
Gala memerintahkan Shanks untuk mengantar Yara di kantornya. Kali ini pria itu tidak bisa mengkawal Yara karena ia harus menghadiri pembukaan galeri dari salah satu teman bisnisnya. Yara menolak untuk pergi bersama Gala, karena ia baru saja mendapat telepon dari Jessica, jika orang-orang kantor memerlukan kehadirannya.
“Ingat, jangan dekat-dekat dengan pria lain,” ancam Gala.
“Siapa juga yang akan dekat dengan laki-laki lain!” elak Yara. Namun bola matanya memperlihatkan maksud lain.
Gala menyadari kelicikan istrinya. Namun kali ini Gala membiarkan Yara melakukan sesuka hatinya. Karena ia juga tidak ingin menekan gadis itu. Selama itu masih di batas wajar bagi Gala.
“Aku pergi dulu, Om,” melambaikan tangannya sembari tersenyum semringah. Yess! Akhirnya aku lepas dari pengawasan Om Gala, haha! Om Andro tunggulah aku!
Yara dan Shanks meninggalkan Gala. Mereka kemudian menuju Lincoln Group. Tak berselang lama, tibalah Shanks dan Yara di sana. Shanks sekali lagi memperingatkan Yara untuk tidak melakukan hal sembrono yang bisa memicu perang panas antara Nona Muda dan Tuan Mudanya.
“Jangan lakukan yang aneh-aneh Nona.”
“Aku mengerti, Shanks. Pergilah. Om Gala pasti menunggumu,” tersenyum lebar.
Shanks menunduk kepala dan berlalu dari hadapan Yara. Gadis itu kemudian memasuki gedung itu dan seperti biasanya ia disambut hangat oleh para karyawannya. Yara berjalan dengan Langkah yang cepat menuju lift.
Brukk!
Seorang gadis menyambar tubuh Yara saat ia memasuki lift. Tubuh Yara pun sedikit tergoncang karena tubrukan yang cukup keras itu.
“Maaf, saya buru-buru,” tutur gadis itu membungkukkan badan.
“Tidak apa-apa. Apa kau karyawan dari perusahaanku?” tanya Yara membuat gadis yang tak lain adalah Anya mendongakkan wajahnya menatap Yara.
“Bukan. Aku hanya menemui seseorang. Sekali lagi maafkan saya,” menunduk kepalanya.
“Baik, tak masalah.”
Yara memasuki lift. Sedangkan Anya tampak mendongak ke atas menatap langit atap dengan memikirkan sesuatu. “Wajahnya tampak tak asing,” gumamnya. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya saat benaknya mengingat sesuatu. “Astaga! Wanita tadi adalah istri muda Tuan Gala Rodderick! Dia juga merupakan direktur perusahaan ini! Hmm, beruntung sekali wanita itu!” melanjutkan langkahnya.
Setelah habis bertabrakan dengan Anya, Yara memikirkan banyak hal. Namun hal yang paling dominan menguasai benaknya adalah wajah Andro yang teduh bagai malaikat. Yara senyum-senyum sendiri saat memikirkan wakil direkturnya. Padahal ia tidak tahu jika Andro telah memiliki kekasih yang baru saja bertemu dengannya.
“Selamat siang Jes,” sapa Yara santai dan ramah.
Jessica segera melepas penanya dan beranjak dari duduk. “Selamat siang, Nona Yara,” menunduk kepala.
“Tolong ke ruanganku dan katakan apa-apa yang harus aku kerjakan hari ini.”
“Baik, Nona.”
__ADS_1
Yara menuju ruangannya dan Jessica mengekor dari belakang sambil membawa beberapa berkas yang ia ambil dari meja kerja Andro.
“Nona, ini semua adalah berkas yang harus Anda tinjau. Dan pesan wakil direktur, Nona harus membaca dengan teliti isi dokumen kemudian barulah di tanda tangani,” jelas Jessica.
“Baik. Trima kasih Jes. Lalu jadwal apalagi hari ini?”
“Jadwal Nona, sudah diambil alih oleh wakil direktur. Jam setengah tiga sore akan mengunjungi yayasan Next Generation untuk memberikan penghargaan kepada anak-anak yang baru kembali dan selesai berkuliah di luar negeri.”
“Oh ya? Apa perusahaan kita yang membiayai anak-anak itu?”
“Benar Nona. Kegiatan ini berlaku sejak kepemimpinan Almarhum Tuan Ray.”
“Ohyaya. Baiklah.”
“Saya permisi Nona,” menunduk.
“Tungu sebentar. Katakan pada wakil direktur jika aku akan ikut ke sana.”
“Tapi Nona, Tuan Gala baru saja meneleponku. Kata Tuan Gala, Nona tidak boleh menghadiri kegiatan sedekah itu. Karena itulah wakil direktur yang mengambil alih jadwal Anda.”
Yara mendegus kesal. “Ahh sial! Ternyata Om Gala memang tidak memberikan ruang bagiku untuk bebas!” Ia kemudian menatap Jessica. “Jes, kau jangan beritahu Om Gala ya. Aku tetap akan ikut. Lagi pula aku direktur perusahaan ini, jadi aku berhak menghadiri jadwal yang ada.”
Jessica menjadi bingung. Ia tidak tahu siapa yang akan ia dengar. Gala atau Yara? Keduanya memiliki peranan penting perusahaan, dan keduanya juga adalah atasannya yang paling ia segani.
