
Kejadian beberapa detik lalu membuat tubuh Yara masih memanas. Ia menatap lekat wajahnya di cermin yang mengeluarkan rona merah. Gadis itu mengebas tangannya di depan wajah agar suhu panas yang menggerogoti wajahnnya menghilang. Namun usaha Yara sama dengan menjaring angin, alias sia-sia. Semakin memikirkannya ia semakin panas dan merasa ingin meledak.
“Tidak! Kau tidak boleh memikirkannya. Itu hanyalah sebuah kecelakaan. Om Gala pasti tidak sengaja mencium bibirku!” gumam Yara sembari mengusap bibirnya.
Peristiwa langka itu terus berputar-putar melintasi benaknya. Yara berusaha bersikap tenang dan fokus agar ia melupakan ciuman pertamanya yang dicuri Gala. Debaran jantung gadis itu pun menjadi tak karuan. Ada rasa malu, gugup, benci dan paling parah yang ia rasakan adalah syok.
Yara mengelus lembut dadanya secara berulang-ulang, menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Yara mengerjapkan matanya dan hal yang paling pertama ia lihat di depan cermin adalah bibir Gala dan postur tubuh lelaki itu.
“Ahhh!” mengacak rambutnya. “Pergi! Pergi dari pandanganku!” celutuk Yara tampak frustasi.
Sementara Yara merontah di toilet, tampak Gala berusaha menenangkan hati dan pikirannya lewat mengatur napasnya. Ia duduk di kursi direktur sembari menghadap jendela kaca besar yang memperlihatkan kota metropolitan. Jujur saja, Gala tidak dapat menyembunyikan rasa gugupnya, karena hal yang ia lakukan tadi merupakan hal yang baru pertama kali ia praktikan selama tiga puluh delapan tahun hidup di bumi.
“Aishh! Memalukan! Apa yang aku lakukan? Kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku!” gerutu Gala, kesal dengan dirinya.
Selang lima belas menit, Yara belum saja kembali. Gala mulai khawatir dengan gadis itu. Ia pun segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju toilet yang terletak di ruangan itu. Seketika Gala melupakan hal memalukan yang ia lakukan.
Tok tok tok …
“Jawablah jika kau masih di dalam,” tutur Gala.
Tidak ada jawaban apa pun dari dalam sana.
“Hey, kau mendengarku?”
Masih hening.
“Jika kau tidak membukanya, maka aku akan mendobrak pin—”
Ceklekkk!
“Santai saja. Aku di sini, jangan merusak pintunya,” tutur Yara dingin.
Giliran Gala yang salah tingkah.
Yara berjalan melewati tubuh tegap Gala. Ia tidak berani menatap wajah suaminya karena pastilah peristiwa itu akan kembali menghantuinya. Yara mendudukkan tubuhnya di sofa, ia meraih remot TV dan menyalakan benda segi empat yang berada di depannya.
Siaran yang pertama kali muncul dalam televisi adalah adegan berciuman panas. Yara membelalakkan matanya dan menelan saliva dengan kasar. Sial sial sial!! Kenapa yang muncul adegan tak senonoh seperti ini! Apa Oma hobi menonton drama Korea?
__ADS_1
Yara langsung mematikan televisi. Ia perlahan melirik ke arah Gala, dengan harapan Gala tidak menonton adegan tadi.
Degg!
Sebuah kejutan kembali membuat jantung Yara hampir keluar dari tempatnya. Ia menatap wajah Gala yang ternyata sedang memandanginya dari kejauhan. Tatatan keduanya bertemu sehingga menimbulkan rasa canggung untuk Yara. Sedangkan Gala masih menatap wajahnya dengan tatapan tanpa dosa.
“Soal yang tadi, ak—"
“Tidak usah dilanjutkan. Aku mengerti. Om Gala pasti tidak sengaja. Itu adalah sebuah kecelakaan, jadi aku akan melupakannya,” ketus Yara yang langsung memotong ucapan Gala.
“Siapa bilang aku tidak sengaja?”
Yara terdiam. Seketika ia membesarkan maniknya. “Ma—maksud Om?”
“Ya! Aku memang sengaja menciummu!”
“What?!” melotot. “Apa alasan Om menciumku?”
“Karena kau adalah milikku!”
Degg!
“Tuan, Nona, mobilnya sudah siap,” ucap Shanks, mencairkan suasana.
“Baiklah, Shanks,” jawab Yara dengan lantang dan langsung berlalu meninggalkan ruangan itu.
Shanks mengerutkan keningnya. Apa yang terjadi di sini?
“Di mana lokasi rapat direksi?” tanya Gala.
“Di perusahaan Nona Amoera.”
