Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 38 : Lamaran ~ Persiapan


__ADS_3

Di tempat lain, tepatnya di sebuah restoran ternama di ibukota, tampak seorang pria yang juga telah mempersiapkan kejutan romantis untuk pasangannya. Malam itu pria yang tak lain adalah Andro, hendak melamar Anya dan segera menghalalkan gadis itu.


Demi melamar Anya, Andro rela membayar mahal, memesan tempat itu khusus dirinya dan kekasih. Sehingga tak ada orang lain di sana kecuali pelayan restoran. Tempat itu telah dihias sedemikian rupa sehingga terlihat sangat indah dan tentunya romantis.


Serpihan bunga mawar telah bertebaran di lantai dan di pinggiran jalan yang akan dilewati Anya. Pencahayaan yang remang memberi kesan estetik terhadap restoran itu. Tak lupa juga lilin aromaterapi telah terpajang di atas meja utama.


Pria bertubuh tegap bak atletis telah menunggu sedari tadi di dalam restoran. Sambil menunggu Anya, ia kembali menatap sebuah kotak kecil yang di dalamnya terdapat cincin berlian yang hendak dipasangkan di jari manis kekasihnya.


Andro tersenyum lebar. Hatinya begitu riang saat membayangkan wajah Anya yang sangat cantik. Andro menatap jam berwarna perak yang melingkar di pergelangan tangannya. Kala itu, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.


Sebuah mobil SUV Luxury Range Rover Evoque berwarna putih telah memasuki halaman depan restoran. Seorang gadis cantik, selebriti papan atas telah turun dari dalam mobil. Ia menyerahkan kunci mobilnya pada tukang parkir.


Wanita itu tak lain adalah Anya. Ia berjalan dengan gemulai, memasuki restoran. Anya tersenyum saat melihat Andro yang telah berdiri di suatu tempat, sedang menatapnya dengan lekukan lebar di pipi pria itu. Anya memandangi tempat itu dengan kagum.


"Selamat datang, permaisuriku," tutur Andro menunduk.


Anya tersenyum semringah. "Trima kasih, baginda raja," ucapnya sembari melakukan curtsy ala istana dengan meletakkan kaki kanan di belakang kaki kiri dan menarik tepi gaun menggunakan kelingking dengan gaya yang anggun.


Andro menjemput Anya di depan pintu. Ia pun menyodorkan lengannya untuk di gandeng wanita itu. Anya sangat merasa terhormat saat diperlakukan Andro bak ratu kerajaan seperti dalam negeri dongeng.


Satu dari sekian banyak hal yang membuat Anya tidak bisa melepaskan lelaki itu adalah karena perlakuan istimewa yang Andro berikan padanya. Tidak hanya tampan dan ramah, namun lelaki itu memiliki nilai tambah dalam memperlakukan seorang wanita.


Walaupun Anya menyukai sifat dan perilaku Andro yang baik dan ramah, namun ada dua hal yang membuat Anya tak puas dengan lelaki itu. Hal yang pertama adalah kekayaan. Memang keluarga Anya lebih berada dan lebih terpandang dari Andro.


Hal yang pertama itu membuat Anya memutuskan untuk berselingkuh dengan seorang pria beristri yang kaya raya serta memiliki kedudukan yang tinggi. Anya sebenarnya hanya memanfaatkan selingkuhannya untuk kepentingan pribadinya.


Menjadi model sekaligus selebriti papan atas di negeri, diraihnya dengan sangat enteng berkat bantuan dan campur tangan selingkuhannya, yang tak lain adalah Tuan Besar Rodderick, alias Tuan Zian. Ia menjadi simpanan Zian sejak satu tahun yang lalu.


Hal kedua yang membuat Anya tidak puas memiliki Andro, adalah karena lelaki itu tidak memberikan kepuasan terhadap nafsunya. Jelas saja karena Andro belum pernah berhubungan intim dengannya. Hal ini juga membuat Anya lebih memilih selingkuh.


Walau Zian sudah tua dan berumur lima puluh sembilan tahun, namun badannya masih bugar. Tubuh lelaki itu pun sangat terawat dan ia memiliki postur yang tak kalah gagah dan cegak dengan pria berumur tiga puluh tahun.


Rahasia Anya masih tertutup rapat. Sudah satu tahun lebih gadis itu bermain di belakang Andro, namun ia tidak menyadari. Sebenarnya ada rasa curiga dengan sifat Anya yang mulai berbeda, namun Andro selalu menentang pikirannya, dan selalu berpikir positif.


"Anya," panggil Andro lembut.


"Iya, Mas?"


Kedua insan itu saling menatap satu sama lain dengan sorot mata yang begitu dalam.


"Mas ingin segera menjadikanmu sebagai istri Mas."


Anya melonjak. Hatinya sangat gembira. Wajahnya merona saat Andro tiba-tiba menyodorkan sebuah kotak berwarna merah yang di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian berukuran kecil. Cincin itu sangat elegan dan manis.


"Mas ... " lirih Anya.


"Anya, maukah kau menikah denganku?"


Debaran jantung Anya memompa dengan kencang. Rasa bahagia teramat sangat dirasakan gadis itu. Ia dengan segera menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Aku mau, Mas!"

