
Semua orang memandangi Yara. Gala pun menatapnya dengan tajam. Tatapan mereka sangat mengintimidasi Yara.
Ayo jawab! Hahaha! Kau pasti tidak tahu harus berkata apa! Dasar bodoh!
“Trima kasih, Nona Amoera karena telah bertanya pendapat saya,” melemparkan senyum. “Maaf sebelumnya, mungkin saya lancang. Tapi menurut saya, peluncuran produk kecantikan oleh Sugar Group belum memadai.”
Degg!
Amoera mengerutkan dahi. Tak hanya Amoera saja, semua petinggi dari berbagai perusahaan menatap wajah Yara dengan serius. Mereka menjadi penasaran, apa yang ada dipikiran direktur utama Lincoln Group.
“Bisa Anda memberikan hipotesa Anda, Nona Rodderick?” tanya Adam.
Yara mulai mengatur napasnya dan berusaha menenangkan diri. Ia juga tidak ingin terlihat bodoh di antara orang-orang cerdas yang mengelilinginya. “Jadi begini, memang sangat baik apa yang di paparkan Anda mengenai peluncuran produk kecantikan wajah yang berupa skincare. Namun ada beberapa hal yang perlu di pertimbangkan juga. Contohnya mengenai target. Tadi Anda menargetkan hanya kepada para remaja saja. Tapi alangkah baiknya jika Anda menargetkannya bukan hanya pada para remaja melainkan pada wanita-wanita yang sudah berumur. Karena menurut saya, ibu-ibu memiliki kulit wajah yang mulai rentan terhadap umur. Jadi mereka juga ingin memiliki produk yang bisa mengencangkan kulit mereka agar tampak lebih bersinar di usia mereka yang sudah paruh baya.”
“Maaf menyela, tapi produk perawatan kulit memang hanya dikhususkan untuk para remaja saja,” sela Amoera dengan tatapan sinis.
“Saya paham maksud Anda. Kalau dipikir lagi, banyak juga para remaja yang tidak suka memakai perawatan kulit. Akan lebih bagus jika target diubah menjadi remaja dan wanita dewasa. Supaya produk dari Sugar bisa diminati semua orang, dan bisa membawa keuntungan yang besar bagi perusahaan.”
Semua orang yang ada di sana mengangguk paham dengan ucapan Yara.
“Dan juga usul saya, ada baiknya jika Anda mengeluarkan produk perawatan yang sama untuk para pria. Karena bukan hanya wanita saja yang suka merawat kulit wajah, tapi laki-laki juga saya rasa banyak yang minat dengan skincare.” Yara menatap Gala dengan menyunggingkan bibir karena ia tahu jika suaminya salah satu penggila skincare. Banyak sekali produk perawatan kulit yang dikoleksi Gala. Mulai dari yang termahal sampai pada produk lokal yang ekonomis.
“Saya setuju! Ternyata direktur Lincoln Group memiliki wawasan luas mengenai dunia bisnis,” puji seorang pria paruh baya sambil tersenyum menatap Yara.
Gala pun menarik sudut bibirnya. Tidak sia-sia aku menyekolahkanmu, istriku.
Sementara semua petinggi perusahaan bercakap-cakap sambil memuji potensi Yara, tampak wajah Amoera sudah berubah menjadi kecut. Tatapan penuh kebencian dilemparkannya pada Yara. Baru kali itu ada orang yang berani memberi kritik pedas padanya selain Gala. Setiap produk yang dikeluarkan Sugar pastilah akan diterima dengan bagus oleh petinggi perusahaan.
Kebencian Amoera semakin mandarah daging. Sialan! Dasar angkuh! Jangan berbangga diri dengan pencapaianmu, ini hanyalah sebuah kebetulan saja. Sok pandai! Batin Amera, mengamuk.
Yara membalas tatapan tajam Amoera dengan senyuman lebar. Gadis itu tampak merasa puas karena telah membuat Amoera bungkam. Sebenarnya Yara tidak bermaksud untuk mempermalukan Amoera, namun pendapatnya juga ada benarnya. Masalah target yang perlu ditinjau lagi. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin ia ulas mengenai produk kecantikan Sugar, namun melihat Amoera panas, sudah lebih dari cukup untuknya.
“Trima kasih atas masukan Anda, Nona Yara. Jika itu memang akan menguntungkan perusahaan, maka saya akan merubah target marketing. Mungkin sekian dulu untuk rapat kali ini. Nanti kita akan membahasnya kembali setelah produk telah siap di pasarkan.”
__ADS_1
Rapat telah usai, semua orang bertepuk tangan. Mereka sangat puas dengan usul yang dikemukakan Yara. Ya! Jelas saja karena para pria itu penggila uang. Asalkan perusahaan untung, mereka rela melakukan apa saja termasuk menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang mereka inginkan.
Amoera telah lebih dulu meninggalkan ruangan rapat. Sedangkan Yara dan Gala bersama beberapa pemimpin perusahaan lain masih asik berbincang.
