Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 22 : Istriku!


__ADS_3

Setelah menyerahkan penghargaan, tiba saatnya untuk mengambil gambar. Beberapa wartawan telah mengambil posisi mereka untuk meliput berita. Yara tersenyum sangat manis saat menatap kamera. Secara diam-diam Gala melirik istrinya dengan lekukan di sudut bibirnya. Ia mengagumi paras cantik Yara dan juga keberanian Yara.


“Dia persis Elyora. Bukan hanya wajahnya saja yang hampir mirip, tapi sifatnya juga meniru Elyora. Tapi bedanya Elyora kalem. Kalau bocah itu sedikit lebih keras kepala dari Elyora.” Gumam Gala.


“Tuan kekurangan dua hal lagi,” timpal Shanks yang duduk di sebelahnya.


Gala mengernyitkan dahi. “Apa itu? Aku pikir aku tidak salah memprediksikannya.”


“Galak dan Somplak.”


Gala berpikir sejenak. Ia mengangguk kepala perlahan sembari menayangkan dalam ingatannya dua perilaku Yara yang Shanks sebutkan tadi. “Benar juga,” menyetujui ucapan Mark.


Sesi foto masih berlangsung. Betapa senangnya hati Yara saat Andro berdiri tegap di sampingnya. Yara mencuri pandang menatap wajah Andro, ia sedikit mendongakkan kepalanya menatap raut Andro karena tinggi badan Andro melebihi dirinya. Sementara Yara sedang terkagum-kagum melirik Andro, sepasang mata dengan sorot membunuh telah terarah ke wajah Yara.


Gala memasang kembali raut garangnya dan bergumam dalam hati. Apa istimewanya lelaki itu sampai dia menatapnya dengan tatapan centil seperti itu! Gala membuang pandangnya. “Shanks!”


“Iya Tuan?” sahut Shanks.


“Jawab dengan jujur.”


“Apanya Tuan?”


“Menurutmu, bagaimana penampilanku?”


Pria itu sedikit terkejut dengan pertanyaan tuannya. Untuk pertama kalinya Shanks mendengar pertanyaan yang lumayan tidak berfaedah dari Gala. Karena menurut Shanks, tidak perlu dijelasakan lagi, semua orang telah tahu bagaimana penampilan seorang Gala Zayn Rodderick. Bahkan bayi baru lahir dan baru melihat bumi pun akan berpikir hal yang sama dengan penampilan Gala. Sempurna!


“Shanks?! Apa kau tidak mendengarku?” tanya Gala dingin dengan sorot mata tajam menatap Shanks yang tampak membisu.


“Aku mendengarnya, Tuan. Tapi kenapa Tuan bertanya seperti itu?”


“Aku hanya butuh jawabanmu. Bukan pertanyaan konyolmu!”


“Eh, iya … maafkan aku. Penampilan Tuan sangat sempurna!”


“Secara mendetail!” desak Gala sedikit menekankan kalimat.


“Ehm, Tuan sangat tampan,” sedikit kaku menjelaskan. “Bola mata Tuan sangat indah seperti kristal, alis yang rimbun namun terlihat tegas, hidung mancung, bibir tipis yang seksi, memiliki postur tubuh indah impian semua lelaki dengan otot tangan dan otot dada yang luar biasa. Pasti semua wanita yang melihat Tuan akan meneteskan liur ...”


“Hentikan! Kau terlalu berlebihan. Aku jijik mendengar pujian dari lelaki!” ketus Gala tampak kesal, namun jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia sangat puas sehingga menyunggingkan bibirnya.


“Baik Tuan,” menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. “Padahalkan aku hanya disuruh untuk menjawab pertanyaannya,” gumam Shanks pelan.


Gala kembali menyorot Yara dengan tatapan sadis. Sesi foto telah usai. Mereka pun turun dari atas panggung dan akan kembali ke tempat duduk masing-masing. Saat Yara hendak kembali, ia tak sengaja melempar pandangnya pada dua orang pria yang duduk di bagian paling belakang hampir dekat pintu. Kedua orang itu sangat menonjol karena hanya mereka yang tampak tua dari yang lain. Pasalnya semua yang menghadiri acara itu adalah mahasiswa mahasiswi yang masih muda mudi.

__ADS_1


“Om Gala!” gumam Yara syok. Reflek ia mengangkat tangannya dan menutup bibirnya yang menganga lebar.


Pandangan keduanya beradu. Seperti ada arus listrik yang terhubung antara bola mata Gala dan bola mata Yara. Segera Yara membuang pandangannya ke lain arah sembari berdehem, menetralkan rautnya. Ia kembali ke tempat duduk dengan kondisi hati yang tak tenang.


Acara terakhir adalah ucapan terima kasih dari salah seorang mahasiswa mewakili sekian banyak yang telah hadir. Selang lima menit, kegiatan di yayasan itu pun selesai. Orang-orang mulai bubar. Gala dan Shanks masih duduk manis di posisi mereka. Sedangkan Yara, Jessica dan Andro sedang berbincang dengan Ibu Vivi. Yara menghindar dari Gala dengan cara mengajak Ibu Vivi selaku kepala yayasan untuk bercakap dengannya.


“Bu Vivi, bagaimana kalau kita bicara di kantormu saja. Ada banyak sekali yang ingin saya tanyakan pada Anda. Karena saya masih baru, jadi saya ingin mengetahui lebih dalam lagi mengenai yayasan yang bekerja sama dengan perusahaan saya,” ujar Yara.


