Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 43 : Siang Pertama


__ADS_3

"Ke--ketiganya?!"


"Iya. Satu untuk Mama dan dua untukmu."


"Suamiku ... " lirih Yara dengan nanar. "Kau benar membelinya?!"


Gala mengangguk.


Yara segera merebut ketiga tas itu dari tangan Shanks dan memastikan isinya. Ia kembali terperangah. Badannya kembali lemas sehingga ia hampir terjatuh di lantai. Gala dengan sigap menopang tubuh istrinya yang nyaris terjatuh.


"Istriku! Ada apa? Apa kau sakit?"


"Tidak," lirihnya hampir tidak terdengar.


"Biarku gendong!" mengangkat tubuh Yara.


"Tidak usah! Aku bisa berjalan, Suamiku. Akan sangat memalukan jika kau menggendongku di sini."


Gala melepaskan tubuh Yara dengan perlahan. Mereka pun berjalan menuju lift.


***


Di mansion, suasana tampak ramai. Tamu-tamu dari kalangan atas telah berdatangan. Kinan dan Zian tampak serasi saat keluar dari lift. Keduanya tersenyum lebar dan saling berpegangan tangan. Semua orang yang menyaksikan keharmonisan keduanya, serasa ingin berada di posisi Tuan dan Nyonya Rodderick.


"Istriku, selamat ulang tahun," mengecup lembut kening Kinan.


"Terima kasih, Suamiku."


Semua orang terkagum-kagum. Namun ada juga yang sudah mengetahui perpecahan yang terjadi dalam keluarga itu. Mereka adalah para pelayan mansion dan juga orang-orang terdekat Zian dan Kinan.


"Tante, happy birthday!" ucap Amoera mengecup pipi Kinan.


"Makasih, Sayang."


Suasana yang tampak ramai tiba-tiba menjadi hening saat kedatangan tiga orang. Mereka adalah Gala, Yara dan Shanks. Kinan dan Amoera beralih menatap Gala dan Yara yang sedang berjalan memasuki mansion.


"Selamat ulang tahun, Ma," ucap Gala, memberikan ciuman di pipi kanan dan pipi kiri Kinan.


"Makasih, Sayang."


"Mama," lirih Yara. "Selamat ulang tahun."


Kinan menatap sekelilingnya. Mereka menjadi pusat perhatian semua orang. Kinan langsung menarik tangan Yara dengan kasar dan memberikan ciuman pada wanita itu. Seketika Yara terkejut.


Ia tidak menyangka jika Kinan akan memperlakukannya dengan sangat baik. Meski itu hanya sandiwara, namun hati Yara merasa bahagia dan senang. Sedangkan Amoera tampak panas. Ia menatap Yara dengan sinis.


"Istriku, ayo kita ke atas. Kita harus mengganti pakaian."


"Baik, Suamiku."


Yara menggandeng lengan Gala sehingga membuat Amoera dan Kinan seperti akan meledak.


Sial! Mereka semakin akrab saja! batin Amoera.

__ADS_1


Wanita rendahan sepertimu tidak cocok di keluarga ini! batin Kinan.


Gala dan Yara menuju kamar mereka. Karena cuaca yang begitu panas sehingga mereka tampak berkeringat dan rasa ingin mengguyurkan tubuh dengan air dingin.


"Istriku, ayo kita mandi bersama," ajak Gala.


Pipi Yara memerah bagai tomat. "Jangan, Suamiku. Aku malu!"


"Malu? Untuk apa malu, toh kita sudah saling melihat dan saling berabah," goda Gala memainkan kedua alisnya naik turun.


"Ishhh. Jangan di sebutkan lagi dong. Aku malu, Suamiku!" berlari menuju kamar mandi.


"Istriku, aku akan menyusulmu!"


Yara mendengar kekehan Gala dari luar. Ia langsung mengunci pintu kamar mandi dengan rapat. "Aku 'kan masih menstruasi. Kalau mandi bersama Om Gala, nanti dia akan melihat noda-noda merah ini! Meski cairan kentalnya tinggal sedikit yang keluar, tapi tetap saja aku malu," menatap bawah pusarnya.


Wanita itu menyalakan tombol, dan air mulai berjatuhan dari atas. Ia kemudian membersihkan badannya secara menyeluruh. Tanpa disadarinya, ia sudah menghabiskan waktu selama dua puluh menit di kamar mandi.


"Istriku, cepatlah. Acaranya sudah hampir di mulai," ketus Gala dari luar kamar mandi.


"Iya. Sebentar lagi aku selesai. Tinggal membilas badan."


Gala kembali duduk di tepi ranjang. Tubuhnya hanya berlilitkan handuk di pinggang.


"Suamiku!" Panggil Yara.


"Ada apa?" berjalan menghampiri Yara.


"Bisakah kau mengambilkan handuk untukku? Aku lupa membawa handuk," celetuk Yara.


Yara membuka pintu dengan perlahan. Tiba-tiba, Gala mendorong pintu kaca itu sehingga Yara terdorong ke belakang. Gala telah masuk ke dalam kamar mandi.


"Ke--kenapa kau masuk?! Aku 'kan hanya butuh handuk," tukas Yara menghadap tembok dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Aku membawakanmu handuk, Istriku," melepas lilitan handuk yang melingkari pinggangnya.


Gala memakaikan Yara handuk dari belakang, sedangkan tubuhnya sudah terlihat polos tanpa sehelai benang. Yara merasakan sentuhan tangan Gala di pundaknya. Gala semakin memajukan langkahnya dengan perlahan sehingga Leher Jerapah miliknya telah menyentuh bokong Yara.