Perusahaan yang di pimpin keluarga Hunberg adalah perusahaan kecantikan dan fasion terbaik di ibu kota, dan yang menjadi CEO adalah Nona Amoera Hunberg, putri satu-satunya keluarga Hunberg. Bahkan Sugar Group berada di posisi kedua terbesar setelah Blackfire. Hal ini yang menyebabkan orangtua Gala menjodohkan Gala dengan Amoera, namun sama sekali di tentang oleh Gala.
Gala tidak ingin terlibat dengan pernikahan politik yang menguntungkan keluarganya namun merugikan dirinya sendiri. Selain ia tidak ingin menikah politik, Gala juga sudah terlanjur terikat janji dengan sahabatnya. Sebagai lelaki yang menjunjung tinggi martabatnya, ia tetap akan memenuhi janji itu. Ketika Gala sudah mengikrarkan janji, maka ia telah siap dengan berbagai konsekuensi yang akan ia hadapinya.
***
__ADS_1
“Mari kita menunggu lima menit lagi,” menatap jam tangan yang melingkar di lengannya.
Semua orang yang ada di ruangan itu berjumlah lima orang. Mereka merupakan pemimpin-pemimpin dari perusahaan besar di ibu kota yang bekerja sama dengan Blackfire Company. Rapat direksi kali ini bertujuan untuk memperkenalkan produk baru yang dikeluarkan oleh perusahaan Sugar. Peluncuran produk ini mengeluarkan biaya yang sangat besar sehingga harus dibicarakan dengan serius dengan petinggi-petinggi perusahaan lain yang bekerja sama dengan Sugar Group.
Saat ketiga orang memasuki ruangan rapat, semua orang yang ada di sana berdiri dan menunduk. Wajah Amoera pun berseri saat kehadiran Gala, namun saat melihat Yara yang berada di belakang Gala membuat wajah Amoera berubah menjadi masam.
Gala menarik kursi untuk Yara tempati, sedangkan Shanks mengambil posisi bersama dengan para asisten lain yang duduk sedikit menjauh dari meja rapat.
“Baiklah, karena semua sudah terkumpul maka kita akan mulai rapat kita,” tutur Amoera.
Layar LCD sudah menyala, CEO Sugar Group mulai mempresentasikan hasil kinerjanya. Cara Amoera menyampaikan presentasi begitu baik dan jelas. Mulai dari penuturannya yang fasih, gaya tubuhnya dan penekanan dalam menyampaikan setiap topik bahasan. Yara yang melihat itu tiba-tiba mulai minder, namun ia berusaha menetralkan gerak-gerik tubuhnya agar tidak mencolok.
Semua orang yang mendengar penjelasan Amoera mengangguk sembari menarik sudat bibir mereka. Respon yang diberikan para petinggi perusaahan membuat Amoera lebih percaya diri. Sebenarnya motivasi terbesarnya adalah untuk memamerkan keterampilannya sebagai seorang CEO perusahaan, terlebih khusus menyombongkan diri pada Yara.
Gala mengangkat tangannya, sehingga membuat Amoera menjeda ucapannya.
“Cukup.”
Amoera pun mematikan layar LCD menggunakan remot control.
“Saya kita semuanya sudah jelas. Produk baru ini sangat menarik,” tutur Gala.
“Trima kasih Tuan Gala.”
“Ya. Saya rasa produk kecantikan yang dikeluarkan oleh Sugar akan menggemparkan para peminat kosmetik, terlebih para wanita penggila produk kecantikan,” ucap seorang pria paruh baya.
“Trima kasih Tuan Adam,” tersenyum semringah.
“Saya akan mendukung peluncuran produk ini. Berapa pun biayanya, saya tidak akan sungkan untuk mengeluarkannya. Produk ini akan sangat menguntungkan kita,” terkekeh.
“Tidak dapat diragukan lagi, potensi yang Anda miliki sangat luar biasa untuk usia Anda yang masih tergolong muda. Setiap produk kecantikan yang dikeluarkan Sugar pasti akan menjadi trending topik. Saya sangat menantikan berita bagus mengenai produk ini.”
“Trima kasih atas pujian dari kalian,” menunduk kepala. Amoera memandangi Yara yang sedari tadi bungkam. Ia pun mulai berpikiran licik. Sekarang giliranku untuk mempermalukanmu, gadis rendahan! “Ohya, bagaimana menurut Anda, Nona Yara?”
Deg!
Sudahku duga! Wanita montok ini pasti berpikiran licik untuk menjatuhkanku!
__ADS_1
To be continued ...
Tinggalkan jejak kalian dengan Like, Komen dan Vote. Makasih semuaa 🥰🤗