama Amoera, kalau Leon lagi di kantor. Papa ... "
"Tidak usah di lanjutkan," menyela ucapan wanita itu.
"Yara perkenalkan ini adik iparku, Chiren. Dan Chiren, ini Yara, istriku."
"Halo Yara. Senang bertemu denganmu. Maaf tidak bisa hadir di pernikahan kalian karena kondisiku yang masih kurang baik."
"Iya tidak apa-apa," ucap Yara.
"Chiren, bagaimana kondisi kandunganmu?" tanya Gala.
"Sudah mulai membaik. Kata dokter aku harus banyak istirahat karena kondisi kandunganku lemah."
Yara menyimak. Oh jadi dia hamil. Tapi kok perutnya nggak buncit ya?
"Jangan terlalu memaksakan dirimu. Jika Leon menyakitimu, kau harus lapor padaku!"
"Makasih Kak Gala."
Gala dan Yara berlalu meninggalkan Chiren.
"Om, sudah berapa bulan usia kehamilannya?" tanya Yara berbisik.
__ADS_1
"Entahlah. Mungkin memasuki bulan kedua."
"Oh begitu. Pantas saja perutnya belum menjulang."
Gala menghentikan langkahnya saat mereka telah tiba di depan pintu kamar yang terletak di lantai tiga. Yara dengan reflek menyambar punggung berotot milik Gala yang super keras.
"Aduhh!" pekiknya.
"Ini kamarku dan kamarmu juga."
"Waduh, kenapa kita sekamar? Ahh nggak mau! Aku mau tidur di kamar yang lain saja. Di lantai dua 'kan ada kamar aku waktu aku kecil. Aku mau tidur di sana."
"Silahkan kalau begitu. Jangan salahkan aku jika kau akan sering bertemu dengan Mama!"
Yara melotot. "Tidak! Tidak mau!" menggeleng kepalanya dengan cepat.
"Makanya menurut saja."
Kamar yang di tempati Yara saat ia masih kecil terletak di lantai dua. Yang di mana kamarnya hampir berdekatan dengan kamar Kinan, ibu Gala. Yara sangat takut bertemu Kinan. Jelas saja karena Kinan selalu mengintimidasinya. Apalagi sambil membawa-bawa perkara kematian orangtuanya.
Walaupun Gala selalu membelanya di depan Kinan, namun tetap saja ucapan pedas Kinan selalu menusuk hatinya. Apalagi saat itu Yara masih kecil dan terlalu lemah untuk melawan. Ia terlalu cengeng dan selalu mengadukan pada Gala perilaku Kinan saat Gala tidak di rumah. Oleh sebab itu Gala dengan secepatnya langsung mengirim Yara ke luar negeri agar Yara tidak tertekan oleh tingkah Kinan.
***
Di tempat lain dua orang wanita tampak sedang berbincang sambil menenggak jus. Wanita-wanita sosialita dengan tampilan elit, siapa lagi kalau bukan Kinan dan Amoera.
"Peftttt!!" menyemburkan jus yang di minumnya. "What?! Ngapain kau ke sana?!"
"Aku penasaran sekali sama calon istrinya Gala. Secantik apa sih dirinya sampai-sampai Gala tertarik untuk menikahinya?! Aku rasa cantikan aku deh! Benar 'kan Tante?"
"Sudah jangan ditanyakan lagi. Kecantikanmu memang tiada duanya. Tak ada yang bisa mengalahkan kecantikanmu di dunia ini. Sudah cantik, kaya raya, cerdas, baik hati pokoknya satu kata buat kamu, sempurna!"
Amoera terkekeh. Ia mengatur rambutnya yang tidak berantakan. Ia memang sangat cantik dan berkelas. Orangtua Amoera adalah pemilik perusahaan fasion nomor satu di ibu kota. Selain berprofesi sebagai CEO, ia juga bekerja sebagai model utama perusahannya.
"Amoera, meski Gala telah menikah, tapi Tante tidak akan pernah merestuinya. Kau tetap menantu idaman Tante. Iwwww amit-amit punya menantu yang di dalam darahnya telah mengalir virus mematikan! Tidak menutup kemungkinan ya, bisa saja orangtua gadis itu telah menularkan virus itu padanya sebelum mereka meninggal!"
"Yang benar saja Tante?! Ihhh nggak banget deh. Pokoknya kita harus melakukan cara agar Gala pisah sama gadis itu!" ketus Amoera dengan napas memburu.
