
“Aduh sakit sekali perutku!” pekik Yara.
Sudah beberapa menit ia tidak keluar dari dalam toilet. Ia mencoba mengangkat gawainya setinggi mungkin agar mendapat jaringan, namun hal itu hanyalah sia-sia. Sama sekali tak ada jaringan di dalam sana. Ia hanya bisa berharap Gala dapat menyusulnya dan membantunya keluar dari dalam toliet. Yara semakin erat memeluk perutnya karena teramatlah sakit.
“Ahh!” teriak seorang wanita.
“Astaga!”
Di luar tampak riuh. Yara hanya bisa mendengar suara teriakan wanita dan beberapa suara samar-samar yang tengah berbisik.
“Yara kau di mana?!” panggil Gala dengan menendang semua pintu toilet wanita.
Kehebohan itu ternyata karena ulah Gala yang dengan seenaknya masuk ke dalam toilet wanita. Suara riuh beberapa wanita kini tak lagi terdengar. Mereka sadar jika lelaki yang memasuki toilet khusus wanita adalah seorang presiden dari Blackfire Company.
“Om Gala, aku di sini!” teriak Yara.
Gala mengarah ke sumber suara Yara. Rupanya Yara berada di toilet paling sudut.
“Om Gala, apa kau itu?” tanya Yara, memastikan.
“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tidak keluar dari dalam?” tanya Gala panik bukan main.
“Aku … “ menjeda ucapannya. Yara tampak malu untuk mengatakannya pada Gala.
“Kalau kau tidak keluar, maka aku akan mendobrak pintunya!”
“Jangan! Jangan didobrak, Om!” ketus Yara.
“Kalau begitu keluarlah sekarang! Kau membuatku panik!”
“Om, pinjamkan jasmu.”
“Untuk apa?” mengernyitkan dahi.
“Sudah pinjamkan saja. Nanti aku beritahu jika aku sudah keluar dari dalam toilet.”
Gala dengan sigap membuka jasnya. Yara membuka pintu toilet selebar lima senti. “Mana Om?” menyodorkan tangannya.
Brakk!
Gala mendorong pintu itu dengan paksa dan segera masuk ke dalam. Yara terperanjat hebat saat tubuh Gala telah sepenuhnya berada di dalam toilet. Pipi Yara memerah, ia memundurkan langkanhnya sehingga tubuhnya mentok bersandar di tembok. Yara memejamkan matanya. Posisi tangan gadis itu kembali memeluk erat perutnya.
“Ada apa?!” tanya Gala. Ia melihat raut Yara tampak pias dan pucat. “Apa kau sakit?”
“Om kenapa masuk ke dalam sini! Nanti orang-orang yang melihat ini akan mengira jika kita berbuat mesum di toilet.”
“Tidak masalah! Kita sudah menikah!”
Deg!
Yara menelan salivanya kasar.
“Apa kau bisa berjalan?” tanya Gala memegang pundak Yara dengan mimik khawatir.
Yara menggeleng. “Aku tidak bisa keluar dengan keadaan seperti ini.”
Gadis itu sangat membuat Gala bingung. “Baiklah, aku akan menggenndongmu!” mengambil ancang-ancang untuk menggendong tubuh Yara.
__ADS_1
“Tidak usah Om!” menepis tangan Gala.
“Jangan keras kepala kamu!” membentak Yara.
“Tapi Om, aku lagi kedatangan tamu bulanan!”
“Tamu? Siapa dia? Pria atau wanita?”
Deg!
Yara mendengus. Ia memutar bola matanya malas.
“Aku tanya, pria atau wanita?! Dan kenapa harus bersembunyi di sini? Kalau kau tak suka tamu itu mengganggumu maka jangan bersembunyi di sini dan membuat orang khawatir! Atau katakan padaku, biar aku yang mengusirnya!”
Desakan Gala semakin membuat Yara tak bisa berkata-kata. Ingin rasanya ia terbahak sambil salto karena melihat tingkah Gala, namun ia tidak sanggup karena perutnya semakin sakit.
“Om ..” lirihnya pelan.
“Ada apa?!”
“Bukan tamu yang seperti Om maksud.”
“Lantas?”
Yara menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan. Dahinya mulai meneteskan peluh. “Aku lagi menstruasi, Om. Tapi bahasa halus wanita adalah kedatangan tamu bulanan. Karena menstruasi datang sekali setiap bulan. Namun ada juga yang sampai dua kali. Apa aku juga harus menjelaskan pada Om, apa itu menstruasi?!”
“Aku tak sebodoh itu!” Tiba-tiba wajah Gala memerah. Sial! Memalukan sekali!
“Aku ingin pulang saja, Om. Aku sudah hampir tidak sanggup menahan sakit perut. Aku hanya butuh istirahat. Lagi pula gaun yang aku gunakan berwarna putih dan telah terkena noda darah.” Yara menahan malu mengucapkan itu pada Gala, namun orang satu-satunya yang bisa menolongnya hanyalah Gala.
“Ehm, ya … ayo ke rumah sakit!”
“Karena kamu sakit!”
“Iya memang sakit, tapi tidak perlu ke rumah sakit, Om. Ini tuh memang penyakit bawaan perempuan,” jelas Yara menekan kalimatnya.
Gala masih tak paham dengan maksud Yara.
“Sudah pinjamkan saja jas Om.”
Pria itu memberikan jas berwarna hitam miliknya. Ia memperhatikan Yara yang tengah melingkarkan jasnya di pinggang Yara. “Untuk apa?” tanyanya.
