Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 48 : Rencana Penyatuan


__ADS_3

Setelah membersihkan tubuh dan mengenakan pakaian, Yara menuju ruangan kerja Gala. Ia mendapati jika pria itu sedang mengerjakan tugas kantor yang tampak menumpuk. Padahal baru kemarin hari Gala meninggalkan pekerjaannya karena mengadakan kejutan romantis untuk Yara, dan malam itu, tugas kantornya telah membumbung.


“Suamiku …”


Gala memandangi Yara. “Wah, Istriku sudah wangi,” godanya tersenyum kecil.


Yara mendekat ke meja kerja Gala. “Apa pekerjaanmu masih banyak?”


“Lumayan.”


“Oh baiklah.”


“Ada apa? Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu,” terka Gala.


“Iya. Tapi nanti saja. Kau tampaknya masih sibuk.”


Gala menarik pergelangan tangan Yara dan tiba-tiba mendudukkan tubuh Istrinya di pangkuannya. Yara terperanjat dan kembali salah tingkah. Ia tersenyum malu dengan rona pipi yang mulai memerah. “Su--suamiku!”


“Apa yang hendak kau katakan, Sayang?” tanya Gala dengan nada bicara yang pelan dan halus.


“Ehm itu … soal … “ tutur Yara gugup.


Gala menarik maju tubuh Yara sehingga jarak keduanya hanya tinggal beberapa senti saja. Gala mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Yara. Tatapannya begitu dalam.


“Aduh, Suamiku, aku tidak bisa fokus bicara jika kau seperti ini. Aku gugup tahu!” celetuk Yara blak-blakan.


“Haha,” terkekeh. “Gugup? Kenapa kau gugup?”


“Bagaimana tidak, kau memelukku begitu erat. Di tambah lagi… ” melirik posisi tubuhnya yang berada di atas paha Gala.


“Hmm, aku nyaman seperti ini. Jangan pedulikan tingkahku. Cepat beritahu aku apa yang ingin kau sampaikan.”


Yara memanyunkan bibirnya. Gala yang melihat wajah imut Yara, membuat ia gemas dan mencolek hidung mancung istrinya. “Jangan menggodaku.”


“Tidak.”


“Ayo ceritakan.”


“Suamiku, apa aku boleh bertanya padamu?”


“Tentu saja boleh.”


“Apa kau sudah tahu salah satu wanita simpanan Papa Zian?”

__ADS_1


“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini?” mengerutkan dahi.


“Jawab saja,” pinta Yara.


“Ya. Aku tahu. Tapi aku tidak mau mencari tahu lebih dalam lagi siapa ketiga wanita itu. Kehadiran mereka cukup menambah beban pikiranku. Maka aku memutuskan untuk tidak menggali lebih dalam lagi identitas mereka.”


“Jadi kau sudah tahu jika wanita simpanan Papa Zian yang seumuran denganku adalah seorang selebriti papan atas?”


“Ya,” mengangguk.


Yara terbelalak. “La—lalu kenapa kau tidak memperingati mereka untuk menjauhi Papa Zian?”


Gala tersenyum kecut. “Meskipun aku memperingati mereka, kau pikir Papa hanya akan membiarkannya begitu saja. Istriku, kau belum tahu bagaimana sifat asli Papa. Selama hal itu membuatnya senang dan untung, maka dia tetap akan melakukan hal itu. Sekali pun itu adalah perbuatan cela dan hina.”


“Tapi … apakah tidak ada cara untuk membuat keluarga ini akur?”


“Entahlah. Aku sudah mencoba segala cara. Tapi nihil. Malah aku hanya lebih tersakiti dengan tindakanku.”


Yara memegang pipi Gala. “Kasihan sekali, Suamiku,” merasa iba.


“Jangan mengasihaniku. Aku ‘kan sudah punya kamu. Istriku yang paling aku cintai dan sayangi. Kau adalah bahagiaku, Yara. Melihatmu selalu berada di sisiku, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku senang.”


“Ah, Suamiku!” memegang pipinya yang kembali mengeluarkan rona merah.


“Tidak. Masih banyak lagi yang ingin aku katakan padamu.”


“Baik. Sekarang lanjutkan.”


“Apa kau tahu juga kalau si Anya ini adalah pacar wakil direktur Lincoln Group?”


“Maksudmu pria itu? Ehm, siapa namanya? Lupa aku.”


