Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 33 : Gejolak Asmara!


__ADS_3

"Anya ... bangun Nya," menyolek pelan lengan Anya.


"Hmm ... " racau Anya.


"Nya ... bangun. Mas sudah mau berangkat ke kantor," ucap Andro yang tampak sudah rapi san wangi.


Anya menepis tangan Andro. "Ahh Mas, ganggu aja! Aku masih ngantuk," rengeknya dengan menarik paksa tubuhnya dari ranjang.


"Mas sudah buatkan sarapan untukmu. Ayo bangun dan makan. Setelah itu kau kembalilah ke rumahmu. Papa dan Mama kamu pasti sangat khawatir."


Mendengar ucapan Andro, membuat Anya meleberkan maniknya. Nyawa yang tadinya sedang berkelana kini langsung menerobos masuk ke dalam raganya. "Aku di mana?!" ketusnya melonjak.


"Kau di apartemenku. Semalam kau mabuk, Anya. Apa kau tidak ingat?"


Bayangan kemarin menyambar benak Anya dengan samar-samar. "Tadi malam aku ... " ia mengingat jika dirinya sedang di hotel tempat Zian berada. Keduanya sedang berdebat hebat sehingga Anya mengunjungi bar untuk minum.


"Anya ... " panggil Andro lembut.


Tiba-tiba Anya terbelalak dengan mulut menganga lebar.


Andro mengernyitkan dahi. "Ada apa?"


"Mas, apa aku mengucapkan sesuatu padamu? Atau bertingkah aneh?" Debaran jantungnya mulai berdetak tak karuan. Rasa panik bercampur takut telah menyelimutinya.


"Kau datang dengan ekspresi kesal karena tidak mendapatkan peran utama dalam proyek baru. Lalu ..."


Anya mendengar tutur kata Andro dengan seksama. "Lalu? Apalagi? Apa aku mengatakan sesuatu?" tanyanya hati-hati.


"Kau juga bilang kalau kau marah sama Tuan Besar ..."


Degg!


Anya melotot dengan jemari yang mengerat.


"Tuan Besar Z ... tapi kau tidak meneruskan ucapanmu dan malah tertidur."


Anya membuang napasnya kasar. "Hufth!" mengusap dadanya.


"Siapa lelaki tua yang kau sebut Tuan Besar itu?"


"Ehm ... anu Mas. Itu sutradara baru. Dia sering dipanggil Tuan Besar. Namanya aku lupa. Tapi kayaknya dari huruf Z deh," tuturnya berbohong.


"Ohya? Apa sutradara baru itu yang menyulitkanmu?"


"Eh, i--iya, Mas."


Peluh mulai membanjiri punggung Anya. "Mas, aku pulang dulu ya," bergegas meninggalkan apartemen.


"Tunggu. Kau belum sarapan," menahan lengan Anya.


"Tidak usah Mas. Aku masih kenyang. Nanti saja aku sarapan di rumah. Orangtuaku pasti khawatir karena aku tidak pulang semalam. Nanti saja ya Mas," berlari keluar kamar dan segera memakai heels-nya.

__ADS_1


"Sudah mau pergi?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari belakang punggungnya.


Anya menoleh. Betapa terkejutnya ia saat melihat sosok wanita yang selama ini menjadi saingannya dalam diam. "Kau?!" ketusnya dengan menekan nada.


"Jangan salah paham. Aku di sini menjemput putriku," ucap Abigail beralasan supaya masalah tidak akan panjang dan ribet.


"Oh begitu. Baiklah. Aku akan pergi. Kau juga sebaiknya pergilah dari apartemen Mas Andro," ujar Anya dingin.


"Kau tenang saja. Aku juga tidak ingin berlama-lama di sini. Hanya menjemput putriku saja."


"Baguslah," menatap tajam Abigail dan berlalu meninggalkan wanita itu.


