Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 71 : Pemandangan Langka


__ADS_3

Zian dan Kinan menatap Chiren. Lama mereka menatap wanita itu dengan tatapan lesu sampai Chiren merasa risih. Pelayan pun menarik kursi yang akan Chiren tempati. Ia duduk dan tak bersuara lagi. Suasana begitu hening dan dingin. Para pelayan yang telah berbaris rapi di belakang mereka takut untuk bernapas, lantaran sangka mereka jika napas mereka akan terdengar sehingga mengganggu jamuan malam perdana keluarga Rodderick selama kepergian Leon.


“Tinggalkan kami sendiri,” ketus Zian.


Titah itu langsung dilaksanakan oleh para pelayan, tidak ada yang terkecuali. Mereka mengatur langkah mereka agar tidak terdengar risih dan supaya tidak mengganggu Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya. Mereka tampak legah meninggalkan ruang makan itu.


“Sudah lama kita tidak makan bersama,” ucap Zian kembali.


Semuanya masih hening. Melihat tidak ada respek dari orang-orang di sana, Zian langsung menyantap makanannya. Yara tampak kasihan dengan Zian, namun ia juga terlalu takut untuk membuka pita suaranya. Ia hanya bisa menggenggam tangan Gala dengan begitu erat. Dan Gala pun peka dengan apa yang istrinya maksudkan.


“Tumben Papa mengajak kita semua berkumpul untuk makan malam,” heran Gala.


Baru saja ingin melahap satu suapan, Zian menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Gala dan mencoba berbicara dengan tenang. “Sudah lama kita tidak bertegur sapa. Aku kira kita adalah keluarga, pantaskah kita saling diam?”


Semua orang terkejut. Bahkan Kinan yang sedari tadi mengkhayal, langsung melemparkan pandangannya kepada sumber suara. Ia kembali coba mencerna apa yang dikatakan Zian. Tak hanya Kinan, Chiren pun sontak kaget.


“Ada apa dengan ekspresi kalian?” tanya Zian, heran.


Kecuali Gala, semuanya menunduk dan langsung menyibukan diri dengan memegang alat makan mereka. Benar-benar pemandangan yang langka dan tentunya sangat kaku. Pertama kalinya dalam hidup Zian berkata kalau mereka adalah keluarga dan tidak pantas untuk saling diam dan tidak bertegur sapa. Padahal dulunya, Zianlah yang tidak pernah menganggap keluarga itu ada. Yang hanya ia pentingkan adalah harta, takhta, bisnis dan perempuan.


“Kinan, bagaimana kabarmu?”


DEG!


Jantung Kinan seolah berhenti berdetak. Aktivitasnya kembali terhenti. Ucapan Zian membuat ia beku seketika. Tak dapat disangka jika Zian akan menanyakan kabarnya setelah puluhan tahun mereka membangun rumah tangga. Jelas sekali ini adalah hal yang sangat langka. Zian berubah dengan sangat drastis dan tiba-tiba saja menjadi hangat.


“Maaf, jika aku telah mengganggu makanmu,” tutur Zian lagi.


Wanita paruh baya itu kembali tersentak. Benar-benar mujizat, Zian mengatakan maaf padanya. Kinan menjadi salah tingkah, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia hanya bisa mengacak-acak makanannya dan tidak ditelan.

__ADS_1


“Ma?” lirih Gala.


Kinan terkejut dan menatap Gala. “I—iya?” jawabnya kaku.


“Papa bertanya padamu.”


“Mama … mama baik-baik saja,” menahan bulir bening yang hendak menggenangi pipinya.


“Syukurlah,” ucap Zian. “Ohya, bagaimana kondisi kandunganmu, Chiren?”


“Baik, Pa,” jawab Chiren singkat.


“Kamu harus melahirkan bayi itu dengan sehat, kau dan bayi itu harus sehat. Makan makanan yang bergizi dan jangan terlalu memikirkan hal yang membuatmu tertekan. Itu akan mempengaruhi kondisi janinmu.”


Kalimat yang dilontarkan Zian mampu membekap seluruh ruangan. Pada akhirnya Zian telah melakoni perannya sebagai seorang ayah sekaligus sebagai kakek dari calon bayi itu. Semua terkejut, bahkan Gala yang awalnya tenang, akhirnya mengeluarkan ekspresi heran dan penuh tanda tanya. Ada rasa senang, tapi juga rasa bingung mendominasi. Setan apa yang merasuki Papa? Batin Gala.


“Te—terima kasih, Pa.”


Yara hampir saja tersedak. Untung Gala dengan sigap menyodorkan gelas berisi air mineral untuk diteguk istrinya. Kalau tidak, Yara pasti akan merusak suasana.


“Apa … “ Kinan menjeda ucapannya. Ia menatap Zian dengan nanar. “Apa yang membuatmu berubah seperti ini? Bukankan kamu adalah tipe orang yang tidak peduli dengan segala sesuatu di sekitarmu, kecuali itu menguntungkan bagimu?” tanya wanita itu dengan bibir sedikit gemetar.


