
“Sayang, jangan berlari nanti jatuh,” ucap Janetha.
“Mommy, aku ke sana sebentar ya, mau lihat layangan,” ijin Leonard, menunjuk berbagai layangan yang beterbangan di udara.
“Di sini saja. ‘Kan bisa dilihat dari sini,” ujar Leon.
“Tapi tidak jelas, Daddy. Aku mau melihat lebih dekat lagi. Itu ada layangan kura-kura ninja!”
“Baiklah, tapi jangan laria-larian,” tutur Leon.
“Okey Daddy.”
Janetha dan Leon mengawasi anak itu dari kejauhan. Sampai ketika mereka melihat Leonard telah berlari mengejar layangan dan terjatuh di tanah. Segera keduanya berlari menuju anak itu. Namun sebelum mereka tiba, seorang perempuan yang tak lain adalah Yara, telah lebih dulu membantu anak kecil itu berdiri.
Leon belum menyadari jika wanita itu adalah istri kakaknya. Ia masih berlari bersama Janetha dan tiba di tempat kejadian.
“Om Leon?” gumamnya lirih.
“Sayang, apa kau terluka?” tanya Janetha.
“Tidak,” kembali berlari mengejar layangan.
“Leonard, tunggu Mommy!” teriak Janetha. “Terima kasih sudah menolong anakku,” ucapnya pada Yara.
Sedangkan ekspresi Yara masih termangu memandangi pria yang tak lain adalah Leon.
“Om Leon, sedang apa di sini?” tanya Yara.
Leon terperanjat bukan kepalang. Maniknya membesar.
“Ya—yara,” lirihnya terbata.
“Kalian saling mengenal?” tanya Janetha.
“Om Leon adik ip—”
“Ya. Kami saling kenal,” memotong kalimat Yara. “Kau duluan saja menyusul Leonard. Aku mau bicara sebentar dengannya,” menunjuk Yara dengan ujung mata.
Janetha mengangguk dan bergegas menyusul anaknya. Sementara Yara masih dibuat bingung oleh kedua orang itu. Ia mengingat jika anak kecil tadi sempat mengatakan jika anak itu datang bersama kedua orangtuanya. Yara mengerutkan kening menatap Leon.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Leon sinis.
“Aku datang bersama Oma. Ya apalagi kalau bukan piknik,” memutar bola matanya. “Lalu, Om sendiri sedang apa di tempat ini? Bukankah ini jam kantor?”
Lelaki itu terlihat linglung. Ia masih mencari alasan yang logis untuk mengelabuhi Yara. Namun ia terlalu panik, sehingga ia tidak bisa berpikir jernih. Yara menatapnya dengan sorot mata yang mengintimidasi. Hal itu lebih membuat Leon gugup.
“Om, apa kau … “
__ADS_1
“Aku juga piknik di sini!” timpal Leon, memotong ucapan Yara.
“Piknik? Bersama anak kecil tadi dan wanita tadi?”
“Ehm … i—iya. Mereka kenalanku yang baru datang dari luar negeri. Jadi aku menemani mereka untuk berkeliling di tempat seperti ini, sebelum mereka kembali.”
“Benarkah? Apa Chiren tahu soal ini?”
Keringat dingin menyucur deras di belakang punggung Leon. Dahinya juga telah meneteskan peluh yang tiada hentinya. “Chiren tahu,” ucapnya, berbohong.
“Daddy, aku mendapatkan layangannya!” ketus Leonard berlari ke arah Leon.
“Daddy?” lirih Yara. Ia melemparkan pandangannya kepada anak kecil yang ia tolong tadi. “Anak ini memanggil Om Leon, Da—daddy?”
“Daddy, kau lihat ini! Sangat keren bukan?” memamerkan layangan kura-kura ninja yang ukurannya hampir sama besar dengan tubuhnya.
Leon menjadi kikuk. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Jantungnya berdegup sangat kencang.
“Om Leon? Ini maksudnya apa?” tanya Yara semakin bingung.
“Janetha, tolong bawah anak ini pergi dari sini,” pinta Leon.
Wanita itu sedikit bingung. Ia pun membawa Leonard menjauh dari Leon dan Yara.
“Aku berteman baik dengan wanita itu. Dia memiliki anak namun tidak memiliki suami. Anak itu memanggilku Daddy, padahal aku bukan ayah kandungnya. Aku hanya merasa iba saja melihat anak itu. Dia masih kecil dan sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah.”
“Baiklah. Boleh aku tahu siapa nama wanita dan anak itu?”
Leon ragu. “Ehm … “
“Aku hanya ingin tahu saja.”
“Wanita itu bernama Janetha dan anak kecil itu bernama Leonard.”
“Oh baiklah. Selamat melanjutkan aktivitasmu,” ucap Yara sembari berjalan meninggalkan Leon.
