Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 52 : Hubungan yang Rumit


__ADS_3

“Daddy, come here!”


“I’m coming.”


Pria itu melangkahkan kakinya menuju seorang anak berusia lima tahun yang telah duduk di atas jungkat-jungkit. Pria itu adalah Leon, dan anak kecil yang bersamanya adalah anak kandungnya yang baru saja bertemu dengannya setelah lima tahun terpisah.


“Daddy, aku tidak bisa bergerak. Daddy terlalu berat!” ketus anak itu yang tampak mengambang di udara lantaran papan jungkat-jungkit telah naik ke atas menyesuaikan dengan tubuh bugar Leon, ayahnya yang duduk di atas papan.


“Tadi kau menyuruh Daddy untuk naik. Setelah naik, kau mengeluh karena Daddy terlalu berat,” ucap Leon.


“Daddy turunkan aku saja! Aku mau naik bianglala.”


Leon menuruti permintaan Leonard. Ia mengangkat perlahan badannya dari papan jungkat-jungkit itu dan membawa Leo menaiki bianglala. Saat itu Leon benar-benar melakoni perannya sebagai seorang ayah.


(Kemarin hari sebelum bertemu Janetha dan Leonard)


“Halo … “


“Ini aku,” ucap seorang wanita dari balik telepon.


“Siapa kamu?” tanya Leon mengerutkan kening.


“Setelah lima tahun tidak bertemu dan kau ternyata sudah lupa padaku.”


Leon terbelalak. Ia kemudian mengingat pemilik suara itu. Leon langsung mengasingkan diri dari keramaian saat mendengar suara perempuan itu yang tak lain adalah Janetha, mantan kekasihnya. “Janetha! Kenapa kau menghubungiku lagi?”


“Bisa kita bertemu?”


“Tidak bisa! Hari ini aku sangat sibuk. Mama berulang tahun, jadi aku tidak bisa meninggalkan mansion karena banyak sekali tamu penting yang menghadiri acara ulang tahun Mamaku!”


Janetha hening.


“Janetha, jangan berani lagi menghubungiku! Urusan kita telah selesai lima tahun lalu. Lagipula aku sudah menikah dengan sahabatmu. Apa kau tega menyakiti Chiren kalau sampai dia tahu tentang hubungan kita di masa lalu?!”


“Aku tahu. Aku tak ada niat menyakiti Chiren. Tapi … “


“Sudah cukup! Jangan menggangguku lagi!”


“Tunggu! Leon, apa kau tidak penasaran dengan anakmu sekarang?”


Degg!


Leon terkejut bukan kepalang. “A—anakku? Siapa anakku?”


“Kalau kau ingin tahu, temui aku. Aku akan mengirimkan lokasi tempat kita bertemu.”

__ADS_1


Tut tut tut …


Janetha memutuskan sambungan telepon.


“Halo! Halo! Janetha!!” Leon mengacak rambutnya. “Ahh! Sial!”


Ponsel Leon bergetar. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal mengirimkan sebuah alamat. Ia bergegas meninggalkan acara dan hendak menuju mobil.


“Leon?” panggil Chiren.


Langkah Leon terhenti. Rautnya tampak gugup.


“Kau mau ke mana? Sepertinya kau terlihat buru-buru.”


“Aku akan keluar sebentar. Ada urusan mendadak di kantor!”


Chiren memasang raut kusut. Namun ia segera mengangguk dengan terpaksa. Bukan Leon namanya jika pria itu tidak membuat Chiren sakit hati dan kecewa. Untunglah Chiren sudah terbiasa akan hal itu. Ia pun membiarkan Leon pergi, tanpa mencari tahu lebih dalam lagi urusan Leon. Karena ia juga memiliki urusan penting untuk menemui Yara.


Dalam perjalanan, hati Leon tak tenang. Kemunculan Janetha kembali membuat ia panik bukan kepalang. Apalagi wanita itu sempat mengatakan mengenai anaknya. Jelas saja perasaan Leon berkecamuk. Dalam hatinya yang terdalam ia sangat merindukan Janetha dan sangat penasaran dengan anak mereka. Namun logikanya menentang akan hal itu.


Janetha adalah gadis yang sangat dicintai Leon. Walaupun ia dikenal sebagai pria Casanova dan suka gonta-ganti pasangan, namun hanya Janethalah yang berhasil menaklukkan hati Leon. Namun latar belakang keluarga keduanya tidak memungkinkan untuk mereka bersatu. Zian dan Kinan terus menerus menekan Leon untuk berpisah dengan Janetha jika tidak, maka Leon akan dibuang dari keluarga Rodderick.


Akhirnya Leon memutuskan untuk meninggalkan Janetha. Tak di sangka malam itu, Janetha datang di kediaman keluarga Rodderick dan mengaku jika ia telah hamil, mengandung anak Leon. Maksud kedatangannya untuk meminta pertanggung-jawaban dari Leon. Namun suatu hal tak terduga membuat Janetha hancur sehancur-hancurnya. Zian dan Kinan melemparkan cek di wajah Janetha, supaya ia menggugurkan kandungannya.


Saat itu Leon tidak ada di mansion, sehingga Janetha harus menanggung luka yang teramat mendalam seorang diri saja. Tidak ada yang membelanya sama sekali. Malahan orangtua Leon, menginjak-injak harga diri Janetha. Ia pun langsung kembali dengan beribu lubang akibat tusukan dari perlakuan pedas Zian dan Kinan.


Dua puluh menit berlalu, Leon telah tiba di lokasi tempat pertemuannya dengan Janetha. Di sebuah tempat wisata, tempat favorit mereka saat pacaran. Janetha meminta Leon untuk menemuinya di sana. Dengan jantung yang berdebar-debar, Leon melangkahkan kakinya untuk mencari sosok Janetha.


