Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 42 : Hadiah Untuk Kinan


__ADS_3

Matahari telah merambat sehingga tepat berada di atas kepala. Kala itu cuaca tampak cerah dan bersahabat membuat kendaraan roda dua dan roda empat sangat padat di jalanan. Tak hanya itu, kendaraan lebih dari roda empat pun terlihat lalu lalang, melaksanakan tugas dan rutinitas mereka masing-masing.


Bahkan pejalan kaki pun tampak ramai berjalan di trotoar seraya membawa alat pelindung badan agar terhindar dari terik matahari yang serasa membakar kulit. Seorang wanita tengah memperhatikan keramaian dan kepadatan kota. Wanita itu tak lain adalah Yara. Ia menatap jendela kaca mobil dan memperhatikan sekitarnya.


"Suamiku, cuacanya sangat indah," tutur Yara.


"Ya, seindah hatiku," tersenyum kecil sembari memegang tangan Yara.


Shanks yang mendengar gombalan Gala tampak menahan tawanya. Ia merasa lucu karena baru kali itu ia mendengar seorang Gala Zayn Rodderick mulai gombal terhadap wanita. Bagi Shanks itu sangat menggelitik telinganya. Hampir saja ia tak kuasa menahan tawa. Untung saja Shanks mengatupkan mulutnya dengan rapat.


"Istriku, hari ini adalah ulang tahun Mama."


"Ohya? Apa di mansion akan digelar acara?"


"Ya. Para tamu penting akan hadir di sana."


"Kalau begitu ayo kita belikan hadiah untuk Mama," ajak Yara.


"Iya. Maafkan Mama ya, karena selalu menyinggung perasaanmu."


Yara terdiam. Ia kembali mengingat perdebatannya dengan Kinan kemarin hari. Jujur, di dalam hati wanita itu masih tidak terima dengan perlakuan Kinan. Namun kata maaf yang diwakilkan Gala, cukup membuat hati Yara tersentuh. Dengan penuh iklas Yara pun mengangguk dan tersenyum menatap suaminya.


"Baiklah. Shanks, sebelum ke mansion, kita singgah dulu di mall."


"Baik, Tuan," ujar Shanks.


"Hmm, sebaiknya kita belikan hadiah apa ya untuk Mama?" tanya Gala.


"Aku juga bingung. Sepertinya, semua yang Mama butuhkan dan inginkan sudah ada padanya."


"Kau benar. Mama adalah wanita royal kalau soal fasion. Tapi justru itu yang membuat Mama tidak puas dengan semua yang ada padanya."


"Kalau begitu kita belikan saja perhiasan edisi terbatas untuk Mama. Memang sih harganya pasti tidak murah," memanyunkan bibirnya.


"Benar juga. Mama pasti senang dengan perhiasan mahal. Apalagi kalau perhiasan itu edisi terbatas. Tapi bukannya itu harus di pesan dulu ya?" tanya Gala.


"Benar, Suamiku. Tapi ayo kita coba cari di mall saja. Setahuku di sana ada toko perhiasan bergengsi yang selalu dikunjungi wanita-wanita kelas atas."


"Baik. Kita ke sana sekarang."


Selang beberapa menit, mereka tiba di pusat perbelanjaan terbesar di ibukota. Tempat itu masih termasuk wilayah kekuasaan keluarga Rodderick. Pasalnya, saham mereka merupakan yang terbesar dari semuanya.


Yara mengantar Gala di lantai paling atas gedung itu. Lantai paling atas merupakan toko para sultan. Hanya orang-orang kaya raya yang bisa mendapat akses masuk di lantai terakhir itu. Mereka juga memiliki kartu kecil berwarna emas sebagai akses masuk saat menaiki lift.


Selain itu, kartu itu juga berfungsi sebagai tanda pengenal. Saat tiba di lantai terakhir, para pengawal akan meminta setiap pengunjung menunjukkan kartu emas itu.


"Aku tidak punya gold card. Sepuluh tahun yang lalu sempat punya. Itu pun milik Ayah dan Bunda. Tapi semenjak mereka meninggal, kartu itu tak bisa di akses lagi."


"Sebentar," meraih dompetnya dan mengeluarkan kartu berwarna emas, "Maksudmu yang ini?"


"Hmm," mengangguk.


"Pakailah ini. Aku tidak pernah menggunakannya."

__ADS_1


Yara meraih kartu itu. Sejanak ia berpikir.


"Aku tidak membutuhkan kartu itu karena aku memiliki kebebasan masuk keluar dari lantai terakhir gedung ini," ucap Gala sedikit menyombongkan diri.


Yara tiba-tiba menjentikkan jarinya. "Ahhh! Kenapa aku baru kepikiran! Aku 'kan punya suami crazy rich! Aku jadi tidak membutuhkan kartu ini lagi," tersenyum lebar.


Gala yang mendengar pujian Yara hanya bisa membalas senyuman istrinya dengan tipis.


