
Saat tiba di mansion, Yara langsung membersihkan tubuhnya. Selang beberapa menit di kamar mandi, ia pun keluar menuju ruang ganti dan mengenakan piyama tidur. Sejak menikah dengan Gala, ia mengganti semua baju tidurnya dengan pakaian tertutup karena tak ingin membuat Gala tergoda dengan lingerie seksi miliknya.
Yara meminum pil peredah nyeri yang dibelikan Gala dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kali itu ia benar-benar merasakan kesakitan yang luar biasa, lantaran sudah tiga bulan tamu bulanannya tak bertamu. Ia memang memiliki hormon yang tidak normal seperti wanita lain pada umumnya.
Gadis itu sudah pernah berkonsultasi pada dokter, dan dokter mengatakan penyebab menstruasinya tidak lancar karena masalah tiroid. Kelenjar tiroid terdapat di bagian leher dan berfungsi untuk memproduksi hormon yang mengatur metabolisme tubuh. Jika kelenjar tiroid bermasalah, menstruasi pun juga akan terpengaruh
Hal ini sempat menghawatirkan Yara. Bagaimana tidak, ia mengalami menstruasi yang tidak normal yang digolongkan dalam dua tipe yaitu amenorrhea dan dismenore. Tipe pertama mengacu pada kondisi ketika tidak mengalami menstruasi dalam kurun waktu tiga bulan berturut-turut dan tipe kedua yaitu rasa nyeri atau kram perut hebat saat menstruasi.
Dokter juga menganjurkan Yara untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Menghindari lemak berlebih dan juga banyak mengkonsumsi air mineral. Yara memang jarang menerapkan pola makan yang sehat terhadap tubuhnya, ia lebih senang memakan mie instan dari pada makanan yang bergizi lainnya.
"Kau mau makan apa?"
"Aku tidak nafsu makan, Om," lirih Yara.
Gala mendekat dan mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang. "Kau belum makan malam. Katakan padaku apa yang ingin kau makan, nanti aku suruh koki untuk membuatkannya untukmu."
"Tidak usah repot-repot Om. Aku ingin tidur supaya obat yang kuminum dapat berfungsi meredahkan nyeri perutku."
"Kau jangan keras kepala. Nanti kau sakit!"
"Aku beneraran tidak lapar, Om! Jangan memaksaku! Aku tidak suka dipaksa!" Yara mulai kesal.
"Kenapa jadi kau yang membentakku?! Aku memaksamu untuk makan karena aku peduli padamu! Aku tidak ingin kau sakit! Karena itu hanya akan membuatku repot!"
__ADS_1
Raut wajah Yara begitu kusut. Ia membalikkan badannya dan memunggungi Gala. "Jangan sok peduli padaku! Aku juga tidak ingin membuat Om repot! Jadi biarkan saja aku!"
Gala mencengkeram jemarinya. Kepalanya mulai mengeluarkan lahar panas. Amarahnya serasa ingin meledak. Giginya mengerat sehingga terdengar bunyi kecil yang membuat ngilu di telinga. "Baiklah! Urus dirimu sendiri! Jika kau sakit jangan cari aku karena aku tidak akan meng-iba padamu sedikitpun!" berlalu meninggalkan Yara.
Degg!
Mendengar ucapan Gala membuat hati Yara bergejolak. Kalimatnya dipenuhi tekanan yang terasa mengiris hati Yara. Kata-kata pria itu bagai ujung panah runcing yang mendarat tepat di hatinya. Ada rasa sakit hati dan kecewa yang hinggap dalam diri Yara. Entah mengapa ucapan Gala begitu kasar terdengar di telinganya.
Biasanya hati Yara tidak peduli dengan kalimat tajam yang keluar dari mulut Gala. Awalnya kata-kata pedas Gala hanya berlau begitu saja, tidak mengena di hati Yara sedikitpun. Malahan ia lebih meledek Gala dengan sikap kekanak-kanakannya supaya pria itu kesal dan emosi.
Tapi kali ini benar-benar berbeda. Bagai anak kecil yang dibentak orangtuanya, bisa dibilang rasa sakit hati Yara melebihi rasa itu. Tanpa disadarinya, bulir-bulir air mata telah berjatuhan dari maniknya. Untuk pertama kali Yara menangis karena mendengar bentakkan Gala.
"Om jahat! Hik ... hik!" terisak.
Sementara Yara dengan kesedihannya, tampak Gala sedang frustasi di ruangan kerjanya. Ia tak lagi fokus mengerjakan beberapa proposal karena kembali memikirkan Yara yang sakit dan juga keras kepala. Gala mengacak rambutnya sehingga terlihat berantakan.