Zian membisu. Ia menghabiskan sisa makanan di piringnya dan mengelap bibir dengan tisu. Ia menenggak minumannya sampai habis, dan aktivitasnya itu diperhatikan semua orang yang duduk berhadapan di meja makan. Semuanya menunggu jawaban dari Zian. Mereka tampak penasaran dengan apa yang akan diucapkan lelaki paruh baya itu.


“Aku … aku minta maaf,” ucap Zian dengan nada rendah. “Aku memang egois. Setelah lima bulan merenung, aku akhirnya tersadar jika tidak ada yang berarti di dunia ini selain keluarga. Akulah yang membuat kalian menjadi beku seperti ini. Karena aku, hubungan keluarga kita seperti ada tembok pembatas di tengahnya. Karena aku juga yang tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik, hingga keluarga Rodderick menjadi kacau dan rusak!” sesal Zian sembari meremas jemarinya.


Tak kuasa lagi menahan cairan bening yang telah dibendungnya sedari tadi, akhirnya tangisan Kinan pecah. Bibir yang tidak berbalutkan apa-apa, kini gemetar dengan hebat. Tangisan dan rintihan keluar begitu saja dari mulut Kinan. Sungguh, suasana saat itu tidak dapat dijelaskan hanya dengan kata-kata saja.


“Aku ingin memperbaiki hubungan keluarga kita. Meskipun aku tidak tahu kalau kalian akan menerima permohonan maaf dariku.”

__ADS_1


Kinan terus terisak. Chiren segera memberikan tisu untuk Kinan.


“Tolong berikan aku waktu,” ucap Kinan lirih.


“Aku mengerti.”


“Apa Papa bersungguh-sungguh mengatakan ini?” tanya Gala sedikit menaikan nada.


Zian mengangguk.


“Kenapa?” mengepal jemari dengan sangat kuat. “Kenapa Papa baru mengakui kesalahan Papa? Apa karena kematian Leon sehingga Papa berubah menjadi lunak seperti ini?! Kenapa tidak dari dulu saja, dari semenjak aku dan Leon masih kecil! Atau kenapa tidak sejak dari wanita malang itu datang ke rumah memohon dengan sangat sampai merendahkan martabatnya untuk meminta pertanggungjawaban dari Leon? Kenapa Pa!!” Gala mengeratkan rahangnya. Urat-urat kecil mulai bermunculan dibagian leher dan tangannya. Ia sangat emosi dan ingin sekali melampiaskan amarahnya.


Kemarahan Gala membuat orang-orang di situ bergidik ngeri. Mereka benar-benar telah merasakan amukan singa yang baru saja terbangun dari tidur yang sangat lama. Bahkan Zian tidak mampu menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang di lontarkan Gala. Begitu pun dengan Yara, ia tidak bisa lagi mengendalikan emosi Gala, lantaran apa yang dikatakan suaminya adalah benar adanya. Ia juga terlalu takut untuk menengahi amarah Gala yang telah meledak.


“Maafkan, Papa,” menunduk kepala dengan meneteskan cairan bening.


“Cukup!” teriak Kinan.


“Mama, tenanglah?” lirih Chiren mencoba menenangkan Kinan.


“Apa artinya semua ini? Apa artinya permintaan maaf itu? Hah! Semuanya telah berakhir! Kepingan kaca yang sudah berserakan di mana-mana, tak dapat disatukan lagi. Hanya tangisan dan ratapan yang bisa dilakukan! Jika demikian, pantaskah kita disebut satu keluarga? Masih layakkah kita memulai kembali hubungan kekeluargaan yang memang tidak ada sejak awal? Aku kira ini semua hanyalah omong kosong!”


“Kinan, kita bisa memperbaiki semua ini. Asalkan kamu mau menerima dan memaafkan, serta merelakan kepergian Leon anak kita.”


“SHUT UP!” Ketus Kinan. “Jangan pernah menyebut Leonku, dengan mulut kotormu! Kau memang seorang ayah baginya, tapi perilakumu tidak mencerminkan seorang ayah yang benar! Jika saja kau tidak seperti itu dari awal, maka keluarga kita tidak akan hancur seperti ini!”


“Apa kau bilang? Apa kau juga memainkan peranmu sebagai ibu yang baik? Sikapmu tak jauh beda dengan sikapku! Kau dengan kesenanganmu bersama para simpananmu, begitu juga aku! Jadi di mana bedanya aku dan kamu? Kita sama-sama kotor!”


Sementara pasangan suami isteri itu bertengkar hebat, kepala Chiren mulai terasa pening. Badannya menjadi lemas, penglihatannya tampak buram. Dan pada akhirnya ia pun terjatuh dari duduknya dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


BRUK!


To be continued ...


__ADS_2