"Kau benar! Kita akan usik dia biar dia tahu rasa! Tapi selama ada Gala, kita tidak bisa berbuat apa-apa."
"Iya juga. Tapi asal Tante tahu, si gadis itu juga mulutnya pedas banget. Sepedas cabe pokoknya! Aku saja dibuatnya kalah telak saat berdebat. Tapi aku sendiri sih yang mengalah! Secara mana mungkin wanita berkelas sepertiku berdebat dengan wanita rendahan seperti dia!" menyombongkan diri.
"Benarkah? Tapi waktu dia tinggal di rumah Tante, dia itu sangat cengeng loh. Dikit-dikit mengadu sama Gala. Makanya Tante nggak bebas menindasnya."
__ADS_1
"Mungkin saja dia sudah berubah saat bersekolah di luar negeri. Tapi, aku yakin kalau kita berdua bersatu, si gadis tengil itu tidak akan berkutik!" menghasut Kinan.
"Tante setuju. Kalau begitu ayo kita pulang. Tante dengar jika mereka akan kembali ke mansion hari ini."
Manik Amoera langsung mengeluarkan binar. Ia tersenyum semringah saat mengetahui jika Gala telah kembali ke mansion. "Tunggulah gadis sialan! Aku akan balas dendam karena kau sudah mempermalukan diriku saat di pesta!"
***
Selama beberapa jam di mansion, Yara terlelap di ranjang besar milik Gala. Bukan Yara namanya jika ia tidak mengantuk saat melihat tempat tidur. Ia adalah tipe gadis yang tidak boleh melihat bantal dan kasur. Bisa dikatakan jika Yara adalah kepala suku dari seluruh manusia kaum rebahan.
Gadis itu terlelap dari siang hari. Dan sekarang langit mulai berganti warna menjadi gelap. Matahari mulai bersembunyi di ufuk barat sehingga meningglkan bekas di cakrawala. Masih dalam posisi rebahannya yang terlentang, tampak seseorang memasuki kamar itu.
"Sudah lama sekali dia tertidur. Aku jadi penasaran, apa dia benar-benar tidur atau dia sudah meninggal?!" gumam Gala sembari berkacak pinggang.
"Huayemmmm!" ketus Yara tiba-tiba, mengagetkan Gala yang tengah memandangnya.
"Ehem!" Gala berdehem. Ia pura-pura berjalan menuju ruang sebelah yang merupakan ruang kerjanya saat lembur.
"Om Gala," lirih Yara masih dengan mata setengah terpejam.
"Bangunlah. Saatnya makan malam."
"Wahh sudah malam ya," menggaruk lehernya yang tampak bentol. "Sepertinya aku di gigit nyamuk! Gatal sekali!"
"Jangan mengigou kamu. Mana mungkin di kamar ini ada nyamuknya."
Yara masih menggaruk lehernya. Ia dengan malas turun dari atas ranjang dan berjalan menuju ke arah Gala yang telah berdiri di perbatasan pintu kamar dan ruangan kerjanya.
"Coba deh Om Lihat. Ada bentolnya 'kan? Aku tidak bohong. Kamar ini ada nyamuknya!"
Suhu tubuh Gala tiba-tiba memanas. Bagaimana tidak, Yara dengan polosnya mendekatkan lehernya dan menarik paksa tengkuk leher Gala supaya pria itu melihat lehernya yang bengkak akibat gigitan nyamuk.
Masih dalam keadaan setengah sadar, Yara menarik ke bawa baju yang ia kenakan, sehingga sedikit menampilkan belahan dadanya. "Om Gala lihat 'kan?!"
"Ehm!" Gala menelan salivanya kasar. Lehernya masih di tarik oleh Yara menggunakan tangan kiri gadis itu. sedangkan tangan kanannya menarik bajunya. "Sudah hentikan!" mendorong tubuh Yara.
"Aduh kasar sekali. Apa Om Gala masih tidak percaya?"
Bukan masalah percaya atau tidak percaya! Tapi tingkahmu yang polos hampir membuat kesabaranku menipis dan ingin menerkammu! "Apa kau berusaha menggodaku?!"
Deg!
Yara tersadar. Kesadarannya pun kembali normal. "Apa? Menggoda Om? Mana mungkin? Aku hanya memastikannya saja karena Om tidak percaya perkataanku."
__ADS_1
To be continued ...
Dukungan like, komen dan vote dari kalian akan sangat membantu Author 🥰🤗