Ketiga orang itu menaiki lift. Setibanya mereka di sana seorang pengawal bertubuh kekar tidak lagi meminta mereka menunjukkan akses berupa kartu, tetapi langsung membiarkan mereka masuk ke dalam. Beberapa pengawal dan pelayan toko berbaris, menyambut kedatangan keluarga Rodderick.


"Selamat datang Tuan dan Nona."


Gala dan Yara memasuki toko berlian. Sedangkan Shanks menunggu mereka di luar toko.


"Suatu kehormatan bagi kami, karena Tuan Gala telah mengunjungi toko berlian kami."


"Trima kasih," tutur Gala datar.


"Kami mencari best jewelry di toko ini," ucap Yara.


"Ada Nona. Kami memiliiki tiga model. Nona bisa pilih," menunjuk ketiga kotak kaca yang dikhususkan.


"Suamiku, kira-kira mana yang bagus?"


"Aku tidak tahu. Semuanya bagus."


"Iya. Semuanya tampak cantik dan indah." Manik Yara mulai mengeluarkan binar.


"Ya sangat suka!" ucap Yara reflek. "Tapi, bagaimana kalau Mama tidak berkenan dengan pilihanku?"


"Tidak usah khawatir. Mama adalah orang yang maniak akan harta apalagi perhiasan. Mama tidak akan sanggup menolak perhiasan mahal."


"Bukan hanya Mama. Semua wanita pun, aku rasa demikian," kilah Yara.


"Kau benar."


"Ini harganya berapa?" menunjuk sebuah kalung yang dipenuhi berlian kecil.


"Yang ini harganya empat belas miliar, Nona."


Deg!


Yara tertegun. Maniknya membesar. "E--empat belas miliar?" ulanginya masih dengan ekspresi yang tidak percaya.


"Benar, Nona. Perhiasan ini hanya ada dua di dunia. Perancangnya pun adalah orang ternama di dunia fasion, Franch Wilson."


"Oh begitu ya. Lalu, kalau yang ini?" menunjuk kalung berlian yang tampak polos dari sebelumnya.


"Ini harganya tiga puluh miliar, Nona."


"WHATT?!" melonjak bagai orang kesurupan. Yara tak bisa menahan jiwa udiknya. Secara baru kali itu ia mendengar harga kalung yang bahkan bisa membeli pulau sekali pun.


Gala yang melihat tingkah istrinya, terkekeh pelan.

__ADS_1


"Ke--kenapa ini lebih mahal dari yang tadi? Bukankah ini terlihat lebih polos dan sederhana?"


"Ini semua di lapisi dengan berlian murni, Nona. Meski terlihat polos, namun terdapat berlian murni yang tak bisa di lihat dengan mata. Nona bisa pastikan lewat kaca pembesar ini," memberikan sebuah alat.


"Tidak usah. Saya percaya!"


"Suamiku, sepertinya kita kembali saja. Aku tidak sanggup mendengar harga kalung yang terkahir."


Gala kembali terkekeh. "Istriku, tidak apa-apa. Aku bisa membayarnya," ucapnya santai.


"Aku tahu kau kaya raya! Ta--tapi, uangnya boleh kita pergunakan di hal yang lebih berguna. Seperti menyumbangkannya pada orang yang tidak mampu."


"Aku juga banyak memberi bagi orang yang berkekurangan. Mungkin karena aku selalu membagi berkat maka Tuhan tidak menutup mata padaku. Aku selalu diberikan rejeki yang bahkan lebih dari cukup. Jadi kau tidak usah khawatir."


Yara hanya bisa mengangguk paham.


"Tolong bungkus ketiganya!" perintah Gala.


"Baik, Tuan."


Yara masih belum tersadar. Tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas.


"Tuan, totalnya sembilan puluh empat miliar."


Gala memberikan black card-nya.


Wanita itu menerima alat pembayaran Gala sedangkan karyawan yang satunya mengemas barang sekaligus mencatat sesuatu.


Selang beberapa menit, karyawan wanita itu memberikan tiga paper bag yang di dalamnya berisi kotak-kotak perhiasan. Mereka juga memberikan dua kartu. Yang satu adalah alat pembayaran milik Gala, sedangkan yang satu lagi adalah kartu resmi sebagai tanda pelanggan vvip toko berlian bergengsi itu.


"Istriku, ayo kita pulang. Sedikit lagi acara ulang tahun Mama akan di mulai."


"Baik. Kita hadiahkan yang lain saja. Perhiasan berlian itu sangat mahal harganya. Bagai membeli jet pribadi saja!" gerutu Yara masih lemas.


Gala merangkul pundak Yara. Mereka pun keluar dari toko itu. Gala memberikan ketiga paper bag pada Shanks. Yara yang melihat tiga tas besar itu terperanjat bukan kepalang.


"Suamiku ... "


"Iya?" sahut Gala lembut.


"A--apa itu?"


"Apa kau tidak melihat tadi?"


"Melihat apa?"


Gala mengerutkan dahi. "Aku membeli ketiga perhiasan itu."


Deg!


To be continued ...


Tetap dukung Author dengan cara: vote, like dan komen. Makasih semua 🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2