Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 70 : Jamuan Malam


__ADS_3

Hari terus berganti, tidak terasa lima bulan telah berlalu. Tragedi pedih yang menimpah keluarga Rodderick menjadi pelajaran bagi mereka. Banyak hal telah berubah, kehidupan keluarga Rodderick menjadi sangat gelap dan dingin. Komunikasi pun sudah hampir tidak pernah antara orangtua dan anak. Lantas, bagaimana dengan kehidupan Kinan dan Zian? Ya, keduanya tidak berkomunikasi sama sekali sejak kematian Leon. Mereka menjalani hidup dengan hampa. Tidak ada lagi kehangatan, baik bersama keluarga maupun dengan orang-orang.


Kejadian ini menjadi hukuman bagi keluarga Rodderick. Mereka menjalankan aktivitas hanya sebagai rutinitas saja, tidak ada perasaan hanya ada kepahitan. Bagai mayat hidup yang tak memiliki arti dan tujuan. Tak ada lagi kesenangan yang mereka rasakan. Mereka telah memutuskan hubungan dengan semua simpanan mereka, tak hanya itu mereka juga mengasingkan diri dari dunia luar.


Perusahaan mereka masih beroperasi dengan sangat baik, itupun berkat keuletan Gala. Meskipun sempat terjadi penurunan saham yang signifikan namun tidak membuat perusahaan raksasa itu gulung tikar. Gala dan Yara pun masih setia satu sama lain, saling menguatkan dan saling menopang. Hubungan mereka semakin hari semakin erat karena tragedi kematian Leon. Cinta mereka semakin kuat sehingga Gala sanggup dan mampu melewati hari-hari terburuknya.


Ohya, bagaimana dengan kehidupan Chiren? Tentu saja sangat-sangat terpuruk. Kalau tak ada Gala dan Yara yang selalu menguatkannya, pasti ia sudah menyusul Leon dengan cara mengakhiri hidupnya. Gala dan Yara sangat membantu dalam proses penyembuhan mentalnya. Chiren tetap hidup dan tinggal bersama keluarga Rodderick dan tetap beraktivitas seperti biasa.


Usia kandungannya sudah memasuki tujuh bulan, dan perutnya semakin membuncit. Tak jarang Chiren dilarikan di rumah sakit karena tekanan batinnya yang mempengaruhi janin. Untung saja kandungan Chiren baik-baik saja. Janinnya termasuk calon bayi yang kuat, yang bisa bertahan hidup dengan penuh tekanan di dalam sana. Dan sore itu, Chiren baru kembali dari rumah sakit, ia di antar jemput oleh Gala dan Yara. Mereka sekali-kali tidak membiarkan Chiren untuk pergi sendirian.


“Kak, aku mau istirahat dulu. Aku capek,” ujar Chiren sembari mengelus perut buncitnya.


“Istirahatlah, kalau perlu apa-apa segera beritahu kami.”


“Baik, Kak. Makasih Kak Gala, makasih Yara. Aku sangat beruntung memiliki kalian.”


“Sama-sama. Pokoknya kamu tidak boleh sakit,” ucap Yara tersenyum lebar.


Chiren berjalan menuju kamarnya, rautnya kembali murung. Ya, begitulah Chiren. semenjak kepergian Leon, ia menjadi wanita pendiam. Setiap kali ia merasa sendirian, ia selalu menangis dan memeluk bingkai foto Leon. Begitu seterusnya sampai ia lelah menangis dan akhirnya terlelap.


***


Di tempat lain, seorang wanita yang tak kalah sedih dengan Chiren sedang termenung menatap jendela kaca kamarnya. Ia juga sangat terpukul dan merasakan kehilangan yang teramat sangat. Jika bukan karena mengingat anaknya, Leonard, ia pasti sudah mengakhiri hidupnya. Ia juga memikirkan bagaimana penderitaan sahabatnya saat mengetahui kebenaran tentang hubungannya dengan Leon.


“Pasti Chiren sangat-sangat menderita dan terpukul. Kasihan Chiren. Aku benar-benar minta maaf karena telah muncul di hadapan kalian. Kalau saja aku tidak datang dan mencari Leon, pasti ini semua tidak akan terjadi,” sesal Chiren.


Janetha terus menggumam sambil terisak. Ia menyadari segala kesalahannya. Karena dirinya, satu nyawa melayang, dan ia juga telah menghancurkan kehidupan satu keluarga.

__ADS_1


“Mommy, are you okay?”


“Mommy baik-baik saja, Sayang. Kamu jangan khawatir,” memeluk tubuh mungil Leonard.