Melihat ekspresi Yara membuat hati Jessica tak enak. “Baiklah Nona.” Aduh Jess! Siap-siaplah menerima amarah Tuan Gala! Batinnya.
“Wahh kau sangat baik Jes. Thank you so much!”
“Sama-sama, Nona. Jika butuh bantuan, silahkan memanggil saya kapanpun Nona butuh.”
“Baik.”
Jessica menunduk kepala dan meninggalkan ruangan direktur.
Yara tersenyum semringah. Ia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sambil menunggu jam setengah tiga, ia pun mulai mengerjakan beberapa berkas yang diberikan sekretarisnya. Cukup banyak yang harus ia tinjau. Sesuai dengan pesan Andro, Yara membaca dokumen-dokumen itu dengan teliti. Ada beberapa yang diterimanya dan ada beberapa juga yang ditolaknya.
Berkas-berkas itu bermacam-macam. Ada yang berasal dari non karyawan dan ada juga yang berasal dari karyawan. Dan yang paling banyak adalah proposal dari setiap kepala bagian yang mengusulkan proyek-proyek baru mereka. Waktu pun dengan cepat berlalu. Yara kembali menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua. Ia kembali menghubungi Jessica dan tak menunggu lama, sekretarisnya tiba di ruangannya.
Tok tok tok …
“Masuk.”
__ADS_1
Jessica masuk ke dalam ruangan Yara bersama seorang pria yang tak lain adalah Andro. Yara tertegun.
“Nona, sudah saatnya untuk menghadiri acara di yayasan,” tutur Jessica.
“Baik.”
“Nona, saya tidak apa-apa jika pergi sendiri,” ucap Andro.
“Saya juga harus turun langsung memantau kegiatan tersebut.’
Jessica dan Andro mengangguk.
Ketiga orang itu menuju tempat parkir mobil dan bergegas menghadiri acara di yayasan Next Generation.
Sepanjang perjalanan jantung Yara terus berdetak kencang. Sesekali ia mencuri pandang, menatap spion dan melihat tampang Andro yang begitu tenang sedang memutar kemudi. Yara tersenyum kecil.
Tak lama kemudian tibalah mereka di sebuah tempat yang terletak di pinggir kota. Seseorang menyambut kedatangan mereka dengan ramah dan santun.
“Selamat datang Tuan dan Nona,” tutur seorang wanita yang merupakan kepala yayasan itu.
“Perkenalkan, ini Ibu Vivi. Beliau selaku kepala yayasan Next Generation yang megirim beberapa mahasiswa ke luar negeri untuk melanjutkan study. Dan Bu Vivi, ini adalah Nona Yara, direktur baru perusahaan Lincoln Group.”
“Halo Bu Vivi,” sapa Yara, ramah.
“Nona Yara sangat cantik dan masih muda pula. Trima kasih telah meluangkan waktu untuk menghadiri acara yayasan kami.”
“Sama-sama.”
“Silahkan masuk. Semua orang telah menunggu kedatangan kalian,” mempersilahkan.
Ketiga orang itu memasuki gedung. Mereka disambut meriah oleh para mahasiswa yang baru kembali menimbah ilmu. Bu Vivi menyediakan tempat untuk Yara, Andro dan Jessica menempati tempat paling depan. Acara pun akan dimulai. Jessica membuka acara itu sebagai penuntun acara. Dan setelah giliran kepala Yayasan menyampaikan kata sambutan, sekarang giliran Yara sebagai direktur utama perusahaan yang mendanai untuk memberikan beberapa patah kata.
Dengan penuh percaya diri, Yara berdiri di depan orang banyak dan mulai menyampaikan sambutannya. Para mahasiswa yang baru kembali dari luar negeri sebenarnya lebih tua beberapa tahun dari Yara. Ia yang masih delapan belas tahun menjadi panutan bagi mahasiswa-mahasiswa itu. Public Speaking Yara sangat baik dan sangat mudah untuk dipahami. Gaya bahasa dan gerak-geriknya pun begitu santai namun tetap anggun. Sesekali ia menatap Andro, dan Andro membalas tatapannya dengan penuh kagum. Hal itu membuat Yara semakin percaya diri dan lebih menebarkan pesona agar Andro tertarik padanya.
Setelah Yara memberikan sambutan singkat, semua orang bertepuk tangan dengan meriah. Acara selanjutnya adalah bagian yang paling ditunggu-tunggu, yaitu penyerahan piagam penghargaan sekaligus hadiah dari Lincoln Group untuk para mahasiswa berprestasi yang memiliki nilai di atas rata-rata dan menyandang peringkat cum laude, magna cum laude dan summa cum laude.
Tanpa disadari Yara, sosok pria yang tak asing baginya sedang menyorotnya dengan tatapan dingin. Ya, siapa lagi kalau bukan Gala. Firasat Gala benar. Ia tahu jika Yara pasti tidak akan mendengarkan perintahnya dan malah menghadiri acara itu. Gala mengeratkan rahangnya saat mendapati Yara mencuri pandang menatap Andro dengan sejuta pesonanya.
“Benar-benar wanita keras kepala!”
To be continued ...
__ADS_1
Berikan jejak cinta kalian untuk Author sebagai dukungan supaya Author tetap semangat berkarya. Makasih semuanya 🥰🤗