
Di pusat perbelanjaan terbesar di ibukota, terlihat Kinan baru saja tiba dengan beberapa geng sosialitanya. Kehadiran empat wanita elit itu mampu membuat semua orang yang ada di dalam gedung teralih menyorot mereka.
Dua orang wanita paruh baya dengan penampilan cukup heboh datang menghampiri Kinan dan gengnya.
"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Nyonya Besar Rodderick," sapa seorang wanita.
Kinan melepas kacamatanya. Wajahnya yang begitu berseri menyilaukan mata kedua wanita yang baru saja muncul di hadapannya.
"Siapa?" tanya Kinan, halus namun sinis.
"Perkenalkan saya Mouren, istri dari Presdir Moo," menunduk kepala.
"Kalau saya Emma, istri dari Presdir Willem Anjaya."
Kedua wanita itu memperkenalkan diri, memakai nama suami mereka dengan maksud supaya Kinan tertarik mengajak mereka untuk bergabung dengan geng sosialitanya.
"Oh begitu. Apa nama perusahaan dan bisnis yang keluarga kalian rintis?"
"Moomall, Nyonya. Usaha bisnis kami bergerak dibidang fasion. Sedangkan perusahaan Emma dibidang makanan dengan nama perusahaan Fresh Food," jawab Mouren.
Kinan mengerutkan dahi. Ia melempar pandang ke arah teman-temannya hendak bertanya dalam bentuk ekspresi mengenai dua wanita asing yang telah memperkenalkan diri.
Teman-teman Kinan menggeleng kepala dengan tatapan sinis. Kinan mengangguk paham dan langsung memberi kode untuk meninggalkan Mouren dan Emma. Mereka pun dengan angkuhnya melangkahkan kaki, beranjak dari hadapan dua wanita itu.
"Nonya Kinan, tunggu!" teriak Mouren dan Emma.
Kinan menoleh ke belakang. "Maaf, saya sibuk."
"Apa kami boleh bergabung dengan circle, Nyonya?" tanya Mouren lantang.
Kinan menarik sudut bibirnya. "Saya tidak butuh anggota baru. Lagi pula saya tidak kenal dengan nama keluarga kalian."
"Tapi Nyonya, bisnis keluarga kami begitu lancar dan sangat menguntungkan," ketus Mouren.
"Saya tidak tertarik," ucap Kinan, dingin.
Emma dan Mauren terlihat kesal dengan sifat Kinan. Namun mereka bisa apa? Jika Kinan sudah menolak, maka tak seorang pun berani memaksa karena Kinan pasti akan menjatuhkan perusahaan dan bisnis mereka.
Keempat wanita sosialita itu kembali melangkahkan kaki mereka menjauhi Mouren dan Emma. Kinan adalah ketua sirkel. Secara, ia adalah Nyonya Besar Rodderick dari Blackfire Company. Semua anggota gengnya merupakan wanita-wanita kelas atas dan dari latar belakang yang terpandang, sederajat dengan Kinan.
Wanita itu sangat pemilih dalam berteman. Jika ia merasa tidak berguna dan tidak menguntungkannya, maka ia tidak akan sembarangan memasukkan ke dalam geng sosialitanya. Apalagi nama keluarga yang tidak terkenal serta bisnis serabutan. Ia paling anti dengan hal itu.
"Kita berpisah di sini. Aku memiliki janji dengan calon menantuku," tutur Kinan.
"Baik."
Kinan berjalan meninggalkan tiga kawannya dan menuju suatu tempat. Ia telah janjian dengan Amoera. Setelah mengadakan arisan dengan gengnya, ia sudah menghubungi Amoera lebih dulu.
Selang beberapa menit ia tiba di sebuah butik yang terletak di lantai paling atas gedung itu. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memasuki butik itu. Dan Amoera telah menunggu di sana. Amoera tersenyum saat melihat sosok Kinan yang berjalan menghampirinya dengan langkah gemulai.
"Sudah lama menunggu?" tanya Kinan.
"Belum lama Tante. Silahkan duduk," mempersilahkan.
"Amoera, sebaiknya kau segera melancarkan rencanamu!" ketus Kinan yang baru saja mendudukkan badannya di sofa.
__ADS_1
"Aku sedang berusaha Tante."
"Jika kau lama-lama maka si j*lang itu pasti akan semakin bertingkah dan besar kepala!"
"Iya. Aku juga sangat kesal pada wanita itu! Ohya, apa yang ingin Tante katakan soal Yara?".
Kinan mengatur napasnya. Mengingat kembali perilaku Yara membuat Kinan emosi dan mengeratkan kepalan jemarinya. "J*lang itu mulai melawanku! Tadi aku sempat beradu mulut dengannya karena dia berani sekali menuturkan kalimat tajam!"
Amoera melonjak. "Benarkah?"
"Aku sangat jengkel dan naik darah dibuatnya. Dia mulai mengancamku. Dan juga dia sudah berani memanfaatkan Gala! Bisa-bisanya dia bilang jika Gala telah memilihnya karena Gala mencintainya."
Amoera memasang wajah kusut.
"Dan kau tahu Amoera, hal yang paling membuatku syok sampai sekarang adalah saat dia mengatakan jika kau tidak memiliki akhlak dan tak beradab. Dia juga bilang jika kalian berbeda level!"