“Menutup noda merah di bawah sana,” menunjuk dengan ujung matanya. “Tolong berjalan di belakangku, Om.”
Gala menurut. Mereka keluar dari dalam toilet. Betapa terkejutnya mereka saat mendapati kerumunan wanita di depan toilet. Semuanya tampak berbisik-bisik dan menyoroti Yara dengan tatapan sinis. Gadis itu tak mempedulikan orang-orang yang memandangi mereka. Gala terus mengkawalnya di belakang sampai tiba di tempat parkir mobil dan masuk ke dalam mobil.
“Kau yakin tidak akan ke rumah sakit?” tanya Gala lagi.
“Seratus persen yakin.”
“Baiklah kalau begitu kita mampir di apotik saja.”
“Boleh. Belikan aku obat pereda rasa nyeri.” Pintah Yara seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
Dengan kecepatan di atas rata-rata, Gala mengemudikan mobilnya. Bagai membawa pasien gawat darurat yang nyawanya sudah berada di ujung tanduk, begitulah Gala mengemudikan mobil. Ada rasa khawatir yang besar di dalam dirinya. Sesekali ia melirik Yara yang memejamkan mata sembari memeluk perutnya.
“Om? Apa aku boleh meminta bantuanmu sekali lagi?” lirih Yara tampak malu.
__ADS_1
“Katakan.”
“Tolong belikan pembalut ya Om.” menahan rasa malu yang teramat sangat.
“Pembalut? Apa itu?” mengerutkan kening.
“Itu loh Om, sejenis popok tapi untuk wanita yang sedang menstruasi.”
“Baik. Di depan sana ada supermartket. Aku akan membelinya di sana."
Yara mengangguk. Mobil kemudian mulai menepi. Gala segera turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam supermarket. Orang-orang yang berbelanja kembali menyorotinya. Siapa yang tak kenal dengan Gala Zayn Rodderick. Meski bukan pemain film atau model, tapi poster gambarnya telah terpajang ke segala penjuru kota. Ia memang dijuluki sebagai pria tampan penakluk bisnis. Dan beberapa tahun terakhir secara berturut-turut ia meraih penghargaan sebagai The King of creative business and intelligence.
Tanpa memiliki rasa malu, Gala langsung bertanya pada seorang pegawai tokoh yang sedang menata barang di rak. “Di mana tempat pembalut?”
Karyawan wanita itu tertegun saat melihat sosok Gala yang berdiri tepat di depannya. Lama ia menatap wajah Gala dengan mulut yang menganga lebar.
“Kau mendengar saya?”
“Oh ehm, sebelumnya maaf atas kelancangan saya Tuan, apa Anda adalah Tuan Gala Zayn Rodderick, presiden dari Blackfire Company?” tanya wanita itu dengan hati-hati.
“Benar. Bisa kau tunjukkan di mana tempat pembalutnya?”
Degg!
Manik wanita itu kembali melebar. Astaga! Dia benar-benar Tuan Gala! Dia berdiri tepat di hadapanku! Aku baru kali ini melihatnya secara langsung. Sangat dekat pula! Oh my goodness. Tampan pake bangetttt!
Saking terpukaunya gadis itu, ia sampai lupa dengan apa yang dibutuhkan Gala. “Ehm, Tuan … bisa ulangi lagi?”
“Saya mencari pembalut untuk istri saya. Cepatlah dia sedang kesakitan, jika terjadi apa-apa padanya, saya akan menyalahkanmu!”
Ya Tuhan! Sweet banget. Membelikan pembalut untuk istrinya. Gimana rasanya ya jadi istrinya! Hmm, pasti mengasikkan. Beruntung sekali wanita itu.
Wanita itu terus bergumam dalam hatinya memuji Gala. Ia berjalan menuju rak nomor enam dengan Gala yang mengekor di belakangnya. “Tuan, mau yang mana? Di sini ada banyak pilihan,” tersenyum menatap Gala.
“Hmm,” mengusap dagu. “Saya juga tidak tahu mana yang disukai istri saya. Menurutmu mana yang bagus?”
“Semuanya bagus, Tuan. Masalahnya cocok atau tidak cocok dan nyaman atau tidak nyaman.”
“Kalau begitu yang paling mahal saja. Yang mahal pasti kualitasnya bagus dan bikin nyaman.”
“Baik, Tuan,” meraih kemasan yang terletak di sudut dan memberikannya pada Gala. “Tuan, boleh saya minta foto?”
“Untuk apa? Saya sudah punya istri!”
“Saya tahu Tuan. Suatu kehormatan bagi kami, kedatangan Tuan di tokoh ini. Jadi kami ingin memajang foto Tuan untuk menarik pelanggan.”
“Oh begitu. Baiklah.”
Pegawai wanita mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Ia mulai menyalakan kamera dan memotret Gala yang tengah berdiri di depan rak pembalut sambil memegang produk pembalut yang baru saja dibeli “Trima kasih Tuan. Tapi ada bagusnya jika Tuan berdiri di depan tokoh kami dan tidak usah memegang pembalut,” tuturnya pelan.
“Tida usah. Begitu saja! Saya harus cepat membawakan benda ini pada istri saya. Kau boleh mempostingnya atau mencetaknya!” bergegas menuju kasir.
“Tapi tuan … apa tidak apa-apa dengan reputasimu?” melihat rak pembalut dengan tatapan kecut.
“Lakukan sesukamu!”
“Benar-benar luar biasa! Tuan Gala memang lelaki sejati,” mengacungkan dua jempolnya.
__ADS_1
To be continued ...
Like, komen dan vote dari kalian akan sangat membantu Author. Makasih semua 🥰🤗