"Arghhh! Kenapa akhir-akhir ini aku tak bisa mengontrol emosiku! Di mana sifat tenangmu, hah?!" kembali mengacak rambutnya. "Aku telah kehilangan sifat acuh tak acuhku dan sifat tidak kepedulianku dengan urusan orang lain! Di mana Gala yang dulu yang selalu masa bodo dengan setiap orang?! Aishhhh! Sial!" mengusap wajahnya dengan kasar.
Beberapa jam berlalu. Ia memaksakan diri untuk mengerjakan pekerjaan kantornya. Dan ia pun telah selesai meninjau proposal dari setiap kepala bagian, dan telah menyelesaikan bahan materi yang akan di presentasikannya besok. Gala menata kembali meja kerjanya dan berjalan menuju ruang sebelah, tempat Yara berada.
Gala menyandarkan tubuhnya di perbatasan pintu, menyilangkan kedua tangannya di dada seraya menatap Istrinya yang telah tidur. Posisi tidur Yara tengkurap dengan memeluk perutnya. Ia kembali teringat akan pertengkaran dengan istrinya.
Dari hati Gala yang terdalam, sebenarnya ada rasa bersalah besar yang merontah. Ia menyadari jika ucapannya terlalu tajam, keras dan pedas. Tak tega sebenarnya ia berucap seperti itu, namun ia terlanjur emosi dengan sikap keras kepala Yara.
__ADS_1
Belum saja meredah emosi Gala saat Yara pergi bersama Andro tadi siang, dan sekarang ia dibuat marah lagi oleh gadis itu hanya karena hal sepeleh. Maksud Gala memang baik, tapi Yara menanggapinya dengan buruk. Alhasil berujung pertengkaran.
Lama menatap tubuh mungil Yara, ia pun berjalan mendekat menghampiri istrinya yang telah berada di alam bawah sadar. Dengkuran halus kembali terdengar dari mulut Yara. Hati Gala tiba-tiba merasa iba dengan gadis itu.
"Maaf karena telah membentakmu. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin kau kesakitan. Makanya aku memaksamu untuk makan. Aku terlalu emosi saat kau tidak mau menurut. Aku peduli padamu, Yara. Benar-benar peduli! Orang lain saja menghawatirkan keadaanmu, masakan kau sendiri tidak!"
Tak disadari Gala, tangannya mulai bergerak mengusap lembut pucuk kepala istrinya. Ia juga menyelipkan anak rambut Yara ke telinga sehingga wajah gadis itu sangat jelas terpampang. Kini ia melihat Yara sebagai diri gadis itu. Bukan sebagai wanita yang selalu bergentayangan di benaknya.
"Aku tidak bisa mengelak lagi. Dari awal aku memang melihatmu sebagai dirimu, Yara. Bukan sebagai Elyora ibumu. Tapi aku selalu menentang pikiranku dan selalu berpikir jika Elyora-lah yang kulihat. Tapi ternyata semuanya bohong! Kaulah yang kulihat, bukan ibumu! Dan aku baru menyadari itu!"
Akhirnya Gala tersadar dan telah mengakuinya. Memang dari awal ia melihat Yara sebagai diri Yara. Bukan sebagai Elyora. Namun logikanya selalu membantah apa yang dirasakan hatinya.
Mungkin saja karena Gala selalu berpikir jika Yara masih kanak-kanak sedangkan dirinya sudah hidup selama dua dasawarsa sebelum Yara lahir. Mana mungkin ia mencintai anak kecil yang dua puluh tahun lebih muda darinya. Bukankah orang-orang akan mengira dirinya menderita penyakit pedofil?
"Kau berhasil melengserkan posisi ibumu di hatiku. Aku ragu sebenarnya untuk mengatakan ini, tapi memang begitulah faktanya."
Gala perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Yara. Namun pergerakannya terhenti saat Yara mengganti posisi tidurnya yang tadinya tengkurap, kini terlentang sehingga wajahnya begitu jelas terpampang di depan Gala. Hati Gala kembali bergetar merasakan sengatan listrik dalam skala besar.
Yara begitu cantik. Rautnya begitu teduh dan tenang. Gala kembali melanjutkan pergerakannya. Wajahnya semakin dekat dengan wajah Yara. Tak menunggu waktu yang lama, kecupan lembut Gala mendarat di dahi Yara dan kemudian bibirnya berpindah, menindih bibir tipis Yara. Dan untuk kedua kalinya mereka berciuman.
Yara ... Aku ...
To be continued ...
__ADS_1
Tetap nantikan kelanjutannya yaa. Jangan lupa juga untuk meninggalkan jejak kalian. Makasih semua 🤗🥰