“Andro. Namanya Andro. Aku baru tahu dari Jessica, saat aku meneleponnya. Dan kau tahu, Suamiku, malam ini Papa Zian akan pergi ke Kanada bersama gadis yang bernama Anya!”


Raut Gala tampak biasa saja. Tak ada respon lebih darinya. Jelas saja karena ia sudah tidak peduli dengan apa yang dilakukan Zian dan selingkuhan-selingkuhannya.


“Kenapa kau tidak terkejut?”


“Untuk apa? Aku sudah terbiasa mendengar hal begini. Biarkan saja dia. Aku sudah muak dengan perilakunya. Lagi pula, Mama juga tidak peduli. Malahan jika Papa tidak pulang berhari-hari bahkan berminggu-minggu, Mama sangat senang. Karena dia bebas pergi bersama berondong-berondongnya.”


“What? Betapa mirisnya keluarga ini! Lalu, kalau Papa ada di rumah, apa Mama tidak bebas bepergian?”


Gala mengangguk. “Walau mereka tidak akur, tapi Mama cukup dengar-dengaran pada perintah Papa. Mama juga tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri, dengan menyiapkan segala keperluan Papa, mulai dari pakaian yang akan dikenakan dan mengontrol asupan gizi Papa.”

__ADS_1


“Ohya? Kalau begitu masih ada harapan untuk mereka akur dan harmonis.”


“Caranya?”


“Suamiku, apa kewajiban yang kau bilang tadi, termasuk dengan … “ menjeda ucapannya. Ia sedikit ragu meneruskannya.


“Termasuk apa?”


“Itu loh … seperti suami istri pada umumnya.”


Galam mengernyit. “Aku tidak mengerti, Istriku.”


“Aduh susah juga ya bicara sama lelaki tua yang tidak tahu menahu dengan hubungan-hubungan suami istri,” ketus Yara, seolah dirinya juga paham dengan hal-hal intim.


“Aku semakin tidak paham, Istriku.”


“Maksudku itu, apakah Mama Kinan dan Papa Zian masih berhubungan intim?”


Gala bergidik. “Ma—mana kutahu. Kau pikir aku selalu menanyakan hal ini pada mereka?”


“Bukan begitu juga kali. Tapi kalau mereka bisa seranjang lagi, maka besar kemungkinan mereka bisa akur dan saling mencintai lagi.”


“Aku rasa ini akan sulit. Sejak menikah mereka sudah pisah ranjang. Mungkin hanya seranjang saat membuatku dan Leon saja. Selebihnya, mungkin tidak.”


“Kita harus berpikir positif, Suamiku. Aku akan membantumu untuk mempersatukan keluarga ini,” ketus Yara penuh semangat membara.


“Dengan cara apa?”


“Pertama-tama kita harus menyingkirkan para pelakor dan pebinor! Bagaimana pun caranya kita harus memisahkan wanita-wanita simpanan Papa dan berondong-berondong simpanan Mama. Setelah rencana ini berhasil, kita akan pikirkan cara untuk menyatukan mereka lagi.”


Melihat Yara yang begitu antusias mempersatukan keluarganya yang tercerai berai, Gala pun tersenyum berniat untuk membantu usaha istrinya. Meskipun baginya itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, namun apa salahnya mencoba dan tetap berpikir optimis seperti wanita yang sedang duduk di pangkuannya.


“Baiklah. Aku akan membantumu.”


“Asalkan kita bersama, aku yakin rencana ini akan berhasil. Kita harus menyiapkan mental dan batin kita. Apa pun yang akan terjadi nantinya, kita tidak boleh menyerah! Dan aku berjanji akan selalu menemanimu dalam keadaan susah dan senang serta bersumpah untuk mempersatukan kembali keluarga Rodderick! Ini nazarku!”


Gala mengangguk pelan. Ia kemudian mencium kening Yara. Setelah itu beralih ke pipi dan turun ke bibir wanita itu. Gala semakin lincah memainkan lidahnya dan menyusup ke dalam mulut Yara, sampai gadis itu tak bisa bernapas.


“Apa kita lanjutkan saja pergulatan kita yang tertunda tadi siang?” tersenyum nakal.


Yara mengangguk pelan dengan malu-malu. Ia tak bisa menolak permintaan Gala karena ia juga ingin merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Meski itu akan sakit, namun ia percaya ucapan Shanks melalui Gala, jika pertama kali ia memang akan merasakan sakit saat Leher Jerapah Gala menerobos masuk.


To be continued ...

__ADS_1


Berikan dukungan kalian untuk Author 🤗🥰


__ADS_2