
"What?!"
"Aku harus bagaimana?"
"Kau matikan saja ponselmu dan bergegas pergi dari kantor! Jangan sampai Mas Andro menemuimu!"
"Baik, Nona."
tut tut tut ...
Anya memutuskan sambungan telepon.
Wanita yang adalah manajer baru Anya, bergegas mengatur segala dokumen yang berserakan di meja kerjanya. Setelah selesai ia meraih tasnya dan segera meninggalkan ruang itu. Namun karena terburu-buru, kakinya tak sengaja menabrak kaki meja sehingga ia memekik kesakitan.
"Aduhh! Kuku kakiku!" reflek mengurut jemari kakinya.
Freeya mendudukkan badannya di sofa sembari menjerit kesakitan. Saking perihnya, Freeya sampai melupakan misinya untuk segera pergi dari tempat itu. Lama ia mengurut jemari kakinya sehingga rasa perih mulai meredah. Ia berjalan pelan menuju pintu.
Saat hendak membuka pintu, Freeya dikejutkan dengan kehadiran Andro yang telah berdiri persis di depannya. Manik Freeya melebar, jantungnya berdegup kencang. Wanita itu terlihat panik bukan kepalang.
"Saya, Andro. Saya yang meneleponmu tadi," tutur Andro.
Freeya bungkam karena masih terkejut.
"Permisi, Nona?" panggil Andro.
"Eh, i--iya, Tuan."
"Boleh saya masuk? Ada yang ingin saya tanyakan padamu."
Mati aku! batin Freeya. "Maaf, Tuan. Saya baru menerima telepon dari atasan. Ada pertemuan mendadak."
"Tapi, saya menelepon ponselmu tadi, tidak aktif," mengernyitkan dahi.
"Oh itu. Anu, Tuan ... sa--saya sedang menelepon dengan atasan. Makanya telepon dari Tuan tidak tersambung," tutur Freeya gelagapan.
"Hmm," mengangguk. "Kalau begitu saya hanya akan bertanya dua hal. Tidak akan lama," paksa Andro.
"Tapi, Tuan, saya benar-benar tidak bisa. Ada pertemuan mendadak dari atasan, jadi saya tidak boleh terlambat." Aishhh ngebet banget pria ini!
"Ohya? Baiklah. Saya akan menunggu Anda di sini."
Deg!
Freeya kembali membesarkan maniknya. "Ti--tidak usah, Tuan. Pertemuannya akan lama. Jika Tuan menunggu pasti akan sangat membosankan. Tuan bisa datang di lain waktu saja," tawar Freeya. Ia tampak tidak bisa menyembunyikan kegugupannya sehingga membuat Andro semakin curiga.
"Tidak mengapa. Saya akan menunggu sampai kau selesai. Meski sampai tengah malam sekalipun, aku tetap akan menunggu."
Dasar pria tidak waras! Sangat-sangat keras kepala! lagi ucap Freeya dalam hati. "Jika Tuan bersikeras menunggu saya, maka lakukanlah. Namun jangan salahkan saya jika Tuan akan menunggu sampai berjam-jam di sini."
"Tidak masalah. Sudah saya bilang 'kan, meski sampai tengah malam, saya pasti akan menunggu. Asalkan, Anda tidak berpikiran untuk lari dari saya!"
Degg!!
Kalimat Andro benar-benar membuat Freeya tak bisa berucap. Nada bicara lelaki itu berubah menjadi dingin dan mengerikan. Freeya hanya bisa menelan liurnya dengan kasar dan mengalihkan pandangannya dari tatapan Andro.
"Tidak, Tuan. Saya permisi," berlalu meninggalkan Andro.
Andro memandangi belakang punggung Freeya dengan tatapan mencurigakan. Ia sangat yakin jika ada sesuatu di balik itu semua. Andro pun sebenarnya tidak bisa menunggu terlalu lama karena ia juga harus kembali ke kantornya dan menangani semua tugas direktur utama.
Lelaki itu menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Andro mengacak rambutnya namun dengan segera ia merapikannya kembali. Tak terasa sudah hampir setengah jam Andro berdiri di depan pintu itu.
Ia tampak mondar-mandir tak jelas di depan ruangan Freeya. Ingin rasanya ia menelepon Anya dan bertanya langsung pada kekasihnya namun hatinya merasa tidak enak akan ide itu. Andro tidak ingin menyinggung perasaan Anya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau ternyata aku salah dan telah berpikiran buruk tentangnya? Apa dia masih akan memaafkanku dan mau menikah dengan laki-laki duda satu anak sepertiku? Tapi bagaimana jika pemikiranku terbukti benar? Sikap apa yang harus aku ambil? Aku tidak bisa memaafkannya jika hal itu fatal!"
"Pak, Andro?" panggil gadis bernama Pretty yang baru saja melewati Andro.
"Pretty?" gumamnya.
"Apa Bapak belum bertemu Kak Freeya?"
"Sudah. Tapi katanya ada pertemuan mendadak dengan atasannya."
Pretty mengerutkan dahi.
"Bagaimana dengan audisimu?" tanya Andro memandangi tubuh Pretty yang tampak mengeluarkan banyak keringat.
"Sudah selesai, Pak. Saya peserta pertama. Tinggal menunggu hasil pengunguman jam dua siang."
"Semoga kau lolos," ucap Andro tersenyum.
"Amin."
"Ohya apa kau sudah makan siang?"
"Belum, Pak. Ini baru saja mau ke kantin."