__ADS_1


Andro tersenyum lebar. Ia memasangkan cincin itu di jari manis Anya. Benda itu sangat cocok melingkari jari manis Anya. Saking bahagianya gadis itu, ia pun melupakan suatu hal. Ia lupa jika dirinya tidak akan pernah bisa menyatu dengan Andro selama ia masih berhubungan dengan Zian.


Andro menarik dagu Anya dan mendekatkan bibirnya, sehingga keduanya berciuman. Beberapa saat kemudian gawai Anya berdering, namun ia mengabaikannya. Mereka tetap bercumbu, saling mengutarakan perasaan masing-masing.


Lama-kelamaan, dering ponselnya mulai mengganggu ritual sakral kedua makhluk hidup itu. Anya merasa risih sehingga membuat gairahnya menurun. Begitu juga Andro. Lelaki itu merasa kaku karena gawai Anya yang tak henti-hentinya berdering.


"Sepertinya itu sangat penting. Kau jawab dulu panggilan masuk itu," ucap Andro.


Anya segera meraih gawainya dari dalam tas dan menatap nomor yang tak terdaftar dalam kontaknya. Ia kemudian curiga karena nomor itu khusus dan terbatas. Tuan Zian! Ada apa dia meneleponku?! Sialan!


"Ada apa?" tanya Andro.


"Ehm, Mas ... aku permisi sebentar ya."


"Jawab saja di tempat. Aku tidak merasa terganggu kok."


Anya melebarkan maniknya. Aduh bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan!


Peluh tampak menyucur di dahinya. Ia mulai panik dan berkeringat dingin.


"Anya? Kenapa?"


"Ti--tidak apa-apa Mas Andro. Aku tidak usah mengangkatnya saja," menyimpan kembali ponselnya.


"Loh kenapa? Memangnya siapa yang meneleponmu?


Gadis itu gugup. "Ehm, anu ... bu--bukan siapa-siapa!" tuturnya gelagapan.


Tak lama kemudian, ponsel Andro bergetar.


"Anya, sebentar ya. Mas jawab panggilan dulu. Ini nomor yang sangat penting," ucap Andro, menatap layar ponselnya.


Seketika Anya tertegun. Ia mulai berpikiran negatif. TIDAK! Jangan berpikir yang tidak-tidak, Anya! Mana mungkin si Tua Bangka itu menelepon Mas Andro!


Andro tiba-tiba menatap manik Anya.


"Ada apa?" gumam Anya, panik bukan kepalang.


"Seorang pria misterius mencari kamu, Nya!"


Degg!!


***


"Suamiku, trima kasih ya atas kejutan manis darimu. Aku sangat senang sekali."


"Aku juga bersyukur jika kau senang," tersenyum tipis dengan menggoyang pelan gelas bening berisi anggur.


"Aku sangat kenyang," menepuk perutnya yang tidak buncit.

__ADS_1


"Istriku? Apa kau telah siap dengan kejutan terakhir?"


Mata Yara kembali mengeluarkan binar bening berlian. "Sangat siap!" ketusnya, lantang.


Gala beranjak sari duduknya. Ia kemudian menghentar Yara menuju suatu tempat. Tak memakan waktu yang lama, mereka pun tiba di sebuah ruangan khusus yang sangat besar, megah dan mewah. Ruangan itu adalah sebuah kamar yang telah dihias bak kamar pengantin.


Yara melonjak saat melihat isi kamar itu. Ia begitu tertegun dengan desain unik beserta interior mewah yang terdapat di dalam kamar tersebut. "Suamiku, aku baru tahu jika kapal pesiar ini memiliki kamar sebagus ini! Aku rasa hotel bintang sepuluh pun masih kalah dengan kamar ini!" puji Yara.


"Semuanya dikhususkan untukmu, Istriku."


"Benarkah? Huaaaa! Keren pakeee begete!" celutuk Yara.


"Kau suka?"


"Sangat suka!" mengangguk cepat. "Tapi ... aku belum mengantuk, Suamiku."


Gala tersenyum nakal. "Setelah melakukannya, pasti kau akan mengantuk."


"Melakukan apa, Suamiku?" tanya Yara mengerutkan kening.


"Katanya kau telah siap. Aku juga telah siap," bisik Gala, membuat Yara bergidik ngeri.


"Ma--maksudmu?"


Tanpa menjawab pertanyan Yara, pria itu langsung menggendong tubuhnya dan segera meletakkan tubuh Yara di atas ranjang.


Yara melebarkan maniknya. "Suamiku?! Apa yang kau la--"


"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Aku tidak berpengalaman. Apa kau punya ide?"


Yara terdiam sejenak. Ia masih mencerna ucapan Gala.


"Istriku ..."


"Eh i--iya? Aku tidak paham dengan ucapanmu."


"Apa kita menonton tutorialnya dulu?"


Yara semakin bingung. "Tutorial?" lirihnya.


"Hmm," mengangguk. "Sebentar," meraih ponselnya di dalam saku.


Yara hanya melihat Gala dengan tatapan bingung. Ia tidak dapat menerka maksud suaminya.


"Shanks bilang akan mengirimkan video itu padaku. Tapi kenapa belum masuk juga?"


"Video apa, Suamiku?"


To be continued ..

__ADS_1


Nantikan episode selanjutnya. Dan jangan luoa dukung Author lewat vote, like dan komen. Makasih semua 🥰🤗


__ADS_2