“Suatu kehormatan bisa berbincang dengan direktur utama Lincoln Group. Baik, mari kita ke ruangan saya,” ajak Vivi tersenyum.


“Permisi sebentar,” tahan Jessica.


Yara dan wanita paruh baya itu menghentikan langkah mereka dan menatap Jessica dengan heran.


“Nona, sepertinya Tuan Gala menunggu Anda,” tutur Jessica.


Deg!


Yara membuang napasnya berat. Ia masih tidak berani menatap Gala yang dengan beringas memandanginya bagai hewan yang akan menerkam mangsanya.


“Nona Yara, kalau begitu nanti saja kita berbincangnya,” ucap Ibu Vivi.


“Ta—tapi ..”


“Nona, Tuan Gala menunggu Nona dari tadi. Sebaiknya Nona tunda dulu kegiatan Nona,” tambah Andro.


“Pria itu pasti akan memarahiku!” gumam Yara mendengus kesal.


Tatapan Gala semakin dingin. Raut Gala begitu mengerikan. Tak hanya kaki yang disilangkan Gala, tangannya pun ikut disilangkan sehingga posisi duduk Gala terlihat kalem namun mematikan.


“Kenapa Om datang kemari?” tanya Yara dengan wajah kesal.


Gala beranjak dari duduknya. Ia tak menggubris pertanyaan Yara dan memalingkan wajahnya menatap Jessica dengan tajam sehingga membuat Jessica menelan liurnya dengan kasar. Pandangan itu kembali dilemparkannya pada seorang pria yang berdiri di belakang Yara.


“Bukankah sudahku perintahkan jika hanya kau saja yang akan menghadiri kegiatan ini?” sinis Gala.


“Maafkan saya, Tuan,” menunduk kepala.


“Saya juga min—” Jessica menghentikan ucapannya saat tangan Gala terangkat memberi isyarat kepada wanita itu untuk tidak bersuara.


“Aku hanya ingin berbicara dengan wakil direktur.”


“Sekali lagi maafkan saya Tuan. Saya siap menerima konsekuensi dari Anda,” menunduk kepala lagi.

__ADS_1


Yara tertegun. Ia pun tak berani bersuara lagi. Melihat ekspresi Gala bagai hewan buas yang siap menerkam, Yara pun menahan mulutnya untuk mengeluarkan suara. Namun di dalam hatinya ia merutuki Gala. Kenapa Om Gala jadi salahin Andro?! ‘Kan aku yang salah karena tidak mendengar perintah darinya! Dasar pria tua arogan!


“Apa Anda bisa meninggalkan kami?” tanya Gala pada Vivi yang terpaku membisu sedari tadi karena kehadiran Gala yang begitu mengintimidasi.


“Ba-baik, Tuan,” bergegas meninggalkan ruangan.


Kini hanya tersisa mereka di sana. situasi semakin mencekam. Tak ada yang berani mendongakkan kepala menatap Gala. Semuanya menunduk dan menciut bagai tikus got yang disiram air.


“Istriku?”


Deg!


Yara terperanjat bukan kepalang. Ia dengan ragu mendongak, menatap wajah Gala. Bibirnya masih mengatup rapat.


“Istriku?” panggil Gala lagi dengan nada yang sedikit ditekan.


“Iya,” lirih Yara masih menunduk. Di mana nyalimu, Yara! Kenapa kau tidak berani melawan pria tua itu! Ishh, menyebalkan. Kalau saja tidak ada Andro, pasti aku tidak akan tinggal diam seperti ini!


Gala langsung menarik tubuh kecil istrinya sehingga Yara langsung berada di samping Gala dengan posisi tangan merangkul Pundak Yara. Gadis itu kembali terkejut.


“Apa kau tidak lelah, Istriku? Aku melarangmu bukan karena tidak ingin kau terlibat dengan kegiatan perusahaan. Aku hanya tidak ingin kau kelelahan saja,” ucap Gala menyeringai seraya menatap wajah Yara dengan penuh arti.


Tentu saja semua orang yang ada di situ terperanjat hebat. Tak hanya Yara, bahkan Shanks, Andro dan Jessica, melebarkan manik mereka. Tak dapat disangka presiden yang begitu dingin, cuek dan garang ternyata memiliki sifat manis dan romantis pada istrinya.


Om Gala kesurupan setan apalagi? Aktingnya sangat bagus membuat semua orang terkejut! Duhh, jantungku kenapa lagi sih!! Batin Yara, merontah.


“Ayo kita pulang, Istriku. Kau tampak sangat lelah,” tersenyum lebar.


Deg!


Ada yang salah dengan jantung gadis yang ada di sebelah Gala. Detakkan itu semakin kencang dan membuat Yara ingin menghilang dari sana. ucapan Gala begitu manis dan lembut.


Gala kemudian melempar tatapan sinis ke arah Jessica. “Kau akan dihukum karena tidak mendengarkan perintahku!”


Deg!


Ancaman dari Gala mampu membuat tubuh Jessica lemas tak bertenaga. Ia hanya bisa menunduk tak berani menatap raut Gala.


“Om, aku yang salah! Kenapa Jessica yang akan dihukum?” tanya Yara mulai tak tahan.


“Aku juga akan menghukummu, Istriku. Tapi hukumannya sedikit berbeda dengan hukuman yang akan kuberikan pada Jessica,” menarik sudut bibirnya.


Hukuman apa yang dimaksudnya?

__ADS_1


To be contiunued ..


Tinggalkan jejak kalian yaa gaess. Makasih semua 🥰🤗


__ADS_2