Anya sebenarnya tidak terlalu memusingkan perkara Abigail yang tiba-tiba berada di apartemen kekasihnya. Yang ada di pikiran Anya saat ini, bagaimana membuat Andro tidak curiga dengannya, dan bagaimana membuat Zian kembali luluh padanya, supaya Zian mau membantunya untuk mendapatkan peran itu.


Anya segera mengemudikan kendaraannya dan bergegas meninggalkan gedung elit bertingkat itu. Dalam perjalanan, ia tak henti-hentinya bergumam dan merutuki dirinya sendiri.


"Ahhh! Benar-benar sial aku! Hampir saja aku keceplosan pada Mas Andro mengenai si Tua Bangka itu. Dan kenapa juga si kakek-kakek gombel itu sudah bertingkah?! Apa aku sudah tidak menarik lagi? Kurang apa coba aku ini?! Cantik, iya! Seksi, iya! Selalu memuaskan nafsunya, juga iya! Malahan tanpa absen sedikitpun!"


Anya sangat kesal dan memukul-mukul setir mobil dengan beringas. Tak sengaja ia melirik sebuah mobil berwarna jingga yang baru saja berpapasan dengannya. Mobil itu tampak tak asing baginya. Ia pun segera memutar kemudi dan berbalik arah, mengejar mobil jingga itu.


Dengan kecepatan di atas rata-rata, Anya mengemudi. Ia menyalib beberapa kendaraan yang menghalanginya dan melambung sehingga mobil yang dikendarainya sudah berada tepat di belakang mobil jingga itu. Dengan raut masam ia kembali menginjak pedal gas dan menyilang mobil jingga di depannya.


"Cihhh! Tua Bangka sialan! Aku sangat yakin kalau itu adalah mobilmu! Aku tidak akan membiarkanmu lolos! Jika kau sudah tidak mau lagi berhubungan denganku, maka terpaksa aku akan membocorkan segala kebusukanmu dan rahasia keluargamu! Kau dan keluarga Rodderick yang terhormat dan disegani, akan hancur!"


Dengan emosi menggebu, deru napas yang tak teratur, Anya pun turun dari dalam mobil dan menghampiri mobil yang telah dihadangnya. Ia mengira jika Zian ada di dalam mobil itu. Anya begitu yakin karena ia sudah menghafal plat mobil lelaki tua selingkuhannya. Tak ragu lagi, Anya mengetuk pintu mobil itu dengan kasar.


Tok tok tok ...


Tak menunggu waktu yang lama, kaca mobil kini terbuka dengan perlahan. Anya sedikit terkejut saat mendapati seorang wanita dengan kacamata hitam sedang berada di kursi kemudi.


"Hey siapa kamu?! Apa simpanan baru lagi?!" ketus Anya lantang.


Wanita yang ternyata adalah Yara pun terkejut. Ia membuka kacamata hitam yang ia kenakan. "Apa maksud Anda?!"


Degg!!


Anya terperanjat bukan kepalang. "K--kau?" gelagapan.


Yara mengerutkan kening. "Aku sepertinya pernah bertemu denganmu ... "


Anya terdiam dengan mulut menganga dan manik yang masih membesar. Di--dia 'kan ... Istrinya Tuan Gala!


"Saya ingat! Kau wanita yang menyambar saya saat di kantor 'kan?" tukas Yara menunjuk Anya dengan gagang kacamatanya.


"Benar," tuturnya lirih. "Maaf, karena saya salah orang," berjalan hendak meninggalkan Yara.


"Tunggu."


Anya menghentikan langkahnya dan kembali menoleh wajah Yara.


"Tadi kamu bilang jika saya adalah simpanan baru?! Maksud kamu apa? Siapa yang memiliki simpanan baru?"

__ADS_1


Deg!


Jantung Anya serasa mau copot dari tempatnya. Jemari tangannya gemetar saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Yara. Yara menyipitkan mata seraya menatap Anya dengan aura mengintimidasi.


"Saya sudah bilang jika saya salah orang. Maaf," langsung beranjak menuju mobilnya.


