
Masih dengan memandangi tubuh tegap Gala yang telah memasuki mobil. Yara memutar bola matanya dan berkeras hati tidak ingin satu mobil dengan Gala.
"Nona?" panggil seseorang.
Yara terperanjat saat melirik ke sumber suara. Andro!
"Nona mau ke mana biar saya antar," tawar Andro.
Gadis itu masih membisu. Jantungnya kembali berdetak dengan tidak normal. Pasalnya, lelaki yang ada di depannya adalah pria yang sangat dikaguminya saat pertama kali bertemu.
"Nona?"
"Eh, iya. Maaf," tutur Yara sembari menyelipkan beberapa anak rambut yang tergerai menutupi telinganya.
"Apa Nona sedang menunggu seseorang?"
"Ehm, tidak. Aku ... "
Degg!
Yara sontak kaget saat sebuah tangan berotot merangkul pundaknya dengan tiba-tiba.
"Maaf, istri saya tidak bisa berbicara dengan pria lain!"
Degg!!
Detak jantung Yara semakin memompa dengan kencang. Maniknya melebar saat mendengar ucapan pria yang sedang merangkulnya. Ya! Siapa lagi kalau bukan Gala, si musuh bebuyutan Yara yang sekaligus berstatus sebagai suaminya.
"Oh, maafkan saya Tuan Gala. Saya tidak bermaksud menganggu Nona Yara," tutur Andro sopan.
"Tidak! Sama sekali tidak menggangguku. Hanya saja ..." menatap manik Gala dengan tatapan membunuh. "Hanya saja, Tuan Gala terlalalu berlebihan!" menyubit pinggang Gala.
Gala melonjak. Shhhh! Awww! Batinnya memekik.
"Maaf telah menganggu waktu Tuan dan Nona. Kalau begitu saya permisi," menunduk kepala.
"Loh kenapa? Mau ke mana? Kau tidak menganggu. Dia sebenarnya yang mengganggu!" menatap manik Gala dengan tajam.
Andro tampak bingung. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yara. Ia benar-benar tidak tahu untuk berkata apa. "Ehm, anu ... "
__ADS_1
"Tidak usah menjawab. Saya akan membawa istri saya," menarik lengan Yara.
"Ishh, lepaskan. Om Gala, lepaskan! Sakit ihh," rengek Yara namun tak dipedulikan oleh Gala.
Andro mengernyitkan dahi saat melihat tingkah atasannya. "Benarkah mereka suami istri? Tapi kelihatannya aneh sekali," gumamnya dan berjalan menuju tempat mobilnya di parkir.
Sementara di dalam mobil yang di tumpangi Gala dan Yara, tampak keduanya memasang raut masam. Gala menjadi kesal saat melihat sikap Yara yang memperlakukan Andro dan dirinya secara berbeda.
"Jangan dekat-dekat dengan lelaki itu!" ketus Gala.
"Apa hak Om?!"
"Kau menanyakan hakku padamu apa?!" mengeratkan rahang.
"Hmm," mengangguk. "Lagi pula kita tidak saling mencintai. Jadi jangan melarangku sesuka hati Om!"
"Baiklah. Lakukan sesukamu!" tutur Gala dingin.
Gala menyandarkan kepalanya disandaran tempat duduk mobil. Seketika ia memutar otaknya, mencerna segala yang diucapkan Yara. Memang benar apa yang bocah ini katakan. Tapi kenapa aku tiba-tiba merasa jengkel saat dia tersenyum pada pria lain. Mungkin saja aku terlalu memikirkan Elyora. Saat Elyora lebih memilih lelaki lain dari padaku. Bisa jadi aku memiliki trauma di masa lalu!
Keheningan kembali melanda. Hanya terdengar suara mesin yang melaju dan bunyi klakson dari kendaraan lain yang lalu lalang. Seketika Yara tersadar jika rute yang mereka lalui bukanlah rute menuju rumah Oma Amber. Yara menyipitkan matanya saat melihat pemandangan yang mereka lalui. Bayangan sepuluh tahun lalu kembali terngiang dalam benaknya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang saat memasuki gerbang utama kediaman keluarga Rodderick. Shanks menepikan mobil saat telah sampai di pintu mansion.
"Sudah sampai Tuan dan Nona," ucap Shanks sembari membukakan pintu untuk Gala dan Yara.
