Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 17 : Menunggu Gala


__ADS_3

Kedatangan Yara disuguhkan dengan penampakkan panas tubuh Gala yang polos sehingga membuat penglihatan Yara kembali ternodai. Segera Yara menarik kembali gagang pintu sehingga pintu itu tertutup kembali. Debaran jantung Yara memompa tak karuan. Pipinya memerah bagai tomat. Benda panjang yang bergelantungan di bawah pusar Gala terus berkeliling di pikirannya.


“Mengerikan! Aku tidak bisa membayangkan jika benda itu … “ menggeleng kepalanya. “Sudah gila aku! Membayangkannya saja sudah membuatku tak bisa bernapas!”


Pikiran Yara mulai bertamasya. Otak dan batinnya sedang bentrok karena pikirannya yang sudah melayang-layang membayangkan bagaimana jika Gala khilaf dan tiba-tiba menyerangnya, sedangkan hatinya tetap kukuh untuk mempertahankan kehormatannya hanya untuk pria yang ia cintai dan yang mencintainya.


“Masuklah, aku sudah selesai. Lain kali kalau mau masuk harus ketuk pintu dulu,” tutur Gala yang telah berdiri di depan pintu.


Yara menganga manatap Gala. Dengan reflek matanya melirik bawah pusar Gala yang telah terbalut pakaian. Manik Yara melebar, ia menelan salivanya dengan kasar. Lirikan itu kemudian beralih menatap wajah tanpa ekspresi Gala. Seketika kepalanya menggeleng-geleng karena masih tak percaya dengan peristiwa beberapa menit yang lalu.


“Apa yang kau pikirkan?” tanya Gala dengan mengangkat alis setengahnya.


“Ti—tidak ada!” mendorong tubuh Gala dan segera menerobos masuk ke dalam kamar.


Bagi Yara, hari itu merupakan hari yang penuh kejutan. Bayangan tentang ciuman pertamanya bersama Gala dan bayangan mengenai tubuh polos suaminya terus terngiang di kepalanya. Tak hanya itu, benda yang panjangnya bagai leher jerapah paling dominan di ingatannya.


“Aku pernah membaca buku sains tentang biologi. Kejantanan laki-laki saat tidak terangsang tampak menyusut. Sedangkan kalau terangsang, maka benda itu akan berdiri tegap, setegap tiang bendera!” gerutu Yara pelan. Ia kembali memandangi tubuh Gala yang baru saja memasuki ruangan kerja. “Hmm, sepertinya anu-nya Om Gala masih tertidur. Waduh!! Bagaimana jika benda itu bangun?! Ba—bagaimana kira-kira penampakkan aslinya! Selama ini aku hanya melihat di buku-buku sains, tapi itupun hanya animasi saja! Namun kali ini berbeda, mataku secara terang-terangan menyorot benda itu!! Astaga mesum sekali aku!”


Yara tak henti-hentinya bergumam. Ia memanglah begitu penasaran dengan sesuatu hal yang baru dilihatnya. Namun ia tak menyadari jika pikirannya sudah traveling terlalu jauh. Kalau tidak segera kembali maka dirinya akan disesatkan oleh pikirannya sendiri.


“Lebih baik aku mandi saja untuk membersihkan tubuh, hati dan pikiranku dari roh-roh mesum!”


Gadis itu menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Ia menekan tombol berwarna merah sehingga air hangat mulai berjatuhan mengisi bak mandi. Setelah bak mandi hampir penuh, ia mencampurkan beberapa ramuan di dalam air hangat itu.


“Hhmm,” mengendus. “Wanginya.”


Yara merendamkan tubuhnya dan bersantai di dalam sana. Ia memejamkan mata sembari menikmati setiap sentuhan busa halus yang membalut kulitnya.


Selang setengah jam Yara memanjakan tubuhnya, ia pun segera bergegas menuju ruangan ganti. Maniknya melirik ke sana kemari saat keluar dari kamar mandi. “Huhh aman,” gumamnya sembari berlari.


Layaknya seorang pencuri, Yara berlari dengan setengah mengendap. Ia takut jangan sampai Gala mendapati tubuhnya yang masih terbalut handuk. Secepat kilat ia mengenakan pakaian, setelahnya ia keluar dari dalam ruang ganti. Yara mendapati Gala yang sedang terburu-buru menuju pintu kamar.


“Aku ke kantor dulu. Ada urusan mendadak,” tuturnya sembari mengenakan jas.


“Hmm, baiklah,” mengangguk.


Gala menarik gagang pintu dan berjalan keluar dari kamar.


“Jangan lama-lama Om,” teriak Yara.


Tak ada sahutan dari Gala.


“Huhh, aku akan merasa bosan jika di kamar terus,” lirihnya menatap pintu kamar.


Ceklekk


Sosok Gala tiba-tiba muncul dari balik pintu. Yara pun sedikit terkejut. “Apa ada yang lupa?” tanyanya.

__ADS_1


“Tidak,” menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


“Lalu?”


Sikap Gala membuat Yara merasa heran.


“Kalau kau merasa bosan, kau bisa meneleponku,” menarik gagang pintu kembali dan segera meninggalkan Yara.


Mendengar ucapan Gala, membuat Yara tersenyum kecil. Rautnya tampak senang. Ia berjingkrak ria di atas ranjang. Seketika ia tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. “Ehem!” mengatur posisi duduknya.


Perhatian kecil dari Gala mampu membuat lekukan tipis di pipinya, walaupun gadis itu belum menyadarinya. Begitupun dengan Gala, ia juga tidak menyadari jika ia sebenarnya sangat peduli dengan Yara. Mungkin salah satu faktor yang mempengaruhi ketidak-pekaan mereka, adalah karena keduanya memang belum pernah merasakan yang namanya pacaran.


Empat jam telah berlalu, jam dinding telah menunjukkan pukul delapan malam. Sejak kepergian Gala, batin Yara menjadi gelisa dan tidak tenang. Berulang kali Yara mencoba memejamkan matanya, namun sangatlah sulit untuk membuat ia tertidur. Tak biasanya Yara gelisa seperti itu saat berada di atas ranjang. Biasanya ia langsung terlelap saat melihat bantal dan kasur.


Karena tidak dapat tertidur, Yara pun menghabiskan waktu selama empat jam dengan membaca novel fantasi. Ia sangat senang dengan cerita novel yang di dalamnya mengandung cerita tentang dunia lain. Apalagi kalau berkaitan dengan ilmu-ilmu sihir. Novel yang digemari Yara adalah karangan dari J.K. Rowling, dengan judul Harry Potter. Meskipun hampir puluhan bahkan ratusan kali ia baca, namun ia tidak mengenal kata bosan. Bahkan ia sudah menghafal dengan lancar semua jenis-jenis mantra yang sering diucapkan penyihir di dalam novel itu.


“Wingardium Leviosa!!”


“Expecto Patronum!!”


“Avada Kedavra!!”


Yara mempraktikkan mantra-mantra itu menggunakan sebuah tongkat kecil yang digunakan untuk menggaruk punggung saat gatal. Kalau ada orang yang melihat perilaku Yara, pasti mereka akan mengira jika gadis itu sedang menderita gangguan jiwa.


“Huffth! Gabut sekali!” gumamnya lagi. Ia meletakkan kembali beberapa novel yang ia ambil dari ruang kerja Gala. Kebetulan ia menemukan satu rak besar yang berisikan cerita-cerita fiksi.


Perut Yara tiba-tiba berbunyi. Rupanya penghuni yang tinggal di dalam mulai mengamuk karena belum mendapat asupan energi.


“Aduh lapar! Apa aku ke bawah saja ya, untuk membuat makanan? Tapi bagaimana kalau aku bertemu Nenek Lampir?! Mana Om Gala belum pulang lagi!”