Leonard menjadi perisai bagi Janetha. Jika bukan karena anaknya, ia tidak akan sanggup menjalani kehidupannya. Ia sangat ingat dengan baik, jika Leon menitip anak mereka pada Janetha supaya dijaga dan dirawat secara baik-baik. Dan hal terindah yang ditinggalkan Leon adalah Leonard, bahkan parasnya saja mirip sekali dengan Leon, sehingga melihat Leonard saja sudah membuat Janetha senang dan merasa rindunya pada Leon terobati.


***


“Tuan, Nona Anya menelepon,” tutur seorang asisten Zian yang tak lain adalah Erren.


“Abaikan saja,” memutar kursinya sehingga badannya membelakangi Erren.


“Baik Tuan.”


“Erren, di mana Nyonya?”


“Nyonya sedang berada di makam Tuan Muda Leon.”


“Sudah jam berapa ini?” tanya Zian, malas menatap arloji yang melingkari pergelangan tangannya.


“Sudah pukul delapan malam, Tuan.”


“Apa pengawal berjaga untuk Nyonya?”


“Iya, Tuan. Sedari tadi dua pengawal terus mengawasi Nyonya.”


“Pastikan Nyonya baik-baik saja. Dan malam ini dia harus pulang. Sampaikan juga pada kepala pelayan mansion bahwa malam ini keluarga Rodderick akan mengadakan makan malam di mansion.”

__ADS_1


“Baik, Tuan.”


“Beritahu Gala.”


“Baik, Tuan.”


Akhir-akhir ini Tuan Besar Rodderick mulai melunak. Pasalnya ia selalu mengawasi kehidupan istrinya meski secara tidak langsung. Ia mungkin terlihat cuek dan tidak peduli dengan Kinan, namun sebenarnya ia selalu memperhatikan Kinan dengan caranya yang dingin.


Kematian Leon membuat Zian tersadar jika keluarga adalah hal yang sangat penting melebihi apa pun. Tampangnya saja yang seperti tidak peduli dengan kematian anak keduanya. Namun hatinya bagai teriris belati tajam yang baru di asa secara berulang-ulang, dan seolah penderitaan itu tiada akhir.


Erren segera memberitahu pelayan mansion agar menyiapkan makan malam untuk keluarga Rodderick. Ia juga telah menghubungi asisten Gala dan Kinan agar menyampaikan pesan dari Tuan Besar Rodderick.


Orang mansion tampak sibuk menyiapkan berbagai makanan. Hal ini merupakan hal yang langka setelah kematian Leon. Akhirnya pelayan Mansion menunaikan tugas mereka yang sempat terhenti sejenak. Bagaimana tidak, keluarga Rodderick tidak lagi pernah bertegur sapa, makan di mansion pun rasanya mustahil. Mereka lebih senang makan di luar, karena bagi mereka terlalu banyak kenangan bersama Leon di rumah besar itu.


Waktu yang ditunggu telah tiba. Zian dan Erren telah turun dari dalam mobil dan memasuki mansion. Gala dan Yara telah turun dari lantai atas menuju ruang makan keluarga. Kinan sudah terlebih dulu duduk di meja makan menunggu yang lainnya. sedangkan Chiren belum nampak batang hidungnya.


“Suamiku, aku takut,” bisik Yara tampak bersembunyi di belakang Gala.


“Tidak ada yang perlu di takutkan, Istriku. Aku di sini. Tidak ada orang yang akan melukaimu.”


“Iya aku tahu. Tapi ini sangat menakutkan. Setelah beberapa lama tidak bertegur sapa, akhirnya kita semua satu meja makan. Kira-kira apa yang akan terjadi?”


“Entahlah. Kita lihat saja nanti.”


Yara mengangguk dengan terus berjalan di belakang Gala. Tangan keduanya saling tertaut dan serasa tidak ingin lepas satu sama lain. Akhirnya tibalah mereka di ruang makan keluarga. Zian juga baru saja sampai dan langsung duduk di tempat duduk yang biasa ia duduki.


Wanita dengan raut wajah datar masih membisu dengan tatapan kosong di depannya. Wajahnya tampak pucat, namun tidak mengurangi kecantikannya yang paripurna. Zian menatap Kinan dengan tatapan iba, ia hendak bersuara namun mengurungkan niatnya. Ia memilih untuk tidak mengatakan sepatah kata untuk istrinya, karena pikir Zian, jika Kinan pasti akan mengabaikannya.

__ADS_1


“Maaf aku terlambat,” ucap seorang perempuan yang raut wajahnya pucat dan pias. Ia tampak seperti mayat hidup. Lingkaran matanya pun berwarna hitam, pupilnya tampak tidak sehat.


To be continued ...


__ADS_2