“Tolong jangan beritahu Chiren.”
Yara menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. “Kenapa?”
“Kau tahu ‘kan jika Chiren lagi hamil. Aku tidak ingin membuatnya khawatir dan berpikiran yang tidak-tidak tentangku. Jadi rahasiakanlah ini padanya.”
Yara mengangguk dan kembali berjalan meninggalkan Leon. Dalam benaknya, ia merasa ada yang mencurigakan dengan lelaki itu. “Aku harus memberitahu suamiku! Chiren maafkan aku, untuk sementara aku akan merahasiakan ini padamu. Tapi aku janji, setelah aku mengumpulkan bukti yang kuat, aku akan memberitahumu sifat asli Leon, supaya pria itu tidak dapat mengelak lagi. Tunggulah Chiren!”
“Yara, bukankah pria itu adalah adik Gala?” tanya Amber.
“Iya, Oma.”
__ADS_1
“Lalu, siapa wanita dan anak kecil itu?”
“Ehm, anu Oma … itu temannya Om Leon.”
Oma Amber mengangguk. Mereka melanjutkan piknik mereka. Namun hati Yara menjadi gelisah dan tak tenang lantaran memikirkan Leon dan wanita beranak satu itu. Saat hari mulai sore, Yara dan Oma Amber mulai berbenah dan beranjak dari sana. Yara melihat sekitarnya, tapi sosok Leon tak ditemukannya.
“Yara ada apa?”
“Tidak, Oma. Ayo kita pergi.”
Yara dan Oma Amber menuju mobil yang terparkir di tepi jalan. Sopir pun sudah menunggu kedatangan mereka dan membukakan pintu untuk majikannya. Mobil melaju meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan Yara terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Selang hampir satu jam perjalanan mereka lantaran macet, mereka pun tiba di kediaman keluarga Lincoln. Sambil menunggu Gala datang menjemputnya, ia merebahkan diri di kamarnya yang terletak di lantai dua. Saking pusingnya memikirkan masalah Leon, ia akhirnya terlelap.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Yara masih terlelap di ranjang. Seorang pria berbahu lebar masuk ke dalam kamar Yara dan memberikan kecupan untuk wanita itu. Gala memandangi wajah istrinya cukup lama dan mendaratkan kecupan mesra berulang-ulang di bibir, pipi dan kening Yara.
“Suamiku … “ lirih Yara.
“Kenapa sudah bangun? Ayo tidur lagi,” tutur Gala.
Yara menggeleng dan segera menarik lengan Gala sehingga tubuh pria itu langsung terbaring di sampingnya. Yara memeluk erat tubuh Gala dan seperti biasanya, ia mengincar sesuatu yang sangat disukainya.
“Sayang, geli … “ rontah Gala bak cacing kepanasan.
Yara semakin menggesek wajahnya di ketiak Gala dan mendengus wangi ketiak Gala. “Ahhh, uhhhh …. Asekkk!”
Melihat tingkah kocak istrinya, ia pun merasa gemas dan memeluk tubuh Yara dengan erat. Nafas wanita itu sampai terengah-engah.
“Suamiku … aku … tidak bisa ber—bernapas!” desis Yara.
Gala melonggarkan eratannya dan mencium bibir Yara. “Sayang, minta jatah ya,” bisiknya dengan suara berat dan seksi. Dengan senang hati Yara mengangguk dan mulai melepas kancing kemeja Gala. Dan akhirnya mereka kembali melakukan rutinitas panas.
Setelah dua jam melakukan ritual panas, keduanya terbaring di ranjang dengan keringat hebat yang membanjiri mereka. Napas Gala memburu karena sangat puas bermain dengan istrinya. Sedangkan Yara hampir tak bisa bernapas lantaran permainan Gala yang semakin meningkat dari sebelumnya.
Yara sampai meminta ampun dan berteriak dengan gila saat Gala mempercepat hentakan. Apalagi saat tiba di puncak kenikmatan. Tubuh Yara bergetar hebat bagai terkena sengatan petir. Ia sangat menikmati peperangan panas dengan suaminya. Baru kali itu ia serasa hampir mati dibuat Gala saat bercinta.
“Istriku, apa kau baik-baik saja?” bisik Gala.
Yara mengangguk pelan. Bahkan suaranya tak dapat dikeluarkan lagi lantaran sangat kelelahan. Gala mengelus puncak kepala Yara dan membenamkan istrinya dalam pelukan hangat tubuhnya. Yara merasakan kenyamanan yang luar biasa saat berada di sisi Gala.
“Aku sangat mencintaimu, Istriku,” mengecup kening Yara.
Yara menutup matanya sembari melekukan bibir.
Aku juga mencintaimu, Suamiku. Batin Yara.
To be continued ...
__ADS_1
Berikan dukungan kalian untuk Author 🤗🥰