"Suamiku," lirih Yara sembari memutar badannya perlahan.


Gala menahan pundak Yara agar wanita itu tidak melanjutkan pergerakannya. "Jangan berbalik," bisik Gala di telinga Yara.


Jantung Yara berdegup kencang saat merasakan ciuman Gala di lehernya.


"Kau wangi sekali, Istriku. Tubuhmu sangat menggiurkan," bisik Gala lagi.


Kini tangan Gala mulai menyelusuri dua benda lunak yang menempel di dada Yara. Perlahan ia mulai memijit lembut dua benda kenyal itu. Yara tak dapat menolak sentuhan hangat dari suaminya. Untuk kedua kalinya ia mendapat pijitan gratis yang begitu nikmat.


"Su--suamiku, shhh!" desis Yara.


"Iya."


Suara berat dan seksi milik Gala membuat Yara semakin terhanyut dengan sentuhan Gala. Dengan posisi yang masih membelakangi Gala, ia pun membiarkan Gala memperlancar aksinya.

__ADS_1


Tangan kanan Gala mulai menjelajah ke kota suci milik Yara yang belum terjamah oleh siapa pun. Merasakan sentuhan itu membuat Yara menggeliang. Ada rasa geli namun rasa nikmat lebih dominan menguasainya.


Yara tertegun saat Gala menghentikan aktivitas tangannya. Tiba-tiba pria itu menggendong tubuh Yara dan membawanya ke atas ranjang. Sama sekali tidak ada penolakan dari Yara. Ia malah mulai ketagihan dengan sentuhan hangat dari suaminya.


Kini tubuh kedua orang itu polos. Mereka telah berada di atas ranjang dengan posisi tubuh Gala di atas dan Yara dibawahnya. Pria itu mnedekatkan bibirnya dan mencium lembut bibir Yara. Mereka bermain selama beberapa menit.


Setelah itu Gala menatap wajah Yara. Begitu juga dengan Yara. Ia memandangi tubuh Gala dengan seksama. Lengan berotot dan dada yang bidang membuat Yara terkagum-kagum. Dengan reflek, ia merabah otot dada Gala sehingga membuat pria itu lebih terangsang.


Kini video tutorial tak dibutuhkan lagi. Mereka melakukan adegan itu sesuai insting yang keluar dari dalam diri mereka masing-masing. Gala tiba-tiba mengemut dua benda kenyal milik Yara. Badan wanita itu ikut bergetar bagai terkena sengatan listrik berskala besar.


"Istriku, apa kau siap?" bisik Gala.


Yara memejamkan matanya dan mengangguk pasrah. Gala perlahan mengarahkan Leher Jeparahnya tepat di depan gerbang suci. Ia mengambil ancang-ancang untuk memasukkan benda pusakanya namun ia tidak tahu barus memasukkannya di mana.


Gala tampak bingung. Sedangkan Yara telah mengeratkan cengkeramannya di selimut dengan mata yang tertutup rapat. Wanita itu sudah siap dan menunggu serangan dari Leher Jerapah Gala. Beberapa detik berlalu. Yara belum merasakan suntikan tumpul.


"Istriku, aku tidak tahu memasukkannya di mana," ucap Gala polos.


"Apalagi aku! Coba kau cari dulu. Jangan sampai kau salah sasaran. Nanti aku bisa mati!" ketus Yara.


Gala melonjak. Ia percaya dengan ucapan Yara. "Apa begitu? Kalau aku salah memasukannya, Istriku akan mati? Tapi sepertinya Shanks tidak pernah memberitahuku tentang hal itu!" gumam Gala.


"Suamiku, aku ... "


Suara Yara terhenti saat benda tumpul Gala mulai menerobos masuk. Yara semakin mengencangkan cengkeramannya.


"Istriku, aku sedang berusaha. Tunggulah sedikit lagi."


"Ta--tapi ini ... sa--sangat sakit!" Air mata mulai menyucur di sudut matanya.


Gala melihat raut wajah Yara yang terlihat menahan kesakitan. Rasa tak tega melanjutkan aksinya mulai bergejolak. "Istriku, kau tidak apa-apa?"


"Tidak. Si--silahkan lanjutkan, Suamiku," berusaha menahan sakit.


Ia juga tidak ingin mengecewakan Gala. Yara memang telah siap memberikan kehormatannya pada lelaki yang dicintainya dan yang mencintainya. Meski itu terasa sangat sakit, namun Yara mencoba menahan perih, demi Gala, Suaminya.


Gala semakin tak tega. Ujung Leher Jerapahnya telah masuk, namun sebagiannya belum. Melihat Yara yang terlihat kesakitan sampai mengeluarkan air mata membuat Gala menarik kembali senjatanya. Ia kemudian mencium kening istrinya dan ikut berbaring di samping Yara.


"Suamiku?"


"Nanti saja. Aku tak tega melihatmu sakit."


"Tapi ... apa kau tidak mengapa?"


"Tidak, Sayang," mengecup bibir Yara.


Yara langsung memeluk tubuh Gala dengan erat. "Suamiku ... "


"Iya?"


"Aku mau ketekmu!" menyelundupkan kepalanya di ketiak Gala.


To be continued ...

__ADS_1


Berikan dukungan kalian buat Author dengan cara: Vote, Like dan Komen. Makasih semua 🤗🥰


__ADS_2