“Leon … “ panggil Janetha.


Segera Leon menoleh ke belakang. Ia sontak kaget saat melihat Janetha. Penampilan wanita itu tampak berubah. Ia terlihat lebih berseri dan sangat-sangat cantik. Cara berpakaiannya pun sangat fashionable. Jelas saja karena ia merupakan seorang perancang busana yang sudah lama beradaptasi dengan modernisasi Kota Paris. Sehingga soal penampilan, tak dapat diragukan lagi.


Leon sampai terperangah namun dengan segera ia menetralkan kembali ekspresinya. “Janetha,” lirih Leon. Mata Leon pun menjeling ke sana kemari mencari sosok anak kecil.


Janetha langsung peka. Ia pun menggeser ke samping, sehingga seorang anak kecil berkelamin laki-laki yang sedari tadi berdiri di belakang Janetha, tampak muncul. Anak itu sangat tampan. Wajahnya mendominasi ketampanan Leon. Mulai dari alis yang tegas, bola mata berwarna kecokelatan, hidung mancung dan bibir tipis. Wajah anak itu benar-benar duplikat Leon.


Tanpa disadari Leon, ia menganga lebar dengan manik yang membesar. Tatapannya begitu dalam saat melihat anak laki-laki itu. Hatinya serasa dicubit. Logikanya masih tak percaya jika anak itu adalah darah dagingnya, namun hati Leon tak dapat berbohong. Ia begitu mendambakan anak kecil itu.


“Mommy, who is this man?”


Janetha terdiam. Ia menatap Leon dan membiarkan Leon yang mengatakannya sendiri.


“Hey, boy .. what’s your name?”


“Leonard Zark Rodderick!” ucap anak itu lantang.

__ADS_1


Leon terperanjat hebat. Bahkan namanya persis dengan namaku!


“No, Leo! Your name is Leonard Zark Davis!” sanggah Janetha.


“Tapi, Mommy pernah bilang jika nama belakangku Rodderick, karena Daddy memiliki nama belakang itu.”


“Itu dulu. Tapi sekarang nama belakangmu diambil dari nama belakang Mommy, yaitu Davis!”


“Tidak! Namamu akan bagus jika memakai nama belakang Rodderick!” ketus Leon.


Janetha sontak kaget. Ia tidak menyangka jika Leon akan menyetujui anak itu memakai nama belakangnya. “Kenapa kau seperti ini? Aku yang membesarkannya, dan kau seenaknya mengubah nama belakangnya menggunakan marga terkutuk itu!”


Deg!


“Aku ayahnya, aku yang membuatnya! Jadi aku berhak!”


Janetha menatap anaknya. “Sayang, kau bisa bermain di sana, bersama Auntie Meisy,” ucapnya menunjuk seorang pengasuh.


Leonard mengangguk dan berlari menuju pengasuhnya.


“Aku mengajakmu bertemu dengan maksud untuk memperlihatkan anak yang dulunya tak pernah dianggap olehmu, yang sekarang sudah besar dan tumbuh dengan sangat baik meski tanpa seorang ayah! Bukan bermaksud untuk memperkenalkan padanya jika kau adalah Ayahnya yang pecundang dan tidak bertanggung jawab!”


“Tutup mulutmu!” teriak Leon.


Pupil mata Janetha mulai berkaca-kaca. Ia kembali mengingat masa kelam lima tahun lalu. “Di mana kau, saat aku datang ke rumahmu dan meminta pertanggungjawaban? Di mana kau saat aku menderita dibuat kedua orangtuamu?! Dan di mana kau saat aku hampir mati kare—”


“CUKUP!” teriak Leon.


Janetha mulai menitikan air mata.


“Aku tidak tahu kalau kau datang di mansion! Maafkan aku karena tidak ada saat kau menderita. Maafkan aku karena pernah menyuruhmu untuk menggugurkan kandunganmu! Aku benar-benar menyesal, Jan! Sumpah!”


“Omong kosong! Kau sudah menikah dengan Chiren. Jadi jangan membuat aku luluh dan kembali lagi padamu.”


Leon terdiam. Ia mengusap kasar wajahnya.


“Leon, bersikap baiklah pada Chiren. Dia adalah orang terpenting dalam hidupku.”


Leon seketika memeluk tubuh Janetha. Wanita itu terperanjat dan sedikit merontah. Namun pelukan Leon sangat membuatnya nyaman dan luluh. Janetha terisak di pelukan Leon. “Le—leon, hiks … hiks … jangan seperti ini. Aku mohon! Lima tahun lamanya aku berusaha untuk move on darimu. Tapi hanya dengan sekejap yang bahkan tidak sampai satu jam pertemuan kita, kau sudah kembali membuatku takhluk dan jatuh dalam pelukanmu!”


“Janetha. Aku benar-benar minta maaf. Aku menyesal! Aku sangat mencintaimu dari dulu sampai sekarang! Jujur aku tak bisa menerima cinta Chiren karena kaulah alasannya. Aku bahkan sering bermain wanita itu semua semata-mata untuk melupakanmu, untuk melupakan kenangan bersamamu yang begitu menyakitkan. Kesenanganku hanya saat seranjang dengan wanita pemuas! Namun setelah itu berlalu, kepahitan kembali melanda hidupku. Aku akui kalau aku pengecut! Keluargaku sangat kacau, kisah asmaraku begitu rumit! Aku sering berlaku kasar pada Chiren. Entahlah! Kehidupanku sangat hancur dan berantakan!”


To be continued ..


Berikan dukungan kalian untuk Author 🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2