“Saya salut dengan potensi Anda, Nona Rodderick. Usul Anda benar-benar brilliant. Saya yakin seribu persen produk yang nantinya akan diluncurkan Sugar akan diminati banyak orang.”
“Trima kasih, Tuan.”
Mereka pun bubar. Gala, Yara dan Shanks kembali ke mobil mereka dan melanjutkan jadwal.
“Selanjutnya kita ke mana?” tanya Yara.
Gala menarik sudut bibirnya. “Tampaknya kau sangat bersemangat.”
“Ti—tidak juga. Aku ‘kan hanya melakukan tugasku sebagai ditektur,” tutur Yara dengan pipi yang memerah.
Gala tiba-tiba mengusap puncak kepala istrinya. “Untuk pendatang baru sepertimu, kau lumayan,” memuji Yara.
Gadis itu tersenyum tipis. Pujian Gala merupakan suatu kehormatan besar baginya. Yara menahan diri agar tidak menunjukkan ekspresi bahagianya di depan Gala. Demi apa, aku di puji Om Gala? OMG, biar bagaimana pun juga dia adalah Presiden Blackfire, raja penakluk segala bisnis.
Brakkkk!!
“Ahhhh! F*ck!!”
“Tenanglah Nona.”
“Aku tidak terima! Sangat-sangat tidak terima diperlakukan seperti tadi!” ketus Amoera.
Wanita itu membanting segala dokumen yang ada di meja kerjanya sehingga bertebaran di mana-mana. Rasa ingin melenyepkan Yara menggebu-gebu di dalam dirinya. Amoera benar-benar merasa dipermalukan oleh Yara yang bisa dikatakan hanya pendatang baru dalam dunia bisnis.
“Si j*lang itu sudah merebut tunanganku! Dan sekarang dia telah merendahkanku di depan para pemimpin perusahaan terpandang negeri ini! Dia bahkan mendapat pujian yang seharusnya menjadi milikku! Arghhhhh!” mengacak rambutnya.
“Kalau begitu Nona harus balas dendam terhadapnya,” ucap wanita yang merupakan sekretarisnya.
__ADS_1
“Harus itu! Pertama-tama aku akan membuatnya kehilangan Gala dan di usir dari keluarga Rodderick, lalu aku dengan perlahan akan menyiksanya sampai dia merasa jika dirinya tidak pantas dilahirkan!”
Manik Amoera seperti mengeluarkan kobaran api. Ia begitu dendam pada Yara. Amoera adalah wanita yang disegani banyak orang karena kecerdasannya dan penampilannya yang aduhay. Baru kali ini ia menemukan saingan yang cukup menggetarkan raganya.
Ceklekk!
“Tuan besar,” gumam sekretaris Amoera dengan terbelalak.
“Papa?!”
“Apa yang terjadi?” ucap lelaki paruh baya yang adalah ayahanda Amoera.
Richard menatap seluruh ruangan itu yang tampak porak poranda. “Amoera?! Papa dengar jika peluncuran produk baru Sugar telah batalkan. Apa benar?”
Deg!
Jantung Amoera berdetak dengan kencang. Tatapan Richard membuatnya tak bisa berkutik. Jelas saja karena ayahnya adalah pria kejam yang ditakuti.
“Jawab!” gertak Richard.
“Bukan dibatalkan Pa. Tapi ditunda karena ada beberapa hal yang perlu di perbaiki.”
“Oh begitu? Papa benar-benar kecewa denganmu. Di mana keterampilan yang kau miliki, hah?! Papa sudah mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk peluncuran produk baru. Dan dengan seenaknya kau bilang ada beberapa yang harus diperbaiki?!”
“Pa, maafkan aku. Aku pasti akan memperbaikinya sebagus mungkin.”
“Produk yang tidak memadai dinamakan dengan produk yang gagal! Baru kali ini perusahaan kita mengeluarkan produk gagal!”
Desakan Richard membuat Amoera terdiam sembari menunduk kepala. Walaupun Richard adalah ayah kandung Amoera, namun saat bersangkutan dengan bisnis, hubungan darah tidak diperhitungkan lagi. Ayahnya sangat kejam jika usaha mereka ada yang gagal. Dan Amoera telah membuat amarah Richard menggebu.
“Jika kau tidak memperbaiki kesalahanmu, maka Papa akan menarik kembali jabatan yang kau miliki! Dan tak hanya itu, jangan panggil aku Papa lagi, jika kau gagal!!” Richard meninggalkan ruangan Amoera.
Wanita itu mengepalkan jemarinya. Ia mengeratkan rahang sembari memandang dinding dengan tatapan nanar. “Semua gara-gara j*lang itu!”
__ADS_1
To be contiunued ...
Tetap stay, menantikan episode selanjutnya. Ohya, jangan lupa untuk meninggalkan jejak kalian. Makasihh semua 🤗🥰