Yara menatap Anya dari belakang dengan kepala yang penuh tanda tanya. "Hmm, sepertinya ada yang janggal," gumamnya.


Mobil Anya telah berputar balik ke arah berlawanan dengannya. Ia hanya bisa melirik dengan pikiran yang belum berhenti memikirkan sesuatu. "Ahh sudahlah. Mungkin dia memang salah orang!" menginjak pedal gas dan melanjutkan perjalanannya.


Drrttt drtt drrt ...


Melirik gawai yang terletak di tempat duduk sampingnya. "Om Gala," tersenyum.


"Halo, Om ... eh, Gala ..."


Gala tak bersuara.


"Lah, kok nggak ada suara? Apa gangguan jaringan ya? Halooo, Gala?"


Gala masih mendengar suara Yara namun ia enggan untuk bersuara.


"Perasaan aku mendengar suara samar-samar deh. Kenapa suara Om Gala tidak terdengar?" gumamnya sembari menatap ponselnya.


"Kau di mana, Istriku?" suara Gala tiba-tiba muncul dari balik telepon.


Yara sedikit melonjak. Lekukan tipis terukir di pipinya. "Ehm ... aku di jalan, Om, eh suamiku," menjauhkan ponsel dari telinga dan berjingkrak ria. Sesekali ia menggigit jemarinya karena malu dengan apa yang baru saja ia ucapkan.


"Baik. Segeralah pulang, hati-hati di jalan, istriku!"


Tut tut tut ....


Gala memutuskan sambungan telepon.


"Ahhh! Suamiku! Dia memanggilku istriku! Aku tidak munafik, tapi aku memang sangat senang!"


Sementara Yara dengan sejuta bunga yang sedang berhamburan di wajahnya, kini seorang lelaki berusia tiga puluh delapan tahun sedang menahan gejolak asmara yang sudah berkobar dan hendak menerobos keluar dari dalam tubuhnya.


Wajah Gala memerah, jantungnya berdetak secara tak normal. Ia menatap Shanks yang masih berdiri di sampingnya dengan memainkan tablet, seperti meninjau sesuatu di sana. Gala beranjak dari duduknya dan mengatur setelan jas yang membalut rapi tubuhnya. Ia masih menahan kobaran api cinta yang sudah menari-nari di hatinya.


Gala berjalan menuju toilet yang terletak di ruangannya. Langkahnya begitu cepat dan panjang sehingga tak memakan waktu yang lama pria itu pun tiba di toilet. Gala menatap lekat wajahnya. Tiba-tiba ...


"Yesss!" ketus Gala sembari mengepal jemarinya. "Dia memanggilku apa?" mendekatkan telinganya seakan hendak mendengar bayangan dirinya berbicara padanya. "Yeah! Dia memanggilku dengan sebutan Suamiku!! tersenyum semringah.


Gala tampak ekspresif di depan cermin. Seorang Gala Zayn Rodderick telah bertingkah konyol dan aneh. Ini akan dicetak dalam sejarah! Jelas saja, karena untuk pertama kalinya Gala mengeluarkan ekspresi asmara cinta yang tidak pernah ia rasakan. Bahkan zaman ia mencintai Elyora pun, ia belum pernah merasakan sebahagia ini.


"Istriku istriku istriku!! Sayangku sayangku sayangku! Ahhh, bisa gila aku! Yara ... Ku rasa aku ... telah mencintaimu! Apa aku aneh karena menyukai gadis di bawah umur?! Oh tentu saja tidak! Bocah itu kini adalah istriku! Aku berhak mencintainya!"


To be continued ...


Gaisss Om Gala akhirnya jatuh cintonggg!! Uhhh unyu-nyaa Om Gala! Ohya, jika kalian pecinta GARA (Gala Yara), Yukk beri vote, like dan komen. Dukung karya Author receh ini supaya Author tetap semangat untuk crazy up. Makasih semua 🤗🥰😘

__ADS_1


__ADS_2