Yara dengan berat menarik kakinya saat menuju pintu mansion. Sedangkan Gala telah berjalan mendahuluinya. Yara menatap sekelilingnya dengan tatapan nanar. Ada perasaan gelisah bercampur gugup yang sedang bergejolak dalam batinnya.
Langkah Gala terhenti saat hendak memasuki mansion. Ia menatap Yara di belakangnya yang masih membisu. Ia pun kembali meraih tangan Yara dan menariknya menuju ke dalam mansion. Yara sontak kaget, namun ia merasa tenang saat Gala memegang tangannya.
"Om ... " lirih Yara menundukkan kepala.
Gala menghentikan langkahnya dan memandangi wajah Yara yang tampak pias. "Kau bersamaku, jangan takut," ucapnya menenangkan Yara.
Yara mengangguk lemah. Badannya terasa lemas tak berenergi. Ia kembali mengingat kenangan sepuluh tahun lalu saat Gala mengambil dirinya dari Oma Amber dan pertama kali membawanya di kediaman keluarga Rodderick.
(Sepuluh tahun lalu)
"Trima kasih ya Om Gala karena sudah mengantarku pulang," tutur Yara kecil dengan tersenyum menatap wajah garang milik Gala.
__ADS_1
"Sama-sama."
"Ohya, Om Gala kok tahu sih rumah Oma Amber? Padahal 'kan aku belum kasih tahu ke Om."
"Aku sudah banyak kali ke sini."
"Hmm, benar juga ya. Om 'kan teman dekatnya Bunda sama Ayah. Kalau begitu ayo mampir dulu. Pasti Oma Amber senang kalau Om berkunjung," menarik jemari Gala yang tampak sulit untuk di pegangnya karena tangannya begitu mungil sedangkan telapak tangan Gala begitu besar.
Gala tertegun. Ia hanya menuruti permintaan gadis delapan tahun yang sedang menariknya masuk ke dalam rumah.
"Tuan Gala ... " panggil Shanks.
"Tidak apa-apa," ucap Gala sembari mengikuti Yara dari belakang.
Sesampainya di dalam rumah, Gala memandangi isi tempat itu. Ia bergumam dalam hatinya. Tak ada yang berubah. Semuanya masih sama saat terakhir kali aku ke sini.
"Omaaa! Yara pulang! Omaaaa oh Omaaaa!" teriak Yara mencari sosok Oma Amber.
Seketika seorang wanita tua dengam cepat menghampiri Yara dan memeluknya erat. "Yara, Sayang. Kau dari mana saja, hah? Oma mencarimu ke mana-mana. Kau main ke mana sejak pagi? Oma hampir saja melaporkan ke polisi. Karena Oma kira kau telah diculik!" Amber tampak begitu khawatir. Wajahnya pucat pasih. Ia mengecup kening Yara berulang kali.
"Oma, aku tadi ke rumah Ayah dan Bunda. Aku jalan kaki ke sana. Maaf ya Oma karena sudah membuat Oma khawatir," ucap Yara, memeluk tubuh Amber.
"Lain kali, Yara kasih tahu Oma ya. Biar Oma yang mengantar Yara ke rumah orangtuamu."
Yara mengangguk dengan cepat. "Oma, aku di antar pulang sama Om Gala. Katanya Om Gala adalah teman Ayah dan Bunda."
Amber terperanjat bukan kepalang. Ia melebarkan maniknya saat sosok Gala tiba-tiba muncul di hadapannya. Amber langsung menarik tubuh mungil Yara dan menempatkan gadis itu di belakangnya.
Tuan Gala Zayn Rodderick! Apa dia akan membawa cucuku sekarang! Ya Tuhan, aku belum siap kehilangan keluargaku lagi. Aku tahu ini sudah waktunya aku menyerahkan Yara sesuai dengan perjanjian antara Ray dan Tuan Gala. Tapi ... Aku benar-benar belum siap! Apa yang harus aku lakukan!
"Oma ... ada apa?" tanya Yara saat melihat ekspresi wajah Amber yang tidak biasa.
"Oma tidak apa-apa sayang."
"Aku kembali, Ibu." tutur Gala, dingin.
"Tu--tuan Gala," lirih Amber masih dengan wajah penuh kejut.
To be continued ...
__ADS_1
Sangat senang jika readersa suka dengan cerita ini. Like, Komen dan Vote yaaa, agar Author bisa semangat mengembangkan cerita. Makasih semua 😘🤗