Amoera mengeratkan rahangnya. Kepalanya mulai panas dan hendak mengeluarkan bara api. "Berani sekali dia menghinaku di depan Tante! Sialan! Dendamku semakin dalam terhadapnya!"
"Kau benar Amoera. Mulutnya sangat pedas dan lihai! Tente saja beberapa kali dibuatnya syok!"
"Cihhh! Kita harus segera membalasnya! Aku sudah punya rencana bagus, Tante," tersenyum licik.
"Apa itu? Cepat kasih tahu. Tante sangat penasaran."
Ameora tampak berbisik panjang di telinga Kinan. Keduanya pun tersenyum puas dengan raut licik di wajah mereka.
"Brilliant!" ketus Kinan.
***
Mendapat pesan singkat dari Gala membuat hati Yara kembali berbunga-bunga. Ia langsung mandi secepat kilat. Setelah itu Yara menuju ruang ganti, hendak memilah gaun mana yang akan ia kenakan untuk bertemu suaminya.
Yara melihat suatu gaun berwarna peach yang dihimpit oleh gaun lainnya. "Hmm, ini saja," meraih gaun itu.
Segera ia memakai pakaian itu.
Tok tok tok ...
"Sebentar! Lagi pakai baju!" teriak Yara dari walk in closet.
Yara mempercepat gerakannya. Setelah memakai gaun, ia segera bergegas membuka pintu kamar.
"Nona, ada kiriman untuk Anda dari Tuan Gala," ucap Angga, kepala pelayan mansion.
Yara melirik paper bag yang masih dijinjing Pak Angga. "Apa itu?" tanyanya penasaran.
"Kata asisten Tuan Gala, ini adalah gaun yang akan dikenakan Nona."
"Benarkah?" tersenyum semringah.
"Iya Nona. Asisten Shanks menunggu Nona di bawah."
"Di mana Om Gala? Eh maksudku, Suamiku," menggaruk tengkuk leher.
"Tuan Gala sedang menunggu Nona di suatu tempat. Tuan Gala memerintahkan Shanks untuk menjemput Nona."
__ADS_1
Senyum malu-malu kembali terpancar di raut wajah Yara. "Baik. Makasih infonya," meraih tas dari tangan Pak Angga.
Pak Angga menunduk kepala dan beranjak dari depan pintu kamar.
"Manis sekali Om Gala," tersenyum lebar. "Kira-kira malam ini aku bakalan diajak ke mana ya? Huaaa! Jadi nggak sabar!"
Hati Yara kembali bermekaran lantaran mendapat kiriman gaun dari Gala. Ia bergegas mengganti pakainnya dan merias wajahnya sedemikian rupa sehingga kecantikannya lebih memukau dan mempesona.
"Selesai," menarik sudut bibir.
Yara segera turun menemui Shanks yang sedang menunggu di lantai bawah. Tak memakan waktu yang lama ia pun tiba. Shanks sedang duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
"Shanks, maaf membuatmu menunggu," tutur Yara.
Pria itu langsung menyimpan ponselnya di saku celana dan beranjak dari duduk. Shanks teperangah saat melihat penampilan Yara. Gaun yang dikenakan gadis itu sangat cocok dengan tubuhnya yang proposional. Gaun berwarna navy yang tergerai sampai lantai yang juga mengikuti lekuk tubuh idealnya, membuat Yara tampak seperti seorang model profesional.
"Shanks, ayo berangkat," ajak Yara tampak bersemangat.
"Ba--baik, Nona."
Shanks sampai gagap menjawab pertanyaan Yara. Ia memang sangat tertegun melihat penampilan Yara yang luar biasa. Apalagi wajahnya yang memang pada dasarnya molek, kemudian di tambah poles dengan riasan ala kadarnya.
Mobil telah melaju meninggalkan mansion. Di dalam mobil, Yara tampak riang karena ia akan segera bertemu dengan suaminya. Bibirnya tak henti-henti membuat lekukan tipis. Bahkan Shanks yang menatapnya melalui cermin spion, ikut tersenyum dengan tingkah Nona Mudanya.
Drttt drtt drtt ...
Yara segera menjawab panggilan teleponnya.
"Halo?" tuturnya sedikit malu-malu.
"Istriku, kau sudah di mana?" tanya Gala dari seberang.
Yara kembali melonjak dan menggigit ujung telunjuknya. Betapa girang hatinya saat Gala memanggilnya dengan sebutan istriku.
"Halo ... "
"Iya, halo ... aku sudah di jalan," jawab Yara.
"Baiklah. Katakan pada Shanks supaya dia hati-hati dalam berkendara."
"Akan aku sampaikan."
"Sampai bertemu, Istriku."
"Eh ... i--iya, Om. Eh, Suamiku."
tut tut tut ....
Karena gugup dengan kata terakhirnya, Yara pun segera memutuskan sambungan telepon. Ia kembali berjingkrak ria di kursi mobil sehingga membuat Shanks yang melihat tingkah Yara, langsung berdehem.
"Permisi, di depan masih ada makhkuk hidup."
To be continued ...
Terus dukung Author lewat vote, like dan komen. Makasih semua 🥰🤗
__ADS_1
Note :
Sekedar info, dari tanggal 27 - 31 hanya akan update 1-2 episode. Nanti Kembali Crazy Up, saat tanggal 1 bulan April.