"Kalau begitu ayo makan bersama. Kebetulan saya juga belum makan. Sambil menunggu manajer Anya lebih baik mengisi perut dulu."
"Baik, Pak. Kantinnya ada di lantai dua."
Pretty dan Andro berjalan menuju kantin. Mereka menaiki lift dan tak memakan waktu yang lama, mereka pun tiba di sana. Banya sekali anak-anak seumuran Pretty yang berada di kantin itu. Semuanya adalah calon bintang dalam dunia hiburan.
"Bapak bisa memesan makanan di sini. Kalau saya akan mengambil jatah saya yang sudah disediakan."
"Baik."
Setelah mendapatkan makanan masing-masing, Andro dan Pretty duduk di sebuah meja dekat jendela. Mereka tidak berbicara saat menyantap makanan. Beberapa menit kemudian, Andro telah selesai mengunyah dan disusul Pretty, melepas alat makannya.
"Iya, Pak. Lezat dan bergizi. Mungkin karena hampir semua yang makan di kantin ini merupakan anak-anak trainee seperti saya, sehingga mereka membuat makanan tidak sembarangan dan tentunya ada ahli gizi yang mengontrol makanan."
"Ya, kau benar. Kalian sebagai para calon bintang besar harus mengkonsumsi makanan yang baik, rendah lemak dan tinggi protein."
Pretty menggangguk.
"Ehm, bisakah kamu meneruskan perbincangan tadi?"
"Oh mengenai Kak Anya?"
"Iya."
"Begini, Pak. Sebenarnya rumor ini sudah lama beredar, sejak tahun lalu, saat Kak Anya memenangkan penghargaan aktris muda berbakat."
"Lalu rumor apa yang beredar?" mengernyitkan dahi.
"Katanya, Kak Anya tidak menang murni. Melainkan atas bantuan dari seseorang yang memiliki kuasa."
"Maksudnya?" menatap wajah Pretty dengan serius.
"Hmm, saya sih tidak percaya, Pak, dengan kabar burung ini. Tapi Bapak janji ya tidak akan percaya dengan rumor ini dan tidak akan memutuskan Kak Anya?"
"Baik. Coba ceritakan."
"Kak Anya, diberitakan menjalin hubungan gelap dengan pria beristri."
Deg!
__ADS_1
Andro terperanjat. Maniknya melebar. "Apa kau tahu siapa pria beristri itu?"
"Kalau tidak salah ingat, si pria beristri itu mantan Presiden Blackfire Company, perusahaan bergengsi di ibukota."
"Maksdumu, Tuan Besar Zian De Vendant Rodderick?!"
"Hah, benar itu orangnya!" celetuk Pretty.
Andro memasang raut masam. Ia seolah tak percaya dengan ucapan gadis itu. Namun, logikanya berjalan dan mengingat kembali jika kekasihnya pernah hampir keceplosan saat ia mambuk. Andro menetralkan raut masamnya.
"Tapi Bapak jangan percaya rumor ini. Kita tidak tahu kebenarannya. Lagi pula belum ada bukti yang dapat membenarkan rumor ini."
"Kau benar, Pretty. Saya juga yakin jika Anya bukan wanita seperti itu, yang rela menjual dirinya hanya untuk popularitas dan ketenaran belaka."
"Iya, Pak. Kak Anya adalah perempuan baik-baik."
"Trima kasih ya Pretty karena sudah memberitahuku mengenai rumor tak sedap ini. Dan trima kasih juga karena kau tidak percaya dengan berita palsu ini. Semoga saja mereka yang bercerita busuk tentang Anya dapat menerima akibat."
"Amin."
"Ya sudah, Saya pamit dulu. Saya tidak jadi menemui manajer Anya."
"Baik, Pak. Semoga langgeng terus dengan Kak Anya."
Andro tersenyum dan berjalan meninggalkan Pretty. Tiba-tiba saja, hati pria itu menjadi sesak. Rumor tentang hubungan Anya dan Zian kembali menerpa pikiran Andro. Ia tidak ingin percaya akan hal itu, namun hati dan otaknya mulai bersatu untuk mempercayai berita panas itu.
"Tidak! Aku harus mencari tahu!"
Drtt drtt drtt ...
Andro meraih ponselnya dan mendapati nomor Anya yang menghubunginya.
"Halo?"
"Mas Andro di mana?"
"Aku di ... " menjeda ucapannya.
"Halo ... "
"Iya, halo. Aku di jalan menuju kantor. Ada apa?"
"Mas Andro, sebentar malam aku tidak bisa makan malam bersamamu. Soalnya akan ada syuting di luar negeri. Jadi malam ini aku akan berangkat ke Kanada bersama tim."
Perasaan Andro kembali berkecamuk.
"Mas Andro? Apa kau mendengarku?"
"Aku mendengarmu. Jadi kapan kau pulang?"
"Minggu depan, Mas. Nanti aku akan kabari Mas."
"Bisa kita bertemu sebelum kau berangkat?"
"Bisa, Mas. Kita bertemu di bandara saja."
"Baik."
"Hati-hati di jalan, Mas. I love you."
Bibir Andro seakan tak bisa dibuka untuk membalas kalimat terakhir Anya. Ia langsung memutuskan sambungan telepon. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia merasa jika Anya memanglah telah berbohong padanya.
"Apa aku akan dikhianati untuk yang kedua kalinya?"
__ADS_1
To be continued ...
Berikan dukungan kalian untuk Author 🤗🥰