
Malam semakin larut. Seorang gadis yang tak lain adalah Yara tampak sedang duduk di atas ranjang dengan kepala yang bersandar di sandaran tempat tidur. Gadis itu tampak sedang memejamkan matanya, dengan sebuah buku yang masih terselip di tangannya. Jam dinding telah menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit. Sedari tadi Yara menunggu kedatangan Gala, namun pria itu belum juga kunjung datang dan membuat dirinya harus terlelap dengan posisi bersandar di kepala ranjang.
Pintu kamar terbuka. Pria yang di tunggu-tunggu Yara pun tiba. Gala melihat istrinya yang telah terlelap sambil memegang buku di tangannya. Pria itu mendekat, hendak membenarkan posisi tidur Yara. Namun tiba-tiba, tangan Yara menarik lehernya sehingga posisi wajahnya berada tepat di atas wajah cantik Yara. Pria itu pun tertegun memandangi raut wajah istrinya. Namun yang pertama terlintas di benaknya adalah gambar wajah Elyora.
Kalau dilihat dari dekat, wajahnya benar-benar mirip Elyora. Batin Gala.
Lekukan kecil terbentuk di sudut bibir Gala. Ia pun menyelipkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah polos istrinya. Gala tak berhenti memandangi Yara yang masih tertidur lelap. Sesekali ia mengelus puncak kepala Yara dengan lembut. “Kau ternyata manis juga,” ucapnya tersenyum.
“Om Gala … ?” lirih Yara masih dengan memejamkan matanya.
Gala sontak kaget dan langsung menjauhkan tubuhnya dari Yara. Gala melonggarkan dasinya dan melepas setelan jas yang masih menempel di tubuh kekar miliknya.
“Om Gala sudah pulang?” lirih Yara lagi sembari mengusap matanya yang tampak sayu.
“Baru saja,” tutur Gala.
Yara beranjak dari tidurnya. Ia melihat wajah Gala kemudian melempar senyum manis pada pria itu. Sontak Gala langsung tersipu. Wajah Yara yang baru saja bangun ternyata lebih segar dan cantik. Hati Gala mulai mengeluarkan gejolak. Namun ia selalu menentang perasaannya dan mengklaim sosok Yara sebagai jelmaan Elyora. Itulah yang membuat Gala merasa tidak enak dan langsung memberi batas pada Yara.
Sadarlah! Kau melihat dia sebagai ibunya! Bukan dirinya!
“Om, kenapa lama sekali? Aku menunggu Om dari tadi,” tutur Yara dengan sedikit memelas.
Hati Gala sedikit goyah. Sikap Yara benar-benar membuat pria dewasa itu merasakan hal yang aneh yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Debaran jantungnya pun mulai tidak normal. Gala membuang pandangannya dari wajah Yara karena ia tahu jika ada yang tidak beres dengan perasaannya.
“Aku mau mandi dulu,” ucap Gala, datar.
Saat Gala hendak berdiri dari duduknya, Yara tiba-tiba menahan lengan berotot Gala. Hal itu membuat Gala semakin ingin melakukan keinginannya untuk memiliki Yara seutuhnya. Namun lagi-lagi ia tersadar, jika dirinya melihat Yara sebagai Elyora.
“Kenapa sudut bibir Om memar? Apa Om Gala baru saja berkelahi?”
__ADS_1
Gala menarik lengannya. “Tidak apa-apa. Jangan dipikirkan,” meninggalkan Yara.
“Biar aku obati,” tawar Yara sembari meraih kotak p3k yang terletak di laci samping ranjang.
Dengan terpaksa Gala kembali mendudukkan tubuhnya di pinggiran ranjang. Ia menatap Yara yang sedang megambil alkohol serta kapas.
“Permisi sebentar,” tutur Yara.
Gala terdiam. Tanpa disadarinya, ia telah menuruti segala perintah Yara. Gadis itu mulai mengoleskan kapas yang telah diberi alkohol dan membersihkan noda darah yang telah mengental di sana. “Kenapa Om Gala sampai terluka?”
“Bukan urusanmu,” tuturnya dingin.
“Aku berhak tahu. Aku ‘kan istrimu, Om,” ucap Yara dengan begitu polos, tak bercela.
Mendengar ucapan Yara, ia pun menelan saliva dengan kasar. Biasanya Gala yang mengatakan hal seperti itu. Dan sekarang ia telah mendengar sebuah pengakuan dari mulut istrinya. Gala menarik sudut bibirnya dan tersenyum sangat tipis, sehingga Yara tak menyadari. Ada rasa senang yang sedang bergejolak di hati pria itu, namun ia enggan untuk mengekspresikannya.
