
Kalimat terakhir Yara membuat Gala segera meraih gawainya dari saku celana dan melihat isi ponselnya. Puluhan panggilan tak terjawab membanjiri layar depan ponselnya. Beberapa di antaranya, nomor-nomor tidak di kenal dan beberapa lagi nomor dari rekan bisnisnya.
"Shanks buka semua akun sosial mediaku!" menyodorkan ponselnya.
"Baik Tuan," menerima gawai dari tangan Gala.
Gala adalah tipe pria yang tidak suka bergaul dengan dunia maya. Semua akun sosial medianya dibuat oleh Shanks, itupun Gala tidak pernah menggunakannya. Hanya Shanks yang menjalankan akun Gala tapi hanya untuk kepentingan bisnis saja. Shanks seperti sudah menjadi admin dari semua sosal media yang beratasnamakan Gala Zayn Rodderick.
"Ini, Tuan."
Gala mengambil kembali ponselnya. Namun keningnya mengerut karena ia tidak tahu cara menggunakan aplikasi berlogo ungu kekuningan itu. "Selanjutnya apa?"
"Om tidak tahu menggunakan Instagram?" tanya Yara sedikit terkejut.
"Tidak tahu."
Yara melebarkan maniknya. "Sini biar aku ajarkan," meraih ponsel Gala.
Langkah demi langkah telah Yara jelaskan. Cukup dengan satu kali arahan, Gala sudah mengetahui dasar-dasarnya. Gala pun segera membuka berandanya dan mendapati semua postingan yang menampilkan wajahnya dengan memegang softex daun sirih yang ia beli untuk istrinya.
"Ghostt!" terkejut. Wajah Gala langsung berubah jadi masam. Seketika ia membayangkan kejadian kemarin hari yang menyebabkan wajahnya viral di semua akun sosial media. "Sama sekali tak terlintas dalam benakku jika wanita itu akan memposting foto wajahku dengan benda sialan ini!" gumamnya.
Shanks bergidik ngeri. Ada rasa takut saat melihat ekspresi wajah Gala namun hatinya tergelitik untuk menertawakan kekonyolan bos dinginnya. Shanks menahan gelak tawanya. Ia tidak lagi memandangi ponselnya karena nyaris tak tahan dengan foto Gala yang viral.
"Shanks!"
"Iya Tuan?" menahan tawa.
"Bagaimana cara menghapusnya?" menyodorkan kembali ponselnya sehingga Shanks melihat dengan jelas penampakkan wajah Gala yang setengah garang sedang memegang pembalut.
Segera Shanks memalingkan wajahnya.
Yara yang melihat tingkah Shanks, paham dengan apa yang asisten itu pikirkan. Yara mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar ia pun tak kebablasan.
"Katakan padaku bagaimana menghapusnya!" desak Gala, naik pitam.
"A--anu, Tu ... peff!!" menahan gelak tawa yang hampir meledak.
Please please! Kau jangan tertawa Shanks! Nanti aku akan ikut terpancing. "Om, itu tak bisa di hapus dari akun Om. Hanya mereka yang memposting foto Om, yang bisa menghapusnya," jelas Yara.
"Sialan!" mengusap kasar rambutnya.
"Gala!!" teriak seseorang yang muncul dari pintu utama mansion.
Semua menatap ke arah suara.
"Gala! Apa kau sudah membaca berita? Kau ada di mana-mana!" ketus wanita paruh baya yang tak lain adalah Kinan.
"Aku tahu," tuturnya datar.
"Apa kau sudah gila? Reputasimu sebagai presiden Blackfire akan hancur karena tingkah cerobohmu!"
Gala mencengkeram jemarinya. Yara dan Shanks hanya bisa menunduk kepala. Ada rasa bersalah di hati Yara karena ia merasa jika hal itu adalah ulahnya.
Mendengar suara yang heboh dan riuh, membuat Chiren kembali keluar dari kamarnya. Ia juga baru saja melihat postingan di akun instagram mengenai foto Gala yang viral. Baru saja ia berniat untuk menanyakannya, namun Kinan sudah mulai mengamuk.
"Ada apa ini ribut-ribut?!" ketus seorang pria yang baru saja muncul di tengah kegaduhan.
__ADS_1
Semua orang terperanjat melihat kehadiran Zian. Shanks dan Chiren menelan liur dengan kasar. Mereka paham dengan sifat Tuan Besar Rodderick. Jika Zian mengetahui hal itu maka mereka harus menerima amukan dari hewan buas. Apalagi ini menyangkut kewibawaan keluarga Rodderick.
"Papa ... " lirih Yara pelan.
"Ada apa ini. Kenapa kau membentak Gala?" menyorot tajam manik Kinan.
Semua terdiam. Kinan pun langsung memalingkan wajahnya dari Zian.
"Gala ... Apa yang kau perbuat sampai Mamamu marah besar?"
Dengan ekspresi datar, Gala menyerahkan ponselnya pada Zian. Lelaki tua itu langsung mengambilnya dengan mengerutkan kening, tanda tak paham dengan maksud Gala.
"Lihatlah itu," ucap Gala.
Zian menoleh ke layar ponsel.
Degg!!
Zian melebarkan maniknya.
Shanks, Chiren, Yara dan Kinan memasang raut pias. Jantung keempatnya mulai bedegup kencang. Siap-siap untuk menerima amukan dari Zian, si kepala suku kaum binatang buas. Ketegangan sementara terjadi. Tempat itu mulai dikelilingi aura gelap dewa kematian. Leon tiba-tiba muncul dengan napas terengah-engah karena berlari.
"Ga--ga ... la!" ketus Leon gelagapan.
Perhatian teralih pada Leon.
"K--kau ... pef--bwahahahah .... hua hahaha" Leon terbahak sampai cairan bening keluar dari sudut matanya.
Semua orang menatap Leon yang sedang tergelak. Shanks dan Yara yang sedari tadi menahan tawa, kini terpancing kembali dengan ekspresi Leon yang membagongkan.
"Hentikan!" teriak Gala.
Deggg!!
"Pef--bwahaha!"
Semua orang terkejut dengan manik melebar saat Zian, si makhluk yang paling ditakuti di mansion itu tiba-tiba terbahak sembari memegang perut. Semua orang menjadi panik. Pasalnya, selama mereka mengenal sosok Zian baru kali itu mereka melihat Zian terbahak sampai terpingkal-pingkal. Itu membuat mereka bergidik ngeri.
"Du--duta softex daun sirih?!" gumam Yara. "Hahahahah!" akhirnya gelak tawa Yara pecah, menyusul Leon dan Zian.
Shanks dan Chiren awalnya takut, namun karena mereka melihat Yara yang tak ada rasa gentar sedikitpun, maka gelak tawa mereka akhirnya meledak bagai bom nagasaki hiroshima.
Gala dan Kinan saling menatap keheranan saat melihat orang-orang disekitar mereka sedang dirasuki setan tertawa. Kinan menahan gengsi untuk terbahak, karena menurutnya kewibawaannya sebagai Nyonya Besar Rodderick akan musnah.
Gala yang awalnya marah dan ingin menghajar semua orang yang menertawakannya, kini berubah. Lekukan tipis muncul dari sudut bibirnya. Ia pun melihat Kinan tersenyum kecil dengan wajah yang dibuang ke samping.
Entah kenapa melihat mereka tertawa seperti ini membuat hatiku jadi sedikit tenang. Batin Gala.
Baru kali itu Gala melihat keluarganya kompak. Ya walaupun kompak dalam hal menertawakan kekonyolannya. Hal itu cukup membuat hati Gala mencair. Sejak ia menjadi bagian keluarga Rodderick, untuk pertama kali keluarganya berkumpul dan tertawa.
Dan semua ini berkat kau, Istriku.
"Ehem!" Zian berdehem.
Gelak tawa pun berhenti. Semua orang kembali memasang raut netral, tak terkecuali Gala.
"Gala, kau tahu akibat dari ini semua?" tanya Zian, dingin.
__ADS_1
Gala terdiam.
"Keluarga Rodderick harus siap menerima konsekuensi dari perbuatanmu."
"Aku tahu."
"Pa, bukannya ini menguntungkan kita? Gala sudah trending satu loh dipencarian. Sebentar lagi Gala bakal dikontrak menjadi model iklan softex daun sirih, haha!" canda Leon.
"Cukup!" teriak Kinan. "Ini akan menjadi aib keluarga kita!"
Leon terdiam.
"Tidak usah khawatir. Aku akan bertanggung jawab." Gala beranjak dari tempat itu sembari menarik lengan Yara.
Semua orang pun bubar dan kembali ke kamar masing-masing. Situasi saat itu cukup mencekam namun juga meninggalkan kesan baik bagi Gala.
"Tumben kau pulang," ucap Kinan dengan sinis.
Zian menghentikan langkahnya yang sudah di depan pintu kamar dan menoleh ke belakang. Ia mendapati Kinan sedang menatapnya tajam dengan posisi tangan yang menyilang di atas dada.
"Ini rumahku juga," tuturnya dingin.
"Apa simpananmu sudah tidak lagi memuaskan dahagamu?!" cibir Kinan.
"Bukan urusanmu!"
"Sudah tua masih saja gatel!"
"Lalu bagaimana dengan dirimu? Apa Gala sudah tidak lagi memberikan uang jajan padamu untuk membayar para berondongmu?!"
Degg!!
Kinan mengeratkan rahangnya. Kalimat pedas Zian membuatnya tak dapat betutur lagi. Kinan melangkahkan kakinya menuju kamar dan menyambar tubuh tegap Zian yang masih berdiri di depan pintu.
Sementara di lain tempat, tepatnya di lantai tiga, tempat pengantin baru berada, tampak situasi canggung kembali menghampiri Gala dan Yara. Keduanya masih membungkam mulut mereka dan melakukan aktivitas masing-masing.
Yara pura-pura mengatur tempat tidur yang sama sekali tidak berantakan, sedangkan Gala memperlambat gerakannya membuka sepatu agar sesekali ia bisa mencuri pandang menatap Yara yang sedang membenahi ranjang.
"Bagaimana harimu?"
"Bagaimana keadaanmu?"
Keduanya serentak bertanya sehingga kecanggungan kembali melanda.
"Ehem," berdehem. "Kau duluan," tutur Gala kikuk.
"Aku sudah membaik, Om," ucap Yara.
"Bagus."
"Lalu, bagaimana dengan Om?"
"Seperti biasanya. Hari ini sangat padat, tapi aku berusaha untuk menyelesaikannya supaya aku bisa segera bertemu denganmu," ceplos Gala.
Yara terperanjat. Ia melempar pandangannya ke samping dan tersenyum malu. Sedangkan pipi Gala tampak memerah karena ia sudah sadar dengan apa yang diucapkannya barusan. Ahh siall! Mulut jahanam!
To be continued ...
__ADS_1
Tinggalkan jejak kalian sebagai tanda dukungan untuk Author. Makasih semua 🥰🤗