Pertimbangan demi pertimbangan telah dipikirkan Yara, karena tak kuasa menahan rasa lapar, ia pun mengambil keputusan untuk pergi ke dapur membuat makanan. Walaupun ada banyak sekali makanan di sana, tapi Yara hanya suka memakan mie instan. Ya! Alasannya karena gadis itu sudah terbiasa memakan makanan itu saat tinggal di Inggris. Baginya mie instan adalah makanan yang paling praktis untuk dibuat, dan tentunya lebih enak di lidahnya.


Saat tiba di lantai satu, Yara menatap sekelilingnya. Karena merasa aman, ia pun menuju ruang makan. Di sana pun tak nampak makhluk hidup. Mansion begitu sepi dan hening.


“Ke mana semua orang?”


Gadis itu menuju sebuah ruangan yang dekat dengan ruangan makan. Tempat itu adalah dapur bersih, sedangkan dapur kotor terletak di sebelah ruangan itu.


“Astaga aku lupa! Keluarga ini ‘kan tidak menyimpan produk-produk cepat saji!”


Dengan kecewa, Yara menarik langkah kakinya dengan berat. Ia memegang perutnya yang sedari tadi berbunyi karena cacing-cacingnya sedang melakukan demo.


“Yara?”


Menatap sumber suara. “Ouh, Chiren.”


“Ada apa? Apa kau lapar?” tanya Chiren.

__ADS_1


“Hmm,” mengangguk.


“Di meja ada banyak sekali makanan. Kebetulan aku juga mau makan. Ohya kalau kamu mau sesuatu, biar aku panggilkan koki supaya bisa memasak untukmu,” tawar Chiren.


“Tidak usah. Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin memakan mie instan saja.”


“Tapi di sini tidak ada mie instan. Keluarga Rodderick sangat disiplin soal makanan. Mereka hanya memakan makanan yang mengandung gizi yang baik.”


“Ya, aku tahu.”


“Bagaimana kalau aku panggilkan kepala koki untuk membuatkanmu pasta?” tawar Chiren lagi.


“Tidak usah Chiren. Nanti aku makan seadanya saja di meja,” ucap Yara tersenyum.


“Kalau begitu ayo kita makan bersama,” menarik kursi untuk Yara.


“Kau baik sekali Chiren.”


Chiren tersenyum.


Wanita sebaik dan secantik Chiren, masih saja dipermainkan oleh lelaki. Kurang apa coba wanita ini? Batin Yara saat pertengkaran hebat Chiren dan Leon kembali terngiang di benaknya.


“Ohya, orang-orang rumah pada ke mana?” tanya Yara.


“Mama menghadiri acara reunian dengan teman-temannya. Kalau Papa, entah ke mana. Soalnya Papa jarang sekali pulang rumah. Kalau suamiku ada urusan mendadak. Leon pergi bersama Kak Gala tadi,”


“Oh begitu,” mengangguk. “Hmm, Chiren … aku boleh nggak bertanya padamu?”


“Silahkan.”


Yara menatap wajah Chiren. Rasa penasarannya begitu mengobrak-abrik pikirannya. Namun seketika ia berpikir lagi untuk menanyakan masalah keluarga Rodderick pada Chiren.


“Apa yang ingin kau tanyakan?”


“Ehm, tidak jadi. Nanti saja.”


Chiren mengangguk paham. Kedua orang itu pun mulai menyantap makanan yang telah berjejer rapi di meja.


“Aku pulang,” ucap seseorang.


Kedua wanita itu menatap ke sumber suara. “Kau pulang sendiri?” tanya Chiren.


“Gala masih ada urusan lain. Ohya, aku juga akan kembali keluar sebentar lagi. Sepertinya aku tidak akan pulang malam ini, karena harus lembur.”


Chiren memasang rawut masam. Kau beralasan lagi, Leon.


To be continued ...

__ADS_1


Tinggalkan jejak kalian lewat like, komen dan vote. Makasih semua 🥰🤗


__ADS_2