“Trima kasih,” tutur Gala, refleks.
“Hmm,” mengangguk. “Ohya, Om Gala belum menjawab pertanyaanku. Kenapa Om sampai mendapat luka!”
“Aku berkelahi dengan Leon.”
Deg!!
“Loh, kenapa?” membesarkan maniknya.
“Sebenarnya urusanku sudah lama selesai. Tapi aku membuntuti Leon dan melihatnya pergi bersama wanita lain.”
“Astaga! Jadi benar yang dikatakan Chiren dan Shanks? Ternyata Om Leon memang memiliki simpanan!”
__ADS_1
Gala mengernyitkan dahi. “Maksudmu? Kau sudah tahu jika Leon selingkuh?”
“Aku sempat mendengar Chiren dan Om Leon bertengkar kemarin malam. Dan aku mendengar jika Chiren menuduh Om Leon bertemu dengan perempuan lain di hotel.”
“Leon memanglah pria brengsek. Sebelum dia menikah dengan Chiren, dia memang memiliki banyak kekasih. Leon memang tidak mencintai Chiren. Pernikahan mereka tidak berdasarkan cinta, tapi berdasarkan hubungan bisnis antara keluarga Rodderick dengan keluarga Chlark. Awalnya Chiren dijodohkan denganku, tapi aku dengan keras menolak perjodohan itu. Dan akhirnya Papa memutuskan jika Leon saja yang akan menggantikanku.”
Penjelasan Gala cukup mengguncang hati Yara.
“Kehidupan keluargaku sangatlah kacau. Bukan hanya Leon dan Chiren yang dijodohkan karena bisnis. Tapi Papa dan Mama juga sebenarnya di persatukan oleh politik. Keluarga Papa memiliki bisnis terbesar di dunia, sedangkan keluarga Mama memiliki pengaruh penting di negara ini. Mama adalah cucu dari mantan presiden yang pernah memimpin negara ini. Jadi mereka di jodohkan hanya karena kepentingan politik. Tidak ada cinta dan kasih sayang dalam keluarga ini. Semua yang dilihat publik hanyalah kepalsuan belaka!”
“Sangat disayangkan ya, keluarga terpandang dan terhormat di negara ini ternyata palsu. Semua keharmonisan yang ditunjukkan hanyalah drama.”
“Ya begitulah. Aku pernah bernazar jika aku akan menyatukan keluargaku. Tapi sepertinya hanya akan sia-sia. Papa memiliki tiga wanita simpanan. Satu seumuran denganmu, dan dua lainnya lebih muda tiga tahun dariku. Begitu juga Mama. Mama memiliki 2 pria simpanan. Yang satu berondong, dan satunya lagi seumuran denganku!”
Yara tak henti-hentinya melebarkan maniknya. Mulutnya pun menganga, seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan Gala. “Mama Papa memiliki simpanan lebih dari satu?!! Ta—tapi untuk apa semua itu?” tanya Yara bingung.
“Apalagi kalau bukan untuk bersenang-senang serta memuaskan hasrat mereka. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan semua rahasia keluargaku padamu. Namun karena kau telah menjadi bagian dari keluarga ini, maka kau juga harus mengetahui sisi buruk keluarga Rodderick.”
“Aku masih tidak menyangka loh, Om! Tidak heran Om Leon memiliki sikap buruk. Ternyata ia mendapatkan sifat itu dari Mama dan Papa.”
“Sejak kecil aku dan Leon sudah terbiasa hidup sebagai anak broken home. Leon sangat membenci Papa dan Mama. Dia tumbuh menjadi pria brengsek bukan karena keinginannya. Tapi sebenarnya sebagai bentuk perlawanannya terhadap sikap Papa dan Mama. Namun semua sama saja. Tidak ada yang berbeda. Orangtua kami tidak peduli dengan kehidupan kami. Mereka hanya peduli dengan kekuasaan dan uang. Dari kecil aku dan Leon mulai belajar keras supaya menjadi orang berguna yang bisa merintis bisnis Papa dengan baik. Alhasil, semua berjalan sesuai dengan keinginan mereka.”
Yara masih mendengarkan ucapan Gala dengan setia.
Ya Tuhan! Kasihan sekali Om Gala dan Om Leon. Mereka tidak pernah merasakan kasih sayang orangtua dengan tulus. Aku merasa beruntung terlahir di keluarga yang sangat peduli dan sayang padaku. Ya, walaupun hanya sebentar, namun aku sangat bahagia pernah memiliki Ayah dan Bunda dalam hidupku.
To be contiuned ...
Tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote. Makasih